Cinta dalam Sepotong Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 25 April 2018

Ah, kau pasti tahu bagaimana rasanya pertama kali jatuh cinta? Cinta yang diam-diam menyusup dalam hatimu yang hadirnyapun tak pernah kau sangka. Lagipula siapa yang bisa memutuskan kapan cinta harus hadir dan bagaimana perasaan itu tumbuh? Tak ada.

Kata orang cinta itu harus diungkapkan. Namun, maafkan aku memilih pilihan lain. Sebab bagiku dikatakan atau tidak itu tetaplah cinta. Bahkan dalam diampun bagiku tetap cinta. Meskipun ia tak tahu bagaimana hariku diisi oleh penantian untuk bertemu dengannya. Meskipun ia juga sama sekali tak tahu ada orang yang diam-diam merindukannya dan berdoa untuk keselamatannya. Dan itu adalah aku.

Pertama kali aku bertemu sosoknya di Taman dekat komplek rumah. dengan sepeda merahnya ia melaju menghampiriku yang tengah sibuk mencari benda yang tak sengaja kujatuhkan.
“Sedang apa?”
“Cari kalung” kataku dengan mata yang sibuk mencari
“Aku bantu ya”
Aku mendongak. Menatap sosok anak lelaki itu. ia sekarang sama sibuknya denganku. Mencari kalung.

“Kamu benar menjatuhkannya di sini?” tanyanya dengan nafas yang memburu
Aku mengangguk lemah.
“Tapi kok tidak ada ya” katanya dengan kening yang berkerut

Iya. Seharian sudah kami mencari kalung. Namun hasilnya nihil. Tidak ada benda berkilau itu di sekitar taman. Padahal aku yakin betul kalau aku menjatuhkannya di sini.
“Hari telah sore. Apa tidak sebaiknya kau pulang? orangtuamu pasti khawatir”
Aku menggeleng. Bagaimana aku bisa pulang?. Benda yang kuhilangkan adalah kalung pemberian Ibu saat aku ulang tahun ke sebelas. Belum genap setahun. Ah, tidak lebih tepatnya baru sebulan kalung pemberian ibu kupakai. Yah, dan aku telah menghilangkannya.

“Kau mau?” katanya sambil membagi roti di tangannya menjadi dua bagian.
“Kau pasti lapar seharian mencari kalung. Ini buat nambah tenaga yang habis karena mencari kalung” katanya sambil mengulurkan sepotong roti untukku
Aku hanya diam.
“Ambillah” katanya dengan senyum lebar memperlihatkan gusinya yang merah.
Aku tersenyum.
“Makasih” kataku lirih

Sosok yang kutemui itu bernama Tama. Ternyata pertemuan di taman bukanlah yang pertama kali sekaligus yang terakhir. Tama baru saja pindah dari kotanya dan tinggal di sini. Dan sekarang dia tinggal dua blok dari rumahku!. Bukan hanya itu saja Tama juga disekolahkan di tempat yang sama denganku. Bahkan ia juga sekelas denganku.
Dimana ada Sita disitu juga pasti ada Tama. Begitulah kata banyak orang yang sering melihat kami. Yah bagaimana tidak. Berangkat dan pulang sekolah dengan Tama. Bermain di rumah bahkan di sekolah dengan Tama. Pokoknya dimanapun ada aku pasti ada sosok Tama.
Kalau kau tanya bagaimana perasaanku dengan Tama. Sungguh aku pun tidak tahu jawabannya. Yang hanya kutahu ialah aku akan sangat bahagia jika aku berada di samping Tama. Itu saja.

Sejak lulus di bangku menengah pertama. Aku dan Tama melanjutkan sekolah menengah atas yang sama pula. Sosok Tama tidak begitu banyak berubah. Ia masih sama dengan Tama yang kutemui di Taman. Ia masih sama dengan Tama yang sering memboncengku dengan sepeda merahnya. Hanya badannya yang bertambah tinggi juga kulitnya yang sedikit lebih gelap. Dan sedikit tambahan. Tama yang sekarang jauh lebih populer!

Duh siapa sih siswa di sekolah yang tak mengenal Tama? di tahun ajaran pertama ia telah ikut tim Olimpiade Fisika. Tim Olimpiade biasanya beranggotakan siswa tahun ajaran kedua atau ketiga. Dan untuk menjadi anggota tim harus diseleksi dengan ketat oleh Guru. Namun Tama berhasil masuk ke tim olimpiade. Ah dan hebatnya lagi Tama dan timnya juara tingkat Nasional. Belum lagi di tahun ajaran kedua Tama menjadi kapten tim basket. Kalau sudah begitu murid mana coba yang tidak kenal dengan Tama.

“Lihat tuh Tam. cewek-cewek di sana ngelihatin kamu sampai bola matanya mau keluar” kataku sambil melahap semangkuk bakso.
“Mereka ngelihatin kamu tahu, makannya lahap banget kaya nggak makan dari lahir” katanya sambil tertawa.
Sekarang aku malah yang ikutan melotot ke Tama.
Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?. Sungguh pada waktu itu ingin sekali rasanya aku membekukan waktu. Biar kebersamaanku dengan Tama tak akan segera berlalu.

Seperti siswa di tingkat akhir pada umumnya. Aku dan Tama sibuk untuk menghadapi ujian sekolah dan ujian masuk perguruan tinggi. Terlebih Tama ia pasti sangat sibuk mempersiapkan diri untuk ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes.

“Aku bahkan tidak melihatnya seminggu ini Put”
“Pasti soal Tama” Jawabnya.
Apa yang dibilang sahabatku Putri benar, ini soal Tama. Akhir ini Aku jarang sekali bertemu dengan Tama. Dan puncaknya sudah seminggu aku sama sekali tak melihat sosoknya.
“Padahal kemarin aku melihat Tama dengan Bella di Kantin. Eh apa kau tidak takut dengan Bella?”
Aku melongo bingung dengan maksud perkataan Putri
“Begini biar aku jelaskan. Kau tidak takut Jika Tama dekat dengan Bella? Maksudku Bella itu satu kelas dengan Tama. Dia itu lumayan cerdas dan cantik. Ah tidak-tidak bukan lumayan tapi memang benar jika dia cerdas dan cantik dibanding kita”
Aku mengangguk, sepenuhnya setuju dengan pernyataan Putri bahwa Bella itu cantik dan juga cerdas.

“Hei aku tahu bahwa kau rindu dia Sita! Bohong kalau tidak, bagaimana kalau habis pelajaran ekonomi kita ke kelasnya!” usul Putri
“Nggak put. Aku nggak mau menganggu Tama. Ujian tinggal seminggu lagi dia pasti sangat sibuk”
“Siapa bilang? Buktinya dia masih bisa ke kantin dengan Bella masa ngobrol sebentar denganmu nggak bisa? Ayolah apa susahnya Sita” rengek Putri.
Ah Putri Menyebut nama Bella lagi, entah kenapa ketika mendengar nama Bella aku sedikit tidak suka.

Kalau kau menanyakan kapan aku jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah tahu kapan persisnya. Aku pun juga tidak tahu bagaimana cinta bekerja hingga bisa bersemayam dalam hati. Tiba-tiba saja dia menyusup diam-diam dalam hatiku dan ketika aku menyadarinya Tama telah menempati tempat istimewa dalam hati.

Ujian telah selesai dan pengumuman kelulusan pun akan segera diumumkan. Dan yang mengejutkan bagiku adalah nilaiku yang lumayan bagus. Nilai itu termasuk bagus untukku mengingat betapa minimnya aku belajar. Dan yang lebih mengejutkanku lagi ialah bahwa Tama lulus dengan nilai terbaik. Ah Tama aku tahu bahwa kau pasti bisa.

“Selamat Sita, aku sungguh bangga padamu” ujar seseorang yang sudah kuhafal betul suaranya.
Tama!!! Aku berseru dalam hati.
“Kau juga Tama, selamat Tam! Ah aku benar-benar bangga denganmu”
Tama tersenyum. Senyum yang tak kulihat dua bulan terakhir.
“Apa kau sekarang ingin pulang ke rumah? Kalau begitu bareng denganku saja naik si merah” ajaknya
Tanpa banyak berpikir aku mengangguk setuju. Pulang bersama Tama dengan sepedanya, si merah. Aku sangat merindukannya. Entah bagaimana aku menggambarkan perasaanku waktu itu. Tapi yang jelas. Sungguh aku ingin dianggap Tama bukan hanya sekedar sahabat atau teman kecilnya. Tapi lebih. Entah bagaimana Tama menganggapku. Aku hanya bisa menebak-nebak. Tapi bukankah memang jatuh hati selalu sepaket dengan menduga-duga?

Kali ini Tama tidak membawaku pulang ke rumah. Ia melajukan sepedanya ke taman dekat komplek rumah. Bagiku itu sama sekali tidak masalah. Ke manapun asal bersama Tama aku bahagia.
“Ada apa Tam?” kataku memecah keheningan diantara kami
Kali ini dia tidak menjawab.

“Kenapa?” tanyaku lagi
“Aku akan pindah Sit”
Aku melongo. Pindah lagi?
“Aku mendapat beasiswa kuliah di Singapura Sit. Jadi aku akan pindah ke Singapura”
“Wah Tama. Selamat!” kataku dengan nada yang kubuat seriang mungkin.
Kali ini dia memilih untuk tersenyum
“Kapan berangkat Tama?”
“Lusa”
Glek. Secepat itukah?

“Mungkin suatu saat aku bakal rindu tempat ini” katanya tiba-tiba.
Aku apalagi Tam. Aku bakal rindu taman ini. Dan tentunya juga kau.
“Ah matahari sudah mulai tenggelam. Bagiamana jika kita pulang?”
Aku hanya bisa mengangguk.

Sekarang aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan terjerembab. Menatap sosoknya, sosok cerdas yang begitu kukagumi. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku untuk melihat sosoknya? Atau mungkin bisa saja Tuhan menyiapkan kesempatan-kesempatan lain yang masih disembunyikan.

Entahlah. Mau serindu apapun itu. Aku tak bisa mengungkapkannya. Memilih menyimpan perasaan istimewa ini di dalam hati. Ah, Maafkan memang aku tak punya pilihan lain! Sebab bagiku dikatakan atau tidak itu tetaplah cinta. Bahkan dalam diam pun bagiku tetap cinta. Mungkin kali ini aku tak punya kesempatan untuk menyatakan kepadanya. Mungkin kali ini aku pun tidak mengetahui perasaan Tama. Namun soal urusan hati manusia. Siapa yang tahu?. Namun yang jelas. Biar waktu yang akan menjawab.

Cerpen Karangan: Arum Melati Suci
Blog: arummelatisuci.blogspot.com
Wanita akhir zaman yang masih tengah berproses untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, dan lagi. Pribadi yang sedang mencoba bermanfaat untuk sesama lewat karyanya.

Cerpen Cinta dalam Sepotong Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Jadi Cinta, Cinta Jadi Sahabat

Oleh:
Yusuf, dia adalah nama cowok yang kutaksir sejak lama, namun baru beberapa hari ini dia sering menatapku dan berusaha untuk mengajakku berbicara, berdebar rasanya. Minggu depan aku dan teman

Dia

Oleh:
Aku mengenalnya sejak lama. Walau dia tidak mengenalku. Aku juga mengenalnya hanya sebatas nama. Dia temannya temanku. Temanku pernah bercerita tentangnya kepadaku. Sejak itu aku mengenalnya. Namanya Renha. Renha

Kenangan Saat Musical Contest

Oleh:
Hikaru Kashmiah, dipanggil saja dia Hika. Dia baru pindah sekolah. Hika merasa cemas, takut, dan gelisah. Bahkan ibunya tidak bisa menjemputnya ke sekolah barunya. Saat itu Hika pergi ke

Mimpi Untuk Nana

Oleh:
Pagi yang indah untuk memulai aktivitas. Namun keindahan itu seakan lenyap ditelan satpam yang meniupkan peluit pertanda gerbang sekolah akan ditutup. Aku harus berlari, masih ada jarak lima belas

Kau dan Dia, Aku dan Dia

Oleh:
Mereka berdua saling tatap, tak sabar ingin mengetahui kata apa yang akan diucapkan. Pada awalnya Iben mengajak salah satu sahabatnya, Odie untuk mengisi sebuah kekosongan, kehampaan semata. Di sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *