Balada Lima Pemuda dan Sampan Terukir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 May 2013

Sore hari di tengah remang jingga matahari dan hiruk pikuk kota, berkumpul lima pemuda di sebuah rumah sederhana sehabis menghabiskan waktunya dan mencurahkan pikiran dan tenaganya di ruang kuliah. Mereka terlibat pembicaraan ringan dan hangat, kelima pemuda itu adalah uki, ipan, nde, iki, isal.

“menurut lo pada arti hidup sama persahabatan itu apa?” tanya ipan sambil tiduran terletang memandang langit.

“hidup itu tentang memilih jalan atas apa yang kita inginkan dan tanggung jawab setelah itu” jawab isal singkat sembari mengehembuskan asap ***** dari mulutnya.

“terus persahabatan apa?” tanya pan sambil merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap isal yang sedang duduk menghisap puntung ***** di tangan kirinya.

“persahabatan itu, kayak kopi” jawab isal yang memang agak selebor

“maksud lo” tanya ipan sambil matanya mendelik menatap isal

“kopi itu item dan butek keliatannya, tapi di dalamnya ada paduan rasa pahit dan manis yang bisa bikin orang ketagihan dan menyukainya, sama kayak persahabatan, Walau terkadang persahabatan itu terlihat aneh secara kasat mata. Tapi bagaimana cara kita bisa saling paham atas kekurangan dan kelebihan kita masing-masing dan menyatukannya sehingga kita saling terikat, saling nyaman dan percaya”. Selorohnya panjang lebar sambil melanjutkan menghisap puntung *****nya

“kalo buat gua hidup itu perjuangan” celetuk uki tiba-tiba “dan persahabatan itu Bhinneka Tunggal Ika” lanjut si uki dengan nada berapi–api dan mata yang berbinar-binar kepada pan yang juga ikut bersemangat.

“kalo buat lo apa pan?” tanya uki tiba-tiba yang membuat pani kaget.

“hah… buat gua hidup itu pembelajaran di setiap harinya” jawab pan sambil merubah posisinya yang tadinya merebah di lantai kini duduk memeluk lutut seperti teman-temannya.

“kalo lo ki?” tanya uki singkat pada iki. Tapi entah kenapa kini uki yang bersemangat mengetahui jawaban teman-temannya padahal pan yang bertanya pada awalnya.

“buat gua hidup itu proses dan perjalanan walaupun tidak ada patokan mutlak dalam mengarungi segala pengalamannya karena semuanya bersifat subjektif” jawab ki sambil terus membaca buku yang dia pegang tanpa menoleh kepada uki.

“Kalo persahabatan?” tanya uki mencecar.

“persahabatan itu kayak taman bunga mawar dan melati walaupun penuh dengan duri tapi indah dan harum untuk dinikmati sehingga lebah bisa menghisap sarinya dan menjadikan madu yang manis dan harum”. Jawab ki sambil menghadapkan wajahnya menatap langit.

“maksudnya?” tanya uki sambil beringsut mendekat pada iki.

“mawar itu penuh duri tapi indah begitu juga persahabatan banyak romantika didalamnya tapi itu menambah keindahan di dalamnya. Sedangkan melati itu putih dan harum menandakan persahabatan seperti itu akan tetap suci dan harum, dan lebah dengan madu yang manis adalah hasil akhir dari persahabatan yang kita rasakan nanti”. Kelakar iki panjang lebar pada uki sambil menebar senyum dan dibalas oleh uki yang manggut-manggut sambil menatap langit.

“Kalo lo nde?” kali ini ipan yang bertanya pada nde yang sedang asyik mengukir kayu yang selalu dia bawa-bawa.

“lo semua udah jawab tentang hidup dan persahabatan dengan cara lo masing-masing dan gua setuju sama lo semua”. Jawab si nde sambil terus ngukir.

“lo semua tau nggak apa yang lagi gua buat ini?” tanya nde balik tapi kali ini pertanyaan itu tertuju pada semua teman-temannya.

“Nggak” jawab iki, uki ipan dan isal serempak layaknya paduan suara.

“gua lagi buat sampan.” Jawab nde singkat “dan lo semua tau apa maksudnya?”

“nggak” kembali mereka berempat menjawab serempak di tambah rasa penasaran.

“sampan itu alat untuk mengarungi laut yang kadang berombak dan tenang, sampan ini ada dua sisi dan setiap sisinya gua ukir nama lo semua”. Jawaban nde itu membuat iki, uki, isal dan ipan semakin penasaran.

“maksud gua bikin sampan ini adalah untuk mengingatkan gua bahwa gua pernah menjalani proses perjalanan perjuangan pilihan kehidupan bersama kalian dalam sebuah sampan kehidupan dan persahabatan. Gua Cuma bisa membenarkan semua kata-kata kalian karena gua bukan orang yang cerdas dan pintar kayak kalian dan gua ukir nama kalian supaya gua inget gua pernah jadi bagian dari hidup dan persahabatan kalian yang pinter dan cerdas dan gua bersyukur akan hal itu”.

Jawaban itu membuat uki, iki, isal dan ipan tercengang bahkan membuat mereka saling pandang sejenak tapi mereka berlima sepakat dan paham dalam benak mereka masing-masing bahwa sesungguhnya hidup dan persahabatan itu adalah sebuah ketulusan dan rasa syukur. Setelah perbincangan hangat itu berakhir mereka sepakat untuk diam dan memandang langit bersama yang mulai hilang bias jingganya meninggalkan lima orang pemuda dan sampan yang terukir.

Cerpen Karangan: Iki Santri
Blog: https://my-worldmind.blogspot.com/
Facebook: ( Rizki Hnm )
twitter: @ikisantri

Cerpen Balada Lima Pemuda dan Sampan Terukir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


10 November (Part 1)

Oleh:
Hari ini hari upacara bendera dan seperti biasanya aku terlambat, akhirnya aku dihukum berdiri di tengah lapangan sampai pelajaran pertama selesai. Astaga, bayangkan saja di terik matahari pagi walaupun

It’s Not My False

Oleh:
Namaku Sasya. Aku tinggal bersama om dan tanteku di Bandung. Orangtuaku sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Aku tidak tau sebabnya. “Tan, aku berangkat dulu

Rahasia Gunung Beruang

Oleh:
Nama gue Betty, gue lahir di London. Orangtua gue bercerai, akhirnya gue tinggal bersama nyokap gue. Semenjak mereka (ayah dan ibu) bercerai, gue sama nyokap pindah ke Canada. Di

Burung Kertas Sang Putri Tidur

Oleh:
Sore itu, daun-daun yang berguguran Iringan semilir angin yang dengan hembusannya menyapaku Kelabunya langit mendung, telah berganti dengan warna-warni goresan tinta pelangi Ku langkahkan kaki ku perlahan Sambil menghirup

A Reason

Oleh:
Hening. Atmosfir yang tercipta pun menegangkan. Mereka masih terdiam dengan gaya masing-masing -Sawako masih duduk di bangkunya dengan kepala tertunduk, Ayane masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *