Kebenaran Tak Kan Usai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Suara itu terdengar sangat jelas sekali, menggetarkan gendang telinga ini sampai ke hati. Baru-baru ini mereka menyerang kota lagi, setelah beberapa hari berlalu.

“Ziyad, bangun ziyad! Apa telingamu telah ditulikan karena suara yang menggema ini? Ayo bangun!” aku berusaha membangunkan adikku yang sedang tidur terlelap.
“Ah, kakak, ada apa ini? Ap-”
“Sudah nanti lagi bicaranya, cepat keluar!” aku memotong perkataannya.

Benar saja di daerah belakang rumahku asap berkepul-kepul, kurang lebih berjarak 400 meter dari rumahku, kejadian ini menimpa rumah-rumah yang telah runtuh itu seketika.
“Betapa biadabnya ini!” aku bergeming dalam hati.

Zaman sekarang sudah dikuasai penuh dengan teknologi, 40 tahun silam peperangan memang kerap terjadi, hanya bermodal senjata buatan pandai besi ulung, demi membela hak tanah kami sebagai warga yang diisolir oleh mereka, kami terus memperjuangkannya hingga sekarang. Tak ada satu pun titik temu, entah itu semisal perdamaian.

“Zaid!!” Teriak seseorang jelas di depanku.
“Zaid kemarilah!!”
Aku bersama adikku menghampirinya.
“Beruntung kalian berdua selamat, sebelum terlambat mari kita menuju tempat aman.”

Tanpa banyak berbicara, kami mengikutinya. Sembari melihat sekeliling, terlihatlah hancurnya rumah-rumah yang sekarang rata dengan tanah. Pepohonan yang rindang kini tidak menampakkan lagi keelokkannya. Kini tanah menjadi gersang. Teknologi menjadi andalan mereka sekarang ini, teknologi yang hanya bisa membombardir meluluhlantahkan sekelilingnya, bukankah biadab? Menggunakan teknologi sebagai senjata pemusnah massal.

“Kini kita sampai di tempat. Bantulah pasukan kita walau pun dengan doa, semoga diantara doa orang yang banyak ini, dari kalian lah doa itu dapat terkabul.”
“Terima kasih pa Ram telah mengantar kami.” kataku.
“Tenang saja, ini sudah menjadi tugasku untuk menolong umat. Aku akan berpatroli lagi barangkali menemukan seseorang yang perlu ditolong.” aku memegang tangannya, menghentikan langkah pa Ram.
“Izinkan aku ikut pa!”
“Zaid, tidak perlu lah kamu membantu kami, jagalah adikmu saja. Aku sangat berterima kasih kamu mau mengulurkan tangan kepada kami.”
“Baiklah pa. Hati-hati, semoga Tuhan merahmatimu, pa.” ujarku sembari melambaikan tangan padanya.

Tidak hanya ada adikku dan aku, banyak orang-orang berkumpul di sini, yang merupakan salah satu rumah sakit pusat dan tempat yang tidak lumayan jauh dari rumah kami. Mulai dari orang yang berlumuran darah, jerit kesakitan, tangisan anak kecil, mengisi penuh rumah sakit ini. Aku peluk adikku yang baru berumur 10 tahun itu. Suasana penuh haru dalam ruangan, namun kebengisan luar biasa di luaran sana. Dari sini pun sama terdengarnya, suara bom meledak, roket bertabrakan, membuat riuh tempat ini karenanya.

“Kak, semoga papa sama mama tidak sengsara ya, semoga buah yang mereka petik adalah setimpal.” kata Ziyad dengan tangisnya.
“Tentu adikku, mana mungkin mereka yang berjuang dalam kebenaran mendapati yang sebaliknya. Dan semoga benar perkataanmu, adikku.” kataku menenangkannya.

Betul, orangtua kami telah meninggal karena kebengisan ini. Mereka memperjuangkan hak kami, maka balasannya akanlah setimpal. Itu yang kami percayai. Namun beribu sayang selalu aku lontarkan kepada saudara kami, yang mengakhiri hidupnya lebih tragis lagi, bunuh diri. Tidak suka dengan kondisi melebihi batasnya, karena penderitaan ini kesabaran telah kedaluwarsa. Begitu yang mereka keluhkan. Tentu tidaklah berlaku bagiku, karena hanya sia-sia saja yang bakalan kudapati. Dan aku sangat membenci hal itu.

Sekarang aku mencoba memantapkan hati ini untuk tegar, bersiap melaju ke medan pertempuran. Biar pun dikata janganlah ikut membantu, sungguh aku sudah tidak tahan akan keadaan ini. Membuat dadaku sesak saja, dan tak lebih daripada banyaknya keluar air mata. Aku tegaskan lagi pada diri ini, beranilah melangkah.

“Adikku, doakan kakakmu ini, yang akan mengikuti peperangan dan meninggalkanmu di sini seorang. Kakak harap adik mengerti, karena kakak sangat menyayangimu maka kakak harus ikut berjuang mengikuti langkah perjalanan orangtua kita. Tentu adik pun dapat berpartisipasi dalam perang ini, maka bantulah orang di sekitarmu ini semampumu, bantulah mereka yang kesakitan, janganlah adik sia-siakan air mata mereka yang terus mengalir hingga kekeringan.” ucapku sembari memeluknya.
“Kakak berangkat!” aku beranjak pergi meninggalkannya.
“Semoga perkataan kakak terkabulkan, aku akan memenuhi perintah kakak semampuku.”

Terlihat sesungging senyuman merekah itu dari adikku. Tulus dan tanpa tersisa ragu dalam raut wajahnya. Aku melangkahkan kaki menuju ruang perlengkapan perang. Bersiap bertempur menatap ke depan dengan mantap.

“Akhirnya tiba waktunya untukku berperang. Kebenaran pasti tak kan sirna dari bumi ini!”

Cerpen Karangan: Aldi Febrian
Blog / Facebook: chotte.waper.co / Aldi Febrian (AlfaRyui)
Yang ingin berdiskusi dengan penulis, kirim saja pesan via FB penulis ya!

Cerpen Kebenaran Tak Kan Usai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rainy (Part 2)

Oleh:
Seorang suster yang menemaniku dan membantuku untuk mengecek status gadis ini perlahan-lahan undur diri dan meninggalkan kami berdua dengan senyuman lebarnya yang tidak dapat disembunyikan. Ketika suster itu berhasil

Tianna Dan Peri Yang Dikutuk

Oleh:
Aku membuka lembar demi lembar album foto yang sudah lama sekali. Album itu berisi foto-foto diriku bersama kedua sahabatku dulu, tapi sekarang mereka berubah, mereka bukan sahabatku lagi. Bulir

Mati Dalam Angan (Part 2)

Oleh:
Kami berenam langsung berlari keluar dari lubang perlindungan menuju tempat yang direncanakan. Sementara Kapten Ade berlari ke arah lain untuk memancing perhatian regu tembak dan berhasil, semua tembakan langsung

Nenek Tua di Sisi Kota

Oleh:
Kaki kecilnya tak pernah berhenti melangkah menyusuri liku-liku jalan yang dipenuhi hiruk pikuk masyarakat kota. Tangan lihainya menjajakan sebuah kue sederhana khas kota tempat kelahirannya, demi menyambut esok pagi

Pengamen Jalanan

Oleh:
Kuku yang biasa kugunakan untuk memetik senar gitar kini sudah mulai memanjang dan menampakkan setumpuk kotoran disana. Kotoran yang tampak lebih kotor dari setumpuk sampah di jalanan Ibu kota

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *