Bait Puisi di Penghujung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 September 2016

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu..”

Layaknya Senja-senja sebelumnya, Tania dan Dani duduk santai di balkon depan kamar kos Zikry yang berada di lantai dua. Namun kali ini, Ia tengah fokus membaca sebuah puisi. Ia terhenti di bait ketiga puisi karya Sapardi Djoko Damono tersebut, gadis berkacamata itu memikirkan makna dari puisi yang tertulis di buku catatan Zikry. Namun, seperti biasa Tania tak pernah dapat mengerti makna puisi yang dibacanya.

“Zik, kata kayu kepada api disini maksudnya apa ya? bagus puisinya tapi aku gak ngerti hahaha,” teriak Tania dari arah balkon.

Zikry yang dari tadi sibuk di depan laptop di dalam kamarnya berlari ke arah Tania. Wajah kesalnya terlihat jelas oleh Tania. Zikry dengan cepat merebut buku catatan yang berisi kumpulan puisi tersebut dari genggaman Tania. Tania sontak kaget dengan tindakan Zikry.

“Ih, biasa aja kali Zik ngambil bukunya, aku cuma mau bac..,” belum sempat Tania melanjutkan ucapannya, Zikry memotong kata-kata Tania.
“Lah bukannya elu yang seharusnya biasa aja?! Gak usah baca buku punya orang lain deh Tan. Emangnya gak bisa ya minta izin dulu?” Cowok yang hobi menulis ini membalas ucapan Tania dengan bentakan yang membuat mata Tania berkaca-kaca.
“kamu kenapa jadi ngebentak aku sih? Itu bukunya aku nemu di atas meja ini kok! lagian kamu kenapa sih Zik? orang lain? Kamu itu kan sahabat aku!”, Tania mencoba membenarkan dirinya.
“Haha, jangan ge er deh. Sahabat apa? Siapa yang mau sahabatan sama cewek pemalas yang bahkan ngartiin puisi aja gak becus!”
Tania tertunduk, air matanya mulai membasahi wajah manisnya. Kata-kata Zikry kini benar-benar melukainya Tania perlahan menghapus air mata.. Ia mengambil tas dan jaketnya yang tergantung di pintu kamar kos Zikry. Ia berlari menuju gerbang kosan Zikry, pulang ke kosannya dengan penuh rasa kesal yang tak lagi tertahankan.
Dani yang juga berada di balkon tersebut terdiam tak percaya bahwa Tania dan Zikry baru saja bertengkar.

Beberapa menit setelah Tania pergi, Dani angkat bicara.
“Bro, lu kenapa ngomong kasar gitu sih? Tania pergi gitu aja dibiarin aja nih? Gak dikejar? Lu seharusnya minta maaf ke Tania Bro.”
Dengan cueknya dan tanpa menoleh sedikitpun dari layar laptopnya Zikry menjawab, “ngapain gue kejar, drama banget.”
Jawaban Zikry benar-benar membuat Dani kesal. Dani tak menyangka Zikry tega membentak Tania seperti tadi. Mereka bertiga telah menjadi teman akrab sejak semester satu kuliah. Zikry yang dikenalnya adalah cowok pendiam yang hebat berkata-kata dalam tulisan. Walaupun terkenal sebagai sosok yang cool, Zikry akan menjadi sangat menyenangkan dan lucu bila hang out bersama Tania dan Dani. Bahkan Zikry sering kali menulis puisi dan memperlihatkannya pada Tania. Zikry kali ini benar-benar berbeda, memang belakangan Zikry terkesan menghindari Tania.

Zikry kembali terpaku di depan laptopnya. Entah apa yang sedang dilihatnya. Tatapannya terlihat sendu seakan menyiratkan penyesalan atas apa yang barusan dilakukan dan dikatakannya kepada Tania. Dani menghampiri Zikry, menepuk pundaknya seolah memberikan kesempatan Zikry untuk menceritakan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Zikry menutup laptopnya. “Dan, mungkin gue pengen ceritain apa yang ada di kepala gue sekarang. Gue udah berusaha untuk nyari jalan keluarnya tapi gue gak bisa. Gue rasa gue butuh saran dari lu. Lu yang mungkin bisa bantu gue.”
Dani mulai penasaran dengan apa yang akan dikatakan Zikry. Zikry menghela napas panjang, matanya menatap jauh pada jendela yang menyelipkan cahaya senja yang mulai memudar. Suaranya kini terdengar berat dan sedikit tertahan.
“Dan, gimana kalo gue ingin mengerti Tania lebih dari yang selama ini kita lakuin? Gimana kalo gue pengen bareng Tania lebih dari waktu yang selama ini kita gunain dan Apa yang bakal terjadi jika gue… ah! Sial! Kenapa harus Tania Dan? Kenapa gue harus suka sama sahabat gue sendiri? gue udah berusaha ngelupain apa yang gue rasain dan buang semua pikiran tentang Tania. Gue gak mau persahabatan kita jadi berbeda. Gue gak mau sikap gue ke Tania berubah. Gue juga jadi gak enak sama lu. Gue gak mau Dan”
Dani terkejut mendengar apa yang dikatakan Zikry, namun Ia berusaha untuk mendengarkan Zikry lebih. “Jadi lu..” Dani sengaja menggantung kalimatnya.
“Lu inget kan Dan, seminggu yang lalu waktu kita bertiga makan malam di Café deket kosan Tania? Lu pasti juga denger waktu Tania bilang dia lagi suka sama salah satu cowok dan cowok itu juga suka sama dia. Sebagai sahabat yang baik dan peduli gue berusaha ikut seneng denger kabar itu. Gue berusaha untuk memendam semua perasaan gue. Tapi sebagai seorang cowok yang udah suka sama dia dari awal, gue gak bisa terima kenyataan itu Dan.”
“Bro kenapa lu gak bilang yang sebenernya ke Tania sih? Bukan gini caranya. dengan lu jahatin dia kayak barusan gak ngebuktiin sama sekali kalo lu suka sama dia. lu cinta kan sama dia? semua yang lu rasain gak sepenuhnya salah lu Zik. Rasa suka yang muncul ke Tania gue rasa hal yang wajar. Gue bisa ngerti. Lu gak usah ngerasa gak enak ke gue. Kita hampir setiap hari bareng dan cewek yang paling kenal lu ya dia.” Ucap Dani.
“Thanks Dan. Gue seneng banget lu bisa ngerti. Tapi, telat Dan, dia udah suka sama yang lain. Puisi-puisi yang gue buat gak bisa nyampein perasaan gue ke dia Dan. Tania bener-bener gak ngerti tentang makna puisi ya.”
Seketika mereka berdua tertawa terbahak mengingat Tania yang tak bisa memahami puisi.

Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing lagi terdengar keras. “Udah puas ngetawain aku Zik?”
Dari arah pintu muncul Tania yang ternyata telah berada disana beberapa menit yang lalu.
“Ta Tania? kamu, sejak kapan kamu berdiri disana?”, Zikry kaget setengah mati.
“Hmmmp.. lumayan lama sih. Tadi aku udah di jalan pulang ke kosan. Tapi, aku sadar kalo sebenernya aku yang salah. Jadi aku balik lagi kesini buat minta maaf”.
“Jadi ka kamu denger semuaa..” Zikry benar-benar gugup kali ini
“Aku udah denger semuanya Zik, Aku juga mau jujur. tanpa sepengetahuanmu, aku selalu berusaha ngertiin puisi yang kamu tulis. Aku mulai ngerasa puisi itu bercerita tentang kita. Tapi aku gak mau ke geeran dulu karena kita sahabatan. Kenyataan dugaanku bahwa sahabat dan belahan jiwaku adalah kamu selama ini tidak salah, benar-benar membuatku senang. Oke, intinya di penghujung senja ini aku mau lanjutin bait puisi yang belum selesai aku bacakan untukmu tadi Zik. Aku mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, Zikry.”
Zikry tak mampu berkata-kata lagi. Ia tak menyangka sahabat pun dapat mengerti dirinnya bahkan dikala cinta menghampiri, puisi cintanya terbalaskan dan persahabatannya tetap terjalin erat layaknya hati mereka berdua. Senja kali ini Sesederhana itu.

Cerpen Karangan: Sonia
Blog: soniaisabell.blogspot.com/Sonia

Cerpen Bait Puisi di Penghujung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemenang

Oleh:
“Brukkk!” Suara hempasan pintu terdengar nyaring dari sebuah kamar anak laki-laki yang kala selalu terjadi ketika orangtua Rendy datang dan pergi dari bisnis mereka. Dan bukan hanya menghempaskan pintu

Sahabat Kecilku

Oleh:
Ini adalah hari pertama bagiku menginjakkan kaki di sebuah tempat masa kecilku dahulu. Yaitu tepatnya Kota Pekanbaru. Berbagai memori dan kenangan indah telah ku lalui bersama seseorang yang aku

Aku, Kamu Sahabat

Oleh:
Kulihat, masih tetap kulihat. Tak akan pernah bosan diri ini menatap sesosok gadis di hadapanku. Ia tetap cantik meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi.

Aku Hanya Malu Itu Saja

Oleh:
Gadis itu masih tetap fokus pada buku pelajaran yang dipegangnya, belasan rumus matematika ia pelajari dan pahami sambil sesekali tersenyum dan membayangkan bagaimana bisa mencari jawaban atas soal matematika

Waktu Di Balik Senja (Part 2)

Oleh:
Saat sampai ke gedung belakang sekolah, aku ditolak sampai tubuhku terhempas ke tembok. “Aauu..” teriakku kesakitan. “Kenapa? Sakit? Hah!” Bentak kakak ketua geng tadi. Aku hanya merunduk ketakutan. “Heh!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bait Puisi di Penghujung Senja”

  1. Suka banget sama cerpen yang ini☺ greget banget haha.

  2. masudi says:

    kisah yg lengkap antara cinta n persahabatan mantab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *