Air Mata Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 June 2016

Aku menatap langit langit kamarku. Air mataku tidak henti hentinya mengalir. Aku meraih diary yang ada di sampingku. Tulisan tangan di diaryku, semakin buram seburam mataku ini. Aku mengurungkan niatku untuk menulis satu kisah menyedihkan di diary, karena aku tak sanggup menuliskan semua cerita yang amat menyedihkan itu. Aku kembali menangis tersedu sedu seorang diri di kamarku. Aku hanya dapat mengenang masa masa indah itu semua, yang kini telah berakhir.

Aku bernama Fatma. Aku mempunyai sahabat bernama Fatma. Aku sudah kelas 4 SD. Aku berumur 10 tahun. Bulan Juli aku berumur 11 tahun.
Bel berdering dengan kencangnya. Aku yang sedari tadi bermain dengan Fatma masuk ke kelas. Pelajaran telah dimulai lagi. Selang beberapa menit, Miss Rinai masuk membawa buku yang dipegangnya.

“Anak anak. Buka buku Bahasa Indonesia kalian!” Perintah miss Rinai. Aku segera mengambil buku Bahasa Indonesia di tasku. Aku meletakkan bukuku di atas meja. Aku melihat ke miss Rinai yang sedang membolak balik buku LKS bahasa Indonesia.

“Anak anak. Kalian kerjakan buku LKS bahasa Indonesia halaman 43 ya!” Perintah miss Rinai lagi. Aku segera mencari Hal 43 bahasa Indonesia. Akhirnya aku ketemu hal 43. Aku langsung mengerjakan soal.

“Fanny, kau kenapa? Mengapa kau diam saja. Bukannya dikerjakan soalnya!”
“Aku… aku sedang tidak apa apa. Tadi aku hanya memikirkan tentang kucing nenekku di Suka bumi,”
“Kalau begitu, kerjakanlah tugasnya. Masih banyak tugasnya. Sebentar lagi kan pulang, nanti kau tidak selesai mengerjakan tugasnya. Ayo kerjakan!”
“Iya Fatma. Terima kasih ya telah mengingatkanku,”
“Sama sama,”

Teng teng teng bel pulang berdering 3 kali. Aku segera mengumpulkan tugasku di meja miss Rinai. Lalu aku kembali ke mejaku untuk memasukan alat sekolahku ke dalam tas. Aku menghampiri meja miss Rinai untuk pamit pulang. Fatma juga begitu.

“Miss, Fanny pulang dulu ya!” Aku mencium tangan miss Rinai.
“Iya Fanny,” Balas miss Rinai.
“Miss. Fatma juga pulang dulu ya!” Fatma mencium tangan miss Rinai.
“Iya,” balas miss Rinai.

Aku segera ke luar kelas. Aku mengikuti Fatma yang sedang berjalan menuju parkiran sepedanya. Fatma mengeluarkan sepedanya ke depan sekolahan. Aku melihat ke sekeliling. Banyak anak anak yang dijemput oleh ayahnya atau mamanya.

“Fanny, mang Tessie mana? Kan biasanya jam segini dijemput,”
“Hari ini aku tidak di jemput mang Tessie. Mang Tessie sedang disuruh bunda untuk menghantar bunda ke kantor pendidikan guru,”
“Oooo. Kamu bareng sama aku saja?”
“Tidak usah Fatma. Lebih baik kau sendiri saja. Aku bisa jalan kok. Lagi pula arah rumahmu dan rumahku berbeda,”
“Kau tidak apa apa?”
“Iya. Aku tidak apa apa,”
“Ya sudah kalau itu maumu. Sampai jumpa. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”

Beberapa jam kemudian, akhirnya aku sampai di rumahku. Aku membuka pagar dan menutupnya lagi. Kemudian aku masuk ke dalam rumahku. Aku membuka sepatu dan menaruh tas. Kulihat bibi Kiras sedang menyapu lantai.

“Assalamu’alaikum bi,”
“Wa’alaikum salam,”
“Lelah sekali nih bi!”
“Masa gitu doang cape sih,”
“Iya,”
“Kamu sudah makan?”
“Sudah bi,”
“Oh ya sudah. Sana ke kamar, ganti bajumu dulu!”
“Iya bi”

Aku segera menaiki tangga melingkar di rumahku. Aku segera menuju ke kamarku yang terletak di samping perpustakaan miniku. Aku membuka pintu lalu masuk. Aku meletakkan tas di tempat tas, menaruh sepatu di rak sepatu. Aku mengganti bajuku dengan baju kasual. Aku terbaring lelah di tempat tidurku. Aku memejamkan mata sebentar lalu membukanya lagi. Aku duduk memeluk lutut. Aku teringat sesuatu, Besok adalah akhir persahabatanku dengan Fatma.

“Aku tidak tahu apa yang terbayangkan esok. Bunda ke sekolah untuk izin kepada miss Rinai kalau aku pindah sekolah. Apa yang terjadi? Bagaimana kalau Fatma tahu tetang itu. Bagaimana?” Aku menangis. Aku tak bisa bayangkan apa yag terjadi besok. Aku hanya bisa pasrah saja.
“Ya allah. Apakah ini sudah dari bagian takdirmu untukku? Aku tidak mengerti ini. secepat ini aku akan berpisah dengan Fatma sahabatku. Aku tidak ingin seperti ini. mungkin ini jalan yang tepat bagiku,” Aku menarik nafas panjang. Aku mengelap air mataku.

Setelah sholat shubuh, aku memakai baju pergi karena aku akan menuju ke bandara. Sebelum itu, bunda menyuruhku ke sekolah untuk berpamitan dengan miss Rinai dan anak lainnya. Dadaku berdegup dengan kencang.

Aku menarik nafas panjang panjang. Aku memakai sepatu pergiku. Ayah sudah siap di mobil. Bunda meraih tangaku menuju ke mobil. Hatiku berdegup lebih kencang. Aku hanya bisa pasrah. Mobil ayah melesat jauh. Di sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan tentang akhir persahabatan ini.

Akhirnya, sampailah aku di sekolah. Aku turun dari mobil ayah. Bunda menuntunku menuju ke kelas. Bunda membuka pintu kelas. Anak anak bingung melihatku. Begitu juga Fatma. Aku tidak melihat sekeliling anak anak yang melihatku dengan tatapan aneh. Aku menutup mukaku karena aku malu dengan Fatma, bahwa aku akan pergi meninggalkannya.

“Assalamu’alaikum miss,”
“Wa’alaikum salam bunda. Ada apa ya?”
“Saya mau izin sama miss. Fanny keluar dari sekolahan ini,”
“Ooooo, memangnya kenapa?”
“Fanny mau saya taruh ke pesantren di suka bumi,”
“Oh begitu ya bu. Iya deh bu. Nanti saya sampaikan kepala sekolah,”
“Terima kasih ya miss,”
“Sama sama,”
Aku menatap ke arah Fatma. Aku berjalan menghampiri Fatma. Air mataku mengalir deras. Begitu juga dengan Fatma. Bunda dengan miss Rinai sedang ber bicara.

“Fatma, maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi sahabat terbaikmu. Suatu saat nanti, ketika aku tak lagi bersamamu, pasti kau akan bertemu sahabat yang setia kepadamu. Sekali lagi terima kasih kau sudah jadi sahabat yang baik kepadaku!”
“Tidak apa apa. Aku sudah memaafkanmu. Terima kasih juga kau sudah menjadi sahabat yang setia padaku,”
“Fanny, ayo berangkat. Sebantar lagi pesawat akan berangkat!” Bunda memanggilku.
“Iya bunda. Sampai jumpa Fatma,” Aku berlari menghampiri bunda.
“Tunggu!” Fatma membarhentikan langkahku. “Aku punya satu hadiah untukmu. Ini adalah dairy kesayanganku. Tak apalah aku kasih kepadamu. Kau jangan bersedih. Diary ini adalah satu kenangan untukmu. Bila kau merindukanku, tulis saja sesuka hatimu di diary ini. diary ini belum dipakai olehku. Ambil ini!” Fatma menenyerahkan diary kepadaku. Aku meraihya.
“Terima kasih,” aku tersenyum. Fatma juga tersenyum. Aku berlari ke miss Rinai.
“Miss Aku pamit. Semoga miss tidak melupakanku. Aku akan ingat selalu namamu di hatiku,”
Miss Rinai tersenyum kepadaku.

Aku segera berlari ke arah bunda. Aku melambaikan tangan kepada semua. Aku berlari ke mobil ayah. Mobil ayah sudah siap menghantarku ke bandara menuju pesantren di suka bumi.

Cerpen Karangan: Fadiah Ceria
Facebook: Fadiah ceria

Cerpen Air Mata Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Segenggam Bunga Abadi

Oleh:
Mentari merangkak naik perlahan saat seorang gadis mengintipnya dari balik jendela. Matanya yang sayu menyimpan setangkup kerinduan akan cerita yang memang telah lama tak diperankannya bersama sahabat-sahabatnya. Berhari-hari terbaring

Diary Untuk Semua

Oleh:
“pagi ini hujan… Tapi tak apa, karena hujan, sebuah pelangi indah tercipta di langit…”. Ucap Naomi, gadis kecil yang berbakat melukis. Umurnya 9 tahun. Banyak piala dan penghargaan yang

Shopping Day

Oleh:
Di kotaku, ada hari peringatan besar. Yaitu Shopping Day. Aku sangat senang. Mengapa? Karena biasanya jika kita belanja akan mendapatkan potongan harga. Malahan kadang gratis. Hari ini, hari Shopping

Peri Gigi

Oleh:
Di Bumi, hidup seorang anak kecil yang bernama Sarah. Umurnya 7 tahun. Suatu hari, Sarah mendapati giginya ada yang goyang, ia pun kaget, maklum kan masih kecil. “Mamaaaa!! Huhu…

Tas Baru Untuk Della

Oleh:
Akhir-akhir ini Della sering ngambek. Karena nggak dibeliin tas baru oleh Mama. Padahal tasnya masih bagus. Suatu hari Della berkata pada Mama. “Mama, belikan Della tas Minmie itu dong!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *