Andai Aku Bukan Sniper

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

“Setiap hari, aku selalu berhadapan dengan senjata. Eits, jangan salah sangka. Aku bukanlah tentara maupun teroris. Aku ini seorang sniper atau penembak jitu. Well, seperti yang kau tahu, penyesalan itu selalu datang belakangan. Inilah penyesalan yang aku alami dan membuatku berpikir: kenapa aku memilih pekerjaan sebagai sniper? Andai aku bukan sniper”

Perkenalkan, namaku Wildan. Tapi, para hatersku memanggilku dengan sebutan William. Kalian panggil aku Wildan saja, biar gak ribet panggil William.
Oh, ya. Aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku yang menyedihkan sekaligus menyebalkan sepanjang hidupku. Ini kisah masa laluku yakni tiga bulan yang lalu. So, silahkan dengarkan dan jangan kabur, ya.

Dahulu, aku punya sahabat sejati sejak kecil yang bernama Farel. Tapi sayangnya, sekarang Farel sudah meninggal. Atau, kalian lebih pantas menyebutnya tewas. Farel tewas saat sebuah timah panas menembus jantungnya. Kasihan si Farel, dia tewas karena ditembak seseorang. Cerita kali ini berhubungan dengan Farel, jadi dengarkan baik-baik, ya.

Siang itu, aku sedang menonton kaset film Twilight di DVD player. Tiba-tiba, handphoneku berdering keras, sangat memekakkan telingaku. Suara ringtone yang kupasang menjadi lagu rock itu sangat mengganggu. Aku pun mengangkat telepon dari seseorang itu. Tidak ada namanya, sih, hanya nomor saja.

“Ya, halo? Bisa bicara dengan siapa?” tanyaku.
“Oh, halo, Wildan. Ini Arif, teman baikmu. Kau sudah lihat berita, belum? Teman kerjaku, si cewek bawel Rani dijambret orang jahat hari ini. Katanya, orang itu sudah melakukkan tindak kriminal yakni pembunuhan, penjambretan, pencurian, dan perampokan 37 kali. Dan parahnya, saat masih remaja dia adalah anggota geng motor, Wil,” kata temanku yang bernama Arif itu.
“Waduh, mengerikan sekali. Rani kan, juga temanku. Kau udah lapor polisi, belum?” sahutku.
“Sudah lapor polisi, tapi si penjahatnya lari. Sudahlah, Wil, aku lagi lembur. Nanti saja lagi, ya,” kata Arif sambil menutup teleponnya. Aku pun menaruh handphone di atas sofa yang aku tiduri sekarang.

Bosan sekali nonton aksi vampir dan werewolf ini. Lebih baik nonton berita di televisi saja. AKu mematikan DVD dan menyalakan berita. Oh, tidak. Berita sedang menyiarkan kasus yang sama sepertii yang dikatakan Arif barusan.
Kasus penjambretan tas seorang wanita bernama Rani. Aku tahu siapa pelakunya. Well, mereka tidak pernah mempublikasikan identitasnya atau namanya. Mereka memanggilnya sebagai Crime Guy. Aku berharap dia segera dipenjara. Seperti yang tadi Arif bilang, Crime Guy sudah melakukkan banyak tindak kejahatan.

Keesokan harinya, aku berjalan untuk menemui Arif. Tapi sayangnya, Arif tidak ditemukan. Tiba-tiba, semua papan reklame dan televisi jalanan menyiarkan gambar dan berita yang sama.
“CRIME GUY YANG KEJAM SUDAH DITANGKAP POLISI!”
Sontak semua warga berteriak keras. Aku tersenyum bahagia. Aku benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi!

Keesokan harinya, papan reklame dan televisi jalanan kembali menyiarkan berita bahagia baru.
“CRIME GUY YANG KEJAM SEDANG DISIDANG!”
Oh, Tuhan, ini benar-benar hari yang bahagia bagiku.

Keesokan harinya lagi…
“CRIME GUY YANG KEJAM MENGAKUI KESALAHANNYA DAN IA DIHUKUM DI PENJARA!”

Yes, kota ini akan tenang sekarang! Aku benar-benar berterima kasih kepada polisi yang telah menangkap si kejam pembuat onar yang mengerikan. Tapi, aku ingin berbagi kesenangan ini dengan Arif. Di mana dia sekarang? Dari kemarin dia tak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Oh, ya. Ini ceritaku, jadi Farel masih hidup, dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi sejak bertahun-tahun.

Dan keesokan harinya lagi…
“CRIME GUY YANG KEJAM DIJATUHI HUKUMAN TEMBAK!”

Sepertinya aku yang harus ditugaskan, nih. Sepertinya, si kejam itu tinggal menghitung hari. Seminggu kemudian, ajalnya akan menjemput. Aku mendengar kabar jika Crime Guy selalu menangis di dalam penjaranya. Dia selalu dibentak oleh penjaga. Juga ia selalu ingin melarikan diri.
Berkali-kali ia masuk ke dalam kantor sipir penjara yang diketahui masih muda. Mungkin, umurnya lebih muda dariku. Yeah, Crime Guy menghadapi sipir itu seperti menghadapi kepala sekolah. Bahkan konyolnya, ia sering memanggil sipir itu dengan sebutan “Headmaster” yang artinya kepala sekolah.
Sepertinya, dia benar-benar berbuat onar di penjara dan berontak minta keluar saat tinggal menghitung hari. Crime Guy bahkan mengaku jika ia tidak bersalah sama sekali. Huh, kebohongan macam apa itu?

Seminggu kemudian, aku berdiri di lapangan bersama sembilan rekanku yang lainnya. Aku memakai seragam khusus sambil membawa senapan. Sepertinya, peluru akan ada di senapan orang yang beruntung untuk membunuh kriminal itu.

Crime Guy ditutup matanya.
Satu… Dua… Tiga…
DOR!
Ia ambruk seketika saat peluru itu bersarang di jantungnya. Siapa yang beruntung memiliki peluru itu dalam senapannya?
Aku. Aku yang menembaknya. Aku telah selesai menjalankan tugas.

Keesokan harinya…
“CRIME GUY YANG KEJAM TELAH DIEKSEKUSI MATI!”
Whoa, semua warga kegirangan. Aku merasa sangat puas.

Keesokan harinya lagi, aku mendapat seorang tamu di rumahku.
“Arif? Dari mana saja kau?” tanyaku. Oh, ternyata itu Arif. Ia tampak menyeret karung berat yang panjang.
“Hai, Wildan. Sepertinya pelurumu salah sasaran. Kau tidak menembak kriminal itu. Itu Crime Guy yang kufitnah. Crime Guy yang sebenarnya adalah… Aku,” kata Arif. Aku sangat kaget. Apa? Arif mengeluarkan isi karungnya itu. Itu adalah orang yang kutembak kemarin. Dan aku begitu terkejut melihatnya karena itu adalah…
Farel.

“Tidak… Farel… Tidak. Maafkan aku, Farel, maafkan aku! Farel… Farel… Maaf…” kataku dengan penuh penyesalan. Senyuman manis masih terukir di bibirnya. Aku duduk di depan jasad Farel sambil menangisinya.
“Farel… Maafkan aku, Rel. Maafkan aku, tolonglah… Huhuhu… Andai aku bukan sniper, andai aku bukan sniper…” ratapku. Arif menyeringai. Ia mengacungkan pistol padaku.

“Dah, Wildan. Berbahagialah bersama Farel di Surga…”
DOR!

TAMAT

Cerpen Karangan: Sukmaning Tami Oetari Nugroho
Facebook: Sukmaning Tami Oetari Nugroho

Cerpen Andai Aku Bukan Sniper merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Swimming With My Friend

Oleh:
Pagi yang cerah, aku terbangun dari tidur nyenyakku. “Hoamm…” aku menguap dengan lebar. Sekarang, sudah pukul 05.00. Aku berwudhu kemudian segera sholat subuh. Setelah sholat, aku mandi dan memakai

Maafkan Aku Anggi

Oleh:
“Aku suka sama kamu” kata Anggi. “Apa? Kamu suka sama aku? Pikir deh! Kamu itu gendut! Mana mau aku sama kamu!” bentak adi. Dia sebenarnya gadis yang baik, cantik

Maafkan Aku

Oleh:
Tak terasa sudah liburan semester. Aku dan keluarga berencana liburan ke pantai Pelabuan Ratu. Hari berlibur pun tiba, kami segera berkemas-kemas untuk pergi ke pantai. Terjadi keributan kecil ketika

Sahabatku

Oleh:
Namaku Alya Vanissa. Cukup panggil Alya saja. Aku tinggal di London enam bulan terakhir ini. Setahun penuh, Aku akan menempuh pendidikan di negeri big ben ini. “Morning Farah!!” sapaku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *