See You, You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 22 January 2016

Pare, Februari 2015
Tidak seperti biasanya, aku sudah rapi dengan kemeja, celana jins dan sepatu boots kebanggaanku pagi-pagi sekali. Aku tidak pernah sesiap ini mengawali hari. Ku kayuh sepeda fixie hitamku di antara teriknya panas mentari pagi. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB. Sedang terlambat? Tidak. Aku begitu bersemangat akan pembelajaran hari pertama kelas Bahasa Inggris yang sudah ku rencanakan bersama teman-temanku sejak lama, sewaktu aku masih di Pekanbaru. Ya, kini aku sedang di Pare, yang orang-orang bilang sebagai kampung Inggris-nya Indonesia.

Sampailah aku di kelas Speaking 1 hari itu. Tidak mewah memang, satu papan tulis sederhana dengan beberapa spidol telah disiapkan di bawah pohon yang aku sendiri tidak tahu namanya, dan beberapa kursi plastik mengelilingi papan tulis tersebut sehingga membentuk suatu kelas. Mataku tidak bisa diam, aku terus melihat sekeliling yang sangat baru bagiku. Pandanganku seketika berhenti pada seseorang yang menyita semua perhatianku detik itu. Siapa dia? Entahlah, yang ku tahu sejak saat itu dia telah menciptakan debar-debar bodoh yang selalu mengganggu kehidupan dan ketenteraman hidup.

Singkat cerita setelah beberapa hari di kelas yang sama, akhirnya aku sudah tahu nama, asal, hingga kontaknya. Lalu? Aku masih tidak tahu harus apa, aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi ini. Apakah hanya aku saja yang seperti ini, apakah dia merasakan juga. Apakah aku saja yang terlalu berlebihan? Entahlah. Andai bisa, ingin sekali aku langsung saja bertanya kepadamu, Hei! Kamu juga merasakannya? Aku tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan jika aku bisa lebih dekat dengannya. Di sisi yang lain belum ada feedback yang sama dari dirinya. Sudahlah, aku saja yang terlalu bodoh membiarkan semua khayalan dan perasaan menimbun pikiranku. Aku hanya buang-buang waktu saja.

Di penghujung bulan Maret, merupakan waktu dimana kita harus benar-benar berpisah. Kamu, kembali ke kota dan kehidupanmu yang sebenarnya, begitu pun aku. Tapi, apakah semua ini hanya khayalanku saja? Akankah hanya kekaguman sementara semata? Aku terlalu sadar kalau ini benar-benar terjadi.
“This is real.”
“This feeling is f*ckin real.”

Bagaimana tidak, aku merasa takut untuk berpisah. Aku begitu takut untuk menerima kenyataan kalau kita mungkin tak akan bertatap muka lagi. Kamu tidak tahu saja. Di suatu malam di penghujung pertemuan, walau hanya dengan kata-kata di dalam ponselmu yang aku ketik dengan sejujur-jujurnya berharap kamu tahu dan mengerti, aku telah mengirimkan pesan perpisahan yang sekaligus mengungkap perasaanku kepadamu. Aku tidak berharap kau membalasnya, aku tahu sulit bagi kamu, bagi kita. Dengan beratap malam, kita berdua mengungkap segalanya di dalam suatu obrolan. Membiarkan angin memasuki sendi-sendi tubuh begitu saja. Aku kedinginan. Dingin yang meresahkan. Besok, kau pun akan kembali pulang. Kita pun berpisah.

See you next time! Begitu kalimatmu yang akan selalu ku ingat sampai kita bertemu lagi kelak. “Rindu ini bukan tentang pertemuan, melainkan kau merindu seperti aku, dan suasana kita dahulu.”

Cerpen Karangan: Rifathabib Nst
Blog: http://rifathabibnst.blogspot.co.id
Rifathabib Nst, My Link: bit.ly/rifathabib-nst

Cerpen See You, You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Kecuranganku Dalam Friendzone

Oleh:
Duapuluh tahun bukan kurun waktu yang singkat dalam pertemanan. Antara aku dan dia teman masa kecilku, Projo. Dari masa taman kanak-kanak sampai saat ini usia seperempat abad kami masih

Memoar Rasa

Oleh:
“Jika aku tahu merindu tak akan ada obatnya kecuali pertemuan, maka aku ingin menjadi seorang apoteker saja, lalu meracik obat penawar rindu.” — “Tak ada yang berubah, tempatnya masih

After Hello (Part 1)

Oleh:
Clara Smith merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi telentang dan wajah frustasi. Seharian ini ia telah menahan semua bentuk luka batin yang akan membuahkan air mata sewaktu-waktu sementara

Menaruh Harap

Oleh:
Seperti kata orang mencintai tidak harus memiliki, itu memang benar bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan. Seperti aku yang mencintai dia namun hanya sebatas menaruh harap Ikbal laki-laki tampan

Sudah Terlambat

Oleh:
“Maaf kak, Adek gak bisa terima permintaan kakak yang kakak kirim lewat Facebook itu. Maaf banget kak” Dengan perasaan bersalah dan keraguan pun terpaksa aku lontarkan kalimat itu kepadanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *