Aku, Sahabatku dan Pacarku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 February 2014

“Tutt… tuttt” nada sms dari ponsel Raya membuyarkan konsentrasinya. Dia pun segera mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. “kamu dimana, Ray?” pesan singkat dari Doni, teman satu kampus yang sekaligus jadi sahabatnya. Bukan Cuma sekedar sahabat, tapi dia juga sangat spesial bagi raya. Tak lama kemudian mata Raya tertuju pada jam di handphonenya: 05.30 WIB. Ternyata sudah hampir satu jam dia menghabiskan waktu di perpustakaan kampus ini. Sekilas Raya melirik ke jendela. “akhirnya hujan mengguyur kota ini juga” batin Raya. “Untung selalu sedia payung” Raya membatin.

Tanpa pikir panjang Raya segera beranjak keluar, mengeluarkan payung lipat dari tas dan segera meninggalkan perpustakaan. Raya bahkan lupa membalas pesan singkat dari Doni. Doni saat ini sedang menunggunya di kosan. Dia nggak mau membiarkan cowok itu terlalu lama menunggu. Tak butuh waktu lama untuk sampai di kosannya. Raya memang sengaja memilih kos-kosan dekat kampus katanya biar hemat waktu, tenaga dan juga uang. Raya juga termasuk mahasiswa yang aktif sehingga dia merasa perlu memiliki tempat tinggal yang strategis untuk menunjang semua aktivitasnya.

Sesampai di kosan, Doni menyambutnya antusias. “Miss kutu buku dari mana aja sih? Pasti dari perpustakaan ya?” “udah tau, nanya.” raya menjawab ketus. Cowok satu ini memang paling suka bercanda dan paling suka meledek raya. raya pun selalu tertawa dibuatnya. membuat raya merasa tak pernah kesepian. “aku mau ngajak kamu makan malam ray.” “ada apa nih? Lagi banyak duit ya? hahahha” canda raya. “nggak sih. aku Cuma kasihan aja sama kamu soalnya selain aku nggak ada lagi cowok yang mau ngajak kamu makan malam di luar. hahahaha” balas Doni. Tanpa ampun, raya pun langsung mencubit lengan raya.

Mereka pun akhirnya pergi. Sepanjang jalan tak henti-hentinya mereka bercerita, bercanda, tertawa. Sesaat Raya pun bisa lupa akan rasa kangennya pada cowok pujaan hatinya yang nan jauh di seberang lautan sana.

Raya menghempaskan badan di kasurnya yang empuk. Matanya tertuju pada sebuah bingkai di atas meja. Rasa kangennya pada cowok di sebelahnya dalam photo itu muncul lagi ke permukaan. Raya kangen sama Rama Aditya, kekasihnya. Cowok ganteng dengan tubuh atletis, hidung mancung, pintar dan berprestasi semasa sekolah mereka. dia hampir sempurna di mata Raya. dari semua faktor-faktor penunjang yang akhirnya membuat Rama dinobatkan sebagai cowok idaman versi raya dan teman-temannya dulu di SMA, ada satu hal yang membuat Rama sangat istimewa bagi Raya: dia sangat baik dan sayang pada Raya, membuat teman-temannya iri melihat Raya. tak heran, Raya pun sangat menyayangi Rama. Pintu hati Raya seolah sudah tertutup buat yang lain. Pikiran Raya menerawang jauh ke masa itu.

“Aku diterima di Fakultas Kedokteran UGM, Ray.” Rama berusaha untuk terlihat santai saat menyampaikan berita ini pada Raya. “Selamat ya!” akhirnya kamu bisa masuk Fakultas Kedokteran seperti keinginanmu. Jadi Dokter itu kan memang cita-citamu sejak kecil kan? Raya juga berusaha terlihat biasa. “itu berarti kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Aku pasti kangen sama kamu, Ray.” Rama membelai sayang rambut Raya. “Tapi kamu pasti kembali lagi kan sama aku? Kamu kan sayang sama aku dan gak akan pernah berubah. Benar kan?” Raya tersenyum manja. Sebenarnya ada sesak dan rasa asing yang tak Raya mengerti, tapi dia berusaha mencairkan suasana. Dia tak ingin Rama terbebani jika Raya menunjukkan ekspresi sedih di hadapan Rama.

Tepat seminggu sejak pertemuan itu, Raya pun harus benar-benar melepas Rama.
“Aku akan sering-sering kasih kamu kabar. Kamu di sini jangan macam-macam ya. Ingat kalau kamu sudah ada yang punya” Rama mencubit gemes pipi kekasihnya itu.
“Baik boss.” Raya tersenyum. “Tapi aku yakin justru kamu yang akan macam-macam selama di sana.” “Maksudnya?” Rama mengerenyit. Pura-pura bego. “Aku cuma bercanda.” Akhirnya Raya mengurungkan kalimatnya.

Pembicaraan mereka pun terhenti saat mendengar pengumuman penerbangan. Rama bergegas menyandang tasnya. Raya pun mengikuti. Tak lupa rama mengecup lembut kening raya, mengucapkan salam perpisahan. “Aku janji, aku akan kembali, Ray” bisik Rama. Raya pun tersenyum. “Aku akan tunggu kamu tepati janji itu.” Raya pun berbisik. tapi ada keraguan dalam hatinya. bukan ragu akan kalimatnya barusan. Tapi entah kenapa raya pun gak tau. Raya menunggu hingga pesawat yang membawa Rama benar-benar lepas landas. Raya seolah bisa melihat sosok Rama di situ. Melambaikan tangan untuknya.

“Ehem… eheeemm…” Indy, tetangga kamar sebelah mengejutkan raya. Membuyarkan sosok Rama yang sejak tadi mampir di kepalanya. “Pasti mikirin kekasih hati yang nan jauh di sana ya?” Indy ikut-ikutan rebahan di sebelah Raya. “Nggak.gak salah lagi. hehehe.” Raya merasa bahagia, selain punya Doni di sini, dia juga punya teman sebaik Indy. “kamu yakin dia bakal setia? Jangan-jangan dia punya pacar di sana.” Indy bertanya sok tau. “Kamu teman atau bukan sih? Masa doa’in yang nggak-nggak buat sahabat kamu sendiri?” Raya manyun. “bukan begitu indy sayang. Aku Cuma kasihan aja sama kamu kalau suatu saat nanti kamu kecewa.” “Maksudnya?” “cmon Raya sayang… mana ada sih cowok yang bisa pacaran jarak jauh. paling juga di sana dia cari yang lain walaupun dia tetap sayang sama kamu dan jalin hubungan baik. Aku Cuma ingin kamu sedikit lebih realistis biar kamu juga bisa buka hati buat cowok lain, jangan Cuma Rama yang ada di hati kamu.” Indy ngomong panjang lebar. Kalau sudah begini, sebenarnya Raya juga nggak bisa protes banyak. Indy kadang ada benarnya juga. Tapi dia terlalu sayang sama Rama, pujaan hatinya sejak SMA. Dalam hati raya pun tak bisa menebak bagaimana hubungannya kelak dengan Rama. Tapi dia yakin, jika Tuhan menakdirkan mereka berjodoh, Rama pasti kembali. tapi Raya tak bisa membagi hatinya saat ini untuk yang lain. Raya mungkin tipe cewek yang “satu untuk selamanya”. Jika dia sudah cinta, rasanya sulit untuk mengubahnya apalagi membaginya dengan yang lain.

“Ray, nanti malam kamu ada waktu luang nggak?” Doni tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Rupanya sejak tadi dia sudah memperhatikan Raya. “ada. kenapa? mau ngajak makan lagi? Ayo. Siapa takut?” Raya sumringah. memperlihatkan senyumnya yang manis. “itu salah satunya. Tapi ada yang lebih penting dari itu.” Doni tiba-tiba menunjukkan muka serius gak seperti biasanya yang selalu meledek Raya. “Bagus. Jam 07.00 tepat aku jemput kamu.” Doni pun pergi sambil melambaikan tangan. Raya sebenarnya merasa ada yang aneh. Tapi saat ini dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Raya pun berusaha mengalihkan perhatiannya dari Doni.

Tepat jam 07.00 malam, seperti janjinya, Doni pun sudah tiba di kosan Raya, lengkap dengan gitar kesayangannya. Raya pun dengan senang hati menyambutnya seperti biasa. “Malam vokalist ganteng.” goda Raya. Doni memang punya suara yang sangat bagus. Satu kampus juga tau itu. Raya bahkan pernah bilang kalau Doni sebenarnya salah jurusan. “Kenapa kamu nggak kuliah seni, biar bisa ngembangin bakat kamu itu.” tanya Raya satu waktu. “Nyanyi dan musik itu Cuma hobby. Selain musik, interest aku ya di sini, Ilmu Hukum.” “Cieee… nanti kalau aku tertimpa masalah hukum, kamu aku tunjuk jadi pengacaranya. tapi jangan mahal-mahal lho bayarannya.” Canda Raya. “Buat kamu gratis deh. Lagian apa sih yang nggak buat kamu Ray?” “tapi kalau kamu jadi artist, aku pasti dukung kamu seratus persen. Bahkan aku bersedia jadi Manajer kamu, siapa tau juga nanti aku bisa populer. hahaha.” “Yee, bilang aja kamu yang pingin jadi artis.” Mereka pun tertawa bersamaan.

“Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu Ray” lamunan Raya pun terputus mendengar suara Doni. “Ngomong aja kali.” Balas raya. Doni masih asing sejak tadi siang, tapi Raya berusaha cuek. “Mungkin Cuma perasaan aku aja.” Batin raya mencoba menghibur. tapi bukannya ngomong, Doni malah petik gitar sambil menyanyikan sebuah lagu.

Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karna dia karna dia begitu indah

“Gimana? Bagus nggak?” Doni menyanyikan salah satu lagu Padi, Group Band favoritnya. “Bagus donk. Doni gitu loh.” Raya ngomong begitu sambil mengacungkan jempol. “Terima kasih” ucap Doni pelan. “Btw, gimana kabar pujaan hati kamu? “Dia baik.” “Dia sering ngasih kabar atau nanyain kabar kamu?” Tanya Doni lagi. “Sering donk. Heiii, kamu kenapa sih?” Raya mulai resah. “Nggak kenapa-kenapa Ray. Rama beruntung ya punya cewek sebaik kamu.” Sampai sini Doni diam. “Memangnya kamu nggak merasa beruntung punya teman sebaik aku?” Raya masih tak terpengaruh, masih bercanda. “Seandainya aku kenal lebih dulu sama kamu. Atau seandainya kamu nggak pacaran sama dia.” “Kamu ngomong apa sih Don? Kamu nggak sakit kan?” Raya pura-pura memegang jidat Doni. “Lagu yang aku nyanyiin tadi itu buat kamu Ray. Aku menyayangimu lebih dari sahabat. Bukan cuma itu, aku juga cinta sama kamu Ray. Rasanya aku nggak bisa membiarkanmu dengan orang lain. Aku tau ini hampir mustahil Ray. Aku juga tau kalau kamu sangat sayang sama Rama. Maaf, aku mencintaimu Ray..”

Untuk pertama kalinya Raya merasa sangat kesepian di sini. Masih hampir gak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sahabat yang sangat disayanginya ternyata menaruh hati sama dia. Raya merasa tak tau harus berbuat apa. Tangisnya pun pecah.

Sejak saat itu Doni mulai menjauhi Raya. Semua berubah total. Tapi Raya tetap sayang sama Doni. Masih menganggapnya sahabat walaupun mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Selain bersama Indy, Raya lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Sesekali bergabung dengan teman-temannya yang lain, yang juga teman Doni. Mereka biasaya hanya bertemu di situ. Aktivitas yang padat membuat Raya perlahan mulai terbiasa. Saat-saat seperti ini dia semakin sering merindukan Rama. Tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi “Halo…” Suara di sana. “Kebetulan banget kamu nelpon. Aku baru mikirin kamu loh.” Balas raya. “Masa sih? Aku kangen banget sama kamu Raya sayang.” “Sama donk. Aku berkali-kali lipat lebih kangen.” Balas Raya manja. “Bulan depan, aku rencana mau pulang ke kamu Ray. Kebetulan aku punya waktu libur yang cukup banyak. Pingin banget segera ketemu sama kamu.”
Cukup lama mereka berbicara di telepon. Mencurahkan perasaan rindu masing-masing. Raya meraih photo Rama. Menatapnya dalam-dalam. Kangennya sudah sampai ke ubun-ubun. “satu bulan lagi. Sabar…” Batin raya. Dia sudah membayangkan seperti apa pertemuannya nanti. Raya mendekap photo Rama di dadanya hingga akhirnya dia tertidur.

Raya sedang dalam perjalanan ke kampus untuk mencari referensi tugas dari salah satu dosennya. Tiba-tiba Doni menghampirinya. Raya kaget tapi juga senang bukan main. “Apa kabar Ray?” sapa Doni. “Tak pernah lebih baik dari ini.” Jawab Raya. “o ya? Boleh tau kenapa?” “Aku senang melihat kamu di sini dan yang lebih penting lagi sebentar lagi Rama akan pulang. Dia akan di sini dalam waktu yang cukup lama.” Raya cerita panjang lebar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Doni sebenarnya tak kaget. Raya memang selalu antusias jika sudah menyangkut pujaan hatinya itu. Doni rasanya seperti menelan pil pahit. Doni pun tak tahu sampai kapan nama Raya akan ada di hatinya. Belum ada satu pun cewek yang mampu menggeser posisi Raya di hatinya walaupun bagi Raya sendiri dia adalah sahabat.
“Maafkan aku Ray. Semua ini juga terjadi di luar dugaanku. Sama seperti kecelakaan itu. Aku janji akan selalu menyayangimu Ray.Aku gak akan lupain kamu. Kita akan tetap komunikasi” “Jangan ucapkan janji Ram. Aku takut mendengarnya.” Raya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Rama. “Aku tau aku salah Ray. Tapi aku benar-benar sayang sama kamu. Maafkan aku Ray.”

Kejadiannya begitu cepat. Sehari setelah menelepon Raya, mengabari rencana kepulangannya, Rama mengalami kecelakaan. Rama menderita luka cukup serius. Selama dirawat di Rumah Sakit, dia berkenalan dengan seorang perawat yang sangat banyak membantunya. Nadia, gadis yang sangat cantik yang dengan tulus dan setia merawat Rama hingga Rama benar-benar sembuh. Raya pun tak tahu bagaimana kejadiannya hingga akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta. Ironis memang. Waktu empat tahun terkalahkan oleh waktu yang hanya dua bulan.

Tempias air hujan dari jendela menyadarkannya bahwa ia kini sendiri, Jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Raya mengamati dua buah kartu ucapan ulang tahun yang terletak di meja. Satu untuk Rama, dan satu lagi untuk Doni. Mereka berdua memang memiliki tanggal lahir yang hampir sama. Rama 16 mei, sedangkan Doni 17 Mei. Tak ada yang berubah sejak mereka bertiga berpisah. Raya tak pernah lupa mengucapkan dan mengirimkan kartu ucapan ulang tahun untuk dua pria yang sangat disayanginya itu. pria yang mengajarkan banyak hal baginya, memberinya kebahagiaan, kesedihan, juga kekuatan walaupun kekuatan itu seolah dipersiapkan untuk prahara yang mereka berdua ciptakan sendiri untuknya.

Cerpen Karangan: Lila
Facebook: lila harahap

Cerpen Aku, Sahabatku dan Pacarku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekali Sahabat, Tetap Sahabat

Oleh:
Hari ini, seperti biasa aku pergi ke sekolah bersama Dewi, sahabat baruku. Ya, sejak beberapa tahun belakangan ini aku dan dia mulai dekat. Walaupun dulu aku dan dia adalah

Ini Tentangmu (First Love)

Oleh:
Bertahun sudah, cinta Kira-kira hampir 4 tahun berlalu tanpa sapaan lembutnya lagi. Kesalahan atau memang aku yang salah, entahlah.. Sejelasnya aku hanya bisa bersembunyi di dalam kepalsuan yang ada.

Perpisahan yang Membuatku Trauma

Oleh:
Sewaktu itu pertemuan yang sangat singkat, Tepat pertama di dalam percakapan handphone aku dan si pacar heru akbar saling berkomunikasi, tidak ada yang tau kalau nantinya akan menjadi keributan.

Unconditional (Part 3)

Oleh:
Sesunggunya, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah karena kehilangan yang tiba-tiba. Seperti halnya seorang perok*k yang dipaksa berpisah dengan rok*knya. Atau pecandu nark*ba yang suplainya dihentikan tiba-tiba oleh

Kamulah Cerita Terindahku

Oleh:
“Huh..!” Sonya mendengus kesal. Wajah ovalnya nampak muram. Aku yang duduk agak jauh darinya bangkit dan mendekatinya. “Minum..!” tawarku sambil memberinya sekaleng minuman dingin. “Sebenarnya berapa lama sih proses

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Aku, Sahabatku dan Pacarku”

  1. vinna dwi says:

    Terlalu cepet alurnya, jadi kurang ngefeel 🙂 #justsaran 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *