Aku, Dia dan Waffle Cokelat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2018

Hari ini adalah hari pembagian kelas di sekolah baruku. Tak terasa aku yang dulunya berseragam putih biru sekarang menjadi putih abu-abu. Kini aku harus bertemu dengan suasana baru yang ada di SMA ini. Kemudian saat pembagian kelas, aku masuk di kelas X-B. Aku dipanggil paling akhir yang masuk dalam kelas itu. Saat masuk kelas, semua bangku telah terisi penuh oleh siswa. Kecuali bangku paling depan deretan paling barat. Seorang siswa laki-laki berkacamata dengan rambut yang tersisir rapi masih duduk sendiri. Tidak ada pilihan lain. Mau tak mau aku harus duduk dengannya.

Menit demi menit berlalu begitu saja. Namun, dia masih enggan mengajak bicara. Kulihat dia malah asyik membaca komik yang aku sendiri juga tak mengerti itu komik apa. Beberapa saat kemudian tangannya tiba-tiba meraih tas dan mengambil sesuatu dari dalamnya. empat bungkus waffle kini berada di tangannya. Dua diantaranya ia bagikan untuk dua anak yang duduk di belakang kami. Satu untuk dirinya sendiri. Dan sisanya ternyata diberikan padaku. “Ambillah!” ucapnya singkat dengan meletakkan waffle tersebut di hadapanku. Ada sedikit senyum di wajahnya saat memberikan waffle itu padaku. Ini untuk pertama kalinya aku mendapat waffle dari orang yang belum aku kenal sebelumnya. Baru sekilas mengenalnya saja, sudah ku tahu bahwa dia orang yang tidak pelit dengan sesuatu yang dia punya, walaupun sepertinya dia pelit berbicara.

Dia terus memandangku karena aku belum juga menyentuh waffle pemberiannya. Sadar karena terus diperhatikan, kuambil sebungkus waffle cokelat di hadapanku dan segera membukanya. “Terimakasih” jawabku sambil memberi anggukan. “Namamu Berlian” ucapnya yang membuatku sedikit terkejut. “Hebat kau sudah tahu namaku. Apa kau… Illusionist?” tanyaku heran dengan kata yang sedikit terputus-putus. Kemudian matanya tertuju ke arah samping kanan seragamku. Di situ tertulis “Berlian Geraldine Hutagalung”. “Pantas saja dia tahu” kataku dalam hati dengan menahan sedikit rasa malu.

Memang sial tak dapat dihindar. Padahal, baru tujuh hari aku bersekolah di sini, ban motorku sudah dikempes petugas parkir karena aku parkir sembarangan. Aku pulang dengan keadaan terus mengomel di sepanjang jalan sambil menuntun motorku. Sialnya lagi, aku tidak mencium aroma-aroma bengkel di sekitar jalanan itu. Aku masih tetap sabar menuntun motorku hingga 200 m meninggalkan sekolah. Namun, belum ada satu pun bengkel yang kutemui.

Krinngg… krring.. Dari belakangku terdengar seseorang yang mengendarai sepeda membunyikan belnya. Mungkin, dia ingin aku berjalan agak ke tepi. Namun, bel itu masih berbunyi kembali setelah aku menepi. Dalam hati aku kesal. Jalan selebar itu tidak cukupkah untuk dilewati orang bersepeda. Akhirnya aku mengalah dan berjalan lebih menepi lagi. Namun sesudah itu orang di belakangku itu masih saja membunyikan bel sepedanya. Huhhh.. rasanya ingin kutelan saja bel sepeda orang itu. Tak lama kemudian orang yang ada di belakangku itu menyalipku. Saat kutengok ke kanan, aahhhh.. ternyata dia seorang penjual kerupuk keliling yang memang terus membunyikan belnya untuk menawarkan dagangannya.

Sebuah mobil sedan berwarna silver tiba-tiba berhenti di sampingku. Kaca pintu mobilnya perlahan dibuka oleh penumpang yang ada di dalamnya. “Ber, motormu kenapa?” tanya seseorang tiba-tiba dalam mobil itu. Begitu kuperhatikan, ternyata dia teman sebangkuku, Oliver. “Mungkin dikempes Pak Umar karena aku parkirnya tidak tertib” jawabku sambil sesekali mengusap keringat yang ada di wajah. Tanpa komando, ia pun turun dari mobilnya. “Di dekat sini ada bengkel. Ayo biar kuantar” ucapnya menawarkan diri. “Terimakasih. Kau membantuku lagi” jawabku dengan disertai senyum lebar. Kemudian Oliver mengantarkanku ke bengkel yang ia maksud. Terimakasih Tuhan, aku rasa Oliver selalu datang di waktu yang tepat.

Kami duduk di kursi teras bengkel itu. Sedangkan mobil dan sopirnya masih setia menunggu di depan bengkel. Tak lama kemudian dia mengeluarkan dua bungkus waffle cokelat dari dalam saku celananya. Dia memberikan satu untukku. Aku tidak heran lagi, kenapa setiap hari dia selalu membawa waffle cokelat ke sekolah. Karena memang kakak perempuannya sedang membuka usaha toko kue di samping rumahnya.. Dan lagi di dalam tasnya selalu ada satu atau dua komik. Yang pernah aku tahu, komik yang sering dibawanya ke sekolah adalah komik Detective Conan, Buku serial Harry Potter, komik Eyeshield 21 dan komik-komik Jepang lainnya. Dia pernah bilang padaku bahwa suatu saat nanti ia ingin sekali menjadi seorang penulis komik atau menjadi seorang animator.

Semakin bertambahnya hari, semakin menambah kedekatan antara aku dan Oliver. Lama kelamaan rasa persahabatan tumbuh dengan sendirinya dalam hati kami. Bahkan kami sendiri sudah merasa seperti bersaudara. Oliver sangat sering sekali membantuku. Pernah waktu itu ban motorku bocor, padahal masih di pintu gerbang sekolah. Untung saja ada dia. Dia mengantarku pulang, sedangkan motorku aku tinggal di bengkel. Lalu pernah juga saat aku diganggu oleh gerombolan anak laki-laki di kantin, dia datang dan dengan sendirinya segerombolan itu pergi menjauh karena takut dengan Oliver. Belum lagi dengan waffle cokelat. Entah berapa banyak waffle cokelat yang pernah ia berikan padaku.

Kami juga sering belajar bersama atau sharing hal-hal kecil. Dalam mata pelajaran yang mengutamakan penghafalan dan ilmu-ilmu pasti adalah kelemahannya. Dalam hal itu, aku sering membantunya dalam mengerjakan soal-soal yang menurutnya sulit. Namun dalam hal seni dan sastra dia sangat mahir. Menggambar, dance, berpuisi, sampai berbahasa Jerman begitu dia kuasai.

Oliver adalah sosok teman yang setia, dermawan, penolong, dan berhati malaikat. Dia selalu ada untuk sahabat-sahabatnya. Aku bersyukur sekali dapat mengenal dan bisa menjadi sahabanya. Setiap orang pasti akan merasa nyaman jika berada di dekatnya. Dengan waffle cokelat aku selalu mengenangnya. Mengenang jasanya dan segala kebaikannya selama ini padaku. Waffle cokelat seperti tidak pernah habis dalam hidupnya. Bahkan selalu ada di tiap harinya. Rasa manisnya waffle cokelat seperti manisnya persahabatan kami. Akan terus ada dan tidak pernah ada habisnya. Selamanya.. sampai akhir usia.. dan sampai akhir dunia..

Cerpen Karangan: Mahendra Hayu
Facebook: Mahendra Hayu Widhyanti

Cerpen Aku, Dia dan Waffle Cokelat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kalung Persahabatan

Oleh:
“Sinta, tungguuu!” Sinta menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah sahabatnya, Lala. “Yuk ke kelas!” mereka pun berjalan beriringan menuju kelas. Tettt… tettt Bel pulang sekolah pun berbunyi. Anak anak

Aku Mencintaimu

Oleh:
Pukul 05.30 aku mandi, tiba tiba handphoneku berbunyi aku segera mengambilnya ternyata ada sms dari temanku bahwa aku piket hari ini. Oh iya kenalin nama aku Vino Alvian Pratama.

Tak Sempat Memiliki

Oleh:
Betapa hancur hati ini saat mengetahui bahwa aku dan temanku mencintai satu cowok. Bagai diiris-iris dengan pisau yang tajam, hatiku perih sekali ingin menangis tapi aku hanya bisa menahan

Senja di Pagi Hari

Oleh:
Siang itu, seperti biasa aku berkeliling pasar untuk melihat-lihat ikan di salah satu pasar hewan di kota Malang. Kebetulan sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Satu-satunya kelas hari itu

Spesial Di Hati

Oleh:
Aku Adinda Putri, biasa dipanggil Dinda. Aku berusia 17 tahun dan masih sekolah di SMAN 1 Jakarta Timur. Hari-hariku selalu penuh canda tawa karena kehadiran sahabat-sahabatku. Waktu itu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *