Aku dan Kau (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

“Dear Bestfriend, You’re the best, and I just can be your friend… Hopefully more than that… ” 🙂

Kamu..
Lelaki misterius yang selalu tampil rapih di depanku…
Misterius? Ya.. Aku tak pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiranmu.. Selalu.. Dari dulu.. Awal mengenalmu..
Sebenarnya kau orang yang sangat menyenangkan, “Dia bisa menjadi orang yang lebih gila dari biasanya ketika kamu menggila bersamanya..” Begitulah kata teman-temanmu…

Kamu..
Seperti memiliki dua kepribadian, kadang terasa amat dingin kadang terasa sangat hangat. Tapi, dalam keadaan apapun kau selalu membuatku salah tingkah, bingung, membuat pipiku sakit karena terlalu banyak tertawa bersamamu, membuatku gemetaran, dan jantungku berdetak lebih cepat.. Sejak awal kita bertemu, bahkan dari awal kita berkenalan.. Berlebihan memang, tapi itulah yang ku rasakan.. Mungkinkah aku mulai menyukaimu? Ya, aku menyukaimu dengan sangat jelas.. Ku rasa itu tak salah, toh kau tak ada yang punya.. Kau bilang sudah 2 tahun ini kau menyandang status jomblo, cukup lama ya? Aku sendiri baru 3 bulan yang lalu putus…

Aku ingat, waktu itu aku bertanya padamu, “Kenapa kau tak mencari pacar yang baru?”. Kau bilang, itu karena kau belum mempunyai pekerjaan.. “Sungguh dewasa…”, pikirku. Kau tau? Aku pernah mencoba menguji perasaanku padamu. Sudah sejauh apakah ini? Diam-diam aku mempunyai pacar.. Hmm, mungkin aku memilih orang yang salah, orang yang bahkan tak bisa menghargai wanita.. Aku hampir putus karena hal itu, dan kau masih belum tau.. Aku sempat bertemu dengannya, tak ada yang istimewa, malah aku menginginkannya lekas pergi.. Aku terlalu takut dengannya, dengan lelaki seperti itu.. Dia ingin kami bertahan, tapi aku terlanjur hilang rasa.. Aku menceritakannya padamu.. Awalnya kau terkejut mendengar aku menceritakannya, tentang orang yang saat itu menjadi pacarku, tentang statusku.. Sepertinya kau sempat merasa ku bohongi ya? Aku tak pernah membohongimu, sama sekali tidak… Saat kau mendengar semuanya, kau bilang aku harus segera memutuskan hubunganku dengannya.. Memang itu yang akhirnya ku lakukan.. Buat apa aku bertahan? Toh dia tak bisa menghargaiku, toh aku sudah tau seberapa jauh aku menyukaimu… 🙂

Lalu kamu dan aku.. Kadang bercanda, saling meledek.. Aku memanggilmu “Sipit” sejak pertemuan pertama kita dulu, dan kau memanggilku “Tembem”, kau bilang itu panggilan sayang untukku.. Menyebalkan memang, tapi sejujurnya aku amat menyukainya ketimbang saat kau memanggil namaku saja. Terkadang kau memanggilku “Sayang” dan aku yang tak pernah suka.. Aneh bukan? Mungkin karena aku terlalu takut kau beri harapan palsu.. Atau aku yang terlalu peka ya? Entahlah…

Hari itu, aku memberanikan diri memintamu menjadi sahabatku.. Dan kau menyanggupinya.. Bagiku itu sudah cukup, bukankah terlalu cepat jika aku mengungkapkan perasaanku dan meminta lebih? Lagipula saat itu kau masih belum mendapatkan pekerjaan, dan aku masih belum tau perasaanmu… Kau ingat? Waktu itu aku menanyakan kebingunganku, soal perasaanku yang berbeda saat bertemu denganmu.. Orang yang baru saja ku kenal.. Rasanya itu hanya berjalan semenit atau mungkin dua menit, begitu singkat ‘kan? Tapi grogi-ku berjalan sebelum dan setelah aku bertemu denganmu.. Bahkan saat itu, aku takut kau mendengar degup jantungku yang begitu cepat dan keras, aku takut kau merasakan tanganku yang dingin dan bergetar saat berjabatan dengan tanganmu, dan aku takut kau menyadari betapa aneh wajahku yang terasa panas dingin karena tak bisa lama menatapmu… Mungkin kau tau benar, kau bilang, “Mungkin kamu menyukaiku..” Aku tak berani mengatakan “Memang”. Aku hanya mengekspresikan rasa tak percayaku dan kau hanya tertawa…
Ku rasa kita sudah cukup dekat ya? Aku selalu memperhatikanmu, perhatian yang lebih untukmu.. Kau biasa saja ya? Sepertinya aku terlalu banyak berharap padamu ya?

Hari itu, seseorang menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang dia mencintaiku, dan berharap aku menerima anugerah yang diberikannya. Aku terkejut, bingung.. Kau entah dimana, sibuk dengan kegiatanmu sendiri.. Aku menerimanya begitu saja, mungkin kau tak tau atau memang tak mau tau.. Aku mencoba melupakan perasaanku padamu, perasaan yang tak seharusnya ada, perasaan yang lebih padamu, sahabatku sendiri…

Aku menyibukkan diriku dengannya, pacar baruku.. Sedangkan kita hanya sesekali berhubungan lewat pesan singkat.. Sepertinya kau masih belum tau ya statusku saat itu.. Aku mengalihkan semua perhatianku yang tadinya untukmu kepadanya, bukankah itu wajar? Toh dia pacarku.. Aku menceritakan semua masalahku dan hidupku bukan padamu lagi tapi kepadanya atau dengan buku diary yang ku bawa kemanapun.. Kau menghilang entah kemana…

Hubunganku dengannya semakin memburuk, dan aku tak mau ambil pusing. Ku coba ‘tuk berpikir positif.. Hei, sepertinya kau mulai tau kami ya? Dan kau mulai tak pernah memberi “jempol”mu di setiap statusku.. Tak seperti biasanya.. Kau mengabaikannya, cukup lama.. Hingga aku merindukan kegiatan harianmu itu…

Akhirnya aku putus dengannya.. Dan kau tak tau, aku juga tak memberi taumu, untuk apa? Kau masih tetap dingin.. Kau masih kesal padaku barangkali.. Aku sendirian.. Tanpamu.. Aku mencoba menghubungimu, benar saja kau terlihat kesal padaku. Kau bilang, aku seperti angin yang berubah arahnya, dan kau tak menyukai itu… Aku merasa bersalah padamu, aku berjanji memperbaikinya… Kau menungguku..

Waktu itu kita bertemu secara tak sengaja.. Ini kali kedua aku melihatmu, kau menemuiku dengan sepupumu.. Aku malah bersikap aneh, salah tingkah di depanmu, dan tanpa sadar mengusirmu… Aku merasa bodoh dan amat menyesal.. Aku meminta maaf padamu ketika kau sampai di rumah, kau memaafkanku dan mencoba mengerti sikap anehku tadi…

Kau sempat memajang foto wanita sebagai foto profilmu, kau bilang itu temanmu.. Entahlah, aku tak menyukai hal itu walaupun itu hakmu. Mungkin aku cemburu, aku kesal saat itu. Tapi aku tak mengatakannya padamu, toh aku hanya sahabatmu.. Sahabat yang menyukaimu.. Setelah putus dan semenjak aku berjanji padamu, aku hanya fokus padamu, berusaha selalu ada untukmu.. Dan kau masih belum tau statusku ya?

Beberapa hari setelah pertemuan “aneh” kedua kita, kau datang tiba-tiba. Kita memang sudah merencanakannya sejak lama, tapi aku tak tau kau akan datang hari itu juga bersama temanmu.. Es pisang ijo favoritmu.. Hari itu kita menikmatinya bersama… Sejujurnya aku masih kaget dan mencoba mengatur perasaanku selama denganmu.. Sesekali aku mencuri pandang padamu, tersenyum melihatmu, dan sesegera mungkin mengalihkan pandanganku ketika kau menangkap mataku.. Sungguh tak karuan, senyummu ya, yang katamu begitu mahal.. Aku menyukainya…

Malam itu kau mengangkat telfonku.. Dan untuk pertama kali kau bernyanyi dengan gitarmu, lagu cinta yang kau nyanyikan, yang sepertinya mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.. Itu amat menyinggungku.. Aku jatuh cinta pada semua itu, aku menobatkanmu menjadi satu-satunya gitaris favoritku… Kau tak tau ya? haha.. Aku bertanya banyak, rasa ingin tau yang besar.. Kau bilang kau menyukai seseorang yang sudah memiliki pacar.. Entahlah, aku agak kecewa.. Tapi lagi-lagi itu hakmu bukan? Aku bercerita padamu soal perasaan sukaku pada seseorang, tanpa memberitahumu bahwa kamulah orangnya…

Kau tau aku telah lama putus dengan pacarku.. Basa-basi ku tanyakan padamu tentang wanita yang kau sukai, dengan cuek kau bilang, “Sudah tidak menyukainya, mengenal saja tidak, sudah jangan dibahas…”Aku menurutinya, bagiku jawaban itu sudah memuaskan hatiku.. Apa kemarin kau menipuku ya? Tak tau lah.. Kau balik bertanya soal orang yang ku sukai, ku bilang aku takkan memperjuangkannya lebih jauh karena tak mau merusak persahabatan kami.. Kau bertanya, “Apakah aku orangnya?”. aku diam, tak lekas menjawab, aku takut salah langkah, aku tak mau kau mengetahuinya, aku mengabaikan pertanyaanmu, itu malah membuatmu kesal dan marah… Kau tau aku tak pernah mau bermusuhan denganmu, maka aku mengungkapkan perasaan sukaku padamu, secara tulus, tanpa meminta apapun.. Dan kau hanya diam… Mendiamkanku selama seharian, membuatku bingung hingga mengirimkan banyak pesan berinti “maaf” padamu… Namun kau masih terdiam…

Cerpen Karangan: Triesya Ernawan
Facebook: m.facebook.com/triesyaernawan
Newbie here… Thanks for read my first short story… Comments or critics please send to my facebook..:)

Cerpen Aku dan Kau (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau dan Sahabatku

Oleh:
Namaku Cindy. Usiaku 19 tahun. Dan aku kuliah di salah satu Universitas yang ternama di Medan. Hari-hariku selalu ditemani rasa kerinduan kepada Rey, orang yang dulu pernah hampir saja

Kak Epen

Oleh:
“Minggir pak” ucap kakak sepupu ku angkot pun berhenti. kaki ku melangkah terasa berat dan mata ku terus mencari dimana sesosok laki-laki yang akan ku temui.. Aku gadis remaja

Cintaku Kembalilah

Oleh:
Namaku Tara anatasya .aku tinggal bersama orang tuaku dan satu orang adik perempuanku.aku sekolah di SMP Kintan II kelas vIII.Ayahku bekerja sebagai dokter di rumah sakit Kasih Bunda.sedangkan mamaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *