Lari (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 11 January 2018

Gadis kecil yang usianya belum genap sebelas tahun itu tengah duduk meringkuk di kubangan air keruh di bawah jembatan kayu sungai kecil. Terlindung dari pandangan para serdadu perang pemburu, berkat hari mulai senja dan rerumputan liar di sekitar sungai yang menyamarkan keberadaannya. Ia masih membungkam mulutnya sendiri erat-erat dengan kedua tangannya sambil merapal do’a yang entah bagaimana, berharap mereka segera pergi. Dibekapnya mulut itu semakin kuat saat dirasakannya napasnya semakin bergetar hebat. Air matanya kian menganak sungai seiring ketakutannya yang terus tumbuh setinggi gunung.

Wanita muda itu masih terus membelai punggung gadis kecil di samping kanannya berharap agar gadis kecil itu lebih tenang. Tangan kanannya terus bergerak lembut seolah menyalurkan kekuatan. Dengan tatapan yang sama ketakutannya dia mencoba untuk terus membangun dinding keberanian. Tangan kirinya masih menggendong bayi perempuan yang tadi ia temukan begitu saja di antara bayaknya mayat. Entah di sebelah mana dari kota ini yang telah mempertemukan mereka, cepat dan menakutkan itu saja. Dia sangat bersyukur bayi tersebut masih tertidur, tapi sampai kapan ia tak tahu.

Bayi dalam gendongan wanita muda itu tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi saat ini. Semenjak digendong dengan nyaman bayi itu terus tertidur. Sementara perempuan yang menggendongnya terus berharap bayi itu bisa terus bernapas. Perempuan itu tak yakin bagaimana ia akan merawat bayi itu. Dia hanya berpikir untuk menyelamatkanya saat itu juga. Dia tidak terlalu ingat apa yang telah terjadi memorinya seakan seperti vidio rusak jika mengingat kronologi hari ini, ia bisa saja meninggalkan bayi itu tadi, tapi entah apa yang membuatnya memilih membawa bayi itu bersamanya. Yang jelas otaknya sedang buntu ditengah ketakutan akut.

Tentara yang entah datang dari mana dan untuk apa? Ia tak tahu pasti, masih berjalan di sekitar mereka. Yang satu itu berdiri hampir tepat di sebelah gadis kecil tadi, andai tak ada rumput liar tumbuh tinggi di sana. Untuk saat ini mereka sungguh bersyukur masih ada tempat tersembunyi di kota ini. Kubangan kotor sungai mati dengan bau tak sedap ini, setidaknya sudah menyelamatkan nyawa mereka sampai detik ini. Satu orang lagi sedang berjalan di jembatan tepat di atas kepala perempuan itu. Kemudian ada beberapa orang ikut turun ke sungai. Seseorang yang suaranya terdengar di sisi lain dari sungai berbicara dalam bahasa asing yang entah apa. Suara derap langkah seperti berlari terdengar dari arah belakang mereka tiba-tiba berhenti. Suaranya lantang berbicara dalam bahasa asing yang sepertinya instruksi penghentian operasi mereka untuk sekarang, sebab setelahnya terdengar langkah yang banyak itu meninggalkan area sungai itu.

Sudah cukup lama mereka berada di sana, tubuh rasanya semakin lelah, nyali pun kian menciut, kaki mereka sudah kesemutan sejak tadi, dan gadis kecil itu sudah hampir tidak tahan. Dia mencoba untuk keluar dari persembunyian, tapi segera dicegah perempuan muda di sebelahnya. Dia sungguh ragu tentara itu sudah meninggalkan mereka sepenuhnya. Dibuatnya gestur tanda diam dengan telunjuk yang menyentuh bibir pada gadis kecil tadi. Disandarkanya punggung itu ke kayu berlumut penyangga jembatan, rasa jijik dan mual sepertinya sudah pergi terusir oleh ketakutan dan kelelahannya. Ia benar-benar lelah, tangannya sedikit menggeser posisi gendonganya pada bayi itu.

Posisinya sungguh tak nyaman, tapi entah sudah berapa menit mungkin matanya telah terpejam, ia sendiri tak yakin. Hari sudah benar-benar gelap saat gadis kecil itu menarik ujung lengan kemejanya, membangunkannya. Gadis kecil itu tak buka suara, ia yakin gadis itu tidak bisu, hanya merasa kondisinya memaksa untuk terus diam. Ia juga tak ada keinginan bicara kecuali jika ingin cari mati.

Kini telinganya ia tajamkan, matanya berkilat nyalang, seluruh indranya ia paksa bekerja lebih keras dan teliti demi mencari celah untuk keluar dengan selamat. Gadis kecil itu mentapnya penuh harap, seolah mempercayakan keselamatanya pada perempuan yang bahkan namanya pun ia tidak tahu. Bayi dalam gendongan perempuan muda itu masih berada dalam belaian mimpi, napasnya teratur seperti tak terganggu dengan kedaan sekitar, ia pun tidak peduli dengan kondisi hidup mati yang ia alami.

Otak perempuan muda itu terus berputar mencari berbagai cara yang mungkin dilakukan. Kini setiap langkahnya sangat menentukan hidup mati mereka bertiga. Ia tidak yakin pasukan perang asing yang menduduki kota ini sudah pergi, justru sebaliknya ia yakin bahwa mereka akan makin siaga untuk menghadapi pasukan balasan yang mungkin datang kapan saja untuk kembali merebut kota ini. Bagaimanapun mereka bertiga tak mungkin terus bertahan di tempat tanpa sumber daya ini, selain itu mereka bisa tertangkap dan dibunuh kapan saja.

Perempuan itu mulai menilai kemungkinan para serdadu itu berkeliaran di sekitar meraka. Setalah cukup lama dirasakannya suasana sunyi itu, mulailah dia marangkak ke bagian terluar persembunyian mereka. Dilemparkannya sebuah batu ke arah air di area luar persembunyian mereka, setelah dirasa tidak ada respon apapun, kepalanya ia julurkan untuk melihat dan memastikan kondisi sekitar. Ia tak yakin aman tapi sepertinya daerah sekitar sungai ini sudah bersih dari manusia hidup. Sepanjang area pandangnya hanya tampak gelimpangan mayat. Ia masih memberi isyarat pada gadis kecil itu untuk menahan diri.

Keraguan tampak di wajahnya yang kotor, berkeringat, dan ketakutan, tapi ia terus berusaha membangun keberanian itu sekuat tenaga. Dia kembali melirik bayi dalam gendongannya sekilas, kemudian melihat ke arah gadis kecil yang masih terus menatapnya penuh harap. Dengan keberanian yang mungkin tidak sampai setengah persen ia mempertaruhkan nasibnya. Memberi aba-aba pada gadis kecil itu untuk segera keluar dari benteng darurat mereka.

Gadis kecil itu merangkak keluar dari tempat tak layak yang telah sudi mereka jadikan tameng itu. Dia mengekor di belakang perempuan muda yang berjalan mengendap dengan langkah cepat. Mereka masih berjalan menyusuri sepanjang aliran sungai di mana terdapat banyak semak. Gadis kecil itu tampak jauh lebih ketakutan sekarang, langkahnya berat dan perutnya lapar. Namun sebisa mungkin ia berusaha menyamakan kecepatan langkah perempuan muda di depannya. Dia benar tak tahu harus bagaimana, tapi tak ada pilihan lain selain terus mengikuti orang di depannya ini. Entah apa, dengan keheningan total ini, suara angin pun sekarang terdengar sangat menakutkan bagi mereka.

Kini mereka kembali berjalan ke arah kota di mana mungkin masih bisa mereka temukan sumber daya yang masih bisa mereka manfaatkan. Sekalipun gadis kecil itu tak tahu bagaimana perempuan di depannya akan menemukan jalan keselamatan untuk mereka di tengah kota yang gelap gulita, hancur, dan berbahaya ini sekarang.

Gadis kecil yang mengekor itu menarik ujung kemeja perempuan di depannnya beberapa kali hingga perempuan itu menoleh, sedikit memberi perhatian. Kemudian dengan antusias gadis kecil itu mengarahkan telunjuk kirinya ke arah kanan di mana terdapat deretan ruko yang terlihat berntakan. Arah mata gadis itu tampak lebih antusias melihat billboard yang bahkan kondisinya sudah rombeng dan tergeletak jatuh begitu saja. Ya kini perempuan itu tahu maksud gadis kecil tadi, di arah sana ada jalan keluar dari kota ini. Sekalipun sempat bingung untuk kembali ke kota atau keluar kota, sekarang meraka akhirnya bergerak dengan hati-hati menyeberang jalan menuju deretan ruko yang dimaksud.

Perempuan muda itu mulai panik saat dirasakannya gerakan aktif bayi dalam gendongannya menunjukan tanda ia terbangun. Langkanhnya ia percepat setengah berlari. Perasaanya bercanpur aduk, semakin ketakutan kalau-kalau bayi itu tiba-tiba menangis. Gadis kecil di belakangnya semakin sulit mengimbangi langkahnya yang kian cepat, tenaganya terasa habis menguap. Gadis kecil itu jatuh tersungkur akibat kelelahan. Benar saja saat perempuan itu hendak menolong gadis kecil berdiri, sang bayi justru mengeluarkan jurus andalannya yang bisa membangunkan siapa saja yang terlelap kecuali mereka yang mati.

Setidaknya perempuan itu masih bisa mengatasi kekhawatirannya karena semua yang berserak di sini sudah tak bernyawa. Namun rasa syukurnya menguap saat didengarnya derap langkah kaki terdengar seperi para serdadu entah datang dari mana. Dengan tergopoh-gopoh perempuan itu segera menggenggam tangan gadis kecil tadi setengah menyeret, dengan sebelah tangannya yang tidak ia gunakan untuk menggendong. Sesegera mungkin ia berlari mencari tempat di sekiranya yang bisa dijadikan tempat berlindung. Mereka berlari tak tentu arah, rasa takutnya terus membayangi dan merusak segala sistem navigasinya, membuat kota ini menjadi semacam labirin raksasa yang menakutkan.

Entah apa yang membawa mereka pada sebuah reruntuhan di mana mereka sekarang bersembunyi. Perempuan itu jelas dalam keadaan panik tingkat dewa, dengan kondisi bayi di gendonganya yang tak kunjung diam. Gadis kecil di sampingnya terlihat sangat kelelahan, tubuhnya kian bergetar hebat, perempuan itu yakin anak ini pasti hampir tak kuat menahan lapar. Ide bodoh atau nekat, mereka bersembunyi di bawah meja di sebuah toko furniture yang sangat gelap dan pengap dengan tumpukan barang dan mayat yang jelas tak beraturan.

“Mungkin dia haus.” Perempuan itu masih memutar otak dan berusaha menenangkan sang bayi, ketika tiba-tiba gadis kecil itu berbisik sangat lirih hampir tak terdengar jika perempuan itu tak benar-benar menajamkan telinganya.
“Aaa…” Perempuan itu seperti punya ide gila, menyusui bayi itu sekonyong-konyong. Dia tidak tahu bagaimana, tapi tampaknya tidak ada cara lain. Setidaknya dia sedikit tahu bagaimana cara kerja menyusui, dan tidak mungkin akan keluar yang diinginkan bayi itu dari sana. Dia bukan ibu-ibu, dia belum menikah, hamil, dan punya bayi jadi ini bisa disebut ide konyol, tapi setidaknya itu bisa menyumpal mulut si bayi agar tidak terus menangis. Tidak ada ide lain pikirnya.

Gadis kecil di sampingnya tampak risih sendiri dengan kelakuan perempuan itu. Air mukanya terlihat ketakutan dan aneh seperti ingin tertawa dan ngeri. Ia seperti tak yakin dengan tingkat kewarasan perempuan yang menolognya itu. Dia terus melirik memperhatikan tingkah perempuan di sampingnya yang sedang menyusui si bayi lewat ujung matanya, merasa tidak enak atau malu mungkin, jika terang-terangan menatapnya.

Perempuan itu menatap gadis kecil di sampingnya dan sedikit menggerakkan dagunya sendiri seolah bertanya, kau kenapa? Karena merasa diperhatikan, gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya kuat merasa aksinya tertangkap basah.

Perempuan itu meringis menahan sakit akibat gigitan bayi di sana. Iya sangat yakin itu berkat apa yang diinginkan bayi itu memang tak ada di sana. Semakin lama bayi itu menyusu semakin kuat, dan perempuan itu hampir menangis dibuatnya. Sekuat tenaga ditahannya rasa sakit itu sambil memikirkan jalan keluarnya.

Entah karena yakin, nekat, atau tidak tahan perempuan itu memberi aba-aba untuk segera meninggalkan tempat mereka bersembunyi sekarang. Sementara sedang menyusui sang bayi, dia memimpin aksi pelarian ini. Kini mereka hanya bisa berjalan mengedap perlahan. Mereka terus melangkah dengan sangat hati-hati dan sewaspada mungkin. Sepanjang jalan yang mereka lalui adalah gang-gang kecil.

Mereka mendapat jalan di daerah pinggiran yang sepertinya mengarah keluar dari kota. Di sana mereka melihat sebuah minimarket yang sudah bobrok hampir tak berupa. Mereka mempercepat langkah demi memanfaatkan sumber daya yang masih tersisa. Sementara itu perempuan itu sepertinya mendapat angin segar untuk segera lepas dari penderitaannya.

Sesampainya di sana mereka langsung masuk tanpa harus membuka pintu kaca yang sudah hancur lebur. Tanpa aba-aba gadis kecil itu langsung menuju arah rak makanan mengambil sebuah roti dan memakannya dengan tergesa. Sementara perempuan yang keadaanya sudah sangat meragukan itu mengambil tas ransel dari salah satu mayat yang terserak di depan mini market dan membawanya ke dalam. Sebelum menggunakan tas tersebut dia mengobrak abrik isinya mengambil beberapa benda yang sekiranya bisa dimanfaatkan dan membuang sisanya.

Gadis kecil tadi sedang sibuk dengan rotinya dan sebotol kecil air mineral. Perempuan muda yang tengah menyusui bayi entah siapa, sedang sibuk di rak susu bayi dan sangat kebingungan dengan beberapa pilihan yang jelas ia tidak berpengalaman dalam hal ini. Hingga diputuskannya untuk mengambil cukup banyak dengan berbagai jenis yang diayakini adalah susu bayi dan dimasukannya dengan serampangan ke dalam ransel. Setelahnya iya menuju rak peralatan bayi dan mengambil beberapa botol susu bayi tanpa sempat memilih, mengambil sebuah alat bantu gendong yang tampak sanggat kotor tapi langsung digunakannya, beberapa diapers berbagai bentuk, ukuran dan merk, mengambil beberapa peralatan yang sekiranya perlu dan memasukannya ke dalam ransel yang sudah terisi cukup banyak.

Gadis kecil itu mulai mencari dan mengumpulkan berbagai jenis makanan dan minuman tapi dia kebingungan bagaimana akan membawanya. Lantas bergegas ke arah kasir dan mengambil kantong plastik. Sampai dilihatnya si perempuan tadi kembali berada di luar sedang kerepotan berusaha mengambil ransel lagi dari salah satu mayat laki-laki yang tergeletak di seberang jalan. Segera saja dia lari membantu Perempuan itu dan mengikuti jejaknya.

Berbekal dua ransel yang cukup besar, sebuah tas pinggang dan sebuah tas selempang hasil sumbangan mereka yang telah berpulang, perempuan muda dan gadis kecil tadi berburu berbagai logistik yang mereka butuhkan. Bukan mereka tidak tahu ini adalah penjarahan, tapi mereka benar-benar tidak punya pilihan jika ingin mengatasi rasa lapar ini.

Cerpen Karangan: Orin
Facebook: Macorinda Satya Nurani

Cerpen Lari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Pagi Proposal Skripsi (Part 1)

Oleh:
Kamis, 12 Maret 2015. Matahari bersinar begitu cerahnya, meski awan mendung bereuni di ufuk barat. Fito, seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Malang

Kampung Kerang

Oleh:
Pemukiman yang kumuh dan rumah yang berdempetan sudah biasa dijalani oleh warganya. Kampung itu terletak di pinggir laut. “Kampung Kerang” nama kampung itu. Banyak lelaki yang menjadi nelayan di

Pick Up To Texas (Part 2)

Oleh:
Matahari lebih terlihat terang di ujung bertanda hutan akan berakhir dan hujan pun mulai mereda. Dengan semangat yang lebih dalam, Benny mendorongnya lebih keras dan cepat, berharap bengkel menyambutnya

Cinta Atau Negara

Oleh:
Aku adalah Letnan Wili. Aku adalah seorang mata-mata. Sejak umur enam tahun aku mulai menyukai hal-hal yang bersifat militer. Aku memang berbeda dari anak-anak lainnya. Di mana yang lain

Kisah Mitha Dan Tragedi Trisakti

Oleh:
12 mei 1998, pukul 07.30 WIB Masa yang terdiri dari para mahasiswa, dosen dan alumni universitas trisakti mulai mendekati mimbar bebas untuk mendengarkan orasi politik dan menyuarakan aksi damai,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *