17 Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 September 2016

“Lo kenapa, Bram?,” tanya Billy saat ia melihat Bram terdiam dan termangu menatap jam tangannya.
“Nih anak dari tadi emang diem, Bil! Mungkin, dia lagi hemat suara. Ntar lagi, turnamen kan? Jadi, wajar lah kalau dia diem begitu!,” ujar Riska dengan tetap menyetel pianonya sebelum latihan dimulai.
“Bram! Ikut gue!,” pinta Felly tegas dengan tatapan matanya yang tajam.
Bram pun mengikuti langkah Felly dengan membuntutinya dari belakang. Hingga akhirnya, langkah Felly terhenti di depan tempat duduk taman. Felly memegang Bram yang lemas lunglai untuk duduk. Di sanalah, Felly menyidangnya layaknya seorang hakim.

“Apa yang harus gue lakukan saat gue ingin membunuh lo? Bram, please dong sadar! Jangan kayak anak kecil gini! Gue tahu, lo sekarang lagi sedih mikirin Nina yang masih terombang-ambing sana sini ngurusin cintanya. Tapi..”
“Tapi, gue bukan lo, Fel! Lo cewek yang kuat! Gue emang pengen banget niru lo! Tapi, apa daya kalau gue emang nggak mampu?! Felly, gue berbeda jauh sama lo! Saat lo ditinggal pergi sama Arka, lo bisa menghibur diri lo sendiri dengan bermain gitar dan tetap dalam zona nyaman lo! Tapi gue?! Gue susah ngelakuin itu! Lo memiliki jiwa dan otak robot yang masih bisa berjalan sekalipun terluka! Gue bukan lo, Fel!”
“Apa lo nggak malu bilang gitu ke gue? Bukankah seharusnya, cowok itu lebih kuat daripada cewek? Bram! Di dunia ini itu nggak ada yang nggak mungkin! Selagi, kita mau usaha!”
“Dan punya kemauan!,” sahut Riska.
“Sorry, Fel! Kita nguping! Nggak seharusnya juga, lo menyelesaikan masalah ini Cuma berduua! Kita juga pengen tahu! Meski kita nggak bisa bantu banyak!,” tambah Billy.

Sejenak, mereka terdiam dalam keheningan taman. Hanya udara, dan gemerasak dedaunan yang berirama menyejukkan hati mereka yang tengah gelisah. Billy dan Riska melangkahkan kakinya hingga mereka semakin mendekat ke arah Felly. Kemudian, duduk si sisi kanan dan kiri Bram. Menatap Bram dengan gelisah.
Bagaimana tidak? Tentor utama dalam permainan band adalah Felly dan Bram. Mereka berdua adalah tentor fans terbanyak. Selain itu, mereka juga memiliki prestasi yang melejit dibandingkan dengan Riska dan Billy. Mereka ibarat sebuah magnet yaang harus saling berkaitan atau bertaautan. Apabila satu magnet tidak ada, maka tidak ada yang akan tertarik untuk menempel padanya. Begitulah filosofi untuk mereka berdua.

“Bram, lo nggak kasihan sama diri lo sendiri? Dia terlalu sibuk mikir yang nggak seharusnya terlalu dipikirkan? Sedangkan, sesuatu yang harus dipikirkan ada di depan mata lo! Apakah lo hanya bisa berpikir sependek itu, ya?,” tanya Billy.
“Kalian nggak pernah bisa tahu apa yang gue rasakan! Guys! Gue mohon, jangan bahas kerjaan di kondisi gue yang seperti ini! Cukup! Gue mohon! Cukup!,” kata Bram dengan beberapa kerutan di wajahnya.
“Justru itu, kita mau ngertiin lo!,” bentak Felly.
“Felly! Sabar, Fel! Jangan gitu!,” peringatan Riska.
Felly menghembuskan napasnya perlahan.
“Gue emang tahu, gue egois orangnya! Tapi lo harus tahu Bram, gue nggak akan biarkan lo diem kayak zombie yang nggak berguna! Dan kalian berdua, jangan salahkan gue kalau gue udah gila detik ini juga! Untuk lo bram, siapin mental lu!,” ucap Felly ketus dengan meninggalkan mereka dan kembali ke studio.

Sesampainya di studio, ia meraih ponselnya. Saat ia sudah berada di nada sambung, Felly menjelaskan bahwa ia telah gagal untuk mendidik teman-temannya dalam pengendalian mental. Ia menyerahkannya kepada agency yang sudah siap mendidik mereka hingga mereka menjadi robot sepenuhnya.
“Lo gila, Fel?,” tanya Billy setelah mendapatkan telepon dari agency.
“Gue nggak ada pilihan lain! Cuman ini jalan satu-satunya Bram bisa sembuh! Bil, gue minta tolong sama lo! Hargai usaha gue di sini! Gue hanya nggak mau sahabat gue gila kayak gini! Semalem, gue ditelepon sama nyokap Bram kalau dia nggak pulang ke rumah! Dia di club semalem! Gue nggak mau dia terus-terusan terjerumus semakin dalam. Billy, gue mohon sama lo, bantuin gue! Gue nggak peduli sekalipun gue mengubah diri gue sendiri menjadi robot! Tapi setidaknya, imbalannya setimpal dengan apa yang gue dapatkan! Bram kembali!,” kata Felly dengan meraih ranselnya untuk menandatangani kontrak bimbingan mereka.

Riska yang mendengar pembicaraan mereka merasa merinding dengan tindakan Felly yang begitu nekat dan tragis. Tapi, apa daya apabila Felly melakukan hal itu demi kebaikan. Felly yang telah memberikan latihan layaknya robot, kini memberikan agency untuk melatih mereka layaknya zombie.
Tapi, itulah Felly. Dia, memang keras kepala, egois. Tapi, ia memiliki kepedulian yang lebih besar dibandingkan yang lainnya. Sekalipun, Felly menunjukannya dengan cara yang kasar, itulah Felly. Yah… jati diri Felly. Ia membenci orang yang lemah. Meskipun dirinya lemah, ia berusaha bagaimana caranya tidak lemah.

Remaja, adalah usia dimana kita menghabiskan kenangan waktu terindah. Karena masa remaja, tidak akan pernah bisa terulang kembali di kemudian hari. Masa remaja, akan menjadi sebuah torehan kenangan indah apabila pemiliknya juga mengarahkan keindahan pada masa remajanya. Dan, sebaliknya. Tapi, sahabat adalam tentor utama dan terpenting dalam sebuah kehidupan remaja. Karena sahabat yang sesungguhnya tidak akan pernah membiarkan orang yang dicintainya tersungkur lemah. Ia akan dengan sukarela mengulurkan tangannya, sekalipun ia harus menatap dengan tatapan membunuh. Remajamu, indah bersama sahabatmu. Itu lebih baik.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen 17 Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Kekuatanku

Oleh:
Pertemuan awal yang indah, Yang membuat aku merasakan dua hal yaitu kebahagiaan dan kesedihan Hujan yang lebat menguyur kota Jambi yang terkenal memiliki Sungai yang terpanjang di sumatera. Di

Jodoh Rahasia (Part 2)

Oleh:
“Aku nggak mau kalian berdua nanti menyesal gara-gara ini. Kalian teman, masa hanya karena seorang gadis, persahabatan kalian rusak begini? Saling menjatuhkan, aku minta kalian hentikan ini, gadis yang

Deadline

Oleh:
Secercah cahaya kehidupan, Terpancar melewati persegi napas, Menyinari awal kehidupan, Tersenyum menyapa Mata Cinta terbuka dan ia hanya melihat sekeliling dalam sepi. Mengucek-ngucek mata dan meraba sekeliling kasurnya mencari

Bersama Kita Menuju Surga

Oleh:
Ayu terdiam. Angin sore itu berhembus dengan lembut membuat dedaunan pohon di sekitar taman pondok bergoyang-goyang sehingga, siapapun yang merasakannya akan langsung ingin terlelap. Ayu yang sedang duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *