Back Street

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 6 October 2013

Pagi yang indah burung-burung bernyanyi menyambut cerahnya pagi, matahari terbit dari timur membawa kehangatan di hari minggu. Jarum jam menunjukan pukul 7, inilah saatnya aku harus bangun dari tempat tidurku yang nyaman. Walaupun sedikit malas tapi aku harus tetap bangun karena hari ini ali sudah tidak bekerja lagi di rumahku.

Ali adalah penjaga toko milik keluargaku, bertahun-tahun dia mengabdi pada kami, selain itu dia juga sahabatku. Aku selalu menceritakan apapun tentang masalahku dan dia pun slalu memberikanku solusinya. Tapi sekarang dia tak lagi bekerja disini. Entah ada masalah apa aku tidak tahu. Mungkin dia sudah bosan atau mungkin dia mendapat pekerjaan yang lebih baik, ya apapun itu semoga yang terbaik baginya.

Karena ali sudah tak bekerja lagi, terpaksa aku yang menggantikan semua pekerjaan ali. Itung-itung belajar bisnis dan membantu orang tua toh inikan hari minggu jadi tak ada salahnya menghabiskan week-end di toko.

Satu minggu berlalu ayah dan ibu belum mendapatkan pengganti ali dan juga pengganti sahabatku. Kadang aku sedih dan kangen sekali pada ali, karena tak ada lagi yang setia mendengarkan curahan hatiku. Karena kami sangat dekat jadi sulit bagiku untuk terbiasa tanpanya.

Dibalik lemari kaca yang sudah ku bersihkan aku bersantai sambil mendengarkan lagu favoritku. Terkadang aku melamun mengingat apa saja yang aku lakukan bersama ali, bercanda dan tertawa bersama. Aku pun tersenyum tanpa sadar.
“ehem ehem” tegur ibu yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku pun tersenyum dan membuyarkan lamunanku.
“lagi apa kamu nak, senyum-senyum sendiri? Tanya ibu sambil memeluku dari belakang
“nggak bu, aku cuma kangen ali.” jawabku jujur
“sabar besok juga ada pengganti ali.”
“yang bener bu? Siapa? Orang mana?” tanyaku penasaran
“saudaranya h. Ahad, ibu juga belum tahu pasti, kita lihat saja besok.” jawab ibu simple
Mendengar kata-kata ibu, aku jadi penasaran siapa yang akan menjadi pengganti ali. Apakah dia bisa jadi sahabatku juga? Tapi aku ragu.

Keesokan harinya sekitar jam 8 pagi aku baru selesai mandi, terlihat seorang pria di pojok ruang tamu sedang serius mengobrol dengan ayah “mungkin itu pengganti ali” gumamku dalam hati. Aku pun langsung bergegas lari ke kamarku.
Rasa penasaranku semakin kuat apakah itu yang akan menjadi sahabat baruku? Cowo hitam manis berkemeja putih itu memang terlihat baik. Tapi entahlah aku hanya mengira-ngira. Semoga semua perkiraanku memang benar.

Seharian dia menjaga toko tak sedikit pun waktuku mengobrol dengannya. Bahkan aku juga belum mengetahui namanya sungguh terlalu hahaha..
Hari ini tak ada yang bisa ku harapkan darinya mungkin memang benar tak akan ada penggati ali di rumah ini.

Hari demi hari berlalu kami belum juga akrab. Harapanku mulai menipis dan aku juga tak memikirkannya lagi. Biarlah semuanya mengalir apa adanya. Aku hanya berharap ali bisa bekerja lagi di rumahku. Dan bukan orang baru itu yang ada disini.

Neettt… neetttt… neeettt bel berbunyi 3x waktunya untuk pulang. Biasanya aku selalu buru-buru ingin segera pulang dan menceritakan kejadian di sekolah pada ali. Tapi sekarang ini malas rasanya untuk pulang.
“noy pulang yuu?” ajak anggi sambil menepuk pundak.
Anggi adalah teman sebangku ku. Cewe ini selalu saja semangat untuk pulang, sama denganku yang selalu kangen rumah. Tapi kali ini aku tak sepaham dengannya.
“gak ah, lu duluan aja, gua masih betah disini.” jawabku menolak ajakan anggi.
“haah tumben lu? Biasanya semangat?” tanya anggi keheranan
“biasa aja kali buu, lagian gua msih banyak tugas.”
“iya deh gua pulang duluan.”

Jarum jam menunjukan angka tiga, itu tandanya aku harus segera pulang. Dan tugas pun sudah selesai. Lama-lama berada di sekolah rasanya bosan juga. Rasa malas pun masih ada di tambah harus pulang sendiri, rasanya untuk melangkahkan kaki saja sudah tak sanggup. Apalagi harus berhadapan dengan orang asing itu lagi, “aaagggkh, semakin malas saja aku ini”. Selangkah demi selangkah aku pun memaksakannya.

Sesampainya di rumah, orang asing itu ada di depan toko. Bila ada jalan lain, aku gak kan mau deh lewat depan mukanya yang nyebelin itu. Semua yang ada di fikiranku tak sesuai dengan kenyataan. Tak ku duga dan ku sanggka, wajahnya yang biasanya jutek sekarang berbanding 180 derajat. Kali ini dia melontarkan senyuman yang seketiaka meredupkan amarah di hatiku. Tanpa sadar aku pun membalas senyumnya.
Si jutek senyum? Sedikit tak percaya, tapi itu nyata. Aku memang senang tapi rasa senangku ini berbeda dari biasanya. Sebenanya apa yang terjadi padaku ini? Aaakkkggh jadi bingung sendiri.
Dari senyuman sederhana aku pun mulai mengenalnya, siapa dia dan sedikit kepribadiannya. Tapi tetap saja dia belum bisa menggantikan ali sebagai teman curhatku.

Hari minggu yang cerah matahari setengah terik menyambut hari penuh gembira. Seakan memaksaku untuk melihat indahnya pegunungan di belakang rumah. Sambil menarik napas tiba-tiba hp yang kutaruh di saku celana sebelah kanan berbunyi, dan ternyata pesan dari eka. “teteh maen yu?” tanyanya dalam pesan singkat itu. Dengan sigap aku membalasnya “ayo.” singkat jelas dan padat.

Eka adalah teman 1 kursus bahasa inggris di alsabila, usianya lebih muda 2 tahun dari ku makanya dia memanggilku teteh. Teteh adalah sebutan kakak perempuan dalam bahasa sunda. Dia cantik, baik, tapi sedikit manja. Maklum masih bocah hehehhe tapi aku senang berteman dengannya.

Tak lama eka datang dengan skuter matic putih barunya. Dia datang tak sendiri tapi melainkan bersama lian, teman kursus sekaligus teman satu sma ku juga. Tak mau menunggu lama kita langsung saja cabut dari rumahku untuk “mengukur jalan”. Itu yang selalu dikatakan bila kami bertiga bersama.

Kami berhenti di jalan baru, disana pemandangannya luarbiasa indah. Kami memang sering berhenti sejenak disini sekedar untuk beristirahat ataupun melihat pemandangan di sekitar jalan baru.

Di tengah-tngah menikmati keindahn jalan baru tiba-tiba eka menanyakan orang asing itu. “teh noy itu yang ada di toko siapa?” mendengar pertanyaan eka aku sedikit bengong. “saudara teteh bukan” tanyanya lagi. “bukan dia pengganti ali.” jawabku singkat. “siapa?” eka semakin penasaran. “gak tahu lupa lagi, ka ka gitu, mika deh kalo gak salah.” jawabku bingung. “dika juga.” jawabnya membenarkan. Makum aku kan baru kemarin doang ngobrol dengannya. “itu tau? Ngapain nanya?” jawabku sedikit kesal. “nggak teh dia kan pernah nembak, baru juga kenal seminggu udah kayak gitu”. Jawabnya menjelaskan. “oh pantes.”
Hanya itu pecakapan kita tentang dika. Kita pun memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah aku lansung berlari masuk kamar. Tak memperdulikan apa yang ada di sekitarku, bahkan aku mengabaikan senyuman dika yang saat itu duduk depan toko. Tak tahu mengapa setelah mendengar kta-kata eka tentang dika perasaanku tak karuan. Aku ingin marah, tapi bingung untuk apa aku marah. Entah lah rasanya campur aduk sudah kayak es cendol kali ye.

Perasaanku mulai tenang aku pun memutuskan keluar dari kamar. Setelah ku buka semua daun pintu kamarku, rasa kaget menyelimuti hati ku ternyata dika di hadapanku. Aku terdiam sejenak dan sedikit salah tingkah. “teeh.” dia menyapaku dengan senyuman. Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman pula tanpa berkata apapun.

Dika hanya lewat depan kamarku menuju toko. Tak sadar aku pun mengikutinya dari belakang. Bingung mau ngapain akhirnya ku buka percakapn dengannya. “ehem.” kataku sambil duduk di baik lemari kaca. Seketika dika menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “ada apa teh”. Tanyanya dengan nada bicara yang sopan. “eka tuh nanyain” jawabku sambil tersenyum. Dia hanya tersenyum. “pernah suka sama eka ya?” tanyaku lagi. “ah cuma masa lalu teh”.
Dari pertanyaan sederhanaku kita mengobrol panjang lebar, membuat kita semakin akrab. Tapi entah mengapa keakraban ku dengan dika jauh berbeda dengan akrabnya aku dan ali. Tanpa sadar aku selalu memikirkan dika. Membuat aku semakin bingung, ya tuhan apa yang terjadi denganku. Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Ahh mustahil gumamku.

Hari demi hari pikiranku hanya tertuju pada dika membuatku semakin yakin aku telah jatuh cinta padanya. Walau ini mustahil tapi apa daya toh cinta datang begitu saja tanpa permisi. Semakin lama perasaan ini semakin kuat membuat aku pusing sendiri menyimpan rasa ini sendirian. Walau begitu aku tak berani bilang pada siapapun apa lagi harus jujur pada dika. Aku belum yakin dika pun memiliki rasa yang sama denganku. Ah biarlah semua ini mengalir begitu saja.

Hari ini aku berniat menceritakan semuanya pada temanku lita. Dia sahabat baikku dari aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku selalu menceritakan semua tentangku padanya namun baru saat ini aku menyembunyikan perasaan ini agak lama padanya.

Aku yang saat itu memakai jeans berwarna hitam dan kaos obong hijau sangat bersemangat untuk menemui lita. Ku percpat langkahku berharap lita tak menunggu lama. Sesampainya di rumah ita seprti biasa aku mengucapkan salam terlebih dahulu. “assalamualaikum” salamku dengan suara lantang yang khas, “walaikumsaam” jawab lita sambil membuka pintu.
Terlihat temanku yang cantik dengan muka melasnya berdiri di depan pintu.
“lu belum mandi bukan?” tanyaku sedikit meledek
“enak aja udah kali” jawabnya ngeyel.

Kami mengobrol dari a sampai z, namun aku belum juga menceritakan inti dari aku menemui lita.
“ta” ucapku membuka pembicaraan.
“apa, o yah salam yah sama dika?” jawabnya membuat hening suasana.
Aku terdiam sejenak. Keheranan.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan. Aku pun mengurungkan semua niatku untuk menceritakan semuanya. “noy, lu kenapa?” tanya lita sambil menepuk-nepuk pundakku.
“hehehe ngak ada apa-apa kok, o ya ciyeee lu suka yah ama dika.” ledek ku mengalihkan pembicaraan.
“hahaha, iya deh kayaknya. Jangan lupa yah sampein salam gua.”
“iya deh sip?”

Hari sudah sore, aku pun memutuskan untuk pulang, ku jabat tangan sahabtku itu lalu perlahan aku lepaskan dengan semua ke gurauan yang ada di hati.

Sepanjang jalan aku hanya memikirkan semua kata-kata lita yang begitu membuatku merasa sakit bagai tertancap panah belati yang baru saja di asah. Langit terasa mendung seakan ikut menangis merasakan apa yang ku rasakan. Ingin ku bunuh lita, namun tak mungkin karena dia adalah sahabatku.
Aku memang kecewa padanya, namun ku berusaha untuk menerima semuanya karena aku tak ingin ada perpecahan di antara kami. Akhirnya sudah ku putuskan aku akan membantu lita mendapatkan cinta dika. Itulah janjiku.

Sesuai janjiku aku pun menyampaikan salam dari lita, walau berat tapi aku tak boleh egois. “dika, lita salam tuh ciyeee.”
Dia tersenyum dan menjawab “ah yang bener? Walaikum salam aja deh.”
“lita orangnya asik gak?”
Aku tercengang mendengar pertanyaannya. Membuat jantungku berhenti sejenak. “mau ngapain dika nanya seperti itu?” gumamku dalam hati. Aku pun sadar dan langsung menjawab pertanya dika “baik kok, ciyeee suka ya sama lita?” tanyaku menyembunyikan kekecewaan ku. Dika hanya tersenyum. Dan bagiku itu jawaban iya.
“dika suka lita, aku tak boleh egois, dika hanya untuk lita. Ya hanya untuk lita sahabatku. Toh dika sam sekali tak mempunyai prasaan sedikitpun padaku. Mereka memang cocok. Aku hanya penghalang untuk mereka.” gumamku dalam hati.

Aku berlari ke kamar ku peluk bantal kesayanganku dengan erat berharap kenyataan akan berbalik. Tapi semua itu mustahil. Dika dika dika. Dika tetap akan menjadi orang asing sampai kapanpun. Tak mungkin tak akan mungkin dia menjadi sesuatu dalam hatiku.
Sampai kapan aku harus menahan semua prasaanku ini? Sampai kapan aku kan hidup dalam kepalsuaan ini sampai kapan tuhan?. Aku memang mencintai dika tapi aku yakin dia bukanlah yang terbaik. Yang kuharapkan untuk saat ini adalah tuhan memberikan malaikat penolong yang bisa membangunkan dalam mimpi buruk ini. Siapakah malaikat itu? Siapa yang akan menggantikan dika di hati ini?
Semua lamunanku buyar saat seseorang memanggilku “teeh” ku tengok ke belakang ternyata dika. Ku pandang kedua matanya untuk meyakinkan aku bisa melupakannya. “ada apa?” jawabku dengan lirih suara lemas. “ada yang mau kenalan” “siapa” “tuh orangnya da di depan”.

Penasaran dengan dengan apa yang dikatakan dika, aku pun bergegas melangkahkan kaki ke depan rumah. Dari jauh nampak pria memakai kaos hijau bercelana jeans dan memakai topi. “siapa dia” dalam hati penasaran. Ku prcepat langkahku untuk menghampirinya.
Dia tersenyum padaku, akupun membalasnya. Aku sering melihatnya hanya saja aku tak mengenalnya. Ku lihat dia sering mampir ke tokoku untuk menemui dika.
Terlintas di fikiranku, untuk apa dia ingin mengenalku? Tapi tak ada salahnya aku berkenalan dengannya siapa tahu dia adalah malaikat yang ku inginkan selama ini.

Dengan akrabnya dika memperkenalkan pria itu. “ini awal sahabatku”.
“awal” si pria itu mengulurkan tangannya.
“noy” jawabku menymbut uluran tangannya.
Ya tuhan apa maksud dari semua ini? Dika membuatku sakit lagi. Dengan dia mengenalkanku dengan temannya itu tandanya dia memang benar tak sedikitpun menaruh perasaan padaku. Sabar, sabar. Sabar tenangkan hatimu.
Tak sedikit pun aku memasang muka sedih ku terima pertemanan awal dengan gembira.
Beberapa lama aku mengenal awal, kita berempat sering kumpul bersama. Maksudku aku, awal, dika dan tentu saja sahabatku lita. Walau kebersamaan ini tak seperti yang ku harapkan tapi dengan seperti ini aku masih bisa dekat dengan dika.

Malam minggu adalah hari dimana kita sebagai kaum wanita mengharapkan ada seseorang yang berkunjung ke rumah. Aku mengharapkan dika yang menemaniku malam ini walau kita hampir setiap hari bertemu tapi tetap saja hari malam minggu adalah hari spesial untuk mengobrol dengannya. Sepertinya harapakn ku tak kan pernah terwujud, karena hari ini ada lita dan awal yang berkunjung di rumahku.

Kami berempat menghabiskan malam minggu dengan penuh suka riang walau ada kesedihan dalam hatiku yang ku tutup rapat.
Waktu menjukan pukul 10 menandakan mereka semua harus pulang. “noy anterin gua balik yu?” kata lita,
Rumah lita memang dekat namun bila sudah malam begini seram juga bila lita harus pulang sendirian.
“ayo aja, tapi gak mau sendirian.” jwbku.
Seketika dika menjawab “ya udah kita anterin deh”
Kami berempat berjalan menyusuri jalanan yang sepi, aku yang saat itu berada di depan bersama awal dan tentu saja ada lita dan dika di belakangku.
Aku tak mengobrol bnyak dengan awal karena pikiranku tertuju pada dika.
Sesekali aku menengok ke belakang. Terlihat dika menggenggam mesra tangan lita. Aku hanya mengenduskan napas dan mengelus dada.
“hebat ya dika” tanyaku pada awal
“Hebat apanya?” Jawabnya heran.
“lihat aja ke belakang, mereka bisa mesra walau belum jadian”
“namanya juga laki-laki”
“Ya aku kan minta no kamu sama dika” awal mengalihkan pembicaraan
“masa?” jawabku simple.
“!@$%&*^*((^$#@!!” awal
Aku tak mendengar kata-kata awal, dia berbicara apapun tak ku tanggapi. Hanya ku jawab oh dengan keraguan.

Sampai di rumah aku hanya menahan air mata yang mungkin sudah kering. Ku berbaring kesana kemari tapi tetap ku tak bisa tidur. Aku selalu mengingat dika, dika dan dika persetan dengan dika. Amarahku memuncak. Ku ambil segelas susu kotak berharap bisa menenangkan hati ini.

Dreeeet dreeet dreeet… Hp ku bergetar. Ku lihat dengan mata yang masih mengantuk. Dengar samar samar ternyata lita yang memenuhi kontak pesanku. Tak sempat ku buka, langsung ku nonaktifkan saja. Karena pada saat itu aku masih mengantuk.

Hari ini rasa malas stu datang lagi, tapi biar ku paksakan saja untuk bangun. Ku buka kemali pesan dari lita. “noy maen sini” isi pesan lita. “Iya nanti siangan” alasanku. Aku pun bergegas mandi dan siap-siap ke rumah lita. Hati memang mengatakan tidak mau atau bahkan malas bertemu lita. Tapi tak apalah dari pada di rumah bête yang harus melihat wajah dika.

Sesampainya di rumah lita semua dugaanku benar. Pertemuanku dengan lita hanya membahas dika dika dan dika. Aku tak menanggapi semua perkataan lita. Hanya terdiam dengan kegundahan. “lu kenpa sih” tanya lita. “lagi gak enak abdan ni”
“eh dika ada di toko?”
“ada tuh, ke rumah aja”
“Hehe gak ah, si dika manis ya?”
“Tau ah”
“Biasa aja atuh”
“Tau deh yang lagi suka sama dika. Di belain aja terus”
“Ah noy ini..”
Kami bercanda tertawa berasma. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa melupakan dika. Aku yakin mereka memang di takdirkan bersama. Tentu saja tanpa aku sebagai benalu.
Dalam lamunanku tiba-tiba “noy dika kenapa yah?” tanya lita dengan nada sedih. “kenpa apanya?” tanyaku penasaran. “dia marah bukan sama gua?”
“marah? Ko bisa berpikir kayak gitu?”
Sekrang dia beda banget, jarang sms gua, gua sms juga di balasnya singkat. Terus kemaren gua lewat dia malah buang muka.”
“Ko aneh yah? Tar deh gua tanyain.”
“Iya, bantuin gua.”
“Sip, gua pulang ah dah sore.”
“Ya udah hati-hati yah.”

Pertanyaan lita sungguh aneh. Ada apa sebenarnya? Mengapa dika seperti itu? Aaah sudahlah nanti ku tanyakan langsung.
Ingin ku menanyakan semua pertanyaan lita pada dika namun melihat wajah dika seakan aku takut untuk memulai semua pertanyaanku. Aku takut dika berprasangka macam-macam. Perlahan tapi pasti aku mendekati pintu.
“teh” suara itu lagi aku yakin itu dika.
“ada apa?” tanyaku perlahan dengan sedikit kaget
“permennya jatuh”
Aku hanya tersenyum dan langsung mengambil permenku.
“teeh” tanyanya lagi.
“apa lagi yang jatuh?”
Dia hanya menggelengkan kepala. Dan berbalik.

Aku yang saat itu ingin mengurungkan semua niatku akhirnya berubah pikiran. Ku duduk dekat lemari es tepat samping pitu toko. “ka” tanyaku. “iya” jawab dika sambil menoleh ke arahku. “kamu kenapa?”
“gak ngrrti maksudnya?”
“kamu kenapa kata lita.”
“emang ada apa?”
“katanya kamu berubah?”
“dika tuh memang kayak gini, mungkin hanya perasaan dia aja.”
“ah masa?”
“gini teh sebenernya dika sayang sama mantan dika, tapi kenpa sekarang dika bisa lupain dia, malah dika lebih khawatir sama seseorang yang jelas-jelas saudara bukan, pacar juga bukan.”
Tanpa bertanya lagi aku menyangka orang yang di bicarakan dika adalah lita. Tak lama awal datang dengan skuter meticnya.

Mulai sejak itu aku tak pernah memikirkan dika yang ku pikirkan sekarang adalah mengapa lita bisa bicara seperti itu? Ada apa seebenarnya? Semua teka-teki ini membuatku semakin bingung, aku tak mengerti dengan mereka berdua. Ya tuhan mengapa masalah tak pernah ada beresnya? Aku lelah tuhan.

Malam minggu datang lagi. Kali ini aku tak berharap ada siapapun yang datang menemuiku. Apalagi harus mengobrol dengan dika. Aku sudah bosan melihat wajahnya yang selalu membuatku luka.
Hari itu hujan deras, ditambah listrik mati, sungguh membuat hati merinding. Namun suasana seperti ini memberi kehangatan bagi keluargaku. Aku, ibu dan adik-adikku duduk bersama dika di toko dekat lemari kaca. Bercanda dan bercerita-cerita tentang pengalaman kita masing masing.

Suasana berubah menjadi hening saat ibu dan adik-adikku meninggalkan ku berdua bersama dika. “teeh”. “Iya”
“Wajar gak? Kalau dika sayang sama teteh?”
Pertanyaan itu membuat aku terdiam sejenak, pikiranku melayang tak tahu arah tujuan. Sedih senang gembira bersatu menjadi satu.
“apa” jawabku pura-pura tak mendengar.
“iya teh dika sayang teteh, dika selalu khawatir bila teteh gak ada depan mata dika. Teteh mau gak jadi pacar dika. Mungkin ini terlalu cepat, tapi dika cuma berusaha jujur.”
Tak sempat ku jawab aku langsung meninggalkan dika tanpa satu kata pun.
Ini yang kamu mau ini yang kamu tunggu-tunggu. Mau apa lagi kamu sekarang noy? Tak tahu mengapa aku menjadi ragu aku takut melukai hati lita. Aku tak mau melihatnya bersedih. Apa yang harus aku lakukan? Mengeluarkan semua egoku? Aku hanya pasrah tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Mengapa ini terjadi baru sekarang kenapa dulu kamu gak bilang kayak gini, dika aku benci kamu. Benciii.

Pulang sekolah aku langsung menemui dika. Dika hanya terdiam tanpa bertanya. Padahal aku ingin sekali kata-kata itu terulang kembali.
Sepertinya aku sudah cukup lama menunggu dika bicara tapi tak juga satu kata pun terucap.
“dika” dengan nada marah
“iya?”
“dika ihhh” tambah kesal
“ada apa teh?”
“Maksud semua pertanyaan kemaren apa?”
“Yang mana”
“Iiiiiiih” aku semakin kesal dan tak mau bicara lagi.
Dia hanya tersenyum seakan tak bersalah. Bila hitungan ke 3 aku tak di panggil juga aku tak kan pernah peduli lagi sama dika. Ucapku dalam hati 1 2 3. Aku bergegas meninggalkan dika. Tiba-tiba tangan ku ditariknya. Aku berbalik arah dia menatapku.
Tatapan matanya penuh makna membuat aku tak bisa berkata apapun. Aku tersadar dan melepaskan genggamannya.
“dika sayang teteh.” ucapnya meyekinkannku
“tolong jawab jangan membuat dika bingung.”
“teh, teh teeeh.”
Dengan spontan aku menjawab “aku sayang kamu dika.”
Hanya tu yang ku ucapkan, aku segara meninggalkan dika. Karena ku tak ingin mendengar perkataan apapun dari dika.

Hari sudah larut malam aku tak juga kelur kamar. Entah apa yang membuatku takut tapi kata-kata yang tadi ku ucap seketika membuat aku tak ingin menemui siapapun.

Aku menutup mata menenangkang hati dan pikiranku. Dan berdo’a semoga semua yang ku lakukan adalah benar.
Lalalalala nada handpone ku berbunyi, ternyata dika.
“asalamualaikum.” kataku sambil mengangkat telpon.
“waalaikumsalam” jawab dika
“teh makasih yah. Dika janji gak kan ngecewain teteh.”
“tapi dik, gimna dengan lita? Dan orang tua ku bagaimana bila mereka tahu, bagaimna kalau lita marah” jawabku cemas
“tenang teh dika janji, mereka pasti tidak akan marah, percaya deh sama dika.”
Aku pun mempercayainya dan kita putuskan untuk hubungan di belakang layar atau lebih di kenal backsteet.

The and

Cerpen Karangan: Finna Kurniawati
Facebook: Finna Kurniawati (keong)

Cerpen Back Street merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Dreams

Oleh: ,
Namaku Liana murid IPA-2 di SMU GARUDA. Teman-teman dan sahabat-sahabatku sering menganggap aku ini telmi -telat mikir- tapi menurutku biasa saja. Seperti biasa, sebelum aku berangkat ke sekolah. Aku

Sahabat Tinggal Kenangan

Oleh:
“Dasar pengkhianat. Kamu hanya memanfaatkan kami”, itulah kata-kata yang keluar dari mulut CLara dan Giskha setiap kali Devi ingin menjelaskan kepada mereka. Bagaikan bintang yang setia menemani malam, embun

One more

Oleh:
Apakah malam ini benar-benar dingin? Udaranya begitu menyengat. Entah mengapa, aku enggan masuk ke dalam rumah, lalu tidur. Hanya satu yang ingin aku lakukan untuk malam ini. Menatap satu

Bintang Tak Tergapai

Oleh:
Langit. Langit biru cerah di pagi hari ini menyambutmu dengan harap bahagia. Awan. Awan putih suci menggambarkan suasanamu hari ini. Mentari yang bersinar pun kini telah menaungi segala cerita

Kekasih untuk Sahabatku (Part 2)

Oleh:
Satu bulan kemudian, Kevin mengajak lavina makan malam di sebuah kafe. Kevin menjemput gadis berambut pendek sebahu itu tepat pukul 19:00. Diboncengnya Lavina menuju kafe untuk makan malam. Sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *