Bangku Kosong dan Lelaki Payung Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Aku masih terdiam dan duduk di bangku kelas. Tempat di mana aku dan dia selalu belajar bersama dan tertawa ria. Kini bangku itu kosong tanpanya. Ku usap air mata yang membasahi pipi sesaat aku menundukkan kepala.

Aku terkejut ketika melihat secarik kertas yang tergletak di laci mejaku. Ku raih kertas itu dan ternayata tertulis sepucuk surat untukku.

Dear Marsha,
Sha, udah lama aku ingin ngomong sesuatu sama kamu, tapi setiap kali aku mau ngomong, kamunya pergi.
Mungkin lewat surat ini aku menyampaikannya. Aku menyukaimu Sha, aku menyayangimu, dan aku mencintaimu, Aku tahu pasti kamu nggak bakal percaya semua ini. Tapi jujur Sha, aku sayang banget sama kamu.
Sejak pertama kali aku duduk sama kamu, setiap kali aku menatap matamu, aku melihat adanya getaran cinta.
Marsha kaulah kedamaian di hatiku.
By Andre Gunawan.

Sesaat napasku berhenti, dadaku sesak penuh luka. Aku tak menyangka semua ini. Andre yang selalu duduk satu bangku denganku, ternyata dia mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Ya Tuhan kenapa baru sekarang aku mengetahui perasaannya. Setelah dia pergi meninggalkanku. Begitu beratnya menerima kenyataan ini. Andai waktuku bisa terulang kembali, akan kusampaikan semua rasaku padanya.

Tapi takdir berkata lain, kini dia telah pergi dan takkan kembali. Semoga dia bahagia di atas sana. Aku sayang kamu Andre, air mataku jatuh membasahi pipi seiring dengan jatuhnya air hujan yang membasahi bumi.

Aku masih terdiam di bangku ini, berharap akan dia kembali lagi. Akhirnya ku tutup kesedihanku, aku berdiri dan meninggalkan bangku kosong itu dengan langkah penuh penyesalan. Bayang wajah Andre masih saja menghantuiku, aku tak bisa lepas dari senyum manisnya. Kepandaiannya akan angka-angka rumit Matematika yang membuat langkahku berat meninggalkan kelas 2 IPA ini.

Seakan dia ada di kelas ini dan ingin membantuku mengerjakan PR. Aku berjalan meniti anak tangga dan membiarkan air hujan membasahi tubuhku. Aku tak mempedulikan dinginnya air hujan, yang aku rasakan hari ini seperti mimpi buruk yang baru pernah terjadi.

Seketika langkahku terhenti tak sengaja aku menabrak seorang lelaki yang tak ku kenali wajahnya hingga payung hitam di tangannya terjatuh.

“Maaf, aku nggak sengaja” hanya kata itu yang terucap dari bibirku.

Aku berlalu pergi meninggalkan lelaki dan payung hitamnya. Sesampai di rumah tak henti-hentinya aku menangisi kepergian Andre yang begitu cepat. Hujan pun tak henti membasahi bumi dan menemaniku malam ini hingga aku terlelap dengan semua kenangan tentang Andre.

Matahari mulai menampakkan sinar terangnya, dengan hati yang sakit karena bekas lukaku masih belum bisa terobati. Aku menyongsong pagi yang cerah tapi secerah hatiku. Aku melaksanakan kewajibanku sebagai siswa di SMA Pertiwi.

Aku berjalan menuju kelas dengan mata yang sembap akibatku menangis semalam suntuk, teman-teman di kelas seakan mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Ya, kalian tahu bagaimana rasanya kehilangan separuh hati dari kalian, dunia gelap penuh dengan kesedihan, awan berubah menjadi hitam yang kelam.

Seketika lamunanku buyar karena kudengar kerasnya bel berbunyi itu tandanya semua siswa harus masuk ke kelas masing-masing. Ku lihat lelaki tua yang botak dengan penggaris kayu di tangannya masuk ke kelasku. Ya, dia adalah pak Narto guru Matematika di SMA Pertiwi, dia terkenal sebagai guru yang paling galak.

Buktinya kegaduhan di kelasku kini berubah seketika saat pak Narto masuk, menjadi kelas yang sepi seperti rumah tak berpenghuni. Tetapi ada yang berbeda kali ini, wajah pak Narto yang garang berubah menjadi ramah. Dan ku lihat seorang lelaki sebaya denganku sedang berdiri di depan pintu dengan payung hitam di tangannya.

Hatiku bertanya-tanya siapa dia? Rasanya tak asing lagi wajahnya, aku mulai memutar memori dan yaps! Dia adalah lelaki yang tak sengaja ku tabrak hingga payung hitamnya jatuh kemarin siang.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru dari Jakarta. Silahkan masuk nak dan perkenalkan dirimu.” Perkataan pak Narto membuatku penasaran dan secepatnya aku ingin mengetahui siapa lelaki payung hitam itu.

“Perkenalkan namaku Andre Syahputra, aku pindahan dari SMA 1 Jakarta, aku pindah ke sini karena aku ikut orangtuaku, aku harap kalian mau berteman denganku.”

Mataku terbelak menatapnya dan saat itu ku lihat senyum yang mengembang di wajahnya, Ya Tuhan senyum itu mengingatkanku pada Andre Gunawan, seorang yang pernah duduk satu bangku denganku. Aku tertegun setelah mengetahui namanya, kenapa namanya harus Andre? Ya Tuhan, kuatkan hatiku aku tertunduk lemas karena tak sanggup melihat senyumnya.

“Sekarang kamu duduk dengan Marsha, kebetulan bangkunya kosong, silahkan Andre.”
“Terimakasih pak,” Aku terkejut ketika pak Narto menyuruh Andre Syahputra untuk duduk satu bangku denganku.

Oh tidak, aku tak bisa menolak. Karena memang tinggal satu bangku kosong di sebelahku dan bangku itu adalah bangku kenanganku dengan Andre Gunawan.

“Marsha bolehkah aku duduk di sebelahmu?” Tanya lelaki payung hitam itu dengan senyumnya yang mengingatkanku pada Andre.

Kepalaku mengangguk menandakan dia boleh duduk di sebelahku. Setelah itu pelajaran Matematika pun dimulai, pak Narto mulai menuliskan angka-angka rumit dan rumus kesayangannya di papan tulis.

Sebenarnya aku tak paham betul dengan penjelasannya. Ku lirik lelaki payung hitam yang duduk di sebelahku, kelihatannya dia sangat memperthatikan apa yang sedang dijelaskan oleh pak Narto. Mungkin dia paham dengan dengan angka-angka rumit itu, pikirku dalam hati.

Hal yang paling menyebalkan bagiku, ketika pak Narto memberikan PR. Kali ini hal itu terjadi lagi, aku tak suka dengan angka-angka rumitnya, karena aku tak bisa mengerjakan PR itu sendiri. Dulu waktu Andre masih ada, aku selalu dibantu olehnya. Rasanya senang sekali, dia seorang yang pandai dengan angka-angka rumit itu. Aku kagum padanya, selain kepandaiannya dia pun seorang yang baik dan perhatian.

Hari-hariku selalu penuh warna dengannya, hatiku terasa lengkap atas kehadiran Andre. Namun kini, separuh hatiku telah pergi.

“Andaikan dia masih ada, pasti aku tak akan kesulitan seperti ini, huuhh” ucapku kesal dengan merobohkan kepalaku di meja, aku pasrah dengan angka-angka rumit dari pak Narto.
“Marsha, kamu kenapa? Bingung ya?”
“Iya nih. Aku nggak tahu cara ngerjainnya,” jawabku lemas
“Oh. Ini sih gampang! Tinggal dibagi terus dikali 2, udah gitu dikuadratkan, ketemu deh.” Kata Andre sambil menuliskan rumus dan angka-angka rumit di buku Matematikaku, berakhir dengan senyum manisnya.

Aku tertegun melihat dia menjawab semua soal dengan gampang dan kulihat senyumnya, yang mengingatkanku pada sosok Andre Gunawan. Seketika air mata yang terbendung dari tadi mulai jatuh dan menetes membasahi pipiku. Aku melihat sosok Andre Gunawan hadir kembali dalam jiwa Andre Syahputra lelaki payung hitam itu.

“Ya Tuhan, terimakasih karena Engkau telah menghadirkan sosok Andre kembali padaku.” Ucap dalam hatiku.
“Hey, Sha! Kenapa kamu menangis, apa ada masalah denganmu? Ceritakan saja padaku, aku bersedia mendengarkannya.” Kata Andre dengan nada lembut. Hanya air mata yang menetes dan membuat Andre bingung. Lalu ku usap air mataku dan bertanya padanya.

“Kenapa nama kamu Andre?”
“Loh, kok malah balik nanya? Hmm ya mungkin karena orangtuaku suka dengan nama itu, memangnya kenapa?”
“Oh, tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja, lalu kenapa kamu bisa mengerjakan semua soal ini dengan gampang?” Aku kembali bertanya. “Kamu suka Matematika ya?” lanjutku padanya.
“Iya, aku paling suka pelajaran Matematika makanya aku bisa mengerjakan semua soal ini dengan gampang.”

Air mataku kembali menetes dan kini membanjiri pipiku. Aku tertunduk lemas, ku benamkan wajahku ke meja. Lelaki payung hitam yang di sampingku semakin bingung melihatku. Dan tak sengaja dia menemukan suratku dari Andre yang terselip di buku Matematika. Dia membaca surat itu dan kembali bertanya padaku.

“Apa surat ini yang membuatmu menangis?” Ku dongakkan kepalaku dengan terbata-bata aku menjawab.
“I-iya.”
“Apa Andre Gunawan itu kekasihmu Sha?” Pertanyaan dia semakin membuatku sakit.
“Bukan,”
“Lalu siapa dia? Di surat ini tertulis jelas dia mengungkapkan semua perasaannya padamu.” Andre semakin bingung denganku.

“Dia adalah seorang yang pernah duduk satu bangku denganku, dia juga sangat gemar dengan Matematika, dia tidak pernah bingung dengan angka-angka rumit dari pak Narto” jelasku singkat.
“Di mana dia sekarang?”
“Dia sudah pergi, pergi dariku untuk selamanya, dia meninggalkanku di bangku kosong ini. Seminggu yang lalu dia masuk Rumah Sakit, aku tak pernah tahu kalau dia punya penyakit jantung. Selama dia bersamaku, dia terlihat biasa-biasa saja. Waktu itu aku mencoba menghubunginya, karena aku tak pernah mendapat kabar saat itu tapi usahaku gagal, hingga kemarin aku baru mendapat kabar darinya. Aku harap itu kabar baik tentangnya, tapi tidak! Kabar itu membawa duka, dia meninggal karena operasi jantungnya gagal. Lalu tak sengaja aku menemukan secarik surat ini, dari surat inilah aku tahu tentang semua perasaannya padaku.
Aku sangat menyesal dan kehilangan dia, padahal aku juga sangat menyayanginya. Dan sejak aku melihatmu, senyummu mengingatkanku padanya apalagi kamu gemar dengan angka-angka rumit Matematika. Kamu mirip dengannya, aku merasa sosok Andre ada pada dirimu dia kembali hadir di jiwamu.” Aku menghela napas setelah panjang lebar menjelaskan pada lelaki payung hitam itu.
“Tapi aku bukan Andre yang kamu sayangi” singkat Andre padaku.
“Iya. Kamu memang bukan dia, tapi ijinkan aku untuk berteman denganmu,” Pintaku padanya dengan perasaanku yang masih hancur.
“Baiklah. Aku akan berteman denganmu, aku juga akan membantumu mengerjakan PR Matematika dari pak Narto yang kamu anggap sulit, tenang saja. Tapi…” Dia menghentikan pembicaraannya seketika.
“Tapi.. apa Ndre?”
“Tapi, kamu jangan nangis terus ya! Jelek tahu Sha. Tuh lihat mata kamu sembap kayak kodok. hehehe,” Aku pun tersenyum sambil mengusap air mata yang masih tersisa di pipi.

Siang itu tampak mendung sekali tandanya akan turun hujan, tiba saat pulang dan hujan pun jatuh membasahi bumi. Aku mengurungkan niat untuk pulang, menunggu hujan hingga reda.

Tiba-Tiba lelaki dan payung hitamnya ada di sampingku, dia membuka payung hitamnya dan mengajakku untuk pulang bersama dengan payung hitamnya yang melindungiku dari derasnya air hujan. Akhirnya aku dan lelaki payung hitam itu pulang bersama, luka di hatiku kini terobati karena kehadiran lelaki payung hitam. Yaitu Andre Syahputra

Cerpen Karangan: Rahma Setiyaningsih
Facebook: Rahma Setiyaningsih

Namaku Rahma Setiyaningsih,umurku 16 tahun 3 bulan, sekarang aku duduk di bangku SMK Ma’arif NU Bobotsari,kelas 2 MULTIMEDIA, aku tinggal di Ponpes ULUL ALBAB.

Cerpen Bangku Kosong dan Lelaki Payung Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Sih Arti Sahabat?

Oleh:
Perkenalkan namaku Mikha, aku merupakan sosok yang ceria dan bersemangat. Aku selalu tersenyum dan terkadang tertawa berlebihan terhadap sesuatu. Namun, aku adalah pribadi yang sensitif, menggunakan hati dan perasaan

Me and My Beloved

Oleh:
Aku tidak henti-hentinya memainkan pulpen yang ada di tangan kanannya. Mataku menerawang, dia tidak sedang fokus kepada pulpen itu. Lalu cerita 23 jam yang lalu kembali terputar di otakku.

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Jadikanlah Aku Lebih Dari Teman

Oleh:
“Hayooo… Lagi ngelamunin siapa?” Tiba-tiba suara Rini membuyarkan lamunan ku… dengan sedikit gelagapan aku mencoba mengalihkan perhatiannya.. “ah… gak ngelamunin siapa siapa… aku lagi dengerin musik kok.. ini dengerin

Tangis di Ufuk Barat

Oleh:
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Suara azan bersamaan dengan itu bergema di seluruh penjuru dunia. Seorang wanita berkepala empat menaiki tangga menuju lantai tiga rumahnya. Dari tangga lantai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *