Antara Kebersamaan dan Bulu Ketek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 April 2013

Semenjak gue ngontrak bareng sama tiga teman gue yang ga karuan jalan hidupnya, di situlah gue mulai ketularan gaya hidup yang aneh bin seglek. Yah, awalnya sih hidup gue lurus kayak jembatan sirotol mustakim. Menjalani hidup dengan apa adanya, ga neko-neko, dan ga punya kebiasaan yang aneh-aneh. Namun, paradigma itu berubah saat gue dan mereka membangun rumah tangga bersama di sebuah kontrakan. Berubah gimana, Tar? Oke… Sebelum gue jawab pertanyaan kalian. Gue mau kasih tau dulu ke lo, kenapa tuh tiga spesies bisa nyusruk di kontrakan gue.

Yang pertama Idham. Idham adalah seorang pemuda yang memiliki semangat kerja yang tinggi. Tak kenal lelah menjaga kampung Bojong pagi, siang, sore, dan malam. Seragam hijau kebanggaannya pun tak pernah ia lepas. Hingga saat isu kolor ijo mewabah di kampung ini dan banyaknya anak gadis yang diperawani, sementara Idham sebagai keamanan tak bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Yah, akhirnya Idham di pecat sama pak RT. Malah yang lebih gila lagi Idham yang di tuduh sebagai kolor Ijo. Sampai-sampai pak RT ngecek dengan melucuti pakaian hansipnya untuk membuktikan apakah kolor yang dipakai Idham berwarna hijau atau tidak. Dan ternyata, label kolor ijo tak pantas baginya. Karena setelah pak RT melucuti pakaiannya, ternyata ia memakai kolor berwarna pink dan bercorak Angry Bird. Cuma satu yang jadi perkiraan gue. Si Idham pakai kolor berwarna pink dan bercorak Angry Bird, biar kelihatan maco atau terlihat cuco? Hadoh, Idham Idham… *Geleng-geleng kepala.

Sepertinya angry bird telah menyelamatkan hidupmu, nak. Haha. Nah, setelah Idham kehilangan pekerjaannya dan ga kuat lagi bayar kontrakan. Datanglah Idham kekontrakan gue. Dia mau numpang hidup sementara di kontrakan gue.

“Assalammualaikum, Tar…” Salam Idham di depan pintu kontrakan

“Waalaikumussalam.” Jawab gue sembari membukakan pintu.

“Eh elu, Dham. Lho kok lo cuma pake kolor? Hahaha mau ronsen lo? Ini bukan rumah sakit, bro. Haha”. Tukas gue ngakak.

“Ahh parah lo. Temen lagi kesusahan gini malah lo katain.”

“Lah, siapa yang ngatain? Kan gue cuma bertanya…”

“Udah ah, cepetan gue mau masuk !” Idham kesal sambil cemberut kayak tikus got yang keilangan anaknya.

“Iye… iye… Masuk dah!” Gue menyilakan Idham masuk ke rumah dan membuatkannya beberapa hidangan anak kontrakan.

Ada perbuatan aneh yang bikin gue geli sama Idham waktu pertama kali dia mengutarakan tujuannya datang ke kontrakan gue. Masa pas gue nyediain makanan ala anak kontrakan, dia tuh nungguin gue sambil ngupil. Lah, emang kalau ngupil kenapa, Tar? Yah, gue sih bukan masalahin upilnya ya. Tapi yang membuat gue geli dan ilfil adalah upilnya itu di taro di ketek. Udah gitu setelah di taro di ketek, keteknya tuh di gerak-gerakin gitu. Oh mungkin buat makan malam kali yaa. Jadi, hidangan makan malamnya itu, “Upil Rasa Ketek”. Ihhhhhhhh.

Gue ga berani bertanya ke Idham tentang kebiasaannya. Jadi, gue biarin aja kebiasaan dia yang selalu begitu. Nah, itu Idham, gan. Ada lagi si Farhan. Latar belakang dia bermuara ke kontrakan gue sangat berbeda dengan Idham.

Farhan sebenarnya adalah anak yang rajin. Ia selalu membantu orang tua di setiap kesempatan. Bahkan di antara kita berempat, dia adalah anak yang paling berbakti kepada orang tua. Malah kadang-kadang gue suka iri sendiri melihat sikap dan sifat teman gue yang satu ini.

Namun, kerajinan tersebut yang justru menjadi bumerang bagi dirinya. Saat dia mencoba membantu bapaknya yang sedang memancing di sebuah sungai, kesalah-pahaman terjadi. Sang bapak minta tolong kepada Farhan untuk mendorong pancingannya. Ehh, Farhan malah salah tangkap. Dia malah mendorong bapaknya ke sungai. Yaelah Farhan… Farhan.

“Farhan, tolong bapak dorong. Ikannya banyak, nih.” Ujar sang bapak

“Oke, pak.” Jawab Farhan sembari mendorong bapaknya ke sungai

“byuuuur” Percikan air sungai muncrat seketika saat sang bapak jatuh ke sungai.

“Anak kurang ajar, ga punya pendidikan! Masa gue, lo ceburin ke sungai. Gue sumpahin lo, jadi orang ganteng seumur hidup!” Ucapnya dengan omelan

“Maaf, pak. Tadi kan bapak nyuruh Farhan dorong. Yah, kan udah Farhan dorong, pak.” Pungkasnya mengeles dari kesalahan.

“Anak epleng! Maksud gue, lo dorong pancingannya, keplek! Pergi lo dari hadapan gue!” Mempertegas amarah.

Setelah kejadian itu, Farhan takut pulang ke rumah. Ia takut akan sang bapak yang garang. Akhirnya, dia ke kontrakan gue, dah.

“Assalammu’alaikum, Tar” Farhan salam di depan pintu

“Wa’alaikumussalam.” Jawab gue sambil membukakan pintu.

“Tara…” Dia langsung meluk gue sambil nyium pipi kanan kiri

Ihhhhh… Gue sebenarnya geli ngerasain ini. Tapi mau gimana lagi. Kejadian itu tak gue duga dan seketika terjadi.

“Ngapa sih, lu?” Tanya gue penasaran

“Gue di usir sama orang tua gue.” Ujarnya sambil mewek

“Kok bisa di usir?” Tanya gue kembali

“Udah nanti gue ceritain. Suruh masuk kek gue!” Pungkasnya kesal

“Oh iya… hehe sorry bro gue lupa. Ayo masuk.” Ajak gue menyilakan.

Masuklah gue bersama teman gue ini. Pas gue dan Farhan pengen nempelin pantat di kursi. Tiba-tiba ada suara salam dari depan pintu. Pas gue keluar dan melihat siapa orang yang mengucapkan salam itu. ternyata si Idham dan Miftah. Gue melihat mereka bergandengan kayak orang pacaran. Ihhh jangan-jangan mereka…

“Eh, lo berdua.” Sapa gue ramah

“Iya nih, Tar. Si Miftah katanya pengen tinggal di tempat lo sementara.”

“Lah, emang kenapa, Mif? Bukannya harusnya lo di asrama, ya? Tanya gue

“iya, Tar. Gue ketauan ngambil makanan lebih sama Ibu asrama. Jadinya gue diusir, dah.” Tukas Miftah merana

Yaelah… Orang mah diusir dari asrama yang kerenan dikit kek. Misalnya gara-gara nyolong penggorengan. Atau gara-gara ketauan pacaran kek. Lah, ini mah malah gara-gara nyolong makanan. Ga berkelas banget sih.

“Udeh lo pada masuk, dah! Di dalem juga ada Farhan, kok.” Suruh gue tanpa berbasa-basi

Itulah yang melatar-belakangi kenapa mereka pada nyusruk ke kontrakan gue. Yah, gue sih fine aja mereka pada ngupyak di sini. Asalkan mereka pada tau diri. Dan yang paling penting masalah makanan, listrik, dan bayar kontrakan harus kompak.

Sehari, dua hari, tiga hari sampai sebulan gue udah mulai menemukan kejanggalan dalam diri gue. Kejanggalan apa, Tar? Iya, kok selama mereka tinggal di kontrakan gue, bulu ketek gue jadi gundul. Dari situlah gue mulai curiga. Apa yang mereka lakukan saat gue tidur? Soalnya di antara kita berempat yang selalu lebih awal tidur, itu gue. Hingga pada suatu malam, gue mau membuktikan apa yang mereka lakukan pada ketek gue saat gue tidur. Gue pura-pura merem aja. Dan terbukti, ternyata selama gue tidur mereka nyabutin bulu ketek gue. Idih alah…!

“Ohh, ternyata ini yang kalian lakukan selama ini… Gak nyangka gue sama lo pada. Kenapa cuma bulu ketek? Ga sekalian aja bulu yang lainnya lo cabutin. Uppsss !” Tukas gue memergoki.

“Terus kalau bulu ketek gue abis karena lo cabutin, lo mau nyabutin apalagi? Hah? Kulit ketek gue? Lagian gue heran sama lo semua, hobi banget nyabutin bulu ketek orang.” Gue berujar kembali sembari memperlihatkan amarah yang meledak-ledak di tengah malam.

“Abisannya lo kalau tidur, kasur lo makan sendiri, sih! Kita ga kebagian lapak, coy. Yaudah, kita cabutin aja bulu ketek lo semuanya. Emang enak enggak punya bulu ketek? Nih, kayak gue dong, bulu keteknya masih utuh.” Jelas Idham sembari ngangkat tangan.

“Yups, punya gue juga masih utuh, malah sekarang udah panjang.” Dukung Farhan dengan mengangkat tangannya juga.

“Wih gila! Punya lo panjang, sob! Keren !” Miftah ngusap-ngusap ketek Farhan.

“Siapa dulu dong… Farhan gitu lho…!” Farhan balas usapan Miftah.

“Woy… Gue juga mau ikutan dong usap-usapan keteksama lo pada.” Idham langsung mengusap ketek Farhan dan Miftah.

Wow!!! Tuh orang pada sinting kali ya. Sumpah! Kalau aja di kampung ini ada anak lain yang sepantaran sama gue, gue ogah temenan sama mereka. Bukan gue mau milih-milih teman, tapi mereka tuh joroknya minta ampun. Setelah saling usap bulu ketek, mereka pada gantian nyium ketek satu sama lain. Ih ! oeeeeekkkk!!! Parah banget, kan?

Cukup. Gue ga tahan liat aksi mereka yang di luar kebiasaan makhluk bumi pada umumnya. Bayangin aja, selama 10 menit berdiri dengan mata melotot dan mulut menganga, gue disuguhin aksi mereka yang banget-banget fenomenal: ngelus ketek – nyium – ketek- ngelus lagi – nyium lagi, mungkin begitu terus sampai kiamat. Emang apa enaknya sih nyium ketek orang lain? Ih! Perut gue kenapa lagi? Ah sialan! Mereka yang saling nyium ketek, kenapa gue yang mual-mual kayak cewek mau beranak. Hadoooh!

“Lo mau kemana, Tar?” Tanya Farhan setelah gue beranjak dari kasur.

“keluar.”

“Lah, kan udah tengah malem, Tar? Toko kolor juga udah pada tutup kali.” Miftah bertanya dengan menambahkan.

“Kolor? Wah jangan-jangan lo kolor ijo yang selama ini meresahkan masyarakat, ya? Idham curiga.

Siake tuh bocah. Udah pada numpang di kontrakan gue, sekarang segala pake nuduh gue kolor ijo lagi. Udah jelas-jelas gue pake kolor doraemon. Huuu dasar!

“Sialan lo! nuduh gue yang kaga-kaga.” Gue naik darah.

“Atau lo cemburu ya, melihat aksi kita bertiga? Udah ngaku aja, Tar. Hahaha.” Tukas Miftah sambil tertawa.

Kampret! Ngapain gue cemburu sama aksi sableng mereka. Gue malah enek tau ga. Pengen muntah tapi ga bisa muntah. Yang ada kayak orang bego yang lagi di atas kasur sambil mangap-mangap dengan lidah menjulur keluar. Ooeeekk ! mending kalau bulu ketek mereka bagus. Lah, ini mah bulu ketek pada keriting pake segala dipamerin. Gue aja yang tiap minggu rebonding bulu ketek ke salon, ga pake pamer, tuh. Terus gue juga masih heran, seheran herannya sama mereka. Gue aja yang duduk di kasur lima langkah dari mereka, kebauan. Tapi kok mereka malah pada nafsu banget saling mamerin bulu ketek masing-masing. Yaaa ampunnnn logika gue benar-benar ga bisa menerima aksi mereka yang aneh bin seglek itu.

Btw, whatever-lah… Mereka mau nyium ketek sampai kapanpun. Yang penting gue malam ini mau tidur dan lupain pemandangan kamsupay maksimal itu.

Cerpen Karangan: Tara Prayoga
Blog: taraprayogaipm.blogspot.com
Facebook: Tara Prayoga
Penulis bernama Tara Prayoga lahir pada 29 Agustus 1994 di Jakarta. Saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Pendidikan Agama Islam. Penulis beralamat di Jalan Benda Timur 1 Blok F37 No. 5 Desa Benda Baru, Pamulang-Tangerang Selatan. Kontak person bisa melalui nomor HP di 083873379838 atau Email : ipmawan.sejati@gmail.com

Cerpen Antara Kebersamaan dan Bulu Ketek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketentuan Sang Pencipta

Oleh:
“ibu kok nangis !” sapa Rizal yang melihat butiran embun di pipi sang ibunda. “ada apa bu ?” lanjutnya sambil mendekati ibunda yang duduk di dekat telepon. “apa ada

The Bright Star

Oleh:
“Apa? Azura Winata datang ke sekolah kita? Ke SMP N 1 Tenggarong?” Viola terkejut mendengar temannya itu berteriak dengan suaranya yang melengking sambil menatap BB nya dengan takjub. “Siapa?”

Keajaiban Saat Pesimis

Oleh:
Panasnya udara di dalam studio musik, tidak membuat band kami merasa malas berlatih. Apalagi, minggu depan ada lomba yang harus kami ikuti. Siapa tahu bisa menang dan maju ke

Sahabat Pena

Oleh:
Hari ini adalah hari minggu jadi aku bisa bangun siang, tapi tadi subuh aku sudah bangun untuk sholat subuh, terus setelah sholat subuh aku tidur lagi sampai jam 11

Dua Sahabat (Part 3)

Oleh:
“Mama, aku udah selesai makannya!, aku mau main laptop ya!” Teriak Nissa. “Nissa! Beresin dulu piring bekas kamu makan!” Balas mama Nissa. “Oh iya!” Nissa menepuk jidat dan kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Antara Kebersamaan dan Bulu Ketek”

  1. maera que says:

    ketawa smbl menhn rasa diperut, mual bnget,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *