Jati Diri Yang Tak Pernah Sirna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 2 September 2020

Berawal dari pinggir jalan yang jarang ada orang melawatinya, ada tangis seorang bayi, yang entah dari mana asalnya, disaat itu ada seorang ibu mendengar tanggisan itu, awalnya ia ketakutan raut wajahnya berubah menjadi panik, tetapi semakin diamati semakin nyata tangisan itu, ibu itupun mencari pusat suara itu ke kanan dan ke kiri jalanan, akhirnya ia menemukan dalam keranjang bayi ada seorang bayi kecil laki-laki, ibu itupun langsung terkejut karena bayi malang itu dalam keadaan badan yang membiru, ibu itu mengambil tindakan untuk membawanya pulang ke rumahnya.

Setelah sampai di rumah ibu itu langsung mencoba menghangatkan bayi itu dengan pelukkan, tiba-tiba datanglah keluarga ibu, adik, anak dan suaminya, meraka semua sangat senang melihat itu, karena bayi itu sangat manis baginya, meraka sekeluarga berniat membesarkan bayi itu walau dalam keadaan keluarganya yang sederhana.

Bayi kecil itu diberi nama Beni, Beni tumbuh begitu cepat, ia sudah memasuki bangku sekolah dasar, di kesehariannya ia membatu ibunya bekerja di sawah, jualan kue, dan urusan rumah tangah lainnya.

Di suatu waktu ibu memanggil Beni.
“Beni sini nak, ibu mau bicara”
“Ada apa bu?”
“Gini nak ibu mau ceritakan sesuatu tapi Beni harus tidak boleh membenci ibu setelah itu”.
“Kenapa harus saya membenci ibu”

“Beni!! Sebenarnya kamu itu bukan anak kandung ibu” Dengan sangat takut melihat respon Beni mendengarnya.
“Semenjak Beni berumur 5 tahun Beni sudah tau kok siapa diri ini”
“Ibu minta maaf nak” Dengan sangat sedih sambil menjatuhkan air mata
“Ibu biarpun Beni ini gak lahir dari rahim ibu, tataplah Beni anak ibu, karna ibu sayang Beni, rawat Beni dengan ihklas itu sudah lebih dari cukup kok” Beni tersenyum manis dengan ihklas
“Ibu sayang Beni” seraya memeluk Beni

Tiap harinya Beni berangkat ke sekolah berbonceng sepeda dengan kakaknya, ia begitu giat belajar mencari keahlian dalam segala hal mulai dari menulis, membuat puisi, sampai melukis, awalnya cuma coba-coba mengambar hal yang tak pernah ia pikirkan tapi semakin ia berusaha semakin banyak ia ingin mengetahui, ia sering mengikuti lomba-lomba antar sekolah, ia sangat berbakat dalam hal melukis ia sering berlomba dan jarang pulang tanpa kebanggaan.

Di suatu hari ibu Beni telah kehabisan bahan utama di dapurnya, ia sangat bingung entah dari mana ibu mendapatkannya, sesampai di rumah Beni pulang membawa uang yang begitu banyak
“Dari mana itu Ben kok banyak sekali?” Ujar ibu
“Tenanglah bu, Beni ini mengembangkan bakat Beni sebagai pelukis kecil”
“Apa kamu berjualan lukisan kamu untuk membantu ibu?”
“Iya bu” Ungkapnya dengan senyum percaya diri

Ibu pun tak bisa berkata-kata, ia sangat bangga terhadap Beni yang begitu memikirkan tentang Ibunya, hingga saatnya Beni meranjak memasuki bangku sekolah pertama (SMP) Beni dengan percaya diri mendaftarkan dirinya untuk memasuki sekolah itu.

Setelah melawati beberapa tes, dan hasilnya membuat Beni lulus masuk sekolah itu, tapi Beni tiba-tiba tak ingin bersekolah lagi karena dengan biaya sekolah, ibunya akan sangat kesusahan dalam mencari uangnya, akhirnya Beni bertekad mencari uang dengan bekerja di bangunan sebagai buruh harian, setelah Beni bekerja Beni memiliki usaha untuk mengubah kinerjanya dengan membuat sebuah kerya seni.

Memulai dengan membuat profil dinding, patung seni, lukisan dinding, akhirnya Beni pun mengadu nasib ke kota Makassar, dengan bermodal tekad dan bakat itu, tak lama disana ia hampir saja menyerah dengan segala usahanya, usaha kerajinannya pun gagal, akhirnya ia pun dengan berani mengambil suatu pekerjaan yaitu membuat pantung untuk pertama kalinya, ia membuat pantung itu tak mudah dan tak susah asalkan ia berniat ihklas mencari jati dirinya.

Hasil karyanya pun dipajang di setiap kota baik di mall, hotel, dan di rumah rumah yang memesannya, dan disuatu waktu ia menemukan sebuah cinta untuk kehidupan selanjutnya, ia mencintai wanita dari kota Makasaar itu, ia menikahi dan memiliki anak, tatapi tekatnya belum juga sirna untuk masih berkarya walaupun ia tak tahu siapa dirinya, dari mana asal dirinya, ia tak mengenal hal itu, ia cuma bertekad mencari dirinya di kehidupan selanjutnya, berusaha tak pernah kenal lelah di usia yang akan datang.

Cerpen Karangan: Mita Ayunda
Blog / Facebook: mitha ayundah
Mita Ayunda berasal dari kota Makassar Sulawesi Selatan

Cerpen Jati Diri Yang Tak Pernah Sirna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehidupan Adalah Misteri

Oleh:
Aku hidup di desa yang terpencil di suatu perkampungan. Aku lahir dari keluarga cukup memprihatinkan, rumah yang kami tempati sangat kecil bahkan jika ada angin yang kencang membuat kami

Gubuk

Oleh:
Senandung angin mengusik celah kayu jendela, menerobos masuk menusuk tulang renta seorang perempuan yang tebaring di samping anaknya. Rembulan malam tidak sedang menangis, seakan memandang dua orang itu dengan

Ketika Aku Harus Memilih

Oleh:
Namanya Anita, ia seorang gadis yang rajin dan pintar. Sekarang, ia duduk di bangku SMA. Dia mempunyai mimpi untuk menjadi seorang dokter. Namun, terkadang ia harus memendam mimpinya itu,

Survival (Part 2)

Oleh:
Aku menyelesaikan shalatku dalam gemeretak gigi dan gemetar tubuh. Entah khusyu atau tidak, aku mencoba senormal mungkin menjalankan ritual ibadah ini. Aku mulai bisa berpikir jernih. Teringat kata-kata komandan

Muslihat (Part 2)

Oleh:
13, April, 2016, 00:01, pesta makan malam Dari sisi sebuah meja, Asa berdiri mengangkat tangannya, memandang setiap orang berkeliling dengan mata yang bergetar. Sesaat ia ingin menahan katanya, sungguh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *