Ajari Aku Tertawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

‘Hai, aku rey. Aku hidup di kehidupan yang tak hidup’
Setidaknya itu yang rey tau dari dirinya, 16 tahun ia jejakkan kakinya di dunia. Tapi tak pernah ia tau bagaimana cara tertawa.

Terik matahari pagi ini menyilaukan seperti biasanya, merambat lewat sela sela jendela kamar rey. Dengan kekuatan gravitasi yang luar biasa ranjang tidur rey berhasil menciptakan rasa malas yang tak tertolong. Ya, selalu saja itu yang terjadi setiap pagi. “reeey… bangun nak, sudah jam berapa ini, kamu harus sekolah, lihat tuh doni aja udah berangkat dari tadii kamu malah masih molor” bunda mulai berkicau dari dapur, yaa meski punya asisten rumah tangga tapi bunda tak pernah segan menyisihkan waktunya untuk memasak. Apalagi jika bukan untuk rey.

Bel sekolah berbunyi 5 menit lalu, rey sudah duduk di tahtanya. Kursi kedua dari belakang bersemayam dengan dinding kelas sisi kanan. Guru belum juga datang. Rey mengeluarkan sahabat terbaiknya, mp3 player dan headset yang sedari tadi setia menggantung di lehernya. Hampir semua lagu ia punya pop indonesia hingga manca negara. Rey menunduk dan menikmati alunan nada nada yang menyentuh gendang telinganya.

Guru datang, ruang kelas yang bergemuruh seketika menjadi setenang tengah malam. Hening. Rey menyimpan kembali sahabatnya dan mengikuti pelajaran, yaa meskipun sesekali ia tekan tombol play jika bosan menghampiri.

Bel istirahat berdenting, rey yang hanya membeli permen karet, duduk di bangku panjang taman yang hanya segelintir orang terlihat. Rey bersama sahabat baiknya menghabiskan 15 menit waktu istirahat yang menurutnya sangat lama. “ctak” suara kaleng terbuka membuyarkan imajinasi rey. Gadis itu datang lagi, membawa 2 kaleng soda merah untuk rey dan untuknya, entah apa yang membuat gadis manis ini selalu datang dan menemui rey. “sudah 7 kali aku datang dan ini kelima kalinya kubawakan soda, tapi belum pernah kulihat kau tersenyum tuan. Sebenarnya apa yang salah padamu? Atau dunia yang salah memperlakukanmu?” “kau bisa pergi jika tak nyaman denganku, sas” jawab rey ketus. Rey selalu saja begitu, dingin. Gadis itu menyandarkan punggungnya di bangku panjang, ia pasrah atas sikap rey, tapi ia tetap di sana, saski yakin suatu saat rey akan membutuhkannya.

Kelas telah usai, semua anak pergi dengan urusannya masing masing, begitupun rey. Rey berjalan gontai dengan sahabat setianya. Tiba tiba saski datang entah dari mana, menggenggam tangan rey dan menyeretnya pergi entah ke mana. “ihh ngapain, lepasin ah” rey membrontak “ikut aja, aku tau kalo aku ajak kamu baik baik sudah pasti kamu menolak” jawab saski enteng.

Sampailah mereka di sebuah taman kota, “aku lelah melihatmu di taman sekolah sendirian, setidaknya di sini kau bisa ditemani merpati merpati itu, meskipun mereka tak mungkin memberimu sekaleng soda” tutur saski. “sebenarnya apa yang kau inginkan sas?” bukan menjawab rey saski malah pergi. Rey hanya diam dan duduk di bawah pohon rindang dan berimajinasi. “nih, sedingin kamu” saski yang lagi lagi datang entah dari mana, menyodorkan eskrim coklat untuk rey.

Bel pulang sekolah berbunyi. semua siswa bubar, lagi-lagi saski menyeret rey ke taman kota, kali ini bukan eskrim, saski membeli 2 balon polos berisi hellium. “ah, gadis aneh ini mau apalagi” gumam rey. Saski mengeluarkan gulungan kertas dan melipatnya menjadi perahu. “nih, tuliskan masalahmu di sini, lalu lipat menjadi perahu kertas, dan ikat ke balon” saski menyodorkan selembar kertas kosong dan pena. Rey hanya diam dan menatap sas, menggali matanya dalam dalam, sebenarnya apa maksut sas. “(tepuk tangan sekali) woy, hidup kan, buruan tulis, abis ini kita pulang” ucap sas berusaha mencairkan suasana “bagaimana jika aku tak punya masalah?” tutur rey dengan mimik datarnya “ayolaah, haruskah aku menerjemah masalahmu lalu menuliskannya untukmu?” rengek sas menunjukkan wajah kasihan.

Rey dan sas berdiri, dengan balon di tangan mereka, rey hanya mengikuti sas, berharap ulah sas tak semakin menjadi jika ia menolak. “1, 2, 3 lepaaas” mereka melepaskan balon masing masing, “mengapa perahu, ia diterbangkan” “agar ketika balon itu pecah, perahu jatuh kembali ke bumi, ketika ia ke perairan ia akan menyusuri arus, tapi ketika ia jatuh ke daratan, ia akan bersemayam diatas tanah, menunggu hujan melarutkannya, ini yang selalu kulakukan, ketika masalah tak dapat kuceritakan pada siapapun, setidaknya aku bisa mengadu pada alam, rasakanlah melepas balon itu seperi melepas masalah, lega sekali” kali ini sas benar, rey pun merasa lega.

Kesokannya sama, rey dan sas ke taman kota, ini terjadi setiap hari. Pelan pelan rey meluluhkan sikapnya. Rey terbiasa dengan saski, rey nyaman dengan saski.

“ini rumahku, masuklah, aku mau ambil barang” sas duduk di ruang tamu rey. Bunda datang dan tersenyum kecil untuk sas. “rey itu dari dulu pendiam, yaah memang salah bunda, rey selalu jadi saksi atas pertengkaran ayah dan bunda, rey jadi tertekan, jiwanya tenggelam, jadi dari kecil dia tak pernah benar-benar bahagia, bunda harap sas bisa membuat rey sedikit senang”

Keesokan harinya, rey dan sas bersantai di Taman kota sepulang sekolah seperti biasanya “rey, dalam hidup, kamu mau apa?” tutur sas memecah keheningan “mau pindah, ke tempat yang tenang” jawab rey ketus “kamu takkan merasa tenang jika mengasingkan dunia” ujar sas “aku benci dunia” timpal rey membungkam sas seketika.

“sas, aku mau sekolah di roma, bersama ayah” hanya itu kata pamit dari rey lewat telepon. Sas hanya bisa mengiyakan pamit rey, ia berpikir mungkin rey tak lagi butuh sas.

Bunda menyuruh sas datang ke rumahnya dan memberi sas sebuah album foto kecil. Di situ banyak foto-foto sas. tanpa sas sadari, rey selalu membawa sebuah kamera pocket kecil. Di halaman pertama, ada foto sas dari samping di bangku taman sekolah sedang bersandar bertuliskan ‘kau mungkin menyerah atas sikapku, tapi kau tak melangkah pergi’ selanjutnya foto soda merah ‘aku tak tau, sejak kapan ini jadi minuman favoritku’ foto merpati ‘mereka selalu bergerak, seperti kamu’ foto eskrim coklat ‘ini sedingin aku, dan semanis kamu’ foto balon dan kertas yang seharusnya bertuliskan masalah ‘aku memang hidup di kehidupan yang tak hidup, tapi kamu menghidupkan warnaku’ foto sas di ruang tamu bersama bunda ‘kamu sudah tau kan, mengapa aku mengulum senyum’ dan terakhir foto sas dengan senyum manis di taman kota ‘ada 3 hal yang tak kubenci, Tuhan, bunda, dan kamu. Sas’

Cerpen Karangan: Dyah Gayatri Kusumarini
Blog: Keypadusanggayatri.blogspot.co.id

Cerpen Ajari Aku Tertawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fantastic Ice Cream

Oleh:
Udara segar berhembus dari jendela kamarku, yang langsung menghadap ke halaman belakang rumahku. Halaman yang asri. “Wuahh…” tapi rasanya masih mengantuk. Ku dengar bunda berteriak dari ruang keluarga, “Ria,

Our Friendship (Part 5)

Oleh:
“Diva, kamu dan Alvin tolong belanja bahan bahan kue ini ya.. Semuanya tante udah tulis disini.” Ujar Tante Rida sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi sederetan barang barang yang

Best Friend

Oleh:
Siapa aku? aku adalah sesosok yang bisa berubah kapan saja. Tapi aku hanyalah sesosok manusia yang lemah, lemah dari segala macam yang sensitif terhadap segala yang membuatku terluka. Kadang

Fly High (Part 2)

Oleh:
Saat bel berbunyi, seluruh siswa berlari memasuki kelas mereka masing. “Anjir.. gua belum belajar. Ulangan biologi kan sekarang? Ya ampun.” Hensa berdiri sambil meremas botol minuman yang tadi dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ajari Aku Tertawa”

  1. Dinbel says:

    Sedih juga ya cerpen nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *