Bangunin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Dia teman biasa. Aku sungguh menganggapnya biasa, datar, sangat datar. Tapi mengapa dia jadi berlebihan seperti ini. Apa dia menganggapku sebagai orang spesial, sebagai sahabat dekatnya gitu? Ah, gak peduli, itu urusan dia menganggapku sebagai teman, sahabat, rival atau apalah. Ya, walau agak terganggu, tapi lumayan membantu. Apa aku jahat? Entahlah, entah hukuman apa yang akan aku dapat jika aku seperti ini padanya.

Aku tipe orang yang susah bangun. Susah bangunnya bukan karena begadang atau apa. Tapi aku menderita syndrom, entah apa namanya. Aku tak mau mengingatnya, sengaja ku hapus dari memori kamera alamiku. Yang ku tahu, syndrom ini menyuguhkan mimpi indah dalam tidur, korban akan terlena sungkan untuk bangun. Itulah penyebab Zul ku juluki pengganggu tidur indah. Ia seperti petani pembasmi, merontokkan kelopak-kelopak bunga tidurku. Pernah suatu kali, aku minta tolong padanya untuk membangunkanku pagi-pagi sekali agar tidak terlambat ke kantor. Pada waktu itu, jabatanku sebagai karyawan tetap terancam karena kuantitas terlambatku yang semakin melonjak.

Besoknya, aku benar-benar dibangunkan olehnya. Padahal aku cuma bercanda. Gak mungkin kan orang yang jarak rumahnya hampir 3 km dari rumah kosku datang pagi-pagi hanya untuk membangunkan seseorang yang baru dikenalnya satu bulan? It’s imposibble. Tapi buktinya nyata, dia datang. Mengetuk pintu keras-keras. Percuma, aku butuh goncangan untuk bangun. Tapi entah ia lewat mana, nyelip di mana, lompat di mana, ia masuk di kamar kosku. Membangunkanku, mengoyang-goyangkan tubuhku kiri dan kanan, seperti membuat adonan kue. Memanggil-manggil namaku yang kian lama kian keras. Butuh sekitar 10 menit, aku terbangun heran melihat Zul di kamarku. Ia malah tersenyum lebar melihatku bangun terkangkang. Wajar aku kaget setengah mati, dia seperti hantu saja bisa menembus tembok.

Aku terbangun dari pembaringanku, buru-buru menyalakan lampu. Cahaya merebak di seluruh ruangan, membuatku lebih tenang. Mimpi buruk menginterupsi tidur nyenyakku. “Ah..” aku menghela napas lelah sambil menyeka peluh di dahi. Aku mimpi dikejar anjing. Aku heran, baru kali ini aku mimpi buruk. Apa ini? Apakah aku sudah sembuh dari syndromku? Atau pertanda buruk? Buru-buru aku membuang pikiran negatifku. Lamat-lamat aku menatap sekeliling. Sekitar terlihat terang karena lampu 20 watt milikku. Buku-buku, celana, baju berserakan di mana-mana. Semalam lembur, tidak sempat untuk berberes. Namun, di luar tampak gelap. Suasana sunyi merasuk. Jangkrik sungkan untuk bernyanyi, deru mobil absen dari jadwalnya, bahkan angin sepoi pun malas berhembus.

Tapi terdengar suara kokok ayam, ah mungkin lagi ada malaikat yang turun. Mitosnya begitu. Mungkin memberiku ilham untuk tidur kembali. Zul juga belum datang, menandakan malam masih panjang. Mimpi tadi membuatku lelah. Lanjut tidur. Tidurku nyenyak sekali. Mata ragu-ragu terbuka, tapi pasti terbuka karena silau yang entah dari mana. Hah! Aku kaget. Apa ini sudah pagi? Ku raih jam mini gelapku di samping ranjang. Tangan jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Jam masuk kantor 07.30. Aku benar-benar terlambat. Tapi aku harus tetap bergegas minimal masuk kantor, juga untuk meminimalisir ocehan dari bos badung itu. Dengan rasa jengkel yang masih melekat, aku buru-buru mandi, berganti pakaian, mengambil alat-alat kantor lainnya. Dalam hati aku memarah-marahi Zul dengan campuran logat Sumatra dan Inggris. Kenapa pula Zul ini, katanya janji membangunkan. Tapi nyatanya? S*it! I am late cause him. He make me rush.

Ke luar rumah pun terburu-buru, menuju bagasi berwarna perak bergerigi, membukanya, lantas mengeluarkan mobil kesayangan. Gas ku tancap, berharap sampai di kantor tidak mendapat busa-busa mulut Bos Danar. Sekitar 20 meter dari rumah kosku, mobil biru bergaris hitamku berhenti karena gerombolan orang menghalangi jalan. Apa gerangan di jalan itu? Aku ke luar dari mobil, iseng melihat. Setelah berhasil menembus tembok himpunan manusia itu, ku lihat sepeda motor yang tak ganjil di mata. Ya, itu motor Zul. Di sekitar motor tampak darah menghiasinya. Jangan-jangan… Ah, ku alihkan pandanganku, berlari menuju mobil. Pikiranku keruh, butuh ketenangan untuk menjernihkannya. Mobil akhirnya ku parkirkan di taman kota. Aku duduk merenung di mobil. Apa Zul mati saat perjalanan menuju rumahku? Aku benar-benar bingung. Sebaiknya jangan masuk kantor dulu.

Hari ini tampak gelap, awan hitam berkumpul di atas entah apa yang digosipkan, tak ada angin, aroma embun tak tercium, bunyi kodok dan gemericik keran tetangga tak ada terdengar. Benar-benar sunyi. Aku bangun agak kesiangan namun tak seperti waktu Zul kecelakaan. Setidaknya hari ini aku hanya akan terlambat 15 menit. Terkaan tentang sembuhnya diriku dari syndrom aneh itu salah. Aku malah mengira lain, sebagai pertanda buruk kematian Zul. Aku sudah memvonis Zul meninggal. Setelah kejadian itu, dia tidak pernah lagi datang membangunkan. Juga di TKP dulu motornya penyok berlebih, darah juga. Semakin menguatkan hipotesis, sehingga menyimpulkan Zul tewas di kecelakaan itu. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku seorang pembunuh? Aku belum sempat membalas kebaikannya. Seandainya saja napasnya bisa berhembus kembali, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melempar balik kebaikannya. Naas, aku sangat takut, menanyakan pusaranya untuk sekedar berziarah pun aku ngeri. Aku melangkah seperti kehabisan baterai menuju bagasi, masih dipenuhi rasa bersalah. Membuka bagasi. Hei? siapa itu?

“Hei lo siapa?! ngapain di bagasi gue, jangan-jangan lo mau nyuri mobil,” aku berteriak keras sambil memegang sebuah balok untuk jaga-jaga.

Dia berbalik, wajahnya? Aku mengenali wajahnya. Zulkarim Mahmud! Wajahnya pucat, sangat pucat, ia tersenyum getir, mengangkat tangannya, membungkuk lantas berjalan gontai ke arahku. Sungguh menyeramkan, balok kayu di tanganku terjatuh, lemas melihat Zul. Tanpa perlu diperintah, aku memaksakan lariku. Aku terus berlari. Di belakangku ia memanggil. “Arid, arid, kamu harus mati,” ia merintih. Aku masuk ke kamar kosku. Ku kunci rapat-rapat. Ia mendobrak pintu, entah kekuatan apa padanya. Semakin mendekat, semakin keras ia memanggil namaku.

“Arid, lo udah gak bisa ke mana-mana, lo udah terpojok. Arid… Arid.. Arid.. Arid!!!” suaranya mengeras seperti membangunkan. Otakku refleks mengartikan.
“Aaaaa!!!” aku berteriak keras, mataku terbuka lebar dengan napas ngos-ngosan.

Ini mimpi buruk kedua. Aku melirik di sampingku, aku spontan menjauh darinya. Dia Zul, dengan lengan yang diperban. Bukannya dia sudah mati? Aku setengah tak percaya, ku gigit tanganku, memastikan aku tak bermimpi. Rangsangan gigit menjalar ke motherboardku, sakit, ini nyata. Aku melompat dari ranjangku, memeluknya seperti ketika aku memeluk kakak tertuaku. Terbayar sudah, lunas semua rasa bersalah dan kekhawatiranku padanya. Ku sumpah serapahi diriku yang telah membuatnya seperti ini. Aku benar-benar menyesal telah mengabaikannya. Mengabaikan segala kebaikannya, keuletannya, bahkan perhatian yang jika diamati seperti perhatian seorang kakak. Pelukannya seperti kakakku yang sekarang bekerja di Arab. Ia meringis kesakitan, aku melepas pelukanku dengan lembut agar tak membuat lengannya tambah sakit. Ia tersenyum menahan sakit, aku membalasnya. Diam sejenak, bibirku mulai bergerak.

“Zul, jangan lupa bangunin lagi,”
Ia tersenyum tipis. Bayangan Bang Adam melintas di pelupuk mataku.

Rupanya seminggu lalu saat kecelakaan, ia hanya patah pada lengan dan sedikit luka pada bagian lain. Motornya sangat penyok, karena memang sebelum kecelakaan motornya sudah penyok. Dan darah di sekitar motornya bukan sepenuhnya darah Zul, melainkan dicampuri darah anjing yang ditabraknya sehingga mengalami kecelakaan. Tinta merah yang dibelinya pun tumpah, sehingga semakin nampak darah yang banyak. Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Bodohnya aku memvonisnya mati tanpa melakukan penelusuran terlebih dahulu.

Cerpen Karangan: Dahdawi Anka
Blog: http://dahdawi-anka.blogspot.co.id

Cerpen Bangunin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Murid Baru

Oleh:
Pada sabtu pagi yang cerah aku bangun dari tidur ku dan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan berudhu untuk melaksanakan shalat subuh, setelah itu aku membereskan tempat tidur

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Gua adalah seorang siswi sekolah negeri di tempat gua, gua sedikit tomboy, cuek dan menyebalkan kata teman-teman, hee… oh.. ya sampai lupa nih nama gua Andine Beberapa tahun yang

Bertemu Hantu Kepala Buntung (Part 2)

Oleh:
Mereka pun menelusuri jalan hutan belantara tersebut dengan harap-harap cemas. Setelah 1 jam mereka berjalan, mereka baru menemukan jalan berjalur warna merah. “Eh, lihat deh, itu jalur warna merahnya!”

Asmara Persahabatan

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku mulai membuka buku tulisku dengan sedikit mencuri kesempatan untuk melirik Icha teman sebangkuku yang sedari tadi sibuk dengan penanya. Entah mengapa akhir-akhir ini kulihat

Kisah ku

Oleh:
Aku hanya lah seorang gadis remaja yang mempunyai banyak teman, sahabat dan aku adalah seorang remaja yang otaknya gak pintar-pintar juga, lumayan lah. Aku berusia 17 tahun dan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *