Lari (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 11 January 2018

Merasa cukup mereka masuk ke gudang minimarket di balik pintu di belakang ruang display. Mereka sangat lelah, perempuan muda itu melepaskan gendongannya pada sang bayi dan meletakannya pada polytainer bekas wadah detergent yang sudah dialasinya dengan beberapa kain entah apa mungkin sejenis serbet atau handuk mungkin, yang tadi diambilnya secara acak dari display. Gadis kecil tadi terus memperhatikan tingkah perempuan itu yang serampangan kemudian disodorkannya sebotol air mineral tanpa berkata apapun. Ia tahu perempuan itu tengah sangat tidak fokus. Melihat kepedulian gadis kecil itu, si perempuan meraih sebotol air mineral dan langsung meminumnya dengan cepat.

Setidaknya hatinya lebih tenang dan kepalanya lebih dingin sekarang. Setelah dibersihkan tangannya dengan alat seadanya dikeluarkannya sekotak susu bayi sembarang dan sebuah botol susu, kemudian dicobanya untuk menyeduh dengan air mineral yang tadi diminumnya yang masih tersisa setengah. Setelah disudahinya aksi menyusui konyol, kini giliran sang botol susu yang mengambil alih tugas sekaligus mengakhiri penderitaannya. Tidak ada cara lain, setidaknya sang bayi bisa minum susu. Merasa sedikit lega karena sang bayi mau menikmati hasil karya yang sesungguhnya secara pribadi ia ragukan, ia tersenyum.

Tanpa sempat membereskan bajunya yang masih kotor ia meminta gadis kecil di depannya untuk membantu mengambil diapers dan apapun yang bisa digunakan untuk mengganti pakaian sang bayi yang kotor, dari semua barang yang sudah mereka kumpulkan tadi. Sementara dirinya sibuk melepas pakaian dan diapers sang bayi. Dibersihkannya tubuh sang bayi dengan tissue yang tadi dibawanya dan segera dipakaikan diapers dan kaos abu-abu itu dengan sembarang membentuk seperti barut mengingat kaos tersebut berukuran pria dewasa. Kemudian memberi satu kaos yang lain pada si gadis dan menyuruhnya mengganti baju sementara dirinya sendiri juga melakukan hal yang sama.

Perempuan itu sempat berpikir untuk segera keluar dari tempat ini dibawanya lagi si bayi ke dalam gendongannya dan segera bangkit, sebelum gadis kecil itu mengeluh lirih. “Aku lelah… boleh kita istirahat sekarang? Aku mohon…”
Mendengar permohonan gadis kecil tadi membuatnya menyadari jika memang dia sudah sangat memaksakan diri. Namun gadis kecil itu tentu jauh lebih memaksakan diri darinya. Kemudian didudukannya lagi dirinya dan diletakannya bayi dalam gendongannya pada polytainer seperti sebelumya. Kembali disadarinya perut yang sedari tadi melancarkan protes lantaran sudah begitu lama diterlantarkannya. Tangannya menggapai ke dalam tas yang penutupnya masih terbuka itu berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakan mengisi perutnya hingga diraihnya sebungkus roti.

Sembari memakan sebungkus roti isi cokelat yang dalam keadaan normal seharusnya sudah tidak layak, dengan pembungkus yang terlihat sudah koyak dan berdebu, diliriknya sang gadis yang tertidur damai dengan posisi meringkuk, kepalanya beralas produk detergen yang tadi mengisi salah satu polytainer di sana. Yang dia mengerti setidaknya untuk saat ini mereka alasan dirinya selamat sampai detik ini, membawa mereka keluar dari kota ini.

Bayi pada polytainer itu menggeliat mengantuk. Perempuan tadi bergegas menimang agar sang bayi segera terlelap. Sesekali diperhatikannya dua makhluk Tuhan di hadapannya bergantian. Dia merasa bimbang, mereka bukan anaknya, tak ada hubungan apapun, dan semua kini adalah tanggung jawabnya untuk membawa mereka keluar kota ini dengan selamat. Dia tak sepenuhnya yakin, jika semua kejadian ini berujung perang dalam waktu panjang, kehidupannya mungkin tak akan segera membaik, meskipun mereka selamat hari ini. Di luar sana apakah ada yang akan menjaga mereka atau setidaknya memberi kehidupan? Ia tidak yakin. Jika dirinya harus menjadi orang tua angkat, Ah… akan sangat diragukan kredibilitasnya.

Dirasakannya bayi dalam gendongannya sudah terlelap, diletakannya kembali sang bayi pada polytainer tadi. Diperhatikannya garis wajah bayi tak berdosa yang harus merasakan kekejaman dunia yang bahkan belum bisa dimengertinya. Melihat dua anak dalam tanggung jawabnya, serasa tak sanggup menahan himpitan di dadanya. Air matanya lolos beberapa tetes meluncur bebas di pipi lusuhnya yang berantakan dengan beberapa bekas luka yang baru didapatnya siang tadi, segera saja diusapnya kasar dengan punggung tangannya.

Perempuan itu masih berusaha untuk tetap terjaga di tengah rasa kantuk dan kelelahan yang membuat hampir seluruh tubuhnya terasa sakit. Sungguh, sebenarnya ingin dirinya merebah dan memejamkan mata, tapi tetap diurungkannya. Dirinya harus terus menjaga dua anak itu, jika sewaktu-waktu mereka harus meninggalkan tempat ini.

Entah apa yang merasukinya hingga tekad kuatnya untuk tetap terjaga sirna. Ia beberapa kali terlelap barang sedetik, dan ini yang paling parah, dirinya tak menyadari hingga suara lirih di hadapannya yang membangunkan. “Nona, nona, kau baik-baik saja?”
Matanya membulat sempurna demi melihat wajah yang berjarak sejengkal di hadapannya. Kekagetanya membawanya serta-merta berdiri setelah disadarinya sang bayi juga sudah raib dari tempat seharusnya. Tak cukup sampai di situ ternyata bayi tersebut sudah berada dalam gendongan seorang laki-laki? Dengan seragam militer? Lengkap? Perempuan muda itu terkejut melihat sang bayi justru mulai menangis. Dengan gestur menerima bayi dia berkata dengan suara bergetar ketakutan. “Be-berikan padaku! Se-sebelum tangisannya lebih keras!” Ia sedikit tergagap.

Laki-laki itu hanya menganguk singkat, sambil menyerahkan bayi dalam gendongannya, tanpa megatakan apapun. Namun di perhatikannya perempuan itu yang tampak begitu ketakutan dan berantakan. Perempuan itu juga tampak menggendong sang bayi dengan begitu posesif.

Perempuan itu lalu berjalan mundur ke arah gadis kecil yang masih tertidur berusaha melindunginya dan bayi yang kini sudah berada dalam gendonganya. Keringat dingin kian terlihat bercucuran di pelipisnya. Rasanya setengah pingsan karena ketakutan, bibirnya hanya bergetar, tapi gerakan dan tatapannya terus diusahakan untuk tenang meskipun semuanya gagal.

“Tenanglah kami tak akan menyakiti kalian.” Menyadari orang yang tadi dibangunkannya panik luar biasa, laki-laki yang tadi membangunkannya berbicara pelan berusaha untuk menenangkan. “Kami akan membawa kalian ke tempat aman. Ka….”
“Bohong!” Perempuan itu menyela.

“Kami tidak bohong. Kami memang mencari warga yang selamat untuk menjauh dari kota ini.” Kata laki-laki yang tadi menggendong bayinya.
“Aku tidak yakin ada yang selamat, setidaknya mungkin mereka sudah menjadi tawanan?” Kata perempuan itu ragu. Namun tetap berusaha untuk terdengar tegas.

“Kemungikan selalu ada! Kita belum tahu pasti. Bangunkan anak itu, sekarang bergegas kita akan berangkat!” Perintah laki-laki yang membangunkannya tadi.
“Kalian tidak berbohong?”
“Kau tidak Percaya?” Kata laki-laki itu geram.
Diam

“Mari kita buktikan!” Kata laki-laki itu kemudian.
“Ini masih gelap!”
“Apa kau ingin mereka bangun dan menemukan kita?” Ujar laki-laki itu semakin dingin.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya ragu, dan baru diperhatikannya tanda bendera negara pada sergam militer tersebut.

“Segera berangkat kita tidak punya banyak waktu!”
Setelahnya perempuan itu hanya bisa mengikuti perintah. Segera membangunkan gadis kecil tadi dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini bersama mereka, sementara gadis kecil yang baru saja dibangunkan itu masih kebingungan dan berjalan sambil menahan kantuk.

Mereka jelas berjalan melewati berbagai hal di depan mereka. Mereka baru saja akan memasuki kawasan ladang kacang ketika laki-laki yang memimpin mereka lari dari kota ini menghentikan langkah tiba-tiba. “Sebaiknya kita jangan lewat sini seperinya mereka telah pergi.”
Temannya hanya mengangguk sebagai jawaban.

‘Kami masih berlari, melewati berbagai rupa jalan yang mungkin merupakan bagian tersembunyi dari kota ini, sebenarnya bukan tersembunyi hanya saja, kami yang terbiasa hidup di pusat kota yang tidak memperhatikan tempat ini sebelumnya. Aku tak tahu pasti di beberapa sudut, sepertinya aku belum pernah lewat sini. Kami melewati gang sempit yang tersembunyi, petak-petak sawah, ladang dan masuk menerobos pekarangan orang, seperinya sudah memasuki pedesaan di pinggiran kota. Sedangkan rangsel dipunggung kami jelas menyusahkan pergerakan

‘Aku tidak sepenuhnya mengerti. Mereka tidak mengatakan apapun padaku. Dari air muka perempuan yang menggendong bayi di depanku, sungguh sangat membingungkan. Seorang laki-laki di belakangku, dan seorang lagi berlari di depan perempuan itu. Dari semua penampakan yang ada menurutku mereka adalah tentara. Kami masih berlari, sejujurnya aku sudah tidak selelah tadi, tapi ya… aku mengantuk itu jelas, perkiraanku ini masih belum subuh. Sesekali perempuan itu melirik ke arahku, sekedar memastikan. Aku bersyukur bayi itu tidak menangis.’

‘Setelah entah berapa jauh kami bergerak, kami sampai di ladang kacang kemudian berganti arah melewati kebun-kebun kemudian ladang jagung, tanamannya sudah tinggi, dan jagungnya sudah besar-besar sungguh. Kami masih terus bergerak, setelahnya kami melewati sungai dengan jembatan kecil dari bambu karena di seberang sana ada sebuah kendaraan, lebih tepatnya truk menanti kami. Ya, katanya kendaraan itu akan membawa kami ke pengungsian, bahasa halusnya tempat aman begitu. Kau tahu, tak ada kendaraan militer begitu kami di sana, memang benar mereka yang bersiaga nampak seperti tentara, tapi jangan harap ada truk yang biasa digunakan para tentara itu, aku tak tahu namanya. Di sana hanya terparkir sebuah truk biasa hanya biasa dengan ukuran sedang, yang biasanya digunakan untuk mengangkut pasir atau perkakas rumah tangga saat pindah rumah, bukannya manusia sungguh, aku tidak bohong.’

‘Setelah sampai di posisi truk itu kami segera disuruh naik ke dalam baknya. Di sana ada tidak lebih dari 15 orang, mereka semua duduk dengan berantakan. Kami menempatkan diri, sedikit mencari tempat bersandar. Perempuan penolongku kuberi tempat di tepian agar dia bisa bersandar dan aku duduk di hadapannya. Mereka, maksudku para tentara itu entah sedang mendiskusikan apa. Kemudian orang yang tadi memimpin kami keluar dari kota menghampiri, menaiki bak truk, dan bicara pada kami semua.

“Kalian harus segera pergi! Truk ini akan membawa kalian ke kamp. Terima kasih.”
“Kau sendiri?” Perempuan di hadapaku bertanya dengan sedikit berteriak.
“Masih ada yang harus dilakukan. Sebaiknya kalian segera pergi sebelum matahari semakin tinggi!” Perintahnya. Ya aku tahu kalau kini sudah hampir fajar.

“Terima kasih dan…” Ucap perempuan itu. “Maaf.”
Laki-laki itu hanya diam dan turun dari dalam bak truk

‘Bak truk segera ditutup setelah orang itu turun, penguncinya terdengar dipasangkan, dan mesin truk mulai dinyalakan. Benar saja truk ini segera berangkat membawa kami meninggalkan kota ini. Di sini semua penumpangnya tampak berantakan termasuk aku, ada anak-anak dan orang dewasa. Perempuan di hadapanku tampak sangat kelelahan, sambil terus menggendong bayi dan memegangi botol susunya. Di sudut belakang ada tiga orang tentara yang menjaga kami. Ah…. kami serasa tahanan saja.

Cerpen Karangan: Orin
Facebook: Macorinda Satya Nurani

Cerpen Lari (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kerja Keras Lisa

Oleh:
Lisa adalah murid kelas 5 SD. Ia anak yatim piatu. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya bernama Lukman dan Lina. Lukman berumur 7 tahun, sedangkan Lina berumur 4

Kisah Sukses Berkat Selendang Ibu

Oleh:
Sebelum ayam berkokok dan pagi belum merekah Adi sudah bangun membantu ibunya membuat kue untuk dijual. Seperti hari-hari biasa Adi harus berjalan kaki menjual kuenya, meskipun gelap masih menutupi

Gubuk

Oleh:
Senandung angin mengusik celah kayu jendela, menerobos masuk menusuk tulang renta seorang perempuan yang tebaring di samping anaknya. Rembulan malam tidak sedang menangis, seakan memandang dua orang itu dengan

Another Fighter (Part 1)

Oleh:
Disaat aku membuka mata aku selalu kedinginan, embun selalu berterbangan di sekelilingku. Kaca kamarku basah dan tumpukan embun turun dari atas kaca jendela dan berpapasan dengan tumpukan lainnya. Ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *