Aku Dan Mereka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 February 2016

Ada satu masa dimana aku dan mereka menjadi satu. Tertawa, menangis hingga kami saling bersaing satu sama lain. Keegoisan yang aku dan mereka miliki bagaikan sebuah pohon yang akan terus tumbuh hingga kami menjadi sebuah pohon yang kuat, yang nantinya dapat menyejukkan satu dengan lainnya. Aku dan mereka satu. Aku dan mereka saudara. Aku dan mereka adalah satu jiwa. Dan kami akan selalu menjadi satu ketika kami bersama. Menyelesaikan permasahan bersama dan berbagi tangis kami bersama. Inilah kami satu jiwa yang tidak akan pernah terpisah.

Mungkin itu yang bisa aku gambar ketika aku masih bersama mereka. Satu kata yang akan membuatku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Ya “Teman” sebuah kata yang akan membuat keberadaanku diakui. Apa pun aku lakukan hanya untuk membuatku menjadi teman mereka, sesekali aku melakukan hal gila agar aku bisa melihat mereka tertawa. Mereka adalah bagian dari hidupku. Di saat aku menangis di rumah, aku bisa tertawa saat aku bersama mereka dan melupakan kesedihan yang aku alami saat itu. Kadang aku berpikir apa yang akan terjadi saat aku tidak bersama mereka? Apakah mereka akan selalu mengingatku saat aku tidak bersama mereka lagi?

Dua tahun sudah aku lulus dari sekolahku. Dan hampir dua tahun juga aku bekerja di sini. Keinginan untuk melanjutkan ke universitas terpaksa aku menundanya. Biaya dan kebutuhan orangtuaku membuatku tidak bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih lanjut. Tidak ada salahnya untuk mencari uang dulu. Aku memandang langit biru yang berada tepat di atasku, ketika aku hendak membersihkan toko tempatku bekerja. Ku hentikan langkahku sejenak dan melihat langit itu. Biru dan bersih, tidak ada kapas putih yang menggantung di antaranya. Mengingatkanku saat itu, saat aku dengannya melihat langit yang sama seperti hari ini.

“Hei, kau lihat langit itu.” Kata Iki sahabatku. Matanya melihat ke atas langit yang bersih siang ini. Kami berada di kursi yang tidak jauh dari lapangan sekolah. Hari ini adalah jam istirahat sebagian murid berada di luar kelas, sesekali ada yang melintas di depan kami sekedar untuk pergi ke kantin. “Memangnya ada apa dengan langit itu?” Tanyaku. “Itu bagaikan kita sekarang biru dan bersih, tidak ada noda di atas. Seakan langit itu terlihat bahagia saat tidak ada awan yang melintas di antaranya. Di saat awan lainnya muncul barulah di sana langit akan tahu bagaimana sesungguhnya hidup itu, terkadang langit akan menangis saat awan lebih menutupi dirinya.”

“Hei Iki, kau ditolak lagi ya? Biacaramu tidak karuan begitu.” Kataku.
“Dasar Kau ini, kau cerdas tapi tidak pandai mengerti ucapanku ya.” sembari mengusap lembut rambutku.
“Perkataanmu terlalu puitis tahu dan susah untuk dimengerti.”
“Kau tahu bagaimana pun juga kita nantinya akan seperti langit biru itu. Yang nantinya akan dihadapkan oleh kehidupan yang sesungguhnya. Awan hitam juga akan memenuhi kita nantinya, tidak jarang sebuah badai akan ada di dalam kehidupan kita. Seperti itulah kehidupan yang sebenarnya. Kau mengerti?” Senyum mengembang di wajahnya.

Dan kata-kata itu selalu aku ingat hingga kini. Iki benar kehidupan itu tidak seindah saat kita berada di SMA dulu. Dan sekarang aku tahu apa kehidupan yang sebenarnya. Tidak seindah saat berada di SMA. Kehidupan yang sesungguhnya barulah dimulai. Sudah hampir dua jam aku berdiri untuk melayani konsumen ini. Dua orang remaja yang tengah memilih baju untuk di acara pesta ulang tahun teman mereka. Aku bahkan tidak merasakan kakiku lagi. Lelah juga ternyata saat menemani dua remaja ini. “Aku bingung harus memilih pakaian hanya untuk ke pesta ulang tahun saja.” Kata gadis dengan rambut terikat kuda itu pada temannya. “Yeah, padahal hanya pesta kecil saja, kenapa harus menggunakan dress?” Ucap gadis satunya lagi.

Gadis itu terlihat menggerutu saat melihat temannya memilih pakaian yang tidak kunjung ia dapat. Sedangkan gadis itu telah menemukan pakaian yang pas untuknya. Gadis itu tampak sedikit chubby dan sangat jelas kalau raut wajahnya menunjukkan kekesalan pada temannya itu. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka, walaupun aku merasa sangat lelah harus melayani mereka. Padahal setelah ini ada pekerjaan lain yang harus aku kerjakaan. Aku menghela napas panjang, itu kebiasaanku saat aku mulai merasa lelah atau merasa jenuh dengan apa yang aku kerjaan sekarang.

“Lisa, mereka belum selesai juga?” Tanya Rika dengan berbisik kepadaku, Rika adalah teman kerjaku.
“Iya, sepertinya masih lama.” Jawabku. “Sudah, waktumu sudah habis sekarang adalah gilirankku. Bukankah kau masih ada pekerjaan lain?” Rika tersenyum kepadaku, dia adalah dewi fortuna yang menyelamatkanku dari dua remaja ini. Aku sangat berterima kasih padanya. “Baiklah, aku serahkan padamu Rika.” Kataku sembari melemparkan senyum padanya.

Aku bergegas ke luar dari Toko dan melangkah ringan menuju pekerjaanku selanjutnya. Hari sudah senja, tapi rasa lelahku hilang saat aku teringat orangtuaku di rumah yang juga banting tulang untuk mencari uang. Aku tidak langsung menuju rumah saat aku pulang dari toko. Tapi aku menuju ke suatu tempat. Tempat yang ramai dan penuh dengan orang-orang bermain. Tempat yang penuh dengan sampah. Dengan plastik besar aku mulai mengais-ngais tempat sampah yang ada di sebuah taman.

Taman ini mulai dipadati dengan pengunjung, mungkin karena sekarang malam minggu sehingga banyak para remaja datang berkunjung saat ini. Remaja-remaja yang masih seperti langit biru yang bersih tanpa awan. Seorang remaja yang merasakan kebahagiaan. Seorang remaja yang belum tahu bagaimana hidup itu sebenarnya. Mereka tidak tahu bagaimana orangtuanya mencari uang untuk menyekolahkannya. Masa dimana hidup hanya untuk belajar, bermain dan bersenang-senang. “Andai aku bisa kembali seperti mereka.” Pikirku.

Aku berjalan menelusuri taman saat itu untuk mencari botol-botol bekas yang nantinya bisa aku jual. Kakiku rasanya sudah hampir lepas karena kelelahan, ini dampak ketika aku melayani konsumen tadi. Aku putuskan untuk beristirahat dan duduk di bangku taman. Pandanganku teralihkan saat aku melihat sekelompk remaja perempuan yang sepertinya berdiri di balik pohon yang tidak jauh dariku.

Posisi mereka memang tidak terlihat oleh orang-orang yang sedang ada di taman ini, tapi aku sangat jelas melihat apa yang mereka lakukan. Sekelompok remaja yang jumlahnya sekitar tiga orang itu nampaknya sedang membully salah satu dari mereka. Gadis yang tampak lugu, rambutnya ditarik dengan kasar, membantingnya hingga jatuh tersungkur dan memukulinya tanpa rasa kasihan. Aku tidak bisa diam saja melihat apa yang mereka lakukan pada teman mereka. Apa itu yang disebut teman?

“Hei! Apa yang kalian lakukan!” Seruku. Sekelompok remaja itu malah pergi dan meninggalkan temannya yang tidak berdaya di sini. “Kau tidak apa-apa?” Tanyaku. Dia mengangguk. Aku memapahnya ke tempat aku duduk tadi, memberikan air putih untuk membuatnya tenang. Dia tampak menangis, aku biarkan ia menangis. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku ketika ia sudah lebih tenang.

“Apakah kakak pernah merasa kesepian? Seakan tidak ada orang-orang yang berada di sisi kakak? Aku hanya ingin seorang teman yang bisa mengerti aku. Tidak banyak memang, cukup satu saja. Dari dulu aku susah untuk bergaul, karena aku merasa tidak pantas dengan teman-temanku yang penuh dengan kemewahan. Sedangkan, aku tidak memiliki apa-apa. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Seorang teman yang bisa mengerti aku. Seorang laki-laki yang populer di sekolahku. Tapi di balik kepopulerannya ia malah mau bergaul denganku yang tidak memiliki apa-apa. Ah, maaf kak aku malah curhat ke kakak.” Katanya.

“Ah, tidak apa-apa kok. Kamu bisa melanjutkan ceritamu mungkin dengan bercerita denganku, kamu bisa lebih sedikit lega.” Ia mulai tersenyum. “Ya, perempuan yang memukulku tadi adalah mantan pacar laki-laki yang aku ceritakan tadi, dia tidak suka kalau ada orang yang mendekati laki-laki itu.”
“Bukannya sudah jadi mantan. Kenapa dia cemburu?” Tanyaku.

Aku mulai penasaran dengan cerita gadis ini yang bahkan aku tidak tahu namanya.
“Yah, katanya mereka akan balikan jadi aku dibilang mengganggu hubungan mereka. Apa aku memang terlahir untuk tidak memiliki teman ya?”
“Tidak kamu tidak sendirian, masih ada Tuhan yang senantiasa menjadi temanmu. Ia tidak tidak tidur dan tahu apa yang terbaik untukmu.” Kataku sambil tersenyum. Dia tampak tersenyum, raut wajahnya berlahan menunjukkan keceriaan.

Langit sudah mulai gelap saat aku selesai mengantar Gadis tadi ke rumahnya. Orangtuanya memutuskan utnuk melaporakan tindakan teman-temannya ke kepala sekolah agar mereka mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku menghentikan motorku saat aku melihat sebuah banner yang terpasang di pinggir jalan. Aku sedikit kaget, tapi ada sebuah kebahagiaan yang luar biasa di dalam diriku. Akhirnya aku bisa bertemu dengan mereka.

Aku berdiri di sini di tempat di mana dulu adalah rumah keduaku. Tempat di mana aku bisa melupakan kesedihanku. Dan tempat aku bisa merasakan kebahagiaan. Aku di sini di sekolah SMA-ku dulu. Menghadiri acara ulang tahun sekolah sekaligus reuni akbar yang diadakan oleh pihak sekolah. Hatiku sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman sekelasku. Mereka sibuk dengan kuliahnya masing-masing, sehingga aku tidak bisa menghubungi mereka. Perlahan para alumni memenuhi lapangan sekolah. Sekolahku tidak banyak berubah, aku masih bisa melihat bangku yang berada di sekitaran lapangan. Sebuah panggung dibuat untuk menghibur para alumni yang datang pada sore itu. Aku bisa melihat teman-temanku yang duduk di dekat panggung. Wajahnya mereka semua sangat cerah dan elegan, mereka sangat terlihat jauh lebih dewasa. Berbeda sekali denganku. Aku duduk bergabung dengan mereka. Sesekali mereka menyapaku dan menanyakan kabarku.

“Eh, bagaimana kuliahmu di sana?”
“Kau tahu dosenku di sana kebanyakan killer.”
“Tugasku sangat banyak bahkan aku harus mengerjakannya sampai pagi.”

Percakapan seperti itulah yang lebih sering aku dengar. Dan aku hanya bisa terdiam saat mereka saling membicarakan kuliah mereka. Mereka adalah teman-temanku yang dulu, tapi aku malah merasa asing saat berada bersama mereka. Aku kira dengan bertemu dengan mereka, mereka akan membicarakan saat di SMA dulu. Dunia memang berubah, diriku malah merasakan kesepian. Aku berada di antara mereka tapi aku malah seperti orang asing. Padahal kita saling kenal, tapi mereka malah tidak menganggapku ada. Benar kata gadis yang aku temui di Taman beberapa hari lalu.

Orang yang tidak memiliki apa-apa akan selama tidak akan memiliki apa-apa. Aku mulai mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Mungkin ini yang ia rasakan. Sepi dan hampa. Perlahan aku bangkit dan pergi meninggalkan teman-temanku yang masih asyik membicarakan kuliah mereka. Rasa lebih baik aku pulang saja, daripada aku terus merasa sepi seperti ini. Beberapa alumni memperhatikanku saat aku pergi menjauh dari sekolah.

“Hei, kau lihat itu kan Lisa.” Kata salah satu orang teman yang berbeda kelas dariku.
“Katanya dia bekerja di Toko ya.”
“Bukankah dia dulu berprestasi di sekolah. Kenapa ia harus bekerja, kenapa ia tidak kuliah saja?”
“Mungkin orangtuanya tidak bisa membiayainya.”
“Berarti sia-sia saja dia bersekolah di sini, harusnya dia bersekolah di SMK saja, kalau SMA kan harus melanjutkan ke Universitas.” Aku hanya bisa menduduk mendengar semua cacian dan makian dari mereka. Tiba-tiba aku tidak mendengar orang-orang berbicara lagi tentangku. Telingaku rasanya tertutup oleh sesuatu.

“Ikut aku.” Dengan tangan masih menempel di telingaku, Iki tiba-tiba menggiringku menjauh dari lapangan sekolah.
“Tidak usah mendengarkan kata mereka.” Kata Iki. Aku masih menunduk tidak berani memandang matanya, walaupun sesungguhnya aku sangat merindukannya. “Kau harusnya bangga pada dirimu sendiri karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri, sedangkan aku masih meminta pada orangtuaku. Mereka itu hanya bangga dengan uang orangtua mereka. Aku kan sudah bilang padamu bahwa kehidupan yang sesungguhnya baru dimulai setelah kita lulus dari SMA.”

Aku masih menunduk tidak sepatah kata pun yang ke luar dari mulutku, perlahan air mataku tidak bisa ku bendung lagi. Aku merasakan pahitnya kehidupan ini dan sekarang aku harus mendengar hinaan dari teman-temanku sendiri. Ini sangat menyakitkan. Iki perlahan mendekatiku dan memelukku. “Aku tidak peduli apa yang orang katakan padamu, aku sangat bangga padamu dan aku sangat merindukanmu.” Iki memelukku erat. Aku hanya terdiam dan menangis mendengar ucapannya. Aku tidak memelurkan banyak teman, tapi cukup hanya satu saja yang nantinya bisa menerimaku saat aku sedang susah dan berbagi saat senang.

Cerpen Karangan: Deva Diana
Facebook: Deva Hana

Cerpen Aku Dan Mereka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Yang Tak Tahu Terimakasih

Oleh:
Namanya Esterlla, anak kursus Musik, punya seorang sahabat, yaitu Marsella. Ya, di tempat kursus hanya Marsella yang mau menemaninya. Ia dan marsella saling tolong-menolong dan bantu-membantu. Tapi… ada satu

Berteman, Lebih Menyenangkan Bukan?

Oleh:
Kriing.. Kriing.. Kriing, jam istirahat berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Sebagian menuju kantin, sebagian lagi bermain. Anita, Amira, dan Rara pergi menuju kantin yang berbeda. Setelah membeli jajan,

Sahabat Cowok Impian Valisha

Oleh:
“Val! jangan lupain kita, ya…!” ujar Dyfa lirih. Hari ini, tepatnya libur semesteran, Dyfa sedang berada di bandara Hang Nadim. Valisha (sahabat sejati Dyfa) dan keluarganya akan pindah ke

Mengeluh Yuk…

Oleh:
Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar

Persahabatan yang Runtuh

Oleh:
Suatu ketika, dulu, waktu aku masih kesal 6 SD, aku merasa sangat senang sekali karena ada sahabat-sahabat ku, yang sangat menyenangkan. Kami setiap hari selalu bermain dan kerja kelompok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *