Mayor Talli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

“Dulu, aku dan teman-teman bapak berjuang membela kemerdekaan bangsa kita ini. Ketika agresi pertama dan kedua. Bapak sebagai pasukan infanteri, yang berada di garis depan pertempuran. Waktu itu, usia bapak kurang lebih 15 tahun. Begitu juga teman-teman bapak.” kenang pak talli kepadaku.

Pak talli adalah seorang mantan pejuang kemerdekaan yang berjuang di wilayah sulawesi. Kini, pak talli menjalani hari-harinya sebatang kara lantaran dia tak punya keturunan dan istrinya sudah wafat sekitar 19 tahun yang lalu. Setiap kali aku bertamu ke rumahnya, aku selalu disuguhkan cerita-cerita masa perjuangannya dulu.

Pak talli memiliki banyak koleksi benda pusaka seperti tombak, keris, dan juga badik. Tetapi dari kesemua benda pusakanya, badiklah yang paling dia andalkan.
Semenjak dia ditinggal mati oleh sang istri, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid. Dengan nada bicara yang masih sangat jelas, beliau menceritakan masa perjuangannya begitu sangat utuh.

Sepeda tempo dulu miliknya masih beliau rawat hingga saat ini. Beliau berkata padaku, sepedanya ini juga memiliki sejarah baginya.
“ini, tak ingin bapak jual. Sepeda ini sangat bapak sayang, seperti diri bapak sendiri. Lantaran ini sepeda ada sejarahnya juga bagi bapak” ujarnya, sembari terbahak.

Tetapi, ada satu kisah yang paling menarik dari bapak talli.
“ketika, aku bergabung jadi tentara. Aku dan teman bapak dijemput oleh atasan aku dengan mobil angkut peninggalan jepang. Atasan bilang kepada kami semua, hari ini kita akan ke kota mengambil persenjataan yang lebih modern dari Djakarta. Kami pun lalu berangkat dari asrama tempat dimana kami berkumpul. Sesampai di kota, tiba-tiba saja. tetetetetettt!!! Beberapa orang tak dikenal menembaki truk yang kami tumpangi. Atasan dan sopir yang duduk di depan gugur saat itu. Kami pun coba melakukan perlawanan. Namun, dari jarak jauh di bagian barat daya kota, kami melihat kapal pembom milik lawan sedang menuju ke arah kami. Kami pun tanpa dikomandoi terjun dari atas truk lalu mencari perlindungan. Kami meninggalkan truk yang kami tumpangi itu sekira 1 km. Tak lama kemudian… bummmmmmmm!!! Truk kami hanya meninggalkan kepingan. Lawan membom truk kami. Untung saja kami masih sempat mengevakuasi mayat atasan dan sopir kami itu. Aku dan teman-teman, berlindung di arah tenggara yang masih hutan kala itu. Sementara kapal pembom milik lawan masih berputar-putar di atas bumi yang kami pijak.”

“Suasana kala itu sungguh menegangkan. Lantaran kami baru pertama kali dihadapkan dengan serangan udara. Beberapa jam kemudian, kami pun menyusuri hutan hingga mendapat perkampungan di kaki gunung bawa karaeng. Di situ kami memakamkan jenazah atasan dan sopir kami itu.. lalu, mendirikan tenda-tenda guna menyiapkan diri. Warga sekitar memberi kami pertolongan berupa makanan yang alakadarnya. Setelah selama 2 hari di perkampungan ini. Kami pun mendengar kabar dari asrama. katanya, barak-barak kami telah diluluh lantakkan oleh pihak lawan. Bertepatan dengan penyerangan kami waktu di kota.”

“Kami pun, sekira lebih dari 30 orang bersenjata lengkap menyusun siasat di gunung bawa karaeng. Lalu, setelah taktik dan strategi selesai kami susun, kami pun turun gunung lalu menyisir setiap perkampungan. Sehari kemudian, kami pun tiba di barak kami yang telah dibumi hanguskan itu. Kemudian, kami menyiapkan perlengkapan kami yang kala itu masih minim. Lalu kami mencari informasi keberadaan lawan melalui telik sandi kami.”

“Dua hari kemudian, terdengarlah kabar dari telik sandi. Bahwa, markas lawan ada di bagian timur. Tepatnya di Destamar. yang jarak dari lokasi kami hanya beberapa puluh km saja. Mengetahui hal ini, kami mengontak laskar-laskar pejuang yang lain. Mulai dari tanah bugis sampai ke wilayah makassar pinggiran kota. Lalu, setelah semua berkumpul. Kami ada sekira 2 ribu orang. Mulai merayap menuju markas lawan, tetapi, kami bergerombol. Pimpinan laskar dari bugis memimpin pergerakan kami. Begitupun sebaliknya, yang mana pada waktu itu, regu kami bagi 4, yang memiliki arah penyerangan masing-masing. Kalau aku sendiri dari sektor selatan.”

“Setelah hampir tiba di titik penyerangan, tiba-tiba kami terhenti. Lantaran markas pihak lawan sepertinya kosong. Hanya pos-pos penjagaan yang berjejer kami lihat dari jarak yang tidak terlampau jauh. Lalu kami kontak laskar lainnya. Jawabannya sama.”

“Sekira 3 jam. Tiba-tiba dari arah belakang… Tatttaattatttaata!!! Rentetan senjata menghujani kami. Baik dari pasukan darat maupun pasukan udara lawan. Pergerakan kami diketahui, kami sempat saja melakukan perlawanan tetapi, lawan sudah memagari kami. Para korban pun berjatuhan dari pihak kami. Aku dan beberapa orang lainnya ditawan. Dan dipenjarakan di dekat asrama lawan.”

“Setelah beberapa bulan kemudian. Kami pun dibebaskan lantaran agresi telah usai. Dan lawan mengakui kedaulatan bangsa kita ini”

Nah, mendengar kisah perjuangan pak talli aku semakin menyadari, betapa mahalnya harga kemerdekaan kita ini. Para pendahulu kita rela mengorbankan jiwa raga mereka demi kemerdekaan bangsa kita ini.

Begitulah penjabaran kisah pak talli diwaktu dulu. Kini pak talli adalah seorang veteran berpangkat mayor. yang setiap bulannya mendapat tunjangan dari pemerintah.
“Merdeka”

Sekian

Cerpen Karangan: Sepuluh Jari
Facebook: Arief Budiman Nacha

Cerpen Mayor Talli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zaman Zombie

Oleh:
Dia masih terengah berlari, dengan nafasnya yang seperti itu dia mungkin akan segera terjatuh dan pingsan. Dia menyempatkan melihat belakang, dan ternyata yang mengejarnya sudah entah kemana. Dia duduk

Perjalanan Silatku

Oleh:
Burung berkicau matahari memamerkan keindahannya, aku bergegas menuju ke sekolah. Istirahat pun tiba kakak kelas osis sosialisasi di kelas kelas tentang memilih ekstrakulikuler apa yang diminati tidak ketinggalan kelasku

5 Tahun

Oleh:
Lita, nama gadis yang aku puja selama ini. Waktu itu saat baru masuk SMP. Saat dimana pertama kali aku melihat sosok malaikat tanpa sayap. Kenapa saya bilang begitu? Karena

Merdeka Atau Tidak Sama Sekali

Oleh:
Di sini, di tempat inilah aku terjatuh bersimbah darah, serpihan-serpihan besi alumunium tertancap hampir di seluruh tubuhku, biji-biji peluru belanda kian melengkapi sakaratulku waktu itu, terasa ngilu dan sedikit

I’m is Reporter (Part 1)

Oleh:
Sikap angkuhnya begitu ketus, namun kulayangkan senyum lebar ke arahnya, dengan memalingakn muka dia meniggalkanku. Tentu ini sudah menjadi resiko menjadi seorang wartawan yang terus memburu berita, sampai berurusan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *