Perjalanan Perjuangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 29 January 2021

~ Tak ada kata mundur maupun menyerah. Selalu maju untuk Indonesia. ~

Dalam sebuah segerombolan kelompok di desa Aruan. Orang-orang tersebut melaksanakan upacara. Mereka tak peduli dengan keadaan tubuhnya, keringat yang bercucuran, wajah yang dipenuhi dengan memar, dan beberapa bagian tubuh yang tergores mengakibatkan darah mengalir membasahi pakaian yang mereka kenakan tidak membuat mereka menghentikan upacara tersebut. Hari ini mereka mengibarkan bendera kebangsaan Indonesia, bendera Merah Putih. Mereka tidak takut akan ada pasukan yang akan menyerang mereka.

Setelah upacara selesai, tiba-tiba ada seseorang yang berlari. Orang tersebut terengah-engah, darah segar mengalir dari pelipisnya dan juga bahu kanannya yang tertembak.
“Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Kalian segera bersiap-siaplah,” ujar seorang itu yang bernama Roni.
“Yang lain siapkan senjata kalian. Kita tidak boleh takut dan menyerah. Merdeka!” ucap Dewa.
“Dan kau Roni sebaiknya kau segera obati lukamu itu.” Roni mengangguk dan memasuki salah satu gubuk yang terdapat peralatan medis.

Tak lama kemudian, datang segerombolan lawan yaitu penjajah. Mereka membawa pasukan yang cukup banyak dan juga berbagai alat senjata.
Salah satu dari mereka berjalan ke depan yang diyakini adalah pemimpinnya.

“Turunkan bendera itu atau kalian semua akan mati!” perintah tegas pria itu.
“Tidak akan!” seru Dewa lantang.

Dengan geramnya pria itu berdecih dan berujar, “SERANG!”
Lalu terjadilah pemberontakkan yang amat dahsyat. Beberapa dari mereka ada yang telah gugur.

“Satu kesempatan untukmu Dewa, jika kau menuruti perintahku. Aku akan menghentikannya.” ucap Maxim, penjajah itu yang menginjakkan tubuh Dewa yang tak berdaya.
“Tidak!”
“Apa kau tidak takut? Jika kau menolaknya aku akan menghabisi kalian semua.”
“Kami tidak takut mati untuk Indonesia!”

Maxim menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Dewa.
“Jika itu maumu. Akan kuhabisi kau. Bersiap-siaplah bertemu dengan ajalmu. Haha…”
Maxim menodongkan sebuah pistol tepat ke arah kepala Dewa.
Sedangkan Dewa menatap tajam penuh amarah, tak ada sedikitpun rasa takut yang melandanya.

DOR!

Tidak! Darah segar mengalir keluar begitu banyaknya. Bukan, sebelum maxim menembak Dewa tak kalah cepat dengan Roni yang terlebih dahulu menembak Maxim. Walau salah sasaran hanya terkena pelipis kaki Maxim tapi sudah cukup melumpuhkan pemimpin itu. Dengan tenaga yang tersisa Dewa bangkit dan berdiri lalu menerjang Maxim.

Beberapa dari mereka ada yang melihat pemimpinnya sedang bergulat dengan Dewa.
“Cepat kita bantu Maxim.” ucap salah satu dari mereka dan berlari menghampiri Maxim dan Dewa.
Tapi sebelum sampai Roni bersama yang lain mencegahnya dan pertempuran itu belum selesai.

Sedangkan di lain tempat para wanita sedang mengobati beberapa orang yang terluka akibat pertempuran.
Seorang anak laki-laki yang sekitar berumur 10 tahun itu menghampiri ayahnya yang terbaring lemah. Dengan isakan tangisnya ia berkata, “Aku berjanji akan membalas para penjajah itu. Ini milik Indonesia, mereka tidak berhak. Ayah, izinkan aku untuk ikut berperang,” lirih anak itu sambil mengenggam tangan ayahnya.
“Nak, ibu sangat khawatir jika kau ikut. Kau masih terlalu kecil,” sendu ibu anak itu.
“Bu, Delon mampu. Delon sebelumnya sudah pernah berlatih dengan ayah. Jadi izinkan Delon ya bu. Demi Indonesia,” ujar Delon beralih menatap dalam mata ibunya dan mengenggam kedua tangan ibunya. Meyakinkan bahwa ia mampu untuk ikut melawan penjajah itu.

“Kak Dewa sudah mengizinkannya bu,” lanjutnya lagi.
“Baiklah, jaga dirimu. Ibu selalu berdoa, semoga Allah selalu melindungimu, Aamiin.”
“Aamiin bu, terima kasih.” Delon memeluk ibunya erat dan mengecup kening sang ibu.
Setelah Delon pamit ia bergegas keluar dengan membawa beberapa senjata.

Delon berlari terus berlari, tak jarang ia bersembunyi jika ada penjajah yang berkeliaran. Sesampainya di tempat tujuan yaitu desa Aruan. Anak laki-laki tersebut bergabung bertempur dengan yang lainnya.
Tak ada rasa takut dalam jiwanya, yang ada hanya kilatan atau kobaran semangat. Dengan cekatan yang begitu lihainya ia mampu menangkis lawannya dengan gerakan cepat lalu menembak tepat ke arah jantung seketika musuhnya tumbang dan mati.

Dari arah belakang salah satu penjajah itu menghantam kepala Delon, hingga ia terjatuh dan terbentur sebuah batu yang mengakibatnya darah keluar.
Delon menyeka darah itu, dengan senyuman devilnya ia menangkis sebuah pistol dan anah panah.

“Kau payah tuan,” remeh Delon.
“Eh anak kecil. Sudahlah bermain-mainnya,” seru pria itu.
“Ya akan kusudahi jika tuan sudah mati di tanganku.”
Dengan sekali lemparan, pisau yang Delon lempar mendarat dengan sempurna di bahu pria itu.
“Arghhh! Brengsek!” ringis pria itu kesakitan.

Pertempuran itu memakan waktu selama 2 jam. Pada akhirnya Maxim memerintahkan seluruh pasukan untuk berhenti dan mundur.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Dewa kepada Delon.
“Saya tidak papa.”
“Kau bagus sekali melawan beberapa dari mereka,” ujar Roni
“Bocah yang pemberani.” Dewa menepuk bahu Delon dan menariknya ke tempat gubuk itu.

“Duduklah akan kuobati luka di kepalamu itu.” perintah Dewa yang di angguki oleh Delon.
“Aku ingin sekali menghabisi mereka semua para penjajah yang kotor,” geram Delon.
“Aku juga,” timpal Roni.

Satu tahun telah berlalu, selama itu mereka masih dijajah akan tetapi tak membuat mereka menyerah sedikitpun. Delon kini telah resmi menjadi anggota pertempuran itu. Walau usianya dibawah umur tapi ia begitu lihai saat berperang melawan penjajah.

Delon, Dewa, Roni dan bersama yang lain kembali berjaga-jaga. Karena kemarin malam mereka kembali mendapatkan ancaman dari para penjajah itu.

Hari semakin siang tapi tak kunjung ada pasukan yang datang, tapi tak berapa lama mereka datang tanpa aba-aba langsung menyerang begitu saja.

Kembali terjadi perang.

“Kau bocah sialan kali ini aku akan membunuhmu!” ucap Maxim yang sudah terdapat beberapa tembakan di bagian tubuhnya. Dengan sisa tenaga ia meraih pistolnya dan menembak Delon yang belum sempat menghindar.
Dan Maxim seketika menghembuskan napas terakhirnya setelah menembak sedangkan Delon terjatuh dan memegangi bagian dadanya yang tertembak.

Delon memejamkan matanya sejenak lalu melihat arah bendera yang berkibar.
“Merdeka, negeri tercintaku,” lirihnya.

Dewa yang melihat itu segera menghampiri Delon. Tapi ia terlambat Delon sudah tiada bersama beberapa temannya yang telah gugur.

Kilatan amarah dan semangat Dewa memerintahkan seluruh pasukannya untuk terus maju.
Dengan tekat yang kuat dan semangat yang mampu dikibarkan dalam jiwa mereka pada akhirnya para penjajah itu menyerah.

Dan kini Indonesia bebas mengibarkan bendera mereka. Senyum bahagia terpancar dan tangisan harupun menghiasi wajah mereka.

“Pahlawan sejati ibarat cahaya yang selalu menerangi Indonesia. Laksana bintang di langit, ia tetap berkelip memandu para pejuang mengarungi samudera luas nan lepas dalam gelap. Meski ketika orang tidak lagi menatap langit.
Pahlawan sejati tidaklah butuh pujian dan pandangan mata manusia.
Dia terus memancarkan cahaya karena kesungguhannya.
Karena keihklasannya, dan karena kecintaanya pada tanah air.”

Selesai

Jika ceritanya kurang menarik, maaf ya karena saya belum mahir dalam berkarya 🙂
Terima kasih bagi yang sudah membaca 🙂

Cerpen Karangan: Insyarah Septiani
Blog / Facebook: Katasyaa/ SyaaDr
Insyarah Septiani biasa di sapa Sarah. Lahir pada tanggal 2 september. Sering menulis cerita di wattpad. Dan sudah menerbitkan satu buku yang berjudul “Jejak Kata”
Jika ingin mengenalnya bisa kunjungi akun sosial media:
Instagram: @sarahspni
Wattpad: @SyaaDr_
Facebook: SyaaDr

Cerpen Perjalanan Perjuangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kematian Tanpa Sesal

Oleh:
“Rara, bangun..!” “Hoamm.. iya ibu, Rara sudah bangun”. Kulirik jam dinding yang tergantung manja di tembok kamarku. Jarum-jarum mungilnya menunjukkan bahwa saat ini jam berjalan pukul 04.50 pagi. Saatnya

Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)

Oleh:
Januari 2015, NASA bekerja sama dengan beberapa lembaga Antariksa Asia untuk misi penelitian ke planet Mars dengan mengirimkan tiga orang astronot. Aku mewakili LAPAN untuk bergabung bersama aliansi NASA.

Cinta Tapi Beda

Oleh:
“Sekarang bagaimana?” tanyaku sambil menatap ke arahnya, yang sedari tadi menunduk, dia terhenyak dan mengangkat kepalanya, bibir merahnya bergetar, rambutnya yang panjang terurai ke bawah menutupi paras cantiknya, aku

Sepenggal Lorosae

Oleh:
“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka. “Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!”

Bocah Penjual Es Batu

Oleh:
Di persimpangan jalan yang sempit, seorang bocah lelaki berteduh di bawah pohon mahoni rindang yang ada di pinggir jalan itu. Hari ini hujan deras sekali. Bocah itu membawa sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *