Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 April 2017

Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling bodoh di dunia ini. Mungkin saat itu aku sedang dilanda emosi yang begitu hebat, sehingga lupa akan segalanya. Ya sudah tidak apa-apa, aku akan mengembalikan langsung ke rumahnya, toh rumahnya tak jauh dari rumahku.

“kiri, kiri” aku turun dari angkot, dan menelusuri sepanjang JL. Gagalur. Akhirnya aku menemukan rumah bermor 46 yang banyak ditumbuhi berbagai tanaman. Rasa takutku mulai hilang, karena kebaikan Rukov tadi. Aku mengetuk pintu, berharap orangtuanya atau pembantunya yang membukakan pintu. Semoga bukan Rukov yang membuka pintu.

“Excuse me, permisi, assalamualaikum, tok, tok, tok” aku mengetuk pintu kesekian kalinya, tapi tak ada respon.
“ya tunggu” terdengar suara laki-laki dari dalam, aku tahu suaranya, itu pasti Rukov. Dia membukakan pintu. Kulihat dia masih memakai seragam, ada yang aneh, bajunya tampak berantakan, rambut coklatnya juga terlihat tak karuan. Entah kenapa mukanya merah dan matanya seperti berkaca-kaca. Sepertinya dia habis marah karena kehilangan dompetnya. Aku mulai takut, ia marah karena kehilangan dompetnya dan kini dompetnya ada padaku. Aku berulang kali mengucapkan kalimat syahadat.
“kau… Bukankah kau Rifqi?” tanya Rukov.
“ya aku Rifqi, aku mengembalikan dompetmu, kau menaruh di kolong mejamu, aku menemukannya saat aku piket.” Aku menjelaskan apa yang terjadi, sembari menyerahkan dompetnya.
“oh, ya, terima kasih” Rukov mengambil dompetnya, diluar dugaanku ia tampak lebih bersahabat. Ia berterima kasih dengan senyuman kecil. Rukov tersenyum, sangat jarang orang Rusia menampakan senyumnya apalagi ke orang yang baru dikenalnya.
“mau susu atau teh?” tawar Rukov. Aku tak menyangka, dia menawariku minum teh, kini dia tampak bersahabat dan hangat.
“lain kali saja aku harus pulang, sampai jumpa Rukov.” Aku berpamitan.

Aku menaruh sepatu di rak sepatu dan mengganti baju di kamarku. Aku mendapat kiriman Email dari akun Google yang bernama rukovruzhakov, yang berisi lirik lagu Oy Da Ne Vecher yang akan kami nyanyikan besok. Tak kusangka aku langsung hapal bait pertama.
“Oiy da ne vecher, da ne vecher. Mne malym malo spalos,” aku bernyanyi kecil.

“Rifqi ada temanmu di luar,” ibuku berteriak, memecah nyanyianku.
“ya, tunggu bu, lagi pakai baju,” aku menjawab, dan pergi ke pintu depan.
“siapa bu?” tanyaku.
“ibu tidak kenal, katanya dia teman sekelasmu, dia menunggumu di luar,” jawab ibuku. Aku membuka pintu dan betapa terkejutnya aku melihat orang di depanku, Rukov.
“Rukov? Kau tahu rumahku?” tanyaku, aku membuat ekspresiku bahagia, walaupun aku sebenarnya sudah panik, Rukov sudah tahu rumahku!
“ya, semua tentang dirimu ada di HP-mu” jawab Rukov.
“oke, ayo masuk, mau susu atau teh?” tawarku. Rukov masuk, dia hanya tersenyum kecil. Kami masuk ke kamarku.

“ada urusan apa Rukov?” aku memulai topik pembicaraan.
“tidak, aku hanya berterima kasih kau mengembalikan dompetku. Aku tahu, pagi tadi kau yang menemukan dompetku, tapi aku malah menuduhmu mencurinya, itu karena aku depresi dan banyak tekanan” mukanya menjadi muram, ia menunduk.
“mungkin aku terlalu lancang kepadamu, tapi Arya sering mengadukan masalahnya padaku dan aku suka memberikan solusinya. Kalau kau tidak keberatan, kau boleh menceritakan masalahmu padaku, siapa tahu aku bisa memberikan solusinya,” tawarku. Rukov menunduk.
“mungkin kau termasuk orang yang bisa dipercaya” ujar Rukov. Aku tersenyum kecil lalu menengguk teh disusul dengan Rukov yang sepertinya haus.
“saat aku masih di Moskow, musim dingin aku habiskan dengan keluargaku, hanya di rumah tidak kemana-mana. Meneguk segelas coklat panas di dekat perapian, saat itu dinginnya udara di luar kalah dengan hangatnya kekeluargaan” Rukov mulai bercerita.
“saat musim gugur biasanya kami menginap di rumah nenek yang dekat dengan hutan. Setiap hari kami memancing dan mencari jamur untuk dimasak oleh ibu” mata Rukov mulai berkaca-kaca.
“namun tahun ini bukanlah musim gugur dan musim dingin yang baik. Ibuku meninggal 2 bulan yang lalu karena sakit keras. Kini aku tidak bisa berkemah di rumah nenek dan mengobrol di dekat perapian. Ayahku tidak mempedulikanku. Beberapa hari kemudian ayahku mendapat pekerjaan di Indonesia, aku dipaksa ikut bersamanya pindah ke luar negeri. Aku menolak, lebih baik aku tinggal bersama nenek dan kakekku. Aku dipaksa hingga diancam tidak akan diakui sebagai anaknya. Dan sekarang aku berada di sini, aku kesepian. Aku merasakan seolah aku hidup sendiri di bumi ini. Hingga terbersit dalam pikiranku untuk menyusul ibuku,” muka Rukov tampak memerah, sudah kutebak pasti ia sedang menahan tagis.
“aku berharap kau tidak melakukan itu,” pendapatku sederhana.
“aku mencoba melompat dari gedung sekolahku. Saat itu banyak orang yang berkumpul di dekat gedung sekolah, bahkan sampai ada petugas pemadam kebakaran. Tapi aku sangat sedih tak melihat ayahku disana. Akhirnya aku percobaan bunuh diriku dapat digagalkan oleh petugas pemadam kebakaran,”
“aku sangat kesepian di sini. Aku hanya hidup berdua bersama pembantuku, sementara ayahku tak pernah datang lagi, hanya uangnya saja yang tak terlambat datang. Aku tidak punya teman, aku tidak punya sahabat, aku tidak punya orang tua, aku tidak punya siapapun,” kali ini Rukov tidak bisa menahan air matanya, setetes demi setetes air mata mengalir.
“bahkan di hari pertamaku sekolah di sini, aku dituduh sebagai piskopat. Sebenarnya aku tidak seperti apa yang kalian bayangkan, aku hanya kesepian,” Rukov menunduk dan memejamkan matanya, mencoba untuk kesekian kalinya tak menangis.
“aku mengerti kondisimu, aku sangat prihatin terhadapmu. Lebih baik kau jalani saja hidup, kau harus menganggap detik ini menjadi perubahan dalam dirimu, hidupmu telah berubah tapi bukan berarti menjadi lebih buruk kau bisa membuatnya menjadi lebih baik,” aku memberi nasihatku.
Rukov membuka matanya, ia mengelap air matanya, ia menatapku dengan tatapan yang hangat dan bersahabat. Aku mendapat banyak pelajaran padanya. Begitu pahit hidupnya tapi ia tidak mau menangis di depan orang lain, kulihat dari tadi ia mencoba untuk tidak mengangis dan berusaha tegar.

“kau adalah sahabat pertamaku di sini,” ucapnya.
“kau keluargaku kini, silahkan berkunjung kapanpun,” aku membalasnya. Rukov hanya tersenyum.
“kau sudah hapal lagu kita?” Rukov berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“aku pasti hapal,” jawabku.
“mungkin ini sudah sore, aku pulang dulu. Sampai jumpa, sahabatku. Aku mau kau menerima ini,” Rukov pergi dan memberiku selembar kertas,

Aku membuka pintu ruangan BK (bimbingam konseling) yang rasanya sangat dingin. Tubuhku gemetar, aku sangat takut. Entah ada perihal apa guru BK memanggilku menghadap ke ruangan angkernya. Hanya ada dua kemungkinan jika kita dipanggil ke BK. Ditanya, biasanya untuk data diri, atau dituduh sebagai pelaku berbagai hal terlarang di sekolah ini, dan yang membuatku resah dari tadi karena minggu lalu aku sudah ke BK untuk mengisi data diri, jika kemungkinan satu mustahil maka kemungkinan dua, aku dituduh!!!

Aku mencoba mengigat apa saja yang kuprebuat selama seminggu ini, sepertinya tak ada hal yang aneh. Aku tidak pernah terlambat, tidak pernah dimarah guru, tidak pernah mencuri, tidak pernah berkelai, dan perilaku terlarangnya. Aku mempersiapkan mental untuk masuk ke tempat horror ini.

Decitan suara engsel pintu yang karatan membuatku semakin resah, dari sini aku bisa melihat ke dalam ada guru BK-ku, Bu Nina, dan juga Rukov, mereka hanya berdua tidak ada siapa-siapa lagi. Keringat dingin mula membasahi keningku. Aku berulang kali mengucapkan bismillah.

“assalamualaikum” aku masuk ke ruangan BK.
“kau Rifqi Herdandi kelas 9B?” tanya Bu Nina, aku hanya mengangguk.
“silahkan duduk. Temanmu Rukov, mempunyai masalah. Dia dituduh sebagai psikopat oleh teman-temannya karena sifatnya yang dingin dan tertutup. Sebenarnya dia bukan psikopat, dia hanya tertekan. Kau tahu siapa yang menuduhnya sebagai psikopat?” Bu Nina bertanya.
“Lisa bu, dia yang menuduhnya” jawabku. Aku lega ternyata ini bukan masalahku melainkan masalah pribadinya Rukov.
“emmm Lisa, ibu tahu sifatnya, memang begitu manusia, punya beragam sifat tapi mohon maklumkanlah mungkin memang seperti itu sifatnya,” jawab Bu Nina.
“jadi Rifqi kau beritahu Lisa jangan suka membeicarakan orang lain apalagi menuduhnya, nanti saat pelajaran ibu, ibu akan menasehatinya,”
“terima kasih bu” ucap Rukov.
“terima kasih juga bu” ujarku. Bu Nina hanya tersenyum melihat kami. Kami berdua memandang, kini masalah Rukov sudah selesai, ia bisa hidup damai di sini. Sementara aku mendapat berbagai pelajaran dari kisah hidup Rukov yang penuh dengan hambatan, namun ia tetap tegar. Betapa beruntungnya aku mendapat sahabat baru, walaupun dia aneh tapi aku tahu ia sangat baik, tapi tetap saja ia sangat dingin.

“Jika kita bisa masuk, pasti kita bisa keluar,”

Cerpen Karangan: Rifqi Herdandi
Blog: rifqistudyblog
Suka menulis sejak SMP. Mengidolakan Andrea Hirata. Bercita-cita menjado penulis atau novelis. Lahir, besar, dan tinggal di Kota Bogor. Oh ya, nanti siapapun yang berkomentar dibawah, namanya akan digunakan sebagai nama tokoh di cerpen berikutnya. Tapi harus ikhlas, dipakai peran antagonis ataupun protagonis.

Cerpen Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah Aku Kesepian?

Oleh:
Di pagi hari seperti biasanya aku pergi ke sekolah dengan mengendarai sepedaku. Ngomong ngomong namaku Pandu, saat ini aku kelas 3 SMA dan selama aku di SMA aku tidak

Jantung Imitasi

Oleh:
Violeta Aurora, adalah gadis yang sangat baik dan pintar. Dia adalah temanku, Viola yang dianugerahi kecantikan dan sebuah bakat kecil sebagai pemain biola. Pribadinya sangat halus serta begitu pemalu.

LOVE

Oleh:
“Wuiiih siapa itu, Ay?” “Siapa? siapa?” Gaby dan Aurel mendorongku, Shalin memepetku. “Aduuh, Edric sama siapa itu?” “Shal, jangan jadi kompor, ya..” kata Gaby. “Udahlah biarin.” Kataku kembali membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)”

  1. Reni Septianingsih says:

    Cerpennya bagus kak,jadi kebawa suasana pas baca cerpen ini. Aku kira rukhov itu psikopat beneran,dan ternyata bukan psikopat. Bikin deg-degan banget…

  2. zarasyifa says:

    Cerpennya bagus banget kak, bacanya sampe seirus banget

  3. Keren abiss, kukira dugaan lisa bener, eh ternyata enggak…

  4. RahmaDwi24 says:

    CerpenNya is a Good,,Aku suka sama ceritanya.Keren! Jarang” cerpen bawa orng Rusia. Klo bisa yha Cerpen selanjutnya pke orng Prancis~Hehehe,,,itu klo gx keberatan:-). Buat Penulis? Mangat trus yaakk buat bikin karyanya^^.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *