Aku dan Mereka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 February 2014

Pagi ini perasaanku sangat bahagia dan bersemangat, rasanya ingin tiba di sekolah dengan segera. Bagaimana tidak, kejutan demi kejutan membuat pagiku begitu ditemani banyak bunga-bunga, hal itu tentu membuat aku sangat berbeda, mulai dari bertemu teman sd, satu sekolah sama pacar dan bertemu dengan teman baru yang gokil.

Kurang lebih setengah jam kuhabiskan di depan kaca untuk berdandan secantik mungkin sebelum bergegas ke sekolah dengan sepeda kendaraan kesayanganku, Memang kendaraan yang satu ini tidak bisa dikendarai dengan gratis, setiap harinya minimal aku harus mengeluarkan budget Rp 5.000 untuk membeli bensin. Dialah Yamaha vega andalanku yang menjadi pahlawanku selama ini.

Sepanjang perjalanan aku bernyanyi dan bersuka ria penuh semangat membayangkan akan hal-hal menyenangkan seperti bertemu teman-teman baru dan sang pujangga hati ku, Andy. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sekolah. Jarak antara sekolah dan rumahku tidak begitu jauh jadi, hanya butuh waktu 10 sampai 15 menit untuk sampai di sekolah.

“Sial! Lari nggak pake mata apa ya.. gue gorok masuk neraka loh.” rutuk Dahlia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Spontan aku langsung membantu Dahlia memungut buku buku yang tergeletak di lantai.
“Kasihan banget. Bukunya jatuh semua ya” candaku dengan senyum manisku. Sejenak Dahlia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba mencari orang yang berani menabraknya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi, putih yang akrab disapa Fitrah. Aku tau Dahlia benci banget sama cowok itu, Mungkin seumur hidup Dahlia nggak bakal bersikap baik sama cowok itu.

Mengingat buku ini harus diantar ke ruangan Ibu Evi, guru mata pelajaran matematika yang cantik tapi duper super jutek kami harus cepat-cepat merapikan buku yang tercecer di lantai, lalu segera membawanya.

“Sudahlah dahlia, sabar yah, nanti juga lama-lama kepincut sama kamu. Heheh”. candaku lagi sambil merangkul bahunya.
“Idiih, cuiihhh amit-amit deh, gak mungkin juga gue mau sama cowok dekil, kumal dan jarang sikat gigi itu, ichhh.” Jawab Dahlia dengan ekspresi jijay nya.

“Chi..!!!”
Aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. Ternyata dari kejauhan Ana temanku sejak sd sedang berlari ke arahku.
“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Ana dengan bibir monyong. Ciri khas cewek kulit putih tersebut kalau lagi ngambek.
“Sorry deh na’. Gue lagi sibuk ngehibur cewek yang lagi bad mood ini”. Sambil melirik ke arah Dahlia yang memasang tampang cemberut.
“Bad mood? Kenapa?” tanya Ana bengong.

Si Yellow tooth yang jelek itu lagi-lagi cari perkara sama aku.

Sejenak Ana terdiam, lalu perlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Mungkin gak sih si Fitrah suka sama loh tapi dia gengsi dan Cuma bisa mendekati kamu dengan cara menjahili kamu Dahlia.”
“Tau ah gelap!”

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menciutkan niat para siswa SMAN 1 Larompong bergegas pulang ke rumah. Anak-anak sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan aku masih berkutat pada buku catatanku lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalau nulis jangan kayak keong donk.” Dengan gemas Ana menjitak kepalaku.
“Duluan ya, Chi, nyokap suruh pulang cepet nih!” Aku hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanku. Sementara Dahlia, Uli, Nurul dan Nini tetap di tempatnya dan menungguku.

Esok harinya aku berangkat lebih awal ke sekolah, karena jam pertama diisi dengan mata pelajaran kimia yang dibawakan oleh Ibu Kartini. Kabarnya guru yang satu ini sangat kejam dan tak punya sifat tolelir. Ibu Kartini adaah guru yang sangat tegas, disiplin dan paling rajin ngasih tugas.

“Doorr” ucap ku, sambil menepuk pundak Kalsum, teman baruku di kelas X5.
“Iikhh chicy buat aku kaget saja” ucap kalsum.
“Hehehe, habis kamu melamun sih, masih pagi tau jangan melamun” canda ku
“Hehehe, iya deh iya bawel” ucap kalsum, sambil tersenyum
“Memangnya kamu lagi ngelamunin apa sih kalsum?” Tanya ku
“Aku gak ngelamunin apa-apa kok” ucap kalsum
“Ah maca ciiihhh?” Ucap ku menggoda kalsum
“Iya bener kok” jawab kalsum

“Teeeeeeet… Teeeeeeet…” (bel sekolah pun berbunyi)

“Eh udah bel tuh, masuk yuk” seruku lalu menuju ke kelas dengan menggandeng tangan kalsum.

Pemandangan kelas pagi ini nampak rapih, tak ada suara gaduh, tak ada yang wara-wiri, semuanya duduk rapih di tempatnya masing-masing.

“Kalau bukan Ibu kartini yang masuk gak mungkin kelas setenang ini.” ucapku sambil tersenyum geli
“Ya iyalah, secara kelas ini adalah kandang tikus, lho tau sendiri kelakuan anak-anak X.5 gimana. Kalau gak ada si kucing yang datang gak mungkin si tikus-tikus calm down begini, hahaha.” jawab Dahlia pelan sambil tertawa kecil.

Detik demi detik kami lalui dengan hati yang berdebar-debar, seperti bom waktu yang menunggu waktu untuk meledak. Yah, aku sedang membayangkan tentang kebiasaan ibu Kartini yang selalu menyuruh murid mengerjakan soal di papan tulis secara bergiliran.

“Semoga aja bukan gue, ya tuhan peuhlisss!!” ucapku dalam hati.

Satu persatu nama teman-teman ku mulai dipanggil. Beberapa temanku harus ihklas berdiri di samping papan tulis karena tak bisa mengerjakan tugas yang diberikan.

Belum sempat selesai berdoa, tiba-tiba saja aku mendengar sura lantang Ibu Kartini menyebut namaku.

“Chicy, naik ke atas kerjakan soal nomor 5 yah”

Dan kali ini lagi-lagi Tuhan tak mengabulkan doaku. Ibu Kartini akhirnya menyebut namaku. Aku berjalan ke depan dengan langkah kaki yang pelan, rasanya seperti ada sebuah batu besar yang bergelantung di kakiku. Sebenarnya bukan takut yang aku rasakan tapi lebih pada rasa malu jika harus berdiri bersama dengan anak lainnya. Bagaimana tidak, ada puluhan murid yang bakal menontonku.

“Cepat dikerjakan Chi” ucap ibu Kartini.
“I…i…iya bu” sahutku sambil mengangguk.

“Teeettt… Teeeeettt…” Saat hendak menulis, terdengar bunyi bel pertanda jam istirahat pertama. Aku menarik nafas panjang, aku lega sekali mendengar suara bel itu.

“Baiklah anak-anak, minggu depan ibu sambung lagi. Sekarang buka halaman 154 dan kerjakan soalnya..” ucap Ibu kartini sembari menunjukkan soal yang akan menjadi tugas minggu depan. Tugas adalah wajib setiap kali ada mata pelajaran kimia, itulah ibu Kartini, bidadariku yang paling baik hati.

Setelah Ibu Kartini keluar dari ruangan aku pun kembali ke tempatku sambil jingkrak-jingkrak kegirangan.

“Alhamdulillah ya… hehehe” ucap Dahlia sambil cengengesan. Aku hanya tersenyum lebar mendengarnya.

Setahun sudah berlalu dan sekarang aku resmi menyandang status “SENIOR”, eitss tapi aku bukan tipikal senior yang gila hormat seperti kebanyakan murid di sekolahku.

Setelah bel istirahat berbunyi, aku segera mengambil dompet dalam tas. Aku, Nini, Ana, Nurul, Uli dan Dahlia pergi ke kantin favorit kami yang terletak di belakang mushollah sekolah, Hendak memberi makan cacing-cacing yang mulai berdemo ria sekaligus membicarakan soal issu yang yang baru saja membuatku kesal gak ketulungan. Sayang sekali Sri, temanku ku dari sd gak bisa ikut bergabung, dia ditempatkan di sekolah yang lumayan jauh dari sekolah kami, lantaran jumlah siswa yang diterima di SMUN 1 Larompong terbatas.

Enam sekawan ini, memang hobi sekali jajan bakwan, hampir setiap hari kalau lagi istirahat jajannya itu melulu. Enggak ada bosen-bosennya deh. bahkan seringkali aku membawa makanan ini pulang ke rumah. Bakwan adalah menu andalan di kantin kesayangan kami itu. Tempat yang paling asyik kalau lagi jajan bakwan yah di kantinnya Ma’yu, dan duduk di bangku yang dekat jendela, Hmm… mengademkan diri?. Ma’yu adalah panggilan akrab kami pada pemilik kantinnya.

“Mau pesen bakwan kan?” teriak ma’yu.
“Ma’yu, paranormal ya?” tanyaku serius.
“Bukan… bukan..” jawabnya.
“Memang kenapa gitu, Chi?” tanya Nurul kepadaku.
“Mba ini, udah tahu kalau kita mau makan bakwan” ucapku
“Haha, dasar oon!!!, ya iya lah, kita kan sering ke kantin buat jajan bakwan” Celoteh Ana.
“Hahaha..” terdengar tawa sahabat-sahabatku yang saling bersahut-sahutan.
“Ihh, kenapa kalian jadi ketawa sih?” gerutuku kesal.
“Abisnya kamu ituuu..” ucap Ana.
“Kamu apa?” tanyaku semakin kesal.
“Sudah… sudah, jadi nggak pesen bakwannya?” tanya ma’yu yang ikut kesal.
“Hehehe… jadi donk, aku pesen 5000 yah.” Seru ku.
“Yaa, tunggu sebentar..” jawab pelayan kantin sambil berlalu.
“Kok banyak amat sih, Na?, emang mau dimakan semua sekarang?” tanya Uli.
“Iya donk” jawab ku dengan ekspresi datar.
“Glek..” Uli hanya menelan ludah mendengar, pesananku sebanyak itu

Beberapa saat kemudian, bakwan pesanan kami pun datang. Tak perlu menunggu lama aku segera menyantap bakwan dengan campuran sambel dan kecap yang sudah saya racik sedemikian rupa.

“Kok kalian semua, ngeliatin aku sih?, ada yang aneh ya?” tanya ku sambil melotot ke mereka.
“Udah berapa hari nggak makan, Chi?” tanya Nurul dengan mata sedikit terbelalak menyaksikan ku yang makan begitu rakusnya.
“Tadi pagi juga sarapan kok” ucap ku dengan ekspresi datarnya sambil terus makan. Tak ada kata yang mampu diucapkan teman-temanku lagi, mereka hanya bisa menggeleng-geleng kepala ke kiri dan ke kanan beberapa kali, dan melanjutkan menyantap bakwan hingga tak tersisa.
“Mungkin kita harus buat program deh!” ucap nurul.
“Program apa?” tanya Nurul.
“Program diet untuk Chici” jawab Dahlia.
“Ah kamu ini, buat aku sensi aja sih” timpal Nurul yang kebetulan punya tubuh yang agak lebih gemuk dibanding aku.

Aku yang sedang menikmati air mineral dinginku, kemudian tersedak. “Uhuk… Uhukkk..” Nini terlihat menepuk-nepuk pundakku.

“Wahh, iya… boleh juga tuh” timpal Nini.
“Aku nggak setuju ah” jawabku sambil memegang lehernya.
“HA… HA… HA… maaf deh maaf, lupa” seru Dahlia dan dengan spontannya mencium pipi Nurul. Sementara itu Uli terus mencubit pahaku, membuatku teriak-teriak kesakitan.

Kebiasaan aneh uli ini sudah ada sejak aku pertama kali bertemu, Uli akan spontan mencubit seseorang yamg ada di dekatnya jika ia merasa lucu. Semua sahabatku sudah biasa dengan kebiasaan aneh uli itu.

Seketika suasana kantin jadi riuh dengan canda tawa kami. Setelah menghabiskan makananku, aku dan yang lainnya tak lantas pergi, kami masih duduk di tempat kami masin-masing. Mata pelajaran kedua lagi kosong karena gurunya sedang berhalangan, jadi kami masih bisa santai di kantin.

Konfrensi meja bundar pun digelar. Kantin ini jadi saksi Rencana besar kami. DIZZQ pun mulai menyusun rencana serangan. Dizzq adalah nama genk yang kami resmikan sebaga nama genk persatuan kami. Aku bersyukur dipertemukan dengan sahabat-sahabat seperti mereka, Mereka adalah pasukan terhebat yang aku miliki. Tidak hanya hebat dalam hal gosip-menggosip, mereka juga paling jago dalam hal serang-menyerang. Dua orang sahabatku Ana dan Dahlia adalah yang paling sensitif saat ada perkara. Ana dengan tubuhnya yang mirip bodyguard dan ucapannya yang setajam silet bisa membuat hati seseorang terobek-robek, lalu Dahlia yang meskipun tubuhnya yang kurus kayak tengkorak hidup tapi nyalinya sebesar lapangan basket sekolah, dia paling hobby tuh adu mulut, Kalau lagi marah bisa seperti harimau buas yang siap mencincang. Dua gadis itulah yang menjadi team pembela saat salah seorang di antara kami terlibat masalah, tapi dibalik sikap mereka itu ada hal lain yang paling membanggakanku yaitu kesetiakawanan mereka, Bagiku sifat itu adalah harta mereka yang paling aku kagumi. Itulah alasan kenpa aku tetap bertahan bersama mereka, meskipun aku selalu jadi sasaran kejahilan mereka.

“Chi, gimana? kita langsung labrak aja lah sekarang!” Tanya Ana dengan tampang seperti serigala yang sedang marah. Aku saja takut melihat wajahnya yang mulai memerah.
“Iya, tapi janji yah kamu jangan maen tangan yah, perang mulut aja lah! Bisa buat dia takut aja udah buat aku puas banget, na.”
“Ok siiip!!”.
“Cewek itu memang gatal tau. Gaplok aja sekalian. Udah tau si Andy udah punya pacar masih saja keganjenan, trus mau aja gitu dijadiin cadangan”. Sahut Nurul yang paling jago dalam hal ngomporin orang.
“Iya betul. Wajib dibasmi tuh kutu ganjen”. Balas Uli

Akhirnya setelah konfrensi kami selesai, Aku dan sahabatku kemudian janjian ketemu dengan cewek itu di belakang kelas XI 4 yang sengaja kami pilih karena letaknya pas di samping kelas kami. Sebut saja dia Ayu.
Tak lama kemudian Ayu pun datang dengan salah seorang temannya, dengan langkah kaki yang mendayu bagaikan seorang model.

“Yu, aku mau nanya dan gak pake bohong yah?”. Tanyaku dengan nada suara yang agak tinggi.
“Mau Tanya apa?” jawab ayu dengan santainya
“Apa benar kamu jadian sama Andy?”
“Gak kok! gak sama sekali.”
“Ngaku aja lah! Kabar yang aku peroleh gak mungkin omomg kosong!! sudah beberapa hari ini issu itu senter aku dengar dari temen-temen. well, kebakaran gak akan terjadi kalau gak ada api, yu. Kamu tau kan aku sekarang masih resmi jadi pacarnya Andy dan hampir seisi sekolah tau itu.” Seruku sambil mendekatkan wajahku ke wajah ayu.
“Beneran gak kok” ucap Ayu ngeles

Aku dan sahabat-sahabatku terus mendesak tapi jawabannya tetap tidak. Tak lama kemudian, “Plakkk..!!!” sahabatku Ana ternyata tak menepati janji, Ia mulai hilang kendali dan menerjunkan tamparan cantiknya ke muka cewek itu. Pipi kanan Ayu merah dengan bekas tangan Ana, dan wajahnya pun mulai memucat. Sebenarnya ada sedikit rasa iba melihatnya takut. Tapi rasa itu tertutupi oleh kekesalakanku padanya.

“Ini kekerasan.” Teriak teman Ayu yang datang menemani Ayu saat itu. Aku tak bisa menangkis tangan Ana yang secepat kilat. Aku tahu perasaan ana yang simpatik padaku, tapi sungguh bukan tindakan seperti itu yang aku harapkan.

Nasi sudah jadi bubur, setelah peristiwa tamparan itu Ayu langsung melaporkan kejadian itu, dan akhirnya kami diseret ke ruang BP. Saat aku dan Ana sampai di ruangan, disana sudah ada Andy, Ayu, Pak Kamal dan murid-murid dari kelas lain yang mulai berdatangan satu persatu seperti semut yang sedang mengerumuni gula.

Saat itu aku merasa seperti berada di ruang sidang yang dihadapkan dengan kasus pembunuhan. Ini pertama kalinya aku dipanggil ke ruangan BP dari sekian banyak kenakalan dan kegilaan yang sudah aku lakukan bersama sahabat-sahabatku, dan itulah konsekuensi yang harus aku pertanggung jawabkan. Hanya aku dan Ana yang dipanggil, temanku yang lain dibebaskan karena mereka hanya ikut menonton saja waktu itu. Masalah ini membuatku merasa seperti ada kotoran sapi yang dilempar kemukaku, aku benar-benar malu, dan bukannya merasa takut. Rasa malu yang hebat karena harus ditonton puluhan siswa karena kasus seperti ini. Kalau saja kasusnya bukan karena masalah cemburu buta mungkin aku gak akan tertunduk terus seperti ini.

“Oh my God this is very embarrassing.” Ucapku dalam hati.

Pertanyaan demi pertanyaan kini dilontarkan kepada aku dan Ana. Tapi aku cuma bisa diam, aku gengsi untuk mengatakan bahwa aku terlampau cemburu saat itu. Aku muak sekali melihat tampang Ayu yang pura-pura polos di depan Pak Kamal.

“Andy, sekarang kamu harus memilih supaya kegaduhan dan kekerasan seperti ini tidak terjadi lagi.” Tanya pak Kamal dengan tegas.
“Milih?” ucap Andy bingung dan tampak seperti berfikir sesuatu
“Iya milih, kamu gak mungkin lah poligami sepereti ini. parah banget kamu, Ndy. Baru aja kelas 2 sma udah pinter poligami” kata Pak kamal menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masa poligami sih pak, aku kan belum nikah sama mereka”
“Ah kamu ini bisanya protes melulu, sekarang ayo katakan dengan jujur siapa wanita yang paling kamu suka dan kamu pilih” ucap pak Kamal mengulang pertanyaannya lagi.

Andy hanya terdiam menundukkan kepalanya. Dia tak mengucapkan sepatah katapun. Aku mulai merasa aneh, aku melihat sosok Andy bukan seperti pacarku yang sudah aku pacari selama 4 tahun. Aku lesu melihat sikap pengecutnya itu, tulang-tulang ku seakan mendadak remuk.

“Andy, coba dompetnya bapak lihat dulu”
“Hah!! dompet pak. mau diapain?”
“Gak usah nanya, kasih aja dulu” kata pak Kamal sambil memaksa
“Ini pak”
“Hmmmm… Ini foto siapa? Tanya Pak Kamal menunjukkan foto yang terpajang di dompetnya.

Aku melirik untuk mengintip foto yang diperlihatkan oleh pak Kamal yang kebetulan duduk di sampingku. Aku betul-betul penasaran ingin melihat foto yang terpajang di dompet Andy, sudah pasti itu adalah orang spesial buat Andy. Aku mengangkat leherku dan sekali lagi mencoba untuk melihat foto tersebut.

“Oh my god.. thats me!”. Kataku dalam hati. Roh ku seperti melayang ke langit ke tujuh dan kupu-kupu khayalan mulai berterbangan keluar dari dalam hatiku.
“Ayo jawab” tanya Pak Kamal mulai membentak
“A.a.a.a..ku milih milih Cici Pak!” sahut Andy terbata-bata.
“Huuuuuuuu…”. Terdengar sorakan dari para murid. Sejak tadi ruangan BP sudah dipenuhi murid-murid yang serius menyaksikan wawancara kami, Ada yang berdiri di depan pintu, ada pula yang mengintip di balik jendela.

Sekali lagi aku katakan bahwa aku inigin sekali terbang ke langit ketujuh, saat Andy mengatakan itu, so sweet. Hihi….

Tuduhan bahwa Andy adalah laki-laki pengecut, aku tarik kembali. Aku akhirnya tau bahwa dia masih lelakiku. Di satu sisi aku memang bahagia karena Andy menyimpan fotoku di dompetnya, tapi di sisi lain aku sangat malu sebab di foto itu aku cuma pakai singlet alias baju tanpa lengan, dan karena kejadian itu pula Pak Kamal harus melihat fotoku dengan keadaan seperti itu. Boro-boro keren, fotogenik pun nggak.

“Nah Chicy, Ana, sekarang minta maaf pada Ayu”
Aku dan Ana pun mulai bersalaman sambil mengucap maaf pada Ayu, tapi rasa kesal dan cemburu ku masih belum hilang. Entah kenapa hatiku bisa seperti batu bara jika melihat Ayu, mungkin ini yang disebut sakit hati karena cinta.
“Ayu, gimana! mau kan terima maaf Ana dan Chicy” Tanya pak Hamka
“Tidak, aku tidak terima pak, aku mau mereka dikeluarkan. Kalau mereka tidak dikeluarkan aku akan lapor polisi karena tindak kekerasan”

Aku tersentak kaget mendengar ucapan Ayu, aku menelan air liur ku dalam dalam. Ana lalu menatapku dengan sorotan yang sangat tajam. Kubayangkan ada tanduk merah yang keluar dari kepala Ana. Aku kemudian menggenggam tangan Ana, mencoba meredam emosi sahabatku itu.

“Kamu dengar Chy, Ana! karena emosi sesat kalian akhirnya kalian harus menanggung resiko seperti ini” Pak Kamal mulai berceramah.
“Bapak tak bisa buat apa-apa, besok baru bisa diputuskan setelah Ibu Bapak Ayu datang menghadap. Bapak mau tahu keputusan orangtua Ayu dulu ”
“ya sudah kalian boleh ke kelas masing-masing, dan ingat Ana, Chicy, ini adalah kejadian terakhir yang kalian lakukan, Bapak tidak mau dengar ada kekerasan seperti ini lagi. Kalian ini sudah kayak orang kriminal aja..”
“Iya pak” sahut ku, berbarengan dengan Ana.

Aku dan Ana kemudian berdiri dan segera keluar dari ruang BP. Di belakangku ada Andy yang terus mengikutiku dan berusaha meminta maaf karena kesalahnnya itu, tapi aku berpura-pura tak mendengarnya dan tetap sibuk berbincang dengan Ana sambil berjalan menuju kelas kami. Dari jauh kulihat sudah ada Dahlia, Nini, Nurul dan Uli yang menanti kami di depan kelas.

“Gimana tadi? kalian gak diskors kan?” tanya Dahlia dengan mata melotot.
“Lebih buruk dari itu malah!!
“Kami diancam di DO dari sekolah, tapi keputusannya masih besok” seru Ana ikut menjelaskan
“Gila yah tu Ayu, sadis amat, seenaknya saja dia mau depak kita keluar. Emang dia fikir dia itu siapa?” gerutu Uli.
“Sabar yah Na, ini semua gara-gara aku. Nanti aku akan coba bicara sama pak Kamal agar dia tidak menghukum kamu, Na. Biar aku saja yang keluar, kan masih banyak SMA lain. Aku yang salah sudah mengikutkan kamu dalam masalahku ini. Kalau saja aku tidak beritahu kamu pasti gak akan seperti ini kejadiannya.”
“Ya gak gitu juga Chi, kalau kamu di DO aku juga akan keluar, aku yang salah karena tak bisa menahan emosiku. Lagipula aku puas kok, dia pantas dapet tamparan dariku, siapa suruh gangguin pacar sahabat ku tercinta, he he he. “We are best friend forever Chy, and no body can hold it.”

Ana kemudian merangkulku, disusul dengan sahabatku yang lain, dan kami pun berpelukan layaknya teletubbies. Airmataku yang kutahan sejak tadi kini tak terbendung lagi, perlahan-lahan memenuhi mukaku. Aku menangis terharu mendengar ucapan Ana barusan.

Tapi pada akhirnya keadaan malah berbalik dan dewi fortuna berpihak kepada kami. Aku dan Ana tak jadi dikeluarkan dari sekolah. Menurut kabar burung yang aku dengar, Ayu malu mendengar sindiran-sindiran halus mengenai dirinya karena pernyataan Andy saat itu yang ditonton banyak orang, makanya dia memutuskan untuk pindah sekolah, hingga keesokan paginya Ibu Ayu pun datang untuk mengambil surat pindah untuk Ayu.

Aku turut sedih mendengar keputusan Ayu tersebut, tapi ya itulah keputusan ayu sudah dipilihnya. Kenyataannya dia harus meninggalkan SMUN 1 Larompong dan pindah ke sekolah lain. Aku berharap suatu saat jika aku kembali bertemu dengan Ayu, hatiku sudah berdamai dan dia tak menganggapku musuh lagi. Kejadian ini adalah pelajaran berharga yang tak akan terlupakan dan akan kujadikan catatan sejarah dalam buku hidupku.

Finally, dengan beberapa kegilaan yang kami lakukan, kami tak pernah sekalipun menyesal akan hal itu. Kami menganggap, kami telah berhasil membuat sisa waktu kami di bangku putih abu-abu menjadi seperti pelangi yang penuh warna

And then “Mission completed!”

Kata orang pertemuan merupakan awal dari perpisahan, kini tiba saatnya hari perpisahan kami. Alhamdulillah kami semua lulus.

Setelah melihat pengumumuan kelulusan yang bertempat di kantor polisi tepat di depan rumahku, kami tak langsung pulang ke rumah. Aku dan sahabatku berencana merayakan kelulusan kami dengan acara makan-makan di rumah Sri. Kami mengundang semua teman sekelas kami, Saat itu Andy juga kami undang. Walaupun aku dan dia sudah putus, tapi aku masih menganggapnya sahabat. Aku memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Andy karena saat itu aku punya pria idaman lain yang akhirnya malah membuatku menyesal meninggalkan cowok sebaik Andy.

Acara kami berlangsung menyenangkan dengan suara riuh oleh candaan teman–teman X.5, kebersamaan kami ini membuat kami berat untuk pulang ke rumah masing-masing. Kegembiraan yang mulanya menghias nuansa indah kebersamaan kami, tak lama kemudian berubah menjadi suasana yang mengharukan ketika satu persatu teman-temanku pamit untuk pulang ke rumah mereka. Kami pun larut dalam kesedihan hari ini, tanpa sadar akhirnya aku dan sahabatku pun menangis. Tak kusangka waktu tiga tahun selama ini, harus aku lepaskan dalam waktu sehari saja. Kami harus angkat kaki dan rela meninggalkan sekolah, tempat kami mengukir pengalaman indah kami. Ketika pertama kali memulai kisah sma bersama mereka, tak terbayang kalau saat ini aku pun harus ikhlas berpisah dari sahabat-sahabat gokil ku itu, dan tak bisa kupungkiri betapa beratnya ku lambaikan tangan pada mereka.

“Kita harus tetap saling kontek yah!! ucap Dahlia sambil berlinang air mata.”
“Pasti.. pasti” jawabku, lalu aku dan sahabatku yang lain pun memeluk Dahlia dengan isak tangis.

Cerpen Karangan: Ceria Eltasari
Blog: ceriaeltasari.blogspot.com
Just call me “cici” . Saya adalah wanita moody yang sangat benci dengan binatang bernama cicak. Saya suka menulis, traveling, menyanyi dan shoping. Kekuranganku adalah punya sifat pelupa, dan… kelebihanku aku tak bisa jelaskan, karena menurut saya kelebihan itu sama seperti kecantikan yang sifatnya relatif, tergantung dilihat dari sudut pandang mana dan siapa yang melihat kita.

Cerpen Aku dan Mereka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruang Tunggu Bandara

Oleh:
Bandara udara internasional minangkabau, Sumatera Barat. Kami menjejali langkah menuju ruang tunggu bandara, di sampingku seorang pria sedang asyik memotret langit-langit bandara yang dihiasi lukisan-lukisan pemandangan Sumatera Barat, mulai

Sebatas Kakak Adik

Oleh:
Namaku Viola Yuvita, hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kakiku di SMA yang sama sekali bukan impianku. Tapi justru di sinilah aku menemukan seseorang yang mampu membantuku melupakan Dika

Kasih Sayang Yang Akan Ku Rindukan

Oleh:
Pagi cerah menemani langkah kakiku menuju gerbang sekolah. Tempat di mana aku menambah dan menuntut ilmu demi menggapai dan mencerahkan masa depanku kelak. Namaku Arisa Amanda, teman-teman sering memanggilku

Ajur? Tidak Sama Sekali

Oleh:
Detik berganti detik, menit berganti menit. Jam berganti menuju ke arah yang salah. Jam 12.00 tengah malam. Aku masih berjaga-jaga, memincingkan mata kantukku dan menahan kelopak mata agar tidak

Batalkan SMS ini!

Oleh:
Yaaa… siang panas seperti biasa, untungnya sih ada AC. Yang membuatnya gak biasa adalah tiba-tiba kepala gue ketiban ide buat melanjutkan hobi gue akhir-akhir ini. Seketika itu juga gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *