Ada Mei Di Bulan Juni

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Senin pagi di awal bulan juni, ku mulai perjalanan menuju sekolah yang berada di desa tetangga. Namaku Kara Febrian, aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Seperti biasa aku berangkat dengan kawanku Jodi, yang sudah standby menunggu di pertigaan tak jauh dari rumahku. Jodi adalah temanku sejak kecil, maka keakraban kami pun sudah seperti sodara. “Wouuyyy, jo!!” sahutku sambil melambaikan tangan pada kawanku yang senang dengan sepak bola itu.

Ia pun hanya menggelengkan kepalanya dengan menunjukkan jarinya ke jam tangan yang dipakainya, menunjukkan bahwa waktu sudah terlambat. Ya aku memang mempunyai kebiasaan telat bangun sehingga, Jodi sering kesal padaku. “Tunggu aku.. jo! Ini kan masih pagi!!” ujarku sambil berlari mengejar dia.
“Ahh… Sudah buruan, aku gak mau kena marah Pak Parto lagi!!” jawabnya dengan sedikit muka mendatar.

Setibanya di sekolah, benar saja pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Pak Parto yang bertugas menjaga sekolah waktu itu menghampiri kami berdua. Dengan wajah yang seram kumis tebal dan berkulit hitam. “kamu lagi-kamu lagi!! Cepetan masuk! Sekolah kok kaya gak niat!” ia mengoceh sambil membuka gerbang menyuruh kami masuk. Namun ketika ingin masuk kelas, terdengar ada yang mengajar di dalam. Jodi pun mengintip lewat lubang kunci yang ada di pintu kelas kami.

“waw!! Ini baru bisa semangat aku belajar ra..” cetusnya sambil menarik-narik bajuku.
“Apaan, sih joo! Udah buruan buka pintunya, ini kan jam pelajarannya Bu Erli!” jawabku dengan mencoba menyingkirkannya dari pintu.
“Kamu harus lihat ra.. Nyesel deh kalau sampe nggak lihat!!” seru kawanku yang ngefans sama Christiano Ronaldo itu.

“BRAKK!”

Pintu itu terbuka agak kencang karena aku mencoba memkasanya untuk mendorong. “Waaaw!” aku terkejut saat ku lihat ada murid baru wanita yang sedang memperkenalkan diri di depan papan tulis. “Nah.. Ini nih.. Ibu kenalkan pada kamu Mei, murid yang sering kesiangan!” kata Bu Erli sambil menunjuk kepadaku dan Jodi.
“Angkat kaki kalian berdua, tangan di kuping!!” sambungnya. Ternyata siswi baru di kelasku namanya Mei Aprillia. Mei adalah siswi pindahan dari Jakarta. Saat pertama ku melihatnya, memang benar kata Jodi, aku bisa menyesal kalau sampai tak melihatnya. Dia cantik, dengan rambut panjang nan hitam, lentik bulu mata yang menambah bola matanya yang agak sipit terlihat lebih indah.

Satu jam aku berdiri selama pelajaran Bu Erli kini aku dibolehkan duduk, dan asyiknya lagi ternyata Mei duduk di belakang bangkuku dan Jodi. Setelah pelajaran kedua, bunyi lonceng tanda istirahat pun berdering. Bergegaslah aku menuju kantin sekolah. Namun seperti ada yang kurang, saat aku duduk di meja kantin sambil makan mie instan saat itu. “Jodi ke mana yah?” aku bertanya-tanya dalam hati.

Selesai makan dan membayarnya, aku bergegas mencari kawanku yang gokil itu, ku cari di lapang futsal belakang kelas nggak ada, dan ternyata dia malah sedang asyik ngobrol dengan Mey. Ya! Memang kalau urusan wanita aku kalah dibanding Jodi, buktinya saja sampai saat ini aku tak pernah terpikir mempunyai hubungan asmara, sementara dia Mungkin hampir semua siswi di sekolah ini tahu karakter playboynya. “Aku pun bingung, apa Jodi suka sama Mei? Padahal kan dia udah punya pacar?” Ungkapku dalam hati saat ku lihat Jodi asyik ngobrol dengan Mei.

Entahlah, aku juga bingung dengan perasaanku tumben sekali merasa kesal saat ku lihat Jodi berdua dengan Mei. Jika sebelumnya Jodi dekat dengan wanita mana pun aku tak pernah seresah ini. Kembalilah aku ke kelas karena lonceng sudah kembali dibunyikan tanda jam istirahat sudah habis. Di kelas Jodi terus mengajakku bercanda, aku hanya diam masih mengingat hal tadi.

“kenapa si ra, tumben sekali kau jadi bisu kayak batu? Kesambet apa?” cetusnya dengan muka sedikit mendatar.
“La-u dari tadi ke mana? Aku cariin malah asyik sama murid baru!!” jawabku.
“Ohh.. Tadi biasa Ra, aku baru kenalan sama dia, ternyata dia orangnya gak sombong Ra, malah nanti pulang sekolah dia nyuruh maen ke rumahnya!!” jelasnya padaku. Aku masih tetap membisu entah kenapa, mungkin ini pertama kalinya aku merasakan cemburu, mungkin juga karena aku jatuh cinta dengan Mei.

Pulang sekolah, aku langsung pulang ke rumah. Tak seperti biasanya aku yang selalu menyempatkan main playstation dengan Jodi setelah pulang sekolah.
“Karaa!” panggil Ibuku yang sedang menyapu halaman.
“Iya Bu!” jawabku sambil ku tengok dari jendela kamarku.
“Tuh, Jodi mau ngajak main” seru ibu. Jodi nampak bersiap-siap dengan motor vespa tuanya.
“Woi .. Buruan ikut, mission baru buat kau!” kata Jodi.
“Misi?” aku pun bingung dengan yang dibicarakan Jodi, maksudnya apa?! Entahlah. Ku pikir ada game baru di rental playstation. Segeralah aku ke luar dan langsung ku tumpangi vespa tua milik kawanku itu.

Di perjalanan.
“maksud kau, misi apa jo?” tanyaku.
“ahh .. Pokoknya kau duduk manis di vespaku, sampai ku berhenti di sebuah tempat, baru kau bisa tahu maksudku!?” jawabnya dengan gaya cengengesan.
Tak lama aku tiba di sebuah rumah, kampung sebelah. Entah rumah siapa aku tak tahu, ku kira dulu rumah ini kosong gak ada penghuni. Jodi pun menghampiri rumah itu.

“Permisi!” Sahut Jodi dengan mengetuk pintu rumah itu. Sementara aku masih berdiam di atas vespa yang terparkir di pinggir jalan. Tak lama keluar gadis yang cantik, dan ternyata itu Mei, semakin bingung aku dengan Jodi, maksudnya apa membawaku ke rumah Mei.
“Hei, Jodi!!” sapa gadis cantik berkulit putih itu. “Kenapa, Kara di luar, sini masuk!!” sambungnya.
“iya makasih, aku di sini ajalah!” jawabku.

“hei, Ra mau jadi tukang parkir kau di situ, sini lah!” canda Jodi padaku. Bermaksud menghargai ajakan Mei, aku pun ikut gabung dengan mereka berdua.
“sebentar.. Aku bikinin minum dulu!” ucap Mei sambil melirik, mencuri pandanganku.
“maksud, lo apa sih jo? Bawa aku ke sini?” bisikku pada Jodi.
“nyantai, aja bro! Yang penting kau ikut aturan mainku, nanti juga kau tahu.” jawabnya.

Tak lama kemudian, Mei ke luar dari dalam rumahnya dengan membawakan sirup untukku dan Jodi. “Taraaat… Minumannya datang!” canda Mei pada kami berdua.
“Yo, silahkan diminum,” sambungnya.
“Wiiihh, mantep nih, Ra! Siang-siang gini minum es jeruk!” Kata Jodi. Aku hanya melemparkan senyum pada mereka, yang selanjutnya, mereka pun asyik berbincang. Merasa teracuhkan oleh obrolan mereka berdua, aku bergegas dari tempat dudukku, dan berjalan-jalan sambil ku lihat tanaman bunga yang ada di sekitar rumah Mei. Sedang asyik ku melihat tanaman bunga di halaman, tiba-tiba Mei menghampiriku.

“Hai.. seneng bunga juga toh, kamu ra?” tanya Mei padaku.
“Iya.. lumayanlah, soalnya dari kecil aku suka bantuin Ibu jika ia sedang menyirami bunga di rumah.” jawabku.
“Wah, berarti di rumah kamu banyak bunga juga dong, kapan-kapan aku main ya ke rumah kamu, biar sekalian silaturahim, sama keluarga kamu.” sahutnya.
“oh, iya Jodi ke mana ya?” jawabku mengalihkan pembicaraan Mei, karena ku takut Jodi tahu, nanti malah ia salah paham padaku.
“Jodi lagi ke kamar mandi!” jawab Mei dengan muka ditekuk.

“Terus gimana boleh nggak aku main ke rumah kamu?” sambungnya.
“Iya, boleh.” jawabku. Tak lama Jodi pun menghampiri kami berdua.
“eh, Ra sore ini kan kita ada pertandingan bola sama kampung seberang,” sahut Jodi memotong obrolanku dan Mei.
“Iya, jo buruan pulang yuk!” ujarku, dengan menarik lengannya. Namun saat ku tarik tangannya yang ku kira tangan Jodi, ternyata tangan Mei, wah! Malu sangat aku waktu itu.

“Wah, parah lo Ra, tangan siapa tuh, yang lo tarik?” Jodi mengejekku dengan ketawa mereka berdua. Di situ aku memang salah tingkah, entah mengapa itu bisa terjadi?
“Udah lah, buruan jo.. nanti telat kita nih!” cetusku sambil bergegas meninggalkan mereka, dan langsung ku hidupkan motor vespa Jodi. Tak lama ia pun mengikutinya.
“hei, kalian.. Tunggu dulu!” kata Mei sambil mengejar Jodi.
“kita pulang ya Mei, Nanti ngobrolnya kita terusin di sms.” kata Jodi dengan langsung menumpangi motornya. Di situ menambah keyakinanku bahwa memang ada sesuatu di antara mereka berdua, entahlah aku tak bisa berbuat apa-apa jikalau pun hal itu terjadi. Sesampainya aku di rumah, aku seakan tak mau mengingat hal tadi, langsunglah ku bantu ayahku yang sedang mengangkut kayu untuk ibu yang sedang memasak di dapur.

Hari berlalu begitu saja, aku hanya bisa menatapnya saat ku lihat Jodi dan Mei berdua di sekolah. Kini aku dan Jodi pun sudah tak sesering dulu bermain dan bercanda di kelas atau sepulang sekolah. Satu minggu berlalu, rasa kangen akan kebersamaan dan kegokilan sahabatku Jodi, aku coba datang ke rumahnya, namun ibunya bilang tak ada di rumah. “Ke mana si Jodi, biasanya dia ada?” dalam hatiku bingung, mengapa Jodi jadi susah di temui?

Kembalilah aku ke rumah, dengan hanya menghabiskan waktu di kamar melukis dinding kamar, dan sesekali memain kan gitar tuaku, untuk mengisi kejenuhan. Entah jam berapa malam itu saat aku tertidur lelap, ibu membangunkanku. “Karaa.. bangun dulu Nak, sebentar. Bantu Ayahmu, listrik rumah kita mati nih!” panggil ibu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Saat aku terbangun kaget dengan melihat, di sekelilingku gelap.

Saat ku mencoba meraih pintu aku dikagetkan lagi, dengan suara letusan balon-balon yang dihadapkan ke mukaku. Dan seketika lampu di rumahku nyala semua. Ya. Ini ternyata kejutan dari ibu dan Jodi yang sengaja merencanakannya. Saat itu memang hari lahirku ibu dan Jodi selalu membuat kejutan untuku. Ibu pun memberikan ucapan dan satu piring nasi tumpeng sebagai sukuran ulang tahunku yang ke-18. Aku sangat bahagia sekali, dan sesekali aku bercanda dengan ibu dan Jodi.

“hei, jo mana kadonya, kau biasanya bawain durian buat kado gue?” candaku pada Jodi.
“Tenang Ra, mungkin saat ini aku tak bisa memberimu kado, tapi aku punya yang spesial di hari ulang tahunmu!” jawabnya dengan serius.
“Prok! Prok!” Jodi menepukan kedua tangannya seolah memanggil sesuatu, tak lama dari ruang tamu hadir sosok bidadari cantik, masuk ke kamarku dengan membawa kue tart, dan..

“Happy birth day, to youuu.. happy birth day to.. you.. happy birth day.. Happy brith day.. Happy britth dayyy…Karaaa!!” nyanyian gadis cantik itu dengan menyodorkan kue kepadaku. “Happy birth day.. ya Kara!” sambungnya. Aku hanya termenung, bahagia dan bingung .. Ini sungguh spesial sekali. Dan tak lama Jodi berbisik kepadaku.
“hey bro… ini waktu yang tepat, gue tahu kamu mengira aku dekat dengan Mei, untukku pacari. Tapi tidak ra, gue deketin dia hanya agar dia bisa jadi milik lo! Jadi sekarang lo ungkapin perasaan lo, gue tahu semuanya ra! Good Luck Men!” sungguh tak menyangka saat ku dengar yang diucap Jodi, ia sungguh sahabat terbaikku.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu langsung saja ku pegang tangan Mei di hadapan ibu dan Jodi. Lalu ku ungkapkan perasaanku pada Mei bahwa sesungguhnya aku mencintainya. Ia pun menjawab dengan kata-kata yang sempurna. Ia menerima pernyataan cintaku. Dan di hadapan semuanya ku kecup keningnya bertanda sah aku menjadi kekasihnya. Ya Tuhan.. terima kasih untuk semua ini aku bahagia bisa menemukan Mei di bulan juni. Bulan kelahiranku dan datang untuk menjadi kekasihku.

Cerpen Karangan: Dicky Ferdiansyah
Facebook: Dicky Ferdiansyahh
Name: Dicky ferdiansyah
Alamat: Cikandang-Luragung-Kuningan
E-mail: d.ferdiand[-at-]gmail.com

Cerpen Ada Mei Di Bulan Juni merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 Hadiah Ulang Tahunku

Oleh:
Sahabat perkenalkan aku Milly, dan aku punya sahabat Niki, Niki itu sahabat aku dari SMP loh tahan lama kan persahabatan aku sama dia, dan aku punya pacar namanya Rio

Cinta Dari Seorang Sahabat

Oleh:
“Kellie,” ada yang memanggilku dengan lembut. “Kellie …” Dan tiba-tiba, Currrr!!! ada yang mencipratkan aku dengan air dingin. Mataku terkejap, aku langsung bangun. Ughh!! “Kellie, bangun. Sudah jam 5

Penyesalan

Oleh:
“kemana aja sih, kenapa gak ada kabar gini?” “gak ada kabar gimana?” “kamu sebenernya nganggep aku apa? Kamu gak pernah selalu ada buat aku.” “ya udahlah.” “tapi gue sayang

Bimbang

Oleh:
Hai, Teman! Namaku Keira Anindya Wijaya. Kalian cukup panggil aku Kei aja. Aku memiliki 2 sahabat, mereka bernama Anisa Juliana Putri dan Yuna Hoshimiya. Aku dan mereka berdua sudah

Andrea dan Andromeda (Part 2)

Oleh:
Cinta tidak pernah pergi. Mungkin kamu yang melarikan diri darinya. Cinta tidak pernah mati. Mungkin kau yang membuat dirimu sendiri mati rasa. Andromeda pernah mendengar bahwa Andrea pernah akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *