Awal Kisahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2015

“Harus gue bilangin berapa kali lagi? Jangan dekati dia. Dia anak haram. Bahkan sampai saat ini, dia gak tahu siapa Ayah kandungnya”

Ucapan atau lebih tepatnya hinaan – yang keluar dengan mulusnya dari mulut seorang gadis berparas cantik tapi berhati busuk, Illana Safitri si Ratu gosip – itu serasa menusuk ke dalam gendang teligaku dan detik itu juga telingaku terasa terbakar.

Dia menatapku tajam sambil menampakkan senyum liciknya. Gadis cantik di samping Illana – yang sepertinya sudah sama busuknya dengan sahabatnya, Raina Firdauz – menjatuhkan tatapan jijik padaku.

Aku hanya mendengus kesal sambil menutup pintu lokerku. Kalau ditanya, ‘apakah aku marah?’ Aku akan menjawab ‘Hanya orang bodoh yang dihina tidak marah’ bahkan menurutku orang bodoh juga marah jika dihina seperti itu. Aku tersenyum kecil dan langsung berlalu di hadapan mereka.

Dihina seperti itu sudah biasa untukku. Mungkin, sekarang aku sudah kebal dengan berbagai macam hinaan yang mereka lontarkan untukku. Bahkan, aku pernah mendapatkan hal yang lebih buruk dari sebuah hinaan.

Aku masih ingat betul bagaimana kejadiaannya. Tepatnya 3 bulan 2 minggu setelah MOS, mereka mengetahui semua rahasiaku. Sebenarnya bukan rahasia umum lagi, karena sewaktu SMP statusku yang tidak jelas terungkap, status sebagai anak haram.

Tak berbanding jauh dengan kejadia di SMP, bahkan lebih parah. Hampir satu sekolah mengetahui status keluargaku yang tak jelas itu. Awalnya mereka hanya memandangku jijik, lalu satatusku sebagai anak haram menjadi buah bibir di kalangan siswa-siswi bahkan di kalangan guru SMA Harapan dan dalam waktu singkat aku sangat terkenal, bahkan sangat terkenal, mungkin lebih terkenal dari pada Syahrini yang langsung naik daun dengan aksen bulu mata palsunya. Sedangkan aku terkenal dengan julukan anak haram.

2 bulan berikutnya, lokerku sering kedatangan fans-fans fanatik. Mereka mencoret-coret lokerku dengan kata-kata tidak senonoh, memasukkan serangga yang menjijikan, bahkan melempari lokerku dengan telur busuk. Dan yang bisa kulakukan, ya membersihkan lokerku.

Penderitaanku tak berhenti sampai disitu. Beberapa minggu kemudian, aku menjadi bulan-bulanan sebuah geng cewek-cewek cantik dan yang pastinya berkantung tebal. Mereka memukuliku, menjambak rambutku, bahkan menyiramku dengan air got.
Awalnya aku diam, namun lama kelamaan aku mulai gerah. Aku melaporkan mereka ke Kepala Sekolah dan mereka dihukum. Ya, walaupun gak benar-benar dihukum. Karena, Ayah dari salah satu anggota geng itu penyumbang terbesar Yayasan Sekolah. Dan hingga saat ini, aku sudah tidak menjadi bulan-bulanan geng-geng gak jelas di Sekolah. Meskipun, aku selalu mendapatkan sindiran dan hinaan tapi itu jauh lebih baik.

BRUK!!!

Aku mengerang kesakitan, saat bokongku mendarat dengan mulusnya di lantai koridor yang sepi ini. Sakit sekali. Apa tulang ekorku patah? Ah, tidak mungkin. Telapak tangan besar terulur di hadapanku. Aku mematung seketika. Ehm… tidak mematung juga, maksudku aku terdiam tapi otakku masih mencerna apa yang terjadi?

Maksudku, masihkah ada manusia di dunia ini yang tidak jijik melihatku apalagi bersentuhan denganku? Kalau kalian tanya Illana, pasti dia akan menjawab dengan lantang. Dia akan jijik jika melihatku, bahkan hanya dengan sekedar mendengar namaku.

Aku menolak uluran tangan itu dan mencoba berdiri sendiri. Tidak sakit sedikitpun dan kurasa tulang ekorku tidak patah. Bukannya aku sok jual mahal, tapi aku hanya tidak ingin dia juga jadi bahan bulan-bulanan fans-fans fanatikku, sama seperti Dewi yang ‘pernah’ menjadi sahabatku dan dia juga yang pergi meninggalkanku.

“Sorry-sorry. Gue gak sengaja nabrak loe” lamunan panjangku seketika buyar saat mendengar suara yang terdengar berat itu menyapa gendang telingaku lembut. Mungkin ini untuk pertama kalinya ada seorang cowok yang berbicara sangat lembut padaku. Biasanya mereka menertawaiku, membentak dan mengejekku. Tapi kali ini berbeda.

Aku mendongak, menatap siapa cowok yang baru saja menabrakku. Kesan pertama yang dapat ku simpulkan dari cowok ini adalah tampan. Kulitnya putih, keningnya tidak terlalu lebar, hidungnya mancung, bola mata yang berwarna sehitam arang, pipinya tirus, garis rahang yang tegas menegaskan betapa tampannya dia dan bibir tipis yang terus menggulumkan senyum sejak tadi. Sempurna.

Oh ya, satu lagi. Dia juga tinggi, bahkan sangat tinggi hingga tulang leherku terasa sakit saat menatap wajahnya. Mungkin tingginya sekitar 180-an, bahkan tinggiku hanya 170.

“Iya, gak papa. Harusnya gue yang minta maaf, karena jalan sambil ngelamun” sesalku sambil memungut tas ransel yang sempat terlempar saat kejadian tadi.

Lagi dan lagi. Aku masih bergulat dengan pikiranku. Aku gak habis pikir, dia masih berdiri di hadapanku, menatapku lembut dan masih tersenyum tulus. Kenapa dia gak kabur? Ok, aku bukan hantu jadi dia gak mungkin kabur. Tapi, maksudku dia tidak menghinaku seperti yang lainnya.

Semakin melihat senyumnya, semakin aku merasa kalau dia terlihat seperti orang bodoh. Apa jangan-jangan dia penghuni rumah sakit jiwa? Ah tidak mungkin, bahkan dia memakai seragam sekolah yang sama seperti yang kukenakan sekarang. Dan sepertinya, aku baru pertama kali melihatnya. Berarti dia murid baru dan sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentangku. Pantas saja.
“Kok, loe ngeliatin gue kayak gitu? Tanpa loe liatin gue dengan cara kayak gitu, gue udah tahu kalau gue emang terlahir tampan. Jadi gak usah terpesona kayak gitu” ucapnya masih dengan lengkungan indah di bibirnya.
Aku langsung tersentak kaget. What? Terpesona? Terlalu percaya diri baget nih orang. Ehm… ya, walaupun aku malas untuk mengakuinya. Aku terpesona. Sedikit.

“Engga-enggak. Gue gak terpesona” sergahku cepat, walaupun sedikit terdengar suaraku gugup.

“Lalu apa?” tanyanya dengan suara menggoda. Dasar gila. Kalau dia kenal siapa diriku yang sebenarnya. Aku yakin, dia nggak bakal ngomong dengan suara kayak gitu.

“Gue hanya bingung” keningnya sedikit berkerut, tanda dia tidak mengerti maksud ucapanku “Ehm… kenapa loe gak kabur?” tanyaku to the point. Kerutan di keningnya semakin jelas terlihat dan lebih parahnya dia menampakkan ekspresi aneh plus berlebihan. Dia memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Kenapa gue harus kabur? Emangnya loe hantu?” Dia mencoba menyentuh pundakku. Kayak yang tadi udah aku jelasin. Aku bukan hantu “Tuh liat. Tangan gue gak nembus badan loe, gue bisa nyentuh loe. Jadi, loe bukan hantu dan kenapa gue harus kabur?” yaiyalah, aku bukan hantu. Kalau aku hantu, aku ngak mungkin jatuh tersengkur ke lantai dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu.

Aku menepis tangannya dari bahuku. Lalu mengambil langkah seribu untuk menjauhinya. Lebih baik aku yang menjauhinya terlebih dahulu. Rasanya jauh lebih menyakitkan, dijauhi oleh seseorang yang awalnya baik padamu.
“Yak, tunggu dulu. Bahkan loe belum tahu nama gue” teriaknya. Aku rasa gak perlu, karena pada akhirnya dia akan meninggalkanku seperti yang lainnya.

Tetes demi tetes air berjatuhan dari langit. Menghujani bumi -yang sebelumnya gersang- tanpa ampun. Banyak orang berlarian ke emperan toko hanya untuk berteduh dari ganasnya hujan dan ada juga orang-orang yang nekat menerobos derasnya hujan.

Dan disinilah aku, duduk di kursi besi yang ada di halte seorang diri sambil memeluk sendiri tubuh mungilku. Mencoba mencari kehangatan. Bahkan blezer yang kukenakan tak mampu melawan kencangnya angin yang serasa menusuk hingga ke dalam tulang.

Halte? Halte adalah tempat untuk menunggu bus. Dan aku sedang menunggu bus di halte. Yang membuat otakku terasa buntu adalah kenapa sejak tadi tak ada satu pun bus yang lewat? Apa mereka tak menginginkan uang? Atau mereka sedang mogok kerja? Mungkin saja, para supir bus mogok kerja karena BBM di Negara ini semakin lama semakin mahal saja. Atau mungkin mereka sedang demo di Istana Negara di tengah hujan deras seperti ini? Tidak mungkin.

“Loe lagi nunggu bus?” aku terlonjak kaget hingga terjatuh ke lantai dan sama seperti kejadian tadi, bokongku mendarat dengan sangat-sangat mulus terlebih dahulu. Sial banget sih hari ini.

“Sorry-sorry, gue bikin loe jatuh lagi” sesalnya sambil mengulurkan tangannya seperti kejadian di lorong koridor tadi. Aku segera menepis tangannya dan mencoba bangun sendiri. Aku berdecak sebal saat melihat rok yang kukenakan kotor. Aku mulai membersihkan rok yang kukenakan.

“Sorry, gue gak sengaja bikin loe kaget bahkan rok loe jadi kotor gara-gara gue” sesalnya lagi.

“Iya, gak papa kok. Rok gue emang udah kotor” ujarku masih dengan aktivitas yang sama. Setelah itu, aku menempatkan bokongku -yang telah menghantam kerasnya lantai 2 kali- di sampingnya.

“Ayo kita kenalan. Gue yakin loe gak tahu nama gue?” aku menoleh dengan cepat saat mendengar ucapannya.

“Loe yakin mau kenalan sama gue?” tanyaku hati-hati.

“Iya. Jadi loe mau kan?” tanyanya lagi. Aku sedikit ragu untuk berkenalan dengannya. Bagaimana kalau dia menjauhiku setelah mengetahui semuanya? Sama kayak yang lain.

“Gue gak pernah ngeliat loe sebelumnya. Loe anak baru ya?” tanyaku mulai mengalihkan pembicaraan. Dia menoleh menatapku tak percaya.

“Loe gak pernah liat gue?” tanyanya tidak percaya. Jadi sebenarnya dia siapa?

“Gak” jawabku singkat. Dia menghembuskan nafasnya panjang “Mungkin, loe aja yang gak pernah memperhatikan sekitar loe” setengah hatiku menetujui ucapannya.

“Jadi, loe bukan anak baru? Loe kenal siapa gue?” tanyaku tak percaya. Kalau dia bukan anak baru, jadi motif apa dibalik sikap baiknya?

“Gue emang anak baru di Sekolah loe. Tapi, gue udah pindah ke Sekolah loe dari 9 bulan yang lalu, gue udah duduk di depan loe selama 9 bulan, dan loe masih bilang kalau loe gak pernah liat gue?” penjelasaannya sedikit membuatku tercengang.

“Maaf… bahkan gak ada satu pun di antara mereka yang mau nerima gue” lirihku.

“Kata siapa?” cekalnya “Buktinya gue”

“Tapi, kenapa?” tanyaku yang masih bingung dengan motifnya “Kalau loe udah sekelas sama gue selama 9 bulan. Berarti loe tahu tentang asal-usul keluarga gue”

“Iya, gue tahu semua tentang loe. Cewek yang sering dibully oleh Kakak kelas. Cewek yang selalu keluar masuk ruang BP. Cewek yang selalu makan bekalnya di atap sekolah. Gue tahu semua tentang loe” jelasnya membuatku tercengang, kaget, seneng, sedih disaat yang bersamaan.

“Kenapa loe gak ngenjauhin gue? Kayak yang lain?”

“Karena gue mau berteman dengan loe” serasa ribuan jarum yang menancap di seluruh tubuhku terlepas dan hanyut terbawa derasnya air hujan. Satu kalimat yang membuatku tersentuh.

“Ivan Handoyo” ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Dengan secepat kilat, aku membalas uluran tangannya “Aurellia Putri Utami”

“Jadi Aurel, kita teman?” aku mengangguk.

“Ya, kita teman” mungkin ini adalah awal dari perjalanan kisahku.

Cerpen Karangan: Desy Puspita
Facebook: desypuspita30[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Awal Kisahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Sychotic Witch

Oleh:
“Hei, bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak berjumpa.” Kemudian, gadis berambut coklat itu duduk di sebelahku. Aku hanya mengangguk-nganggukan kepalaku pertanda bahwa aku baik-baik saja selama ini. “Hilangkan kebiasaanmu

Drama King

Oleh:
Aku berjalan sendirian di koridor sekolah. Benar. Sendirian. Tak ada yang aneh memang. Bahkan keberadaanku di sini tak pernah dipedulikan orang lain. Rasanya aku hanya sebuah pohon yang tak

Cukup Satu Teman

Oleh:
Hmmm… aku berpikir liburan tahun ini, terasa tak berarti bagiku, bagaimana mungkin hari yang paling ditunggu tunggu oleh kebanyakan anak sekolah malah menjadi kekosongan untuk ku. Betapa tidak kosong,

Bunga Sakura Yang Gugur

Oleh:
Aku telah menunggumu sangat lama, 5 tahun lalu berlalu saat kita bertemu.. “Namaku yukihara, panggil saja aku yuki, dan kau siapa namamu?” “Na-namaku Akino sara” “Aku panggil kamu sara

Sisi Buruk Ketagihan Selfie

Oleh:
Matahari telah terbenam dan aku masih ada di sini, aku harus segera pulang. “Huft, tugas kelompok ini membuatku susah saja,” gerutuku sambil berjalan pulang. Ku ambil sebuah benda berbentuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *