13 Hadiah Untuk Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

Namaku adalah Michelle. Mungkin aku sangat beruntung karena aku memiliki sahabat bernama Adelia. Kami bersahabat sejak usia 5 tahun. Sudah 8 tahun kami bersama. Rumahku dan Michelle pun bersebelahan lebih tepatnya kami bertetangga. Mulai dari Playgroup, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah pertama (SMP) pun kami selalu bersama. Bahkan kini kami duduk di kelas yang sama.

Adel sangat perhatian terhadapku. Adel seringkali mengorbankan kepentingan pribadinya demi aku yang sangat dihargainya. Adel tidak jarang meluangkan banyak waktunya demi kepentingan sahabatnya. Seperti halnya Adel, aku juga bersikap yang sama terhadap Adel. Aku sangat perhatian dan selalu memastikan sahabat tercintanya ini dalam keadaan baik-baik saja. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik selalu kami lewati bersama. Sepertinya kami lebih dari sekedar sahabat. Rasa sayang kami tak dapat diungkapkan melalui kata-kata. Suka dan duka selalu kami lewati bersama.

Suatu sore, ketika aku dan Adel pulang sekolah kami mampir ke salah satu Mall. Kami pun mengelilingi Mall tersebut. Langkah kaki kami terhenti di depan toko Aksesoris yang benuansa serba putih. Karena Adel sangat menyukai warna putih. Kami pun memasuki toko tersebut.
“Ingin deh rasanya bisa beli semua barang di sini..” Adel sangat menyukai semua barang yang dijual di sini.
“Emang uangnya cukup del?” Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku Adel.
“Eng.. nggak.. hehe.”
Kami hanya membeli bandana putih dan sepatu biru. Karena Adel menyukai warna putih dan aku sangat menyukai warna biru. Kami memang selalu membeli barang yang sama. Barang-barang kami yang kembar pun banyak sekali. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang.

Ketika aku sampai di rumah, aku baru menyadari bahwa hari ini tanggal 30 April. Berarti 1 bulan lagi Adel akan ulang tahun. Adel sering sekali memberiku kejutan dan hadiah pada saat ulang tahunku. Tetapi, aku belum pernah memberi kejutan padanya, hadiah pun tidak. Aku hanya memberi ucapan “Selamat Ulang Tahun Adel.” dan itu pun aku mengucapkannya tidak pernah tepat di hari ulang tahunnya. Namun Adel tetap saja sabar dan menyayangiku.

Aku membuka kotak yang berisi semua hadiah Adel. Di sana terdapat album fotoku dengan Adel, bandana berwarna putih, bingkai foto kami, sepatu berwarna putih, buku diary berwarna putih, dan masih banyak lagi. Aku pun membuka lembaran demi lembaran album foto kami. Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman yang aku temui bersamanya. Dari halaman pertama hingga terakhir berisi foto-foto kami. Mulai dari Play Group hingga kini. Tak terasa air mataku jatuh. Aku menangis tersedu-sedu baru menyadari Adel yang sangat perhatian kepadaku. Aku sangat beruntung dan bersyukur memiliki sahabat sebaik Adel.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan Adel. Karena jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, kami pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Ketika istirahat tiba, aku dan Adel pun bergegas pergi ke Kantin untuk membeli makanan.
“Michelle kok cuma beli air mineral?” ucap Adel heran.
“emm.. nggak apa-apa kok, tadi di rumah aku udah makan. Jadi masih kenyang..” Ucapku berbohong sambil menahan lapar demi mengumpulkan uang untuk membeli hadiah untuk Adel.
“aku tahu kok kamu lapar, mata kamu nggak bisa bohong..” Adel menatapku dengan tajam.

“ya sudah, kamu makan roti punyaku saja. Nanti kalau kamu sakit gimana..” Adel memberikan rotinya kepadaku. Ya Tuhan Adel begitu perhatian kepadaku. Dia tidak ingin melihat sahabatnya kesakitan, meskipun kini ia sangat lapar. Tak terasa air mataku pun perlahan menempel di pipiku.
“ya ampun Michelle, kamu kenapa nangis?” Adel mengambil tisu dan mendekatkan tisunya ke pipiku hingga air mata itu hilang. Aku pun langsung memeluk Adel.
“makasih ya del, kamu selalu perhatian dan ada buat aku..” Aku pun membagi dua roti tersebut dan memberikannya kepada Adel.

Saat aku pulang ke rumah, aku dan Adel melihat sebuah toko bernuansa putih dan biru. Entah kebetulan atau tidak nuansa toko tersebut sama seperti warna favorit kami. Ketika Adel melihat topi berwarna putih, sepertinya dia ingin membeli topi tersebut. Aku pun sampai di rumah. Dan langsung bergegas ke kamar. Aku melihat celengan ayam yang tidak seberapa isinya. Lalu ku pecahkan celengan tersebut. Aku langsung bergegas pergi ke toko tersebut menggunakan sepeda. Lalu aku pun masuk ke dalam toko tersebut. Dan mengambil sebuah topi berwarna putih. Aku pun langsung bergegas ke kasir untuk membelinya.

Ketika sampai di rumah, aku baru ingat bahwa Adel suka sekali merajut. Aku berencana ingin membuat rajutan syal, gelang, dan kalung. Aku pun langsung mengambil sisa uang yang aku belikan topi. Dan langsung bergegas membeli benang rajutan. Di rumah aku langsung merajut benang tersebut. Aku baru sadar kalau aku tidak bisa merajut. Jadilah aku memanggil Kakakku untuk mengajariku bagaimana caranya merajut. Setelah 30 menit aku memperhatikan Kakakku aku baru mengerti bagaimana merajut.

Aku langsung mengambil benang berwarna putih. Aku sengaja membeli benang berwarna putih. Setelah 2 jam akhirnya selesai mengerjakan rajutan tersebut. Dan langsung menyimpan rajutan dan topi di lemari. Keesokan harinya, aku sengaja membuat 2 sandwich, jadi di sekolah aku tidak akan lapar lagi. Dan 1 untuk Adel. Aku pun selalu membawa bekal agar tidak lapar.

Tiga minggu pun berlalu. Aku sudah membeli 12 hadiah untuk Adel yaitu topi, syal, gelang, kalung, komik, bingkai foto besar yang berisi foto kami, album foto kami, boneka teddy bear, cokelat berbentuk love, kaos couple yang bertuliskan nama kami, jam tangan, buku diary. Tetapi, aku bingung untuk membeli 1 lagi hadiah. Ketika aku dengan Adel akan pergi ke sekolah, aku melihat tas yang dipake Adel sudah agak rusak. Dan aku berencana akan membelikan tas untuk Adel.

Aku langsung mengambil sisa uangku, tetapi tinggal 100 ribu lagi. “Pasti tasnya mahal.” batinku. Aku pun pergi ke gudang. Di sana terdapat barang-barang bekas. Aku pun mengambil barang-barang yang masih bisa untuk dipakai. Dan langsung bergegas ke toko barang bekas. Aku menjual barang tersebut dan mendapat uang 50 ribu.
“sepertinya cukup untuk membeli tas..” Batinku.

Keesokan harinya aku pergi ke Mall untuk membeli tas putih. Ku lihat harganya 150 ribu. Berarti uang ini cukup untuk membeli tasnya. Aku langsung mengambil tas tersebut dan pergi ke kasir untuk membayarnya. Tak lupa aku membeli 13 kertas kado berwarna putih dengan motif berbeda. Di rumah aku langsung membungkus 13 kado tersebut. Tak lupa aku membuat kue untuk Adel. Besok adalah hari yang ku tunggu-tunggu.

Keesokan harinya, aku tidak pergi bersama Adel. Aku berniat untuk mengerjainya. Di sekolah pun kami tidak menyapa sama sekali. Teman sekalasku pun begitu. Tetapi Adel tidak menyadari bahwa hari ini hari ulang tahunnya. Pulang sekolah pun aku tidak bersama Adel. Karena aku terlalu girang, saat aku menyeberang aku tidak melihat kanan kiri. Alhasil ada mobil yang melaju sangat kencang dan menabrakku. Untung dia tidak kabur. Dan langsung membawaku ke rumah sakit. Darah berceceran dimana-mana. Orangtua, Kakak, dan Adel sangat cemas. Dokter menjelaskan bahwa aku hanya terkena luka ringan. Adel pun masuk ke kamarku.

“maaf, kamu siapa ya?” aku pura-pura amnesia.
“aku Adel sahabat kamu masa tidak ingat?” Adel kaget saat mendengar ucapanku.
“Adel?! Aku tidak pernah mendengar nama itu..”

Karena kecewa Adel pun pulang ke rumahnya. Aku harus sampai rumah Adel lebih dulu untuk memberinya kejutan. Untung saja lukaku ringan dan tidak terlalu parah, jadi aku diizinkan untuk pulang. Aku meminta orangtuaku untuk membantuku pergi ke rumah Adel. Kami pun sampai lebih dulu. Dan langsung mempersiapkan semuanya. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang tak lain adalah Adel. Adel pun masuk ke rumahnya. Kami sengaja mematikan lampu agar tidak ketahuan.
“1..2..3.. SURPRISE!!!”
“happy birthday Adel..” Kami berteriak bersama. Adel pun kaget. Dia meniup lilin dan membuka setiap kado dariku. Sepertinya ia sangat bahagia. Kami semua pun larut dalam kebahagiaan.

Tamat

Cerpen Karangan: Annisa Siti Salsabila

Cerpen 13 Hadiah Untuk Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hello Cordoba (Part 2)

Oleh:
Setelah berkeliling memutari areal masjid, kemudian, Syabil selanjutnya mengajakku kembali menuju ke tempat sejarah yang kedua di Cordoba. Tempat tersebut, berlokasi di kota Zaragosa, dan bersebelahan dengan bukit sejuk

Everyone Needs a Friends

Oleh:
Namaku Sara, aku adalah siswi baru angkatan ke-3 tahun pertama di SMP Diakonia 1 pekanbaru, aku dapat sekolah di SMP elit ini tentu dengan usaha yang menguras otak dan

Semanis Lolipop

Oleh:
“Ooh tidak, rasanya badanku benar-benar remuk seharian ini.” Bel pulang sekolah baru saja berbunyi di segala penjuru ruangan. Bagi gadis manis satu ini, bunyi bel barusan sangat membuatnya bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “13 Hadiah Untuk Sahabatku”

  1. aliifah tazkya says:

    Jadi inget temenku namanya adhel. Anaknya baik banget mirip dah sama cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *