Alif Sekolah Baru, Teman Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 January 2016

Sebuah handphone di atas sebuah meja lampu tidur terus berulang berbunyi dengan kerasnya, untuk membangunkan pemiliknya yang masih tidur dengan lelapnya di dalam selimut. Tetapi, tetap saja tidak berhasil, karena pemiliknya justru semakin tidur dengan lelap. Hingga, ada seorang wanita yang menghampiri handphone itu dan langsung mematikannya.

“A…li..ffff!” teriak Mak Evi nama wanita itu sambil menarik selimut anaknya yang spontan membuka kedua matanya dengan terkejut. Tetapi, itu hanya berlangsung 2 detik, karena setelah itu dia kembali menutup kedua matanya dan tidur.

“A…li..ffff!” tambah Mak Evi begitu kesal dan langsung menarik telinga Alif untuk bangkit dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. “aduh Mak.. sakit!” rintih Alif manja. “kamu pikir sekarang itu sudah jam berapa?!”
“mana Alif tahu Mak, Alif aja enggak kepikiran.” jawab Alif polos.
“kamu itu ya, ja..wab aja!” sewot Mak Evi langsung menguatkan tarikannya pada telinga Alif.
“aduh Mak.. sakit! Lagian tadi Emak kan tanya, ya Alif jawablah.”

“udah cepetan kamu mandi, nanti terlambat pula kamu ke sekolahnya!” Mak Evi langsung melepaskan telinga Alif.
“santai aja napa Mak, Alif kan murid baru di sana, maksudnya baru mau masuk. Jadi kalau terlambat, paling juga enggak dihukum.” Alif tertawa kecil.
“apa kamu bilang?!” Mak Evi berkecak pinggang. “iya Mak, iya.” Alif secepatnya berlari memasuki kamar mandi.
“oh ya Mak, Ayah udah berangkat kerja ya Mak?”
“ya udahlah dari tadi, enggak kayak kamu, tukang BANGKONG!”
“hmm.” bibir Alif merapat mendengar ucapan Emaknya.

Selesai sarapan dengan jagung rebus dan segelas susu, Alif bergegas berpamitan kepada Emaknya untuk berangkat ke sekolahnya. “Alif berangkat ya Mak, assalamualaikum.” ucap Alif sambil mencium punggung tangan kanan Mak Evi dan langsung menaiki sepedanya yang ada di teras rumahnya.
“waalaikumussalam.. hati-hati ya!” balas Mak Evi tersenyum. Alif turut tersenyum membalas Emaknya dan bergegas pergi. Di tengah perjalanan, Alif terhenti saat melihat seorang siswa SMA yang berseragam sama dengannya, berdiri di pinggir jalan, sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya.

“butuh tumpangan? Sepertinya kita satu sekolah.” ajak Alif.
“sungguh?” tanya Kiki nama Siswa itu sedikit ragu.
“iya, ayo!”
“sepertinya aku belum pernah melihatmu, kamu murid baru ya?” tebak Kiki saat mereka di perjalanan.
“kamu tahu aja.” spontan Alif tersenyum.
“namaku Kiki, namamu siapa?”
“namaku Alif.”
“oh, Alif. Terima kasih ya Lif, karena mau memberiku tumpangan.”
“iya.”

Sesampainya di sekolah, Slif bergegas menuju kantor Guru ditemani Kiki. “Aku ke kelas ya Lif, sekali lagi terima kasih ya.” Kiki bergegas menuju kelasnya. “iya, sama-sama!” Tidak lama kemudian, bel tanda masuk KBM pun berbunyi. Seluruh murid bergegas memasuki kelas mereka masing-masing. Termasuk Alif yang turut berjalan menuju kelasnya mengikuti Pak Yogi selaku Wali kelasnya, sekaligus Guru mata pelajaran Matematikanya.

“kelasku XI IPS 2.” gumam Alif sambil menarik napas panjang.
“assalamualaikum.” Pak Yogi perlahan memasuki kelasnya yang langsung dijawab oleh semua muridnya.
“Alif!” panggil Kiki spontan melambaikan tangannya. Spontan Alif tersenyum mengetahui kalau ternyata ia satu kelas dengan Kiki. “anak-anak, hari ini kelas kita kedatangan Siswa baru, ayo perkenalkan namamu!” pinta Pak Yogi sambil memukul pelan pundak Alif. “nama saya Muhammad Alif, biasa dipanggil Alif. Saya pindahan dari salah satu SMA Negeri di Surabaya.” jelas Alif sambil tersenyum manis kepada semua teman barunya.

Ketika itu ada seorang siswi berambut kuncir satu yang terpaku melihatnya. “kamu sekarang boleh duduk Lif, ada dua bangku kosong di sana.” pinta Pak Yogi. Dela nama siswi berkuncir satu itu spontan mengelap bangku kosong di sebelahnya yang berdebu itu dengan tisu. Kebetulan Kiki juga duduk sendirian, tanpa pikir panjang, Alif pun langsung duduk di sebelahnya. Mengetahui hal itu, Dela langsung menggenggam tisu itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

“Anak-anak, sekarang buka buku paket kalian halaman 60!” seru Pak Yogi memulai mata pelajarannya.
“baik Pak.” balas mereka bersamaan. Kecuali Alif yang tidak memiliki buku tersebut. Sengan cepat, Kiki pun meletakkan buku paketnya di tengah meja mereka, agar Alif bisa melihatnya.
“terima kasih.” bisik Alif tersenyum. “iya.” balas Kiki turut tersenyum. Enam jam telah berlalu, bel tanda waktu pulang sekolah pun berbunyi dengan nyaringnya.

“Ki, pulang bareng yuk.” ajak Alif.
“ha?” Kiki terkejut. “kenapa?” Alif bingung.
“baru kali ini ada orang yang ngajak pulang bareng aku, aku jadi terharu.”
“oh, aku kira kenapa.” Alif tertawa geli.
“kalau begitu ayo!” dengan bersemangat Kiki Langsung merangkul pundak Alif bersama-sama ke luar dari kelas menuju tempat parkir.

“rumah kamu di mana Ki?” tanya Alif saat di dalam perjalanan.
“di Desa Selemak.”
“ternyata kita satu Desa toh! Baguslah.” tanggap Alif mempercepat mengayuh pedal sepedanya. Karena jarak antara sekolah dengan tempat tinggal mereka tidak begitu jauh, Alif pun dengan cepat sampai di depan rumah Kiki yang tak jauh dari rumah Alif. “terima kasih Lif!”
“iya!” Alif pun bergegas menuju rumahnya.
“sekolah baru, teman juga baru.” ucap Alif dalam hati sembari tersenyum simpul.

Cerpen Karangan: Siti Rahmi Intan
Facebook: Siti Rahmi Intan

Cerpen Alif Sekolah Baru, Teman Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Disangka

Oleh:
Kak Aga terus saja menyetir mobilnya. Tentu saja akan mengetahui kemana kak Martha pergi. Dengan kecepatan sedang, laju mobil mulai berhenti. Tiba-lah di suatu tempat untuk minum minum gitu

Terlanjur Pede

Oleh:
Kring.. “Halo..” “Malam sis Nadia, belum tidur kan? Ada kabar terbaru nih tentang si ganteng Anton. Anak baru yang wajahnya mirip Lee Min Hoo itu lo? Ternyata rumahnya sebelahan

Bad Day

Oleh:
“08.17.” “Arrgghh!!! Aku telat!!!” teriakku keras saat melihat jam di handphoneku. Teriak-teriak gak jelas sambil memakai baju, mulutku terus mengoceh kesal. Dan kali ini aku ke kampus tanpa make

Akhir Dari Penantian (Part 2)

Oleh:
Ku pegang ucapan Kak Yayat, ku jadikan dia sebagai kakakku. Ku anggap dia sebagai abangku. Walaupun tidak berarti aku melupakan Kak Raka. Semua ku jalani dan hal hasil, lambat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *