Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 29 March 2014

Tak ada lelahnya perempuan itu menahan kantuknya. Ingin rasanya dia memejamkan matanya dan tidur selama beberapa menit. Tapi orang-orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Dia tak tahu jam berapa sekarang, yang dia tahu hanya dia telah lama menunggu. Rasa sakitnya saat ini telah di tahannya sejak lama. Tapi dia tetap percaya diri dan mempertahankannya.

Dia rasa ini adalah saat-saat terpenting yang pernah terjadi dalam hidupnya. Saat-saatnya untuk menjadi seorang pahlawan. Setelah banyak yang dilewatkannya atau digagalkannya karena tindakannya sendiri. Tapi untuk kali ini hati nuraninya yakin bahwa dia akan berhasil. Dia percaya bahwa kali ini dia takkan merusak nya. Telah banyak kegagalan yang dilewatinya karena kesalahan fatal yang dibuatnya.

Di saat dia harus membanggakan seseorang yang telah menjadi pahlawan juga untuknya, dia dikeluarkan dari sekolahnya karena terlibat masalah yang sangat ia sesali hingga saat ini. Dia tahu, mungkin memang sudah terlambat untuk membalas kepahlawanan ibunya saat ini. Bahkan di saat terakhir hidup perempuan itu, dia tak ada.

Berbagai emosi bercampur aduk antara menyesal, sedih, dan lelah. Bahkan kesabarannya pun sudah hampir habis. Tak terasa air mata keluar dari pelupuk mata cokelat gelapnya. Setelah kehilangan satu lagi pahlawan di hidupnya beberapa bulan yang lalu. Dia merasa hidupnya tak ada artinya. Pahlawan itu tak lain adalah suami yang mengajarkannya tentang hidup. Yang memberi nya petunjuk ke arah cahaya kebaikan juga memberi tahunya siapa pahlawan sebenarnya yang telah menciptakannya dan semua yang ada di dunia ini. Tapi di saat yang sama, dia pikir sebentar lagi dia yang akan menjadi pahlawan bagi orang lain. Walaupun dia pikir telah kehilangan banyak pahlawan dalam hidupnya, tapi dia yakin bahwa dia juga bisa menjadi pahlawan.

Dia tak pernah bangga pada dirinya sendiri selama masa hidupnya sampai hari ini. Dan inilah saat-saat ia akan bangga pada dirinya sendiri. Juga akan memberikan kebahagiaan atas jerih payahnya selama sembilan bulan melewati barbagai macam rintangan yang di hadapinya. Ia juga tak sabar akan ditemani seseorang malaikat yang sebentar lagi akan ditemuinya di dunia ini. Setelah beberapa lama hidup tanpa seorang pun yang menemaninya menjalani beratnya hidup ini. Seseorang yang akan ia cintai sungguh-sungguh dan ia jaga lebih dari benda paling berharga sekali pun di dunia ini. Seseorang yang ia harap tidak akan sama mengecewakannya sepertinya di masa lalu.

Rasa sakit yang dirasakannya tak dapat lagi ditahannya. Saat itu juga orang-orang yang tadi ditunggunya datang mencoba membantunnya mewujudkan kisah ke pahlawanannya itu. Rasa sakit yang sangat menjadi itu seolah memaksa nya untuk menyerah. Tapi rasa tanggung jawabnya menyemangatinya untuk terus tetap bertahan dan terus berusaha.

Pada saat itu juga orang-orang yang ditunggunya datang dan membantunya mewujudkan kejadian paling berharga pada hidupnya itu. Orang-orang itu juga ikut menyemangatinya. Dengan sekuat tenaga ia dorong kuat-kuat janin yang akan segera melihat dunia itu. Dia tahan rasa sakitnya itu sampai akhirnya suara tangisan seorang bayi pun terdengar di telinganya. Dengan tersayup-sayup matanya yang telah lelah juga mengeluarkan airmata bahagia.

Dan bibir lebar tipisnya menyungging kan senyuman kebanggan atas dirinya yang telah menjadi seorang ‘ibu’.

Cerpen Karangan: Nadia Safarah
Facebook: Nadia Safarah

Cerpen Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)

Oleh:
Di suatu kota, tepatnya di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joe Sandy dan Abu. Joe merupakan seseorang yang cerdas dan hidup sendiri

Hidup dan Mati

Oleh:
“Felly! Makan, yuk!,” ajak Riska dengan memeluk leher Felly dari belakang. “Kemana?,” tanya Felly. “Kantin? Ada men baru, loh!,” Riska dengan senyuman cerianya. “Hmmmmm, gimana kalau sepulang mapel gue

Berkat Lori Aku Bisa Sekolah Lagi

Oleh:
Anto berlari menyelusuri jalan-jalan pintas di sebuah permukiman kumuh yang terletak di utara kota Jakarta. Walaupun napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran di hampir seluruh tubuhnya karena sinar matahari yang

Perjanjian Masa Depan (Remake)

Oleh:
Hidup dengan masalah itu membuat hidup lebih berwarna. Apalagi masalah mengagumi seseorang dengan penyebab yang gak jelas. Hahaha… itulah yang sedang kualami. Semua ini berawal dari hari pertamaku masuk

Demi Bangsa

Oleh:
Saat penjajah menginjakkan kaki di tanah air ini, para pahlawan Indonesia tidak akan pernah tinggal diam diinjak oleh penjajah meski senjata hanyalah bambu runcing. Perlawanan demi perlawanan terus berlanjut.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *