Aku dan Rasa Ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 August 2015

Suka.. ya aku mungkin hanya menyukainya.

“Pulang sekolah ini kamu ada urusan gak Ra?”

Aku sedikit menaikkan sebelah alisku, sedetik kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan sahabatku itu, Salsa.

“Pembinaan lagi?” Aku mengangguk kembali, bisa kulihat Salsa mengerucutkan bibirnya sehingga membuatnya terlihat sangat manis.
“Kenapa Sa? Besok aku gak ada pembinaan kok, mau ke perpustakaan kan?”

Salsa tersenyum lebar setelah mendengar perkataanku tadi. Ya, kami memang selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku di perpustakaan umum. Disana adalah tempat kami menjernihkan otak dan pikiran kami.

“Oke, besok ya Ra..”

Aku mengangguk, kembali memfokuskan pikiranku pada soal-soal Kimia yang sudah tersaji di atas mejaku. Ya, aku sangat menyukai mata pelajaran yang satu ini. Entah mengapa, sejak aku bertemu dan mengetahui mata pelajaran Kimia di bangku SMP, aku langsung menyukainya.

“Ssstt.. Ra?” Aku menoleh, Salsa menyerahkan secarik kertas padaku. Aku mengambilnya kemudian membaca tulisan Salsa yang tertulis di kertas itu.
“Kamu masih suka sama Dika?”

Aku tersenyum kecil ketika membacanya, kutolehkan kepalaku ke arah Salsa yang menunggu balasan dariku.

“Gimana?” Tanya Salsa dengan suara yang sedikit berbisik karena tidak ingin ada yang mendengarnya.

Saat ini kami masih ada di jam pelajaran Kimia, namun guru kami berhalangan datang dan hanya menyampaikan tugas yang harus kami kerjakan. Aku menulis beberapa huruf di atas secarik kertas tadi menjawab pertanyaan Salsa. Setelah itu aku mengembalikan kertas tersebut pada Salsa.

“Ra..” Aku melihat Salsa menuliskan sesuatu di secarik kertas lain dan memperlihatkannya padaku.
“Bohoooong!”
Aku tertawa kecil membacanya, Salsa mengembungkan kedua pipinya. Ia kembali menuliskan sesuatu dan aku menunggunya kembali membentangkan secarik kertas itu.
‘”Jujur Ra..”

Aku berpura-pura berpikir saat itu, apa yang harus aku jawab? Bukankah aku masih menyukainya? Ya.. aku menyukainya dari dulu dan sampai detik ini pun jantungku akan berdebar cepat ketika menyebutkan namanya di dalam pikiranku.

“Kita bicara nanti Sa..” Sahutku dan kembali mengerjakan soal-soal kimia yang sempat aku abaikan tadi.

Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah mencari tahu kabar Dika, kami memang tidak sekelas. Bahkan aku tidak yakin dia mengenalku. Aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku SMP, ya.. sudah lama memang. Aku dan Dika bersekolah di SMP yang sama, begitupun sekarang kami masih berada di sekolah yang sama. Entah suatu kebetulan atau bukan, aku hanya bisa bersyukur ketika mengetahui kami masih bisa bertemu selama 3 tahun lagi.

Suatu waktu ketika aku selesai dengan pembinaanku tepat pukul 4 sore, aku menelusuri koridor sekolah yang sudah sepi tanpa ada murid-murid yang berlalu lalang lagi. Aku mulai melewati kelas-kelas XI dengan pintu dan jendela yang sudah tertutup rapi. Di ujung koridor aku bisa mendengar suara langkah kaki yang mulai terasa semakin mendekat. Aku rasa itu adalah murid yang sama denganku, dia mungkin baru saja selesai dengan pembinaannya. Aku tetap melanjutkan langkahku sehingga aku hampir sampai di ujung koridor. Ketika satu sosok mulai tampak tepat sebelum aku sampai di ujung koridor, aku menghentikan langkahku.

“Aku kira udah gak ada orang di sekolah..” Aku masih diam dengan tatapan tidak percaya, entah ini mimpi atau bukan. Aku hanya tidak ingin terbangun terlalu cepat, dan getaran itu kembali kurasakan di dalam dadaku.
“Pembinaan juga?” Aku mengangguk pelan, dan detik itu pula aku baru menyadari bahwa Dika memiliki mata coklat yang sangat jernih.
“Kimia?” Aku sedikit mengerutkan dahiku, bagaimana dia tahu?

Suatu hal yang membuatku berdebar yaitu ketika melihatnya tersenyum dan tertawa, kini Dika tertawa kecil di hadapanku. Ia sangat manis, aku yakin perasaanku ini bukan hanya sekedar rasa suka ataupun kagum seperti apa yang aku dan Salsa simpulkan sebelumnya.

“Gak usah bingung Ra, aku tahu kamu pembinaan Kimia karena buku yang kamu bawa buku Kimia semua.” Aku seperti orang bodoh, ya.. aku memang membawa beberapa buku paket kimia di tanganku.
“Kamu kenal aku?” Aku rasa pertanyaanku sangatlah aneh.. ah, bahkan jika berhadapan dengannya aku tidak pernah bisa mengontrol perasaanku sendiri.
“Loh? Bukannya kita udah satu sekolah sejak SMP? Atau jangan-jangan kamu gak kenal aku ya?” Aku gelagapan ketika Dika bertanya seperti itu.
“Eh.. iya, maksudnya kamu tahu nama aku dari mana..” Sahutku dengan suara yang semakin pelan saja.
“Keterlaluan kalau aku gak kenal kamu apalagi gak tahu nama kamu Ra. Oh iya, kamu mau pulang?” Aku menghela napasku pelan setelah itu aku mengangguk ke arahnya.

“Mau pulang bareng? Kamu ke sekolah naik taksi kan?”
“Eh iya aku naik taksi..” Jawabku.
“Ya udah, kamu ikut motor aku aja sekarang. Biar gak ngongkos juga.. Yuk!” Dika berjalan duluan, sedangkan aku? Aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Ka.. aku naik taksi aja ya..” Sahutku dari belakangnya, kami baru saja keluar dari gerbang sekolah.
“Kenapa? Kamu sama aku aja, lagian aku gak gigit kok Ra..” Aku masih tidak percaya ini bukan mimpi, bagaimana mungkin Dika bisa berada di hadapanku saat ini?

“Vera?”
“Eh iya.. maksud aku.. aku gak enak sama kamu.”
“Gak enak gimana? Kamu kan sahabat Salsa juga, harusnya aku yang gak enak sama kamu.” Aku mengerutkan dahiku.
“Kamu kenal Salsa juga?” Tanyaku, Dika menatapku aneh namun detik berikutnya ia tersenyum.
“Haha.. kamu gak tahu Ra?” Aku semakin mengerutkan dahiku ketika mendengar pertanyaannya tadi.
“Gak tahu apa?” Tanyaku tidak mengerti. Apa Salsa dan Dika punya hubungan khusus? Ah.. tidak, Salsa pasti akan langsung menceritakan padaku jika memang benar ia memiliki hubungan khusus dengan Dika.
“Kamu tanya aja ke Salsa ya.. Aku ambil motor dulu ya Ra, kamu tunggu di sini..” Aku hanya mengangguk. Entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak mengenai Dika dan Salsa. Apa benar Salsa memang menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi kenapa?

“Ra?” Aku menoleh dan melihat Dika yang sudah siap dengan motornya.
“Yuk pulang.” Aku menarik napas dan membuangnya pelan, tidak.. aku tidak bisa langsung meyimpulkan sendiri. Aku harus menanyakannya langsung pada Salsa besok.

Hari ini adalah hari di mana aku dan Salsa akan pergi ke perpustakaan, namun entah mengapa Salsa membatalkannya tanpa menjelaskan mengapa ia membatalkan rencana yang sudah kami rencanakan sebelumnya.

“Maaf ya Ra, kamu gak akan jadi ke perpustakaan kan?” Tanya Salsa saat jam istirahat, aku menggeleng saja. Masih terpikirkan olehku mengenai hal yang kemarin Dika katakan padaku. Apa sebaiknya aku menceritakannya dan langsung menanyakan tentang hubungan mereka pada Salsa sekarang?
“Nanti kapan-kapan kita ke sana deh..” Salsa terlihat sedikit sibuk dengan handphonenya. Haahh.. sepertinya aku tak harus bertanya padanya.
“Aku ke toilet dulu ya Ra..” Salsa pergi keluar kelas, aku hanya diam merenungkan apa yang menjadi konflik dalam pikiranku saat ini.

Entah sejak kapan aku sudah berdiri tepat di depan toilet sekolahku. Bel tanda masuk sudah terdengar beberapa menit yang lalu. Ketika aku hendak membuka pintu toilet yang berada di hadapanku, sesuatu menghentikanku sejenak. Pikiranku mengatakan bahwa aku tak perlu melakukan hal ini. Bersembunyi di belakang sahabatku sendiri, takut akan fakta yang mungkin akan menyakitiku nanti jika aku melanjutkan aksiku saat ini. Kutarik napas dalam-dalam, dengan hitungan detik aku pun membalikkan badanku.

“Sa? Kamu masih di dalam?” Tanyaku dengan suara yang cukup keras agar Salsa dapat mendengarku dari dalam toilet.
“Oh? Iya Ra!” Teriak Salsa kemudian, aku mengatur napasku sejenak sampai kudengar suara pintu di belakangku terbuka.
“Kamu ngapain di sini Ra? Kenapa gak masuk?” Tanya Salsa, aku hanya menggeleng.
“Kamu di dalam ngapain kok lama banget?” Tanyaku kemudian, Salsa terkekeh.
“Biasalah.. Yuk ke kelas!” Salsa berjalan duluan meninggalkanku.

Sesuatu yang kutakutkan akhirnya terjadi, aku melihat Salsa pulang bersama Dika hari ini. Apa yang akan mereka lakukan? Apakah ini alasan mengapa Salsa membatalkan rencana kami untuk pergi ke perpustakaan? Aku berjalan gontai keluar kelas, dan entah bagaimana saat ini aku sudah berada di depan perpustakaan umum. Sepertinya otakku menyuruhku untuk beristirahat di sini. Aku memasuki pintu utama di perpustakaan yang cukup besar ini.

“Kamu gak bilang apa-apa kan sama Vera?” Langkahku terhenti tepat di barisan rak ketiga, aku mengambil satu buku dari rak tersebut dan tetap berada di posisiku.
“Enggak Sa, emang Vera gak tahu? Aku udah nyuruh dia buat nanya langsung ke kamu.” Aku kenal suara ini, ya.. mereka membicarakanku bukan?
“Syukurlah.. pokoknya jangan sampai Vera tahu hubungan kita, Ka.”
“Kenapa? Bukannya kalian itu bersahabat?”
“Iya, tapi aku tetap gak enak sama Vera, Ka..”

Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal Sa? Bukankah kita bersahabat? Sepahit apapun kenyataannya, aku berhak mengetahui kenyataan tersebut. Setidaknya aku tidak akan terlihat bodoh di hadapanmu Sa. Dan aku lebih menghargai kejujuranmu menyakitiku langsung daripada kebohonganmu yang menusukku dari belakang.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nisa Hasana
Facebook: https://www.facebook.com/finimi.nisahasana?ref=tn_tnmn

Cerpen Aku dan Rasa Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


We Are Best Friend

Oleh:
Di pagi yang cerah seorang gadis duduk di ayunan, dia merasa kesepian karena baru pindah dari washington, tiba tiba dia meneteskan air mata karena dia telah meninggalkan sahabatnya yang

Janji Sahabat Karib

Oleh:
Waktu masih kecil, yah masih duduk di bangku SD aku dan Bunga adalah sahabat karib. Biasanya kami sering bermain petak umpet, berjalan-jalan sambil melihat pemandangan yang indah, kadang-kadang ia

Kejutan Terakhir

Oleh:
Namaku Veronika Shyla, panggil saja Shyla. Aku kini duduk di bangku SMA, kelas 11. Aku adalah seorang remaja putri biasa, bukan siapa-siapa. Aku memiliki seorang sahabat, Priscilla Viona, panggil

He is For You Friend (Part 1)

Oleh:
Lisna hanya terdiam di sudut balkon kostan memperhatikan teman-temannya hilir mudik melewati pintu. Sementara sebagian sudah nangkring di atas motor yang terparkir rapi di halaman. Melly dengan helm pink

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *