Aku Hanya Tak Ingin Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Entah kenapa aku mearasa seperti terjadi hentakan sesuatu, aku tersentak. Aku mencoba bangun dari mimpiku, namun aku sangat susah menggerakan anggota badanku. Aku sadar aku sudah bangun, dan aku melirik jam di dinding yang menunjukan pukul 05.30 tapi sungguh aku tidak bisa bangun. Nafasku sesak, aku tidak bisa bernafas. Kedua kakiku dan tanganku sangat kaku, seperti badanku terikat. Aku mencoba mengucapkan 2 kalimat syahadat namun itu juga sulit dilakukan. Mataku sudah sedikit terbuka, aku melihat sesosok mahluk hitam sedang duduk di perutku. Aku sangat ketakutan, hingga tak sadar jam sudah menunjukan pukul 06.00. akhirnya aku bangun dari situasi aneh itu.

Tak buang waktu aku sadar aku akan terlambat, aku mengambil handuk di jemuran dan masuk ke kamar mandi. Ini adalah hari yang penting, dimana akan ada ulangan matematika pagi ini. Aku berusaha untuk tidak terlambat lagi, karena sebulan ini aku sudah terlambat 18 kali. Sesuai peraturan di sekolahku, jika ada murid yang terlambat 20 kali dalam sebulan, maka ia akan mendapat SP 1. Aku tak mau seperti itu, aku akan berusaha agar tidak terlambat kali ini.

Selesai mandi aku tidak sarapan, aku memakai seragam sekolah, menyiapkan buku dan pamit berangkat. Aku berlari sekencangnya, aku melihat ke jam tanganku, sudah pukul 06.20 sudah hampir jam setengah tujuh, dan gerbang sekolahku akan tertutup pukul 7 pas. Di jalan raya aku mencari angkot, beberapa angkot lewat tapi tampaknya sudah penuh. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Akhirnya ada angkot yang kosong, aku menaikinya. Aku lega, aku melirik jam tanganku, pukul 06.30. masih ada waktu setengah jam lagi, aku merasa lega. Di dalam angkot aku sibuk menghapalkan rumus matematika untuk ulangan nanti. Dari mulai kerucut, tabung, hingga bola. Tapi aku merasa kesulitan, karena aku kurang konsentrasi. Ini pasti karena aku belum sarapan, ujarku dalam hati. Aku memang sudah terbiasa sarapan pagi, dan kali ini aku tidak sarapan, rasanya sangat tersiksa.

Pak sopir memberentikan angkotnya, nampaknya ia ingin mencari penumpang. Dengan santainya pak sopir merokok menanti penumpang, di depan aku yang sedang terburu-buru. Pak sopir membunyikan klakson setiap ada orang yang lewat, tapi tampaknya tak ada orang yang mempedulikannya. Lama-lama aku kesal menunggu, aku melirik jam tanganku, sudah pukul 06.40, tinggal 20 menit lagi. Aku mulai gelisah, dan Pak Sopir dengan perasaan tak bersalahnya merokok, dan asapnya mengumpul di kabin penumupang. Setiap kali aku menghirup asap rok*k, aku terbatuk-batuk.

Aku sudah tidak sabar, aku sudah mulai kesal, aku sudah tak mau menunggu lagi, dan aku tidak mau terlambat lagi. Aku sudah mulai marah, lalu aku menegur Pak sopir.
“maaf pak, saya lagi terburu-buru, bisa langsung jalan tidak pak?” aku menegur dengan halus, lalu diikuti penumpang di belakang, ibu-ibu.
“ya pak, saya lagi ada rapat nih pak! Jangan buang-buang waktu dong pak!” ujar ibu itu.
“saya lagi nunggu penumpang bu, sabar sedikit dong, saya cari penumpang untuk makan bu! Bagaimana kalau nanti tidak ada penumpang bu? Ibu mau tanggung jawab?” pak sopir melawan.
“loh, apa salah saya? Saya tidak melakukan kesalahan kok. Harusnya bapak yang tanggung jawab saya jadi terlambat meeting,”
“ibu jangan sombong dong kalau sudah jadi orang, jangan suka memaki-maki orang kecil dong! Kami juga ingin dihargai bukan selalu dimaki,”
“saya menghargai orang di bawah saya, makannya saya naik angkot ke kantor. Tapi bapak juga hargai saya dong! Ini meeting penting pak! Masa depan saya ada di meeting itu pak,”
“ya sudah! Kalau tidak bisa sabar, cari saja angkot lain!” ujar sopir dengan nada yang keras.

Hatiku yang sudah dongkol, tidak tahan lagi. Setelah ibu itu keluar, aku ikut keluar, dan diikuti penumpang lainnya. Semua penumpang turun dengan perasaan kesal tentunya, termasuk diriku. Aku melirik jam tanganku 06.50, sepuluh menit lagi! Aku pasti terlambat, untungnya disini tak jauh dari sekolahku, lebih baik aku berlari saja.

Aku berlari sekuat tenagaku, aku berlari di sepanjang JL. Rumah Sakit 1, yang jalannya teduh dipanyungi pohon yang besar. Tinggal beberapa ratus meter lagi. Aku terus berlari, beberapa kali aku hampir menabrak anak kecil dan sepeda motor, kebanyakan mereka heran aku berlari sekencang itu. Aku melirik jam tanganku yang sudah kuatur sesuai jam sekolah, pukul 06.56, empat menit lagi! Aku berlari terus, kurasakan detak jantungku yang berdetak dengan cepat, dan kakiku yang mulai terasa pegal, aku terus berlari. Aku melihat jam tanganku 06.59, satu menit lagi! Dan aku sudah melihat gedung sekolahku yang tinggal beberapa meter lagi. Aku sudah sampai di sekolahku dan bertepatan itu bel berbunyi 3 kali, menandakan sudah masuk kelas. Aku mencoba membuka pintu gerbang sekolahku, terasa berat karena sudah terkunci. Aku menunduk, sepertinya hanya aku yang terlambat kali ini. Keringatku mengucur deras, baju seragamku basah oleh keringatku sendiri, nafasku masih ngos-ngosan. Kulihat satpam sekolahku, dia menatapku dengan tajam. Aku kenal satpam sekolahku, dan ia juga kenal padaku, karena aku yang sering terlambat dan sering dihukumnya. Aku menatapnya dan memohon agar aku bisa masuk kali ini.

“maaf pak, aku terlambat, tapi mohon biarkanlah aku masuk,” aku memohon.
“tidak bisa,” satpamku menggeleng.
“tolong pak, aku juga ingin mendapat pendidikan yang layak, tidak seperti ini, bukankah pendidikan ialah hak setiap orang di negeri ini?” aku mulai mengaitkan dengan masalah HAM.
“sebelum mendapatkan hak, kau harusnya menjalankan kewajiban,” satpamku membantahku dengan jawaban yang tak kusangka-sangka.
“ayolah pak, bukankah kita saling kenal? Bukankah aku sudah jadi langganan terlambat? Kali ini izinkan aku masuk pak,”
“tidak bisa! Push up 50 kali!” pak satpam memberikan hukuman kepadaku.

Aku menghela nafas, aku tidak akan bisa mengelak lagi. Aku membuka tasku dan melakukan push up di aspal yang panas. Aku mulai kecewa pada diriku sendiri, selalu terlambat, kenapa aku tidak bisa disiplin? Padahal aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Kenapa aku selalu jadi langganan hukuman Pak Satpam dan panggilan BK (Bimbingan Konseling) padahal aku sudah berlarian setengah mati untuk masuk ke sekolah ini. Keringatku membasahi seragamku, seragamku basah seperti murid yang sedang berolah raga. Beberapa murid yang berlalu-lalang menatapku, pasti dengan pikiran yang negatif tentunya. Aku sudah push up yang 32 kalinya, aku sudah tidak kuat lagi. Aku merasa capek, terlebih aku belum sarapan. Perlahan aku mulai pusing, dan pandanganku mulai kabur. Aku berusaha agar tetap sadar karena Pak Satpam mengaawsiku disini. Saat push up ke 41 aku merasa pusing yang teramat sangat dan pandangaku gelap, kulihat Pak Satpam segera berlari kearahku, kelihatannya dia panik. Aku tidak tahu apa yang terjadi, semua tubuhku melemas dan aku sudah tidak bisa melihat lagi. Hingga kusadari aku pingsan.

Aku mulai sadar dan membuka mataku, aku sudah berada di ruang UKS. Aku merasa sangat lemas, bahkan untuk berbicara saja itu amat sulit. Aku melihat jam dinding, pukul 08.40, sudah hampir jam Sembilan. Aku tertidur di kasur UKS, kulihat beberapa anak PMR sedang bercanda di depan, sepertinya mereka tidak tahu aku sudah sadar. Lalu guru BK-ku, Bu Syarifah masuk ke ruang UKS, dia menanyakan apakah aku sudah sadar atau belum.
“Rifqi sudah sadar atau belum?” tanya Bu Syarifah ke anak PMR.
“belum kayaknya bu,” jawab seorang anak.
“coba ibu cek dulu,” ujar Bu Syarifah. Bu Syarifah menghampiriku, dan senang aku sudah sadar.
“kau sudah sadar Rifqi?” tanyanya. Aku mengangguk lemas.
“kau pusing atau sakit atau apa?” tanyanya.
“aku… aku hanya belum sarapan bu,”
“oh, kalau begitu ibu belikan nasi di kantin,”
Belum sempat aku menolak, Bu Syarifah sudah menyuruh salah satu anak PMR membeli nasi di kantin. Padahal aku membawa bekal. Anak PMR memberiku teh manis hangat, untuk memeberi sedikit energi. Aku meminumnya perlahan, rasanya sangat nikmat karena teh yang hangat mengalir ke kerongkonganku, dan di dadaku rasanya sangat hangat. Bu Syarifah menempelkan telapak tangannya ke keningku, aku rasa ia ingin mengecek apakah aku panas atau tidak.
“badanmu dingin Rifqi,” ucapnya. Aku hanya mengangguk.
Seorang PMR membawakanku nasi goreng. Aku disuruh makan dahulu, sebelum jam Sembilan. Aku makan sedikit-sedikit, karena aku tidak nafsu makan dan dengan terpaksa aku makan agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan lagi.
“nanti setelah kau baikan, ibu tunggu di ruang BK,” ujar Bu Syarifah sembari meninggalkan ruang UKS.
Pasti permasalahanku terkait dengan keterlambatan tadi. Aku mulai pasrah, aku serahkan saja semuanya ke Allah SWT.

Pukul 09.30, terdengar bel 3 kali, sekarang sudah jam istirahat. Aku sudah merasa baikan dan sudah meminum 2 gelas teh manis hangat. Aku turun dari kasur UKS, dan sebelumnya aku meminum paracetamol untuk jaga-jaga agar tidak pusing lagi. Aku membuka pintu UKS dan menutupnya kembali. Aku melewati kelasku, salah satu temanku, Farhan melihatku dan menghampiriku.
“Rifqi? Bukankah kau tidak masuk? Kenapa kau ada disekolah?” dia menatapku dengan heran.
“Ceritanya sangat panjang, dan kali ini aku punya urusan, lain kali aku ceritakan,”
“tasmu mana? Di kelas tidak ada?”
“entahlah,”

Aku sudah sampai di ruan BK, yang terkenal angker. Farhan tidak mengikutiku lagi, mungkin ia takut. Aku membuka pintu BK perlahan. Aku sangat takut. Aku melihat Bu Syarifah sedang menyiapkan sesuatu, aku membuka pintu BK, dan menghampirinnya.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, oh Rifqi kau sudah baikan?” tanyanya, aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“silahkan duduk,” Bu Syarifah mempersilahkanku duduk, AC yang dingin membuatku semakin gugup.
“ini yang ke-19 kalinya kau terlambat, apa alasanmu kali ini?”
“maaf bu, aku bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Aku naik angkot dan angkot itu ngetem lama sekali, hingga aku memutuskan lari saja, dan aku sampai disekolah tepat bel masuk,”
“itu sebabnya kau pingsan Karena dihukum push up dalam kondisi belum sarapan?”
“betul bu,”
“ibu juga tidak akan sejahat yang kau pikirkan, tapi hukum adalah hukum, ibu tidak punya hak merubah hukum di sekolah ini, dan kau sudah tahu jika kau terlambat lagi?”
“ya bu,”
“sebelum SP 1 melayang, ibu ingin kau berubah menjadi lebih disiplin, datang tepat pada waktunya. Sekarang tanggal 28 Maret berarti 3 hari kedepan kau tidak boleh terlambat. Sebenarnya mulai hari ini kau tidak boleh terlambat untuk selamanya. Sekarang lebih baik kau pulang, istirahat yang cukup dan tidur lebih awal agar bisa bangun lebih awal juga,”
“tapi bu, aku tidak sekolah?”
“tidak usah, lebih baik kau isitirahat,”
“tapi…” belum sempat ku berbicara, Bu Syarifah menyuruhku memakai tasku dan pergi meninggalkan ruangan ini.
“ibu yang akan mengurusi surat perizinan dari guru piket,”

Bu Syarifah mengantarkanku ke meja piket, yang berhadapan dengan kelasku. Aku melihat Farhan yang sedang berdiri di dekat pintu menatapku dengan keheranan. Bu Syarifah mengantarkanku ke pintu gerbang dan Pak Satpam tadi mengantarku sampai kerumahku. Beberapa kali orangtuaku menanyakan keadaanku dan beberapa kali juga aku menjawab aku tidak apa-apa. Aku berterima kasih kepada Pak Satpam yang telah menyiksaku pagi tadi dan ia juga minta maaf karena telah menyiksaku pagi tadi.

Aku bangun lebih awal seperti saran Bu Syarifah, pukul 04.00 aku sudah bangun. Kali ini aku tidak boleh terlambat, ujarku dalam hati. Aku mempersiapkan semuanya, dari baju seragam, buku-buku bahkan sepatu pun aku siapkan denagn kaos kakinya. Aku sholat subuh berjamaah di masjid dan berdoa agar aku bisa lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab. Sepulang dari masjid aku mandi dahulu sebelum sarapan. Kali ini aku tidak akan melewatkan sarapan karena akan fatal akibatnya. Setelah sarapan aku memakai seragam dan sepatu, masih pukul 05.30 aku berangkat sekolah, biasanya saat ini aku sedang susah-susahnya keluar dari alam mimpi. Aku berpamitan pada ibuku dan ayahku. Ibuku heran aku berangkat sekolah sepagi ini.
“loh Rifqi, memangnya tidak kepagian berangkat jam segini?” tanya ibuku.
“kalau kesiangan pasti dihukum, tapi kalau kepagian dihukum atau tidak, coba-coba” jawabku. Ibuku hanya tersenyum.

Aku berjalan sepanjang JL. Artzimar 2. Terlihat lampu penerangan jalan masih menyala, dan langit masih gelap. Apa tidak kepagian? Bahkan matahari belum muncul, tanyaku dalam hati. Aku menunggu angkot yang lewat, tapi tidak ada satupun. Aku sadar ini terlalu pagi untuk pergi ke sekolah, dan akan susah mencari angkot jam segini. Aku memutuskan untuk berlajan ke jalan raya, siapa tahu disana banyak angkot.

Aku berjalan, pagi ini terasa dingin sekali. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada satupun angkot yang lewat. Aku terus menunggu, terihat beberapa angkot yang penuh oleh ibu-ibu yang pulang dari pasar. Akhirnya ada angkot yang kosong. Di dalam hanya ada aku dan 3 pelajar lainnya. Aku melirik ke jam tanganku, pukul 06.00, pukul enam pas, aku yakin aku tidak akan terlambat kali ini. Angkot berhenti di lampu merah, sangat lama berhenti kira-kira 2 menit. Lampu merah sudah berubah warna menjadi hijau, tapi angkot tidak berjalan. Terdengar klakson motor dan mobil yang terdengar kesal karena angkot tidak berjalan. Pak Sopir mencoba menghidupkan mobil berkali-kali, tidak bisa. Hingga Pak Sopir mendorongnya hingga ke trotoar. Pak Sopir kembali menghidupkan angkot, tapi belum menyala. Hingga lampu sudah berubah kembali menjadi merah. Aku masih tenang karena sekarang pukul 06.10, masih lama lagi. Lampu merah kini sudah berubah menjadi hijau. Penumpang lainnya mulai kelihatan cemas. Akhirnya Pak Sopir angkat bicara.
“maaf dek, kayaknya mesinnya mogok, adek cari angkot lain ya,” pintanya dengan sopan. Kami mengangguk dan meninggalkan Pak Sopir sendiri.
Jika aku menunggu di sini kemungkinannya sedikit, sehingga aku memutuskan berjalan searah kesekolahku, biarpun tidak ada angkot, tapi aku bisa ke sekolah. Aku terus berjalan, aku melirik jam tanganku, baru pukul 06.15, aku masih tenang masih banyak waktu. Hingga aku berjalan cukup jauh aku menaiki angkot yang kosong. Tapi entah kenapa sekarang mendadak macet di sepanjang JL. Pajajaran, aku tidak tahu mengapa. Aku mulai lelah menunggu macet, kemacetan yang aneh, angkot ini sudah tidak berjalan lagi, diam di tempat, begitu juga mobil yang lainnya. Hingga aku menyadari untuk sementara JL. Pajajaran ditutup, karena ada kunjungan Pak Presiden ke kota kami. Akhir-akhir ini Pak Presiden sering berkunjung ke Kota Bogor, ini membuat kami bangga, Kota Bogor serasa sebagai ibukota negeri ini.

Aku menunggu lama sekali, kulihat jam tanganku sudah pukul 06.30, tinggal setengah jam lagi. Aku mulai panik, jangan sampai aku terlambat lagi, aku tidak mau mengecewakan orang tuaku dengan melayangnya SP 1. Aku mulai takut, tapi untungnya lalu lintas kembali lancar, angkot kembali melanjutkan perjalanan.
Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 06.35, masih lama. Aku mulai kesal jalanan kembali macet. Aku juga mulai cemas jangan sampai aku terlambat kali ini. Aku sadar jalanan ini macet karena pendemo yang sebagian supir angkot yang menolak keputusan walikota terkait pemberlakuan SSA di Kota Bogor tanggal 1 April nanti. Aku mulai takut akan terlambat, banyak sekali rintangan yang kulalui pagi ini. Aku tidak ingin perjuanganku menjadi sia-sia. Seseorang mendatangi sopir angkot. Sepertinya dia juga supir angkot, dan sepertinya dia memaksa agar pak supir ikut dalam demo ini. Awalnya pak sopir menolak, tapi orang itu memaksanya, dan akhirnya pak sopir setuju dengan terpaksa. Kami diturunkan secara tidak terhormat di tengah jalan. Aku mulai takut, takut jika aku akan terlambat lagi, aku melirik jam tanganku sudah pukul 06.45. lima belas menit lagi!!! Sepertinya menunggu angkot di sini hanya membuang-buang waktu saja. Aku berlari, terus berlari ke sekolahku. Sekolahku memang masih jauh tapi aku akan berusaha agar tidak terlambat kali ini. Aku berlari, entah kenapa aku dikejar anjing. Apa salahku? Hingga aku harus sedemikian keras untuk tidak terlambat. Aku terus berlari, dan anjing yang mengejarku berlari semakin kencang. Aku mulai capek, dan anjing itu menggigit tasku, ia menggigit dengan kuat, aku menarik tasku. Hingga akirnya aku mendapatkan kembali tasku, walaupun dengan kondisi najis berat karena air liur anjing, tapi tak apa aku akan membersihkannya. Aku terus berlari, tampaknya anjing itu sudah tidak mengikutiku lagi.

Keringatku mengucur, aku sudah capek tapi harus berbuat apa lagi? Aku hanya ingin tak terlambat, apa pun akan kulakukan agarkan aku bisa datang tepat pada waktunya. Aku tidak ingin SP 1 melayang begitu saja di depan orang tuaku, aku tidak ingin mendapat penghargaan murid yang paling sering terlambat akhir semester nanti, aku juga ingin mendapat perlakuan sama dengan murid lainnya, aku juga ingin sekolah tanpa dihantui hukuman Pak Satpam dan panggilan BK, aku hanya ingin tak terlambat.

Aku terus berlari, aku tidak sengaja menabrak pengendara motor, yang membuat pengendara motor itu dan juga aku terjatuh. Aku berulang kali meminta maaf padannya, tapi tampaknya ia sangat marah. Kakiku terasa sangat sakit, mungkin karena tertimpa motor tadi, itu membuatku tak bisa berlari. Aku mencoba berlari, apapun yang terjadi aku akan tetap berlari! Aku terus berlari, walau rasa sakit itu terus saja mengiringiku. Aku tidak berani melihat jam tanganku, aku takut jika melihat jam saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan saja, tidak usah memaksakan diri. Sebentar lagi sudah sampai di sekolahku, aku mempercepat langkahku walau rasa sakitnya sudah tidak bisa kutahan.

Tak jauh lagi aku akan sampai di sekolah tepat pada waktunya. Tapi aku mendengar suara yang mengerikan. Aku tak percaya apa yang kudengar. Aku tidak percaya akan hidup ini. Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Bahkan bumi pun berhenti berputar di rotasinya. Aku merasa sangat sangat payah, bodoh, dan tak berguna. Bagaikan sangsakala yang tidak akan ditiup sampai hari kiamat nanti, bel berbunyi 3 kali! Sebuah suara kemerosotan dan kekalahan.

Aku merasa ingin pingsan, tapi lebih baik aku mati. Aku tidak akan mempercayai diriku lagi. Aku adalah seburuk-buruknya manusia, bahkan untuk masuk sekolah tepat pada waktunya saja aku tidak mampu. Aku berdiri mematung di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup. Tak ada Pak Satpam di sana tapi ada Bu Syarifah di sana. Dia hanya menatapku tajam, aku hanya menunduk. Sepertinya aku sudah tidak pantas lagi menginjakan kaki di sekolah ini, yang kuinginkan mengurung diri di kamar atau menenggelamkan diri ke bendungan Katulampa. Bu Syarifah menggeleng-geleng, aku tahu saat ini dia sedang marah, namun ia berusaha untuk tidak meluapkan amarah itu. Semua pikiranku tertuju pada ibuku, betapa sedihnya ia jika aku mendapat SP 1. Aku merasa bersalah kepada orangtuaku, guru-guruku, bangsaku, dan tentunya diriku sendiri. Aku memang tidak berguna. Tapi permohonanku hanya satu, aku hanya ingin tak terlambat.

Cerpen Karangan: Rifqi Herdandi
Facebook: rifqistudyblog
Maaf baru belajar nulis nih. Oh ya, nanti siapapun yang berkomentar d bawah namanya akan ddijadikan nama tokoh di cerpen selanjutnya. Teima kasih sudah membaca

Cerpen Aku Hanya Tak Ingin Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Putih Abu Abu Khusus 3 TKJ 2

Oleh:
Hari ini tepat jam 07:00 aku berangkat ke sekolah baruku Smk Negeri 4 Jeneponto, aku mengendarai sepeda motor pespa motor yang selalu menemaniku kemana-mana, dalam perjalanan ke sekolah aku

A Little Story About Love

Oleh:
Cinta pertama. Cinta pertama adalah secuil kisah yang pernah terjadi di hidupku. Ada senang, sedih, kecewa—semua bercampur menjadi satu. Hal yang paling kuingat adalah kisah manisku dengan dirinya, satu-satunya

Dinda, Ku Tunggu Kau Kembali

Oleh:
Cintaku indah seindah suara yang kau lantunkan dari bibir merahmu, cintaku sejati bagaikan karang yang di hempas ombak, cintaku putih, seputih berlian dan mutiara yang bersinar. Namun, cintaku hancur

I Love You Wiwik

Oleh:
Nama gue Rudi Suprianto. Orang-orang sih biasa panggil gue Rudi, atau sahabat gue biasanya juga panggil gue Shagy (korban iklan). Namun bagi kalian yang belum kenal bisa manggil gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Aku Hanya Tak Ingin Terlambat”

  1. Elsa Amelia says:

    Bagus carpennya…
    Lebih semangat lagi ya nulis cerpen nya..

    By:Elsa

  2. Kasian bgt, perjuanganx bangun pgi sia2 deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *