Muslihat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

13, April, 2016, 00:01, pesta makan malam

Dari sisi sebuah meja, Asa berdiri mengangkat tangannya, memandang setiap orang berkeliling dengan mata yang bergetar. Sesaat ia ingin menahan katanya, sungguh gelisah untuk menyampaikan itu. Segalanya seolah senyap sesaat dengan tatapan tajam orang-orang, tetapi akhirnya ia berkata, “Aku punya sebuah berita.”

Sesaat, Asa merasa begitu canggung karena pusat perhatian itu, matanya kembali berputar menatap tatapan tajam orang-orang. Di ujung keningnya, dia mengusap tetesan keringat. “Ini berhubungan mengenai desa kita,” lanjutnya. Semua orang tiba-tiba bergumam.

Di sudut meja, sang ketua suku berdiri dari kursinya. Matanya bergoyang penasaran, “Laporkan beritamu, tuan Asa,” ujarnya.

Asa terus menatap semua orang di sekelilingnya dengan takut, seolah ia akan dikeroyok. Perlahan, si lelaki pemburu itu menarik pedang dari sisi celananya, “Pagi ini aku membuat pedang ini pada Doinisius,” ceritanya. Ia mengangkat pedang itu ke atas. Membolak-balik agar setiap orang dapat melihatnya dari segala sudut. Di sisi meja lain Doinisius tersenyum bangga.

“Pedang ini kubuat untuk waspada.” lanjut Asa, mengarahkan pandangannya tepat pada mata ketua suku, “karena subuh tadi, aku melihat tentara Belanda berada dekat di desa kita ini.” suara orang-orang seakan langsung bersahutan, desas-desus tiba-tiba terdengar begitu kalimat Asa selesai. “Cepat atau lambat mereka akan datang dan menguasai desa kita. Kita semua harus mempertahankan desa dan mengadakan perang dengan mereka.” kata Asa lagi. Dia menurunkan pedang itu ke sisinya, namun tetap dalam genggaman kuatnya. Tangannya bergetar hebat karena telah mengucapkan kalimat itu. Di sudut, sang ketua suku hanya tersenyum.

“Kita tak perlu takut, tuan Asa. Kita hanya perlu berdamai dengan mereka.” kata ketua suku. Orang-orang menganggukan kepala, seolah setuju dengan ucapan ketua suku. Dari tempatnya Asa terlihat gelisah, ‘semua orang pendapatnya sama’, pikirnya.

“Kalau menurutku, tuan, mereka akan datang dan menyerang desa kita. Oleh karena itu kita harus lebih dulu menyerang mereka agar bisa menguasai keadaan.”

“Itu sungguh aneh, tuan Asa.” ketua suku tertawa kecil, menggelengkan kepalanya sembari tunduk kebawah.

“Mengapa an….”

“Tentulah tuan,” kata ketua suku langsung memotong, “mereka pasti tidak akan mau berperang cuman karena harta kita yang kecil ini.”

“Mengapa ti….”

“Kita hanya perlu berdamai, tuan Asa.” potong ketua suku lagi.

“Tunggu se….”

“Mereka pasti akan mau berdamai.”

“Jangan memo….!!”

“Tak ada alasan untuk berperang, tuan Asa.”

“Berhenti memo….!!!”

“Berdamai hanya satu-satunya cara.”

“SUDAH KUBI….!!!”

“Aku hanya memberitahukanmu yang terbaik, tuan Asa.”

“KITA TAK BISA BERDAMAI DENGAN MEREKA!!!” Asa menonjok meja begitu keras. Napasnya berhembus dengan cepat diiringi dengan mata yang semakin memerah, “SAMA SEKALI TIDAK BISA!!” Orang-orang langsung mengerutkan kening dengan bunyi desis pelan.

“Mengapa? Mengapa tak bisa?” Tanya ketua suku ketus. Asa tertawa sinis di tempatnya mendengar pertanyaan itu.

“Tuan, mereka bangsa Belanda!! mereka kejam!! mereka menjajah Indonesia!! Mustahil berdamai dengan mereka!!” Asa menekan setiap kata-katanya, mulutnya semakin bergetar, “Sekarang aku bertanya padamu tuan, bagaimana kita harus berdamai dengan mereka?” lanjut Asa.

“Aku tahu mereka memang menjajah Indonesia, tapi aku juga tahu mereka itu bisa di ajak berdamai.” kata sang ketua suku. “Kalau mau, kita bisa menyerahkan sebagian dari harta desa kita ini kepada mereka sebagai tanda perdamaian. Aku, bahkan semua warga desa pasti tidak akan setuju dengan adanya peperangan. Tentu kau juga tak ingin.”

“Mustahil, tuan! Sebuah hal yang mustahil bila tak akan ada peperangan. Belanda selalu ingin semua, BUKAN SEBAGIAN!!!” Asa meremas pedangnnya, meluapkan emosi dengan sabar. Orang-orang menatap Asa dengan serius sembari ribut bersahutan mengeluarkan pendapat.

“ITU TAK BENAR!!” teriak orang-orang di sekitarnnya, mengoloknya seperti seorang penghianat.

“KAU TAK PUNYA OTAK!!” teriak ketua suku, seakan menutupi segala keramahannya selama ini.

Darah Asa seolah tiba-tiba panas, tubuhnya membara. Di tangannya yang bercucuran keringat, pedang kecilnya itu di ramas sekuat tenaga. Refleks sebuah emosi, dia mengangkat pedang itu ke atas, “KITA HARUS PERJUANGKAN DESA KITA!!!” braakk! Ia menusuk pedang itu ke atas meja.

Semua orang tiba-tiba berdiri dari kursi, mengarahkan telunjuk mereka ke hadapan Asa, “Jatuhkan pedang itu!!”, “Pergi kau dari sini!!”, ” Tahan orang gila itu!!” teriak orang-orang.

“HENTIKAN SEMUA INI!!!” teriak sang wakil ketua suku dari sudut meja yang lain, seraya menarik keluar pedangnya. “Jangan membuat aku emosi!” lanjutnya. Ia mengangkat pedangnya ke hadapan Asa, membuat alisnya mengkerut tajam.

“Tahan emosimu, tuan Yairus.” kata sang ketua suku.

“PERGI KAU DARI SINI!!!!” teriak Yairus lagi. Angin seakan langsung berhembus kencang dari setiap sisi, mengusap kulit setiap orang menambah kerasnya perdebatan itu.

“KALIAN SEMUA YANG MALAH MEMBUATKU EMOSI!!” bentak Asa. Orang-orang semakin bertambah gaduh, emosi di tempatnya.

“Hentikan, sayang,” sahut Debora, istri Asa, dari belakang. Tangannya menarik erat baju Asa, namun Asa berhasil melepaskannya. “Percaya padaku, sayang.” bisik Asa, kemudian kembali berbalik dalam perdebatannya.

“Kita harus berperang, tuan,” kata Asa dengan lembut.

“TAKAN ADA PEPERANGAN! Malam ini kita buat surat perdamaian!!!” kata Yairus menggenggam kuat pedang di tangannya. Asa mengerutkan kening.

“KITA HARUS BERPERANG!!!!” Asa menghantam keras meja di depannya. Mulutnya mulai bergetar hebat, tangannya terkepal kuat.

“KUBUNUH KAU!!” Yairus menghantam kakinya ke atas meja, hingga bergetar sampai setiap sudut. Memekik bunyi patahan keras dari tempat hantaman itu, seketika diiringi teriakan gaduh orang-orang berlari menahan Yairus. Pemberontakan terjadi dari hati Yairus, menyuruhnya untuk melepas tangan orang-orang yang menahan tubuhnya, berusaha bebas sambil mengarahkan pedangnya ke hadapan Asa. Namun, naas, kekuatannya kurang untuk mencoba memberontak.

“BIAR KUBUNUH ORANG GILA ITU!!” burung-burung hantu terbang sambil memekik keras, seketika tubuh Yairus tumbang ketika dihantam lehernya hingga pingsan. Kumandang suara orang-orang terdengar begitu bising, gaduh bunyi teriakan-teriakan.

“Hentikan, sayang!” Debora kembali mencengkram baju Asa, menarik tubuhnya dengan cepat. Asa hanya menurut dan mengikuti arah tarikan itu.

Suara gaduh tiba-tiba berhenti, senyap sesaat. Orang-orang menatap Asa yang di seret dengan paksa, seolah mereka telah bebas dari kekacauan yang telah terjadi. Doinisius berdiri, kemudian beranjak pergi. Beberapa orang yang menahan Yairus berjalan kembali ke tempat mereka masing-masing, membiarkan wakil ketua suku itu terbaring di kursinya.

“Kita akan membuat surat perdamaian malam ini.” kata ketua suku memecah keheningan. Orang-orang mengangguk setuju.

“Apakah itu sesuatu hal yang memalukan, sayang? Aku kan hanya mencoba untuk membela desa, sayang.” Asa menyandarkan tangannya di sisi kursi, mengoyangkannya mendukung kalimat itu.

“Kau berkata itu tidak memalukan? Enak saja kau berkata seolah tak bersalah.. Menurut kamu itu membela desa.. Itu malah mengancam desa!!” Debora menjambak rambutnya sendiri, gelisah dengan keadaan itu.

Alih-alih mendukung pemikirannya, Asa malah berdiri lalu memegang pundak Debora perlahan. Debora menepisnya cepat, siap untuk segala pergerakan. Namun, Asa tetap berusaha.

“Aku tak ingin kau marah, sayang. Aku sangat menyayangimu, aku janji tak akan mengulanginya lagi.” lirih Asa. Debora menghindar lalu melangkah ke depan jendela. Pikirannya saat itu sangat tak menentu, merasa seakan segala sesuatu adalah benar, apa yang di lakukan Asa adalah benar dan apa yang dilakukan ketua suku juga benar. Tangannya menggenggam ujung jendela itu, menarik lembut hingga terbuka. Tatapan kosongnya fokus ke arah bayang-bayang malam.

“Apa yang harus aku lakukan, sayang?” tanya Asa. Debora terus terpaku pada tatapan kosongnya.

“Kita harus pergi minta maaf pada mereka,” kata Debora kemudian.

“Baiklah, itu yang kau mau. Kita meminta maaf pada mereka.” dengan terpaksa Asa mengubah jalan pikirannya, memanipulasinya agar menuruti kemauan istrinya itu. Otaknya berputar sembari terus membayangkan betapa malunya mereka ketika akan meminta maaf pada warga dan ketua suku, setelah proses perdebatan panjang yang memojokan dirinya itu.

“Sayang? Cepat! Kemarilah, lihatlah ini.” kata Debora tiba-tiba. Matanya memicing melihat ke kejauhan dari balik jendela. Asa mendekat dan mulai menerawang keluar.

“bukankah itu Doinisius?” tanya Debora.

Asa menatap tajam. Benar terlihat, namun kurang jelas karena kabut malam yang cukup tebal. Dari kejuhan, tampak berdiri rumah kecil berdinding dan beratap jerami tua. Tertiup angin malam, membawa sehelai jeraminya ke wajah seorang lelaki tua yang sedang berdiri di belakang rumah itu. Berdiri tegap tak bergerak, terpaku di tengah hembusan angin malam. Menatap nanar jauh ke belakang rumah jerami yang gelap. Nyala api di dalam rumah jerami yang dipasang sore tadi kelihatannya telah mati.

“Iya, itu Doinisius.” kata Asa.

“Apa yang dia lakukan di sana?” tanya Debora.

“Kelihatannya dia sedang menunggu seseorang.” dengan mata yang terus terdiam memandang si pembuat pedang itu, seakan mengawasi jika ia beranjak dari tempatnya, Asa menjaga segala rasa ingin tahunya.

“Kita harus menghampirinya.”

“Tak perlu!” Asa menahan pundak Debora yang hendak beranjak, menariknya kembali perlahan. “Ayo, kita pergi saja meminta maaf pada ketua suku. Biarkan dia,” lanjut Asa. Ia menutup kembali jendela.

“Boleh aku ikut kalian pergi?” kata Amos yang mengintip dari balik pintu kamarnya. Tangannya memegang sisi pintu dengan keras, berharap dia akan di Izinkan.

“Boleh. Ibu tahu kau tak bisa tidur.” kata Debora akhirnya. Amos langsung tersenyum hangat.

Ketua suku mengatupkan kedua tangannya dalam pelukan, gemetar sembari terus menahan diri agar tetap berada di atas kursinya. Ia menatap keheningan malam jauh ke luar tebing yang melindung desa mereka itu. Sepi, terus menunggu di tengah hembusan angin dingin, membolak-balik badannya menunggu warga-warganya datang.

“Mengapa mereka sangat lama?” tanya ketua suku melihat ke dalam desa.

“Sudah aku bilang kan, tuan, kita seharusnya tak perlu menyuruh mereka mengambil pedang.” Yairus bersandar di sisi tebing, mengusap-ngusap permukaannya yang kasar, sekedar untuk menghilangkan rasa bosan. Ia memandang langit malam yang penuh bintang terang, menikmati keindahannya.

“Kita perlu berjaga-jaga, tuan Yairus. Mungkin akan ada benarnya yang dikatakan Asa.” Ketua suku memalingkan kepalanya kedepan, kembali memandang jauh ke luar.

Yairus ikut memandang, lalu tertawa sinis pelan. Bayangan perdebatan itu masih tersimpan jelas, walaupun dirinya tadi jatuh pingsan karena emosi sendiri.

Kelam bayang-bayang malam di luar desa menutupi setiap tempat, seakan termakan oleh kegelapan. Mereka duduk di perbatasan antara desa dan dunia luar yang kejam, hanya diiringi hembusan halus angin lembut.

Seiring waktu berjalan, seolah dunia luar itu mulai bercahaya, semakin lama semakin terang. Mungkin hanya halusinasi mata karena kebosanan mereka yang sudah menunggu hampr tiga puluh menit.

“Kau melihatnya?” tanya ketua suku.

“Lihat apa?”

“Cahaya itu?”

“Iya, aku melihatnya.”

“Cahaya apa itu?”

“Entalah.”

Lama kelamaan, cahaya itu semakin terang, pohon-pohon tinggi mulai terlihat terpancar cahayanya. Semakin terang, sangat terang, dan mungkin mendekat ke arah mereka. Tiba-tiba, seluruh kegelapan di luar sana seakan sirna, hutan luas yang lebat bersinar terang. Namun sekarang terlihat begitu jelas, rombongan obor-obor besar berjalan semakin dekat.

Ketua suku berdiri dari kursinya, tangannya gemeter hebat memegang ujung pedang dengan erat. Sesaat ia berbalik, warga-warganya akhirnya datang sambil menggandeng pedang masing-masing, di tengah-tengah mereka berkibar merah putih pada sebuah tiang tinggi. Namun, ketua suku seketika mengerutkan kening saat melihat Asa yang memegang tiang itu, bersama anak dan istrinya yang berjalan disisinya.

“Lihatlah rombongan itu.” ketua suku menunjuk ke arah cahaya. Rombongan obor-obor itu berjejer rapi, memanjang dengan jumlah yang sangat banyak, membentuk kobaran api yang begitu terang. Tetapi, sekarang rombongan itu telah berhenti tak cukup jauh dari tebing, entah apa yang mereka lakukan.

“Mengapa mereka berhenti?” tanya ketua suku. Ia mencabut pedangnya perlahan, siap menikam dalam segala pergerakan.

Samar-samar oleh kabut tebal, bendera belanda berkibar tinggi di atas obor-obor itu, melambai pelan tertiup angin. Ketua suku memelototkan matanya, ia mendesis ketakutan. Seakan ingin membalas, Asa mengangkat merah putih semakin tinggi ke atas, berkibar di antara tebing tinggi itu.

“Kami ingin berdamai!!” teriak ketua suku, “kami punya surat perdamaian,” ia mengangkat surat perdamaian tinggi ke atas, menggoyangkannya, berharap rombongan obor itu akan melihatnya. Surat itu di tulis tangan dengan tinta hitam pada sebuah kertas buram kusam, baru saja tadi selesai dibuat.

Perlahan, obor-obor itu mulai bergerak, suara-suara bersahutan mulai terdengar. Mereka berjalan, terus mengibarkan bendera Belanda tinggi ke atas, di tengah-tengah. Setiap orang menarik napas panjang, tangan-tangan gemetar terus mencengkram erat pedang masing-masing. Keringat mengalir.

“Bersiaplah.” bisik Yairus.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Alan Tamalagi
Facebook: Alan Tamalagi

Cerpen Muslihat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Jasad Dalam Air (Part 3)

Oleh:
Selagi dia berfikir, tiba-tiba pemuda bernama Lamidin memanggilnya. “Kang, apakah harus kupanggil Kepala Kampung untuk melaporkan kejadian ini?” Daud mengangguk saja. Setelah Lamidin menghambur pergi, Daud melangkah lebih dekat

Riana

Oleh:
Riana adalah seorang gadis cantik dari desa yang sangat pintar dan cerdas di sekolahnya, ia merupakan putri dari pasangan petani di desa tersebut. Sejak kecil dia begitu bersemangat dalam

Bertahan Untuk Hidup

Oleh:
Klamono, Irian Barat. 17 Mei 1962. “Muis, berapa orang yang sudah berkumpul di sini?” “Dihitung dengan anda dan saya, semuanya 15 orang, Komandan!” “Keparat!!!” Letnan Manuhua membanting ranselnya ke

Rainy (Part 2)

Oleh:
Seorang suster yang menemaniku dan membantuku untuk mengecek status gadis ini perlahan-lahan undur diri dan meninggalkan kami berdua dengan senyuman lebarnya yang tidak dapat disembunyikan. Ketika suster itu berhasil

Pesan untuk Sarah

Oleh:
Malam itu, aku mencoba melupakan apa yang terjadi tiga hari terakhir ini. Tapi aku tak bisa melakukannya. Pesan-pesan bertinta merah serta mawar putih yang tak lupa dikirim selalu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Muslihat (Part 2)”

  1. aang putra utama says:

    wihh..kren gk sbar ngu klnjtanya✌

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *