Arti Sahabat

Judul Cerpen Arti Sahabat
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 September 2013

Bastian singkap kembali tabir ingatannya. Cacha. Manis nama itu, semanis orangnya. Dialah kawan karib Bastian yang slalu diingatnya. Sudah enam tahun mereka mengenali antara satu sama lain. Kegembiraan dan keperihan hidup di alam remaja mereka jalani bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan. Bastian kehilangan sahabat yang tak ada gantinya.

Peristiwa itu sudah 2 tahun silam. Sewaktu itu mereka berada di kelas. Bastian sedang memarahi Cacha karena mengambil pena kesukaanya tanpa izinnya dan meghilangkannya.

Apabila Cacha bertanya, dia hanya bilang dia akan menggantikannya. Bastian tidak ingin Cacha menggantikannya. Karena pena yang hilang itu adalah hadiah dari Cacha sewaktu mereka pertama kali menjadi sahabat karib. “aku tak mau kau gantikan pena itu! Pena yang hilang itu berharga bagiku!” bastian memarahi Cacha. “selagi kau tidak menemukannya, selama itu pula aku tidak bicara dengan kamu!” marah bastian.

Meja kelas pun dihentaknya dengan kuat hingga mengagetkan Cacha. Cacha dengan keadaan sedih dan bersedih hanya berdiam diri lalu beredar dari situ. Batian tau kalau Cacha pasti sedih mendengar kata kata itu. Bastian tidak berniat menyakiti hatinya tetapi waktu dia terlalu marah dan tanpa ia sadari, mutiara jernih membasahi pipinya.

“sudah beberapa hari Cacha tidak bersekolah, apakah ia sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?” Benak pikirannya diganggu oleh beribu ribu satu pertanyaan. “Eh aku ingin ke rumahnya” bisik Bastian kepada hatinya. Tetapi niatnya terhenti disitu, dia merasa enggan. Tiba tiba telepon rumah bastian berbunyi. “KRING!! KRING!!” Mama bastian yang mengangkat telepon itu. “Tian.. oh tian..” teriak mamanya. “cepat kau ganti bajumu. Kita akan pergi ke rumah Cacha Kakaknya Cacha menyuruh kita pergi ke rumahnya sekarang juga” suara mama bastian tergesa gesa menyuruh anaknya itu. Tiba tiba jantung bastian berdegup kencang tak pernah ia rasakan itu. Ini pasti ada sesuatu yang buruk terjadi. “Ya tuhan, kau tentramkan hati ini. Apapun yang terjadi aku tau ini ujian mu. Kau selamatkanlah sahabat ku” doa bastian selama perjalanan ke rumah Cacha.

Setibanya disana, rumahnya dipenuhi dengan sanak saudara. Bastian terus berlari menuju Bunda Cacha dan bersalaman dengan ibunya seraya bertanya apakah yang terjadi. Bunda Cacha dengan nada sedih memberitahu bastian bahwa “Cacha tertabrak oleh mobil saat ingin menyebrang jalan berdekatan dengan sekolahnya. Dia memang tidak sehat tapi dia tetap ingin ke sekolah. Katanya ingin berjumpa dengan kamu. Tapi keinginannya tidak sampai. Sapai saat dia menghembuskan nafasnya, kakaknya yang ada di sisinya melihat sebuah surat yang ia genggam di tangannya” isak bunda Cacha sambil memberikan surat yang ingin diberikan kepada bastian. Di dalam surat itu terdapat penaku. Di situ juga ada note dari ipadnya.

Isi surat yang diberikan.

“bastian bintang, aku minta maaf karena membuatmu marah karena menghilangkan penamu. Setelah engkau memarahiku, aku pulang dari sekolah sewaktu hujan lebat menemukannya. Tapi aku tak putus asa. Di rumah aku, aku tidak menemukannya. Tapi aku gak putus asa dan terus mengingatnya dan aku teringat, penamu ada di meja Science Lab. Itu pun agak lambat ingin ke sekolah karena kurang sehat, tapi dengan bantuan salsha dia coba untuk carikan. Pena itu Salsha temukan di kolong mejamu. Terima kasih kamu sudah menjaga pena dariku dan persahabatan yang terjalin selama setahun. Terimakasih sekali lagi karena selama ini mengajariku tentang arti persahabatan.
Cacha”

Kolam mata bastian dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan dengan derasnya. Kalau boleh, ingin dia meraung sekeras kerasnya. Ia ingin memeluk tubuh Cacha dan memohon maaf tapi apalah daya semuanya sudah terlambat. Mayat Cacha masih di rumah sakit. Tiba tiba dentuman guruh mengejutkannya. Barulah ia sadar ia hanya mengenang kisah silam. Persahabatan mereka lebih berharga dari pena itu. Bastian menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji peristiwa itu takkan terulang kembali. Semenjak itu bastian lebih sering beribadah dan mendoakan Cacha. Hanya dengan inilah Bastian bisa membalas jasanya Cacha dan mengeratkan persahabatannya.

Note: “persahabatan selalu kekal adanya bilamana kita nerimanya dengan penuh ketulusan hati.”

Cerpen Karangan: Annisa Nurul
Blog: Annisanurul55.blogspot.com

Cerita Arti Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Seorang Nina

Oleh:
“Hebat! Berani sekali kamu membantah omongan Pak Haris tadi, Nina!” decak Riri kagum pada Nina yang sedang asyik makan bakso di hadapannya. “Harus dong, Ri. Kita-kita kan tidak salah

Little Angel

Oleh:
– Bunga. Sudah lama sejak hari kepergian Bunda, aku belum sempat lagi mengunjungi Ayah. Entah apa kabar Ayah sekarang, aku pun sudah mati rasa. Hati ini terasa dingin, kosong,

5 Manusia Dalam 1 Bumi

Oleh:
Raja siang mulai mendaki kaki Sang bumi, perlahan-lahan beranjak pada persembunyiannya hingga kehangatannya mulai terasa. Mimpi indah anak peremuan bernama Afa Marhaenis terhenti kala membuka mata. Tak lupa anak

Kenangan Terakhir

Oleh:
Namaku Bila, aku adalah anak sematawayang. Ya, aku senang sekali menjadi anak sematawayang karena aku dapat bermanja-manja dengan kedua orangtuaku. Orangtuaku pun selalu memenuhi keinginanku, sangat bersyukurlah aku dengan

Cerita Masa Laluku

Oleh:
Sering kali aku mendengar pertengkaran kedua orangtuaku. Setiap aku pulang berangkat sekolah, selalu dikelilingi dengan kekicauan mereka. Dan itu membuat sekolahku hancur, rasa tidak semangat, takut, benci semua mengelilingi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply