Beach, The Last Memory

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 5 December 2016

Siang membawa cerita haru yang mendalam, kaki melangkah dengan pandangan hati yang kosong, menuju ke sebuah pantai yang begitu ramai dengan pengunjung. Sentuhan ombak menyadarkanku dari lamunan kesedihan, aku menoleh ke depan dan tak terasa aku nyaris berada di tengah pantai. Aku berusaha untuk tidak menoleh ke belakang karena aku tahu aku sudah sangat jauh meninggalkan kerumunan pengunjung pantai. Aku masih tetap terdiam dengan perasaanku. Tangisanku pecah saat ombak memukul seluruh badanku hingga aku terjatuh. Aku berteriak sekuat tenaga berharap beban di hati bisa ikut terlepas. Pengkhianatan cinta yang baru aku alami membuat hidupku nyaris berhenti saat itu juga. Sahabat terbaikku yang menjadi orang kepercayaanku tega merebut calon tunanganku dengan sengaja, bahkan sudah ribuan maaf yang terucap dari mulutnya sudah tidak dapat aku cerna lagi. Hatiku sudah mati untuk bisa mengerti maaf yang mereka ucapkan. Lamunanku pecah, seorang laki-laki menarik tanganku dan berteriak sehingga aku membuka mataku.

“Apa yang kamu lakukan di tengah pantai seperti ini? Kamu bisa saja meninggal terseret arus”
Aku melihatnya, sosok laki-laki dengan rambut punknya, satu anting lingkaran besar di telinga kirinya, dan muka yang sedikit garang seperti preman pasar. Dia berusaha untuk membawaku ke tepi pantai. Tapi aku menolak. Sebuah ombak dengan arus yang cukup besar membuat tubuhku terlempar. Laki-laki itu menarik dan berusaha untuk membantuku agar tidak terseret arus. Aku tidak dapat merasakan apa-apa, yang kurasakan hanya gelap dan kosong.

Mataku kembali terbuka, namun aku berada di sebuah rumah kayu yang sangat sederhana. Aku mencoba berjalan ke luar dan aku melihat sosok wanita berumur sedang menjemur gabah di halaman depan. Dia melihatku, menghampiri dan menanyakan kondisiku. Ibu itu menceritakan bahwa Rafli adalah putra bungsunya yang sudah menolongku dari seretan arus ombak. Secangkir teh hangat kuraih dari tangan lembutnya itu. Dia mulai bertanya tentang diriku dan apa alasanku sehingga harus melakukan hal yang bisa membahayakan diriku.

“Saya Asti” Jawabku singkat karena aku tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tersenyum kecil lalu mengusap bahuku.
“Ibu tahu kamu sedang dalam kondisi buruk. Jangan terlalu cepat ambil keputusan untuk mati. Kamu masih muda dan hidupmu masih sangat panjang”

Senja pun tiba, aku melihat laki-laki yang sama saat aku di pantai tadi baru pulang ke rumah itu. Dia menatapku dengan perasaan lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi denganku. Dia menawarkan untuk mengantarkanku pulang. Saat perjalanan pulang, aku kembali melihat pantai itu. Dari kecil aku selalu menyukai tentang pantai, tapi setelah kejadian itu aku mulai membenci tempat ini, aku ingin segera pergi namun kakiku masih tetap diam tak bergerak untuk pergi. Langkahku terhenti dan sekilas semua kenanganku di masa lalu hadir di kepalaku dan membuatku semakin tersiksa. Aku kembali masuk ke pinggir pantai. Rafli menarik tanganku dan menyuruhku untuk segera pulang.
“Aku hanya ingin berada di tempat ini sebentar saja. Aku ingin membuang kenanganku bersama mereka. Aku ingin mengembalikan hatiku yang hancur. Tolong…”
Suara lirihku membuat Rafli melepaskan tangannya. Aku duduk di di atas pasir pantai, aku kembali mengingat pertemuanku dengan Dion. Semua kenangan manis tersimpan di setiap sudut pantai ini. Hingga akhirnya Mira mengambilnya dan merusak semua kenangan itu. kembali tangisanku pecah, emosiku memuncak dan aku berteriak sekuat tenagaku. Rafli hanya bisa menatapku penuh iba meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Berterimakasihlah jika kamu dilukai orang lain. Tuhan sudah menunjukkan siapa orang itu dan kamu tidak pantas bersamanya. Aku tidak mengerti yang terjadi denganmu, tapi aku tahu saat ini kamu sedang terpuruk. Bangkitlah tunjukkan pada dia yang menyakitimu bahwa kamu masih punya ribuan kekuatan untuk tetap menjalani hidup ini”
“Aku mencintai dia, sangat mencintainya, tapi kenapa sahabatku sendiri tega mengambil dia dari aku. Apa kamu pikir ini mudah buatku? Minggu depan kita akan bertunangan tapi apa yang terjadi sekarang? Aku harus merasakan sakit yang sangat sangat menyakitkan. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini?”
“Aku memang tidak pernah merasakan yang kamu alami. Aku juga pernah sakit hati. Aku ditolak orangtua gadisku hanya karena aku anak seorang buruh tani yang tidak mempunyai apa-apa. Kamu bisa lihat kan bagaimana kondisi rumahku. Kendaraan pun aku tidak punya. Bukankah itu lebih menyakitkan dari lukamu saat ini? Bahkan saat ini aku masih ingat bagaimana penghinaan itu, aku menyesalinya tapi aku kembali bangkit. Aku bekerja keras dan akhirnya aku punya motor itu dengan hasil keringatku sendiri. Biarkan saja mereka yang menyakitimu hidup bersama. Karma masih berlaku dan mungkin mereka akan hancur bersama juga.”
Aku melihat Rafli begitu tegar, ditolak karena harta dan pekerjaan orangtuanya. Kenapa aku bersedih melebihi penderitaan orang lain yang lebih menyakitkan dari pada deritaku.

2 bulan kemudian aku kembali ke pantai itu. Hatiku sudah sedikit tenang, sepulang dari pantai dulu Rafli memberikan no HP nya supaya bisa tetap berteman dan memberikan pesan agar menghubunginya saat aku kembali berkunjung ke pantai itu. Aku datang berdua dengan teman dekatku. Erni. Rafli juga datang dengan temannya, Lukas. Kita berempat bercanda, meskipun kita baru kenal namun kita tidak canggung untuk saling bergurau.
Pantai itu sudah tidak menyeramkan lagi buatku. Kehadiran Rafli yang sedikit demi sedikit merubah kesedihanku menjadi tawa. Tapi aku tidak ingin cepat jatuh cinta kepadanya. Butuh waktu yang panjang untukku kembali mampu memulai semua dari awal.

Aku pergi membeli minuman untuk mereka, namun saat aku kembali. Aku melihat Rafli dan Erni sedang bercanda berdua saja. Lukas juga sedang duduk yang sedikit jauh dari mereka. Tatapan mata Rafli ke Erni membuatku yakin jika Rafli menyukai Erni, tapi apakah secepat itu Rafli menyukainya? Mereka bertemu baru beberapa jam yang lalu. Entahlah perasaan apa ini, aku merasa sedikit tidak suka melihat mereka berdua seperti itu. Sepulangnya, aku mencoba untuk sedikit menjauhi Erni, aku takut jika luka itu akan datang lagi untuk kedua kalinya. Hubunganku dengan Rafli juga sedikit renggang, kebiasaan kita saling berhubungan di media sosial juga tidak sesering dulu. Erni datang menemuiku karena aku tidak pernah membalas chating dia dan Rafli. Erni bertanya ada apa denganku ini. Aku berusaha tidak menampakkan kesedihanku, bahwa aku cemburu melihat kedekatan Rafli dan Erni.

“Asti, Semenjak kita dari pantai itu, kamu berubah, kalau aku berbuat salah tolong jelaskan”
Erni menebak bahwa sikapku seperti ini karena aku marah padanya karena dia dan Rafli berteman. Ucapan Erni membuatku harus mengakui bahwa aku memang cemburu dengannya.
“Iya, aku suka dengan Rafli, tapi aku bisa buat apa? Kalian sudah sangat dekat sekarang? Rafli yang selalu menyemangati aku untuk bangkit dari luka itu, tapi sekarang, aku harus merasakan luka itu untuk kedua kalinya. Aku melihat Rafli sangat menyukai kamu, aku melihat perubahan itu di dirinya semenjak dia bertemu kamu. Kalaupun aku cemburu, aku bisa buat apa Er?”
“Asti, aku dan Rafli hanya berteman, kamu jangan berpikir sejauh itu. Aku tidak menyukai Rafli, aku anggap dia sebagai teman, itu saja. tolong jangan seperti ini.”
“Sudahlah, aku ingin sendiri dulu, kalaupun kalian saling suka, aku tidak bisa melarang kan?”
Aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengan mereka dulu, memang egois, tapi aku tidak ingin merasakan luka untuk kedua kalinya.

1 bulan kemudian Rafli mengirimkan pesan bahwa dia akan pergi ke Malaysia untuk bekerja disana. Rafli ingin bertemu denganku. Aku memutuskan untuk pergi ke pantai itu lagi. Bukan untuk menemui Rafli, tapi aku ingin merubah diriku agar bisa menerima kenyataan ini. Lukas melihatku dan memberitahu ke Rafli bahwa aku berada disana. Rafli menemuiku dengan banyak pertanyaan yang dia katakan kenapa aku bisa berubah seperti ini. Aku hanya terdiam dan menatapnya. Aku menguatkan segenap hatiku untuk berani bertanya kepadanya apakah dia menyukai Erni? Rafli tidak menjawabnya. Aku mencoba untuk pergi darinya.
“Aku minta maaf As, aku tahu kamu pasti akan terluka karena sudah pernah dekat mengenalku, tapi untuk pertanyaan itu aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak ingin melukai siapapun”
Aku melihat Lukas hanya bisa menatapku. Aku pergi dengan langkah penyesalan, menyesal telah mengenal mereka semua, menyesal sudah membuat Erni masuk di antara aku dan Rafli. Akulah yang membuat luka itu datang lagi.

1 minggu kemudian, hari itu tiba, Rafli dan Lukas pergi ke Malaysia. Lukas meneleponku untuk datang ke bandara, aku pun datang tapi aku tidak ingin Rafli melihatku. Lukas mengetahui keberadaanku dan dia menemuiku. Lukas mengatakan bahwa dia berharap bisa bertemu denganku lagi. Aku menatap mereka semua pergi. Rafli menoleh ke belakang dan dia melihatku. Namun Rafli tidak bisa berbalik karena pesawat sudah akan berangkat. Aku melambaikan tangan kepadanya, aku tersenyum dan meneteskan air mata. Sebuah perasaan yang tidak pernah aku tahu antara Rafli dan Erni. Tapi aku tetap dalam kebodohanku untuk masih mencintai Rafli. Aku hanya berharap semoga luka itu tidak datang lagi. Aku meninggalkan bandara, Erni menungguku di pintu keluar, dia memelukku dan mencoba untuk menenangkanku.

“Kamu teman terbaikku, aku tidak ingin kamu berpikir negatif, aku ingin kita bisa tetap berteman, tolong jangan benci aku karena Rafli”
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu ke Rafli?”
“Aku tidak menyukai Rafli, Aku sudah menghapus semua kontak dengan Rafli. Aku lebih memilih hubungan denganmu, karena buatku sahabat terbaik jauh lebih berharga dari apapun itu”
Aku mengangguk, egois memang jika aku memutuskan pertemananku dengan Erni hanya karena Rafli yang hanya sesaat kehadirannya. Tapi hatiku masih tetap berpihak untuk tetap mencintai Rafli.

Cerpen Karangan: Anis M
Facebook: Niez Nder Nder
Sahabat yang sebenarnya adalah keluarga, disaat terpuruk apapun kondisimu, keluargalah yang menjadi tempat dan alasan untuk pulang.
Ig: nder20lf

Cerpen Beach, The Last Memory merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Musuh Jadi Sahabat

Oleh:
Chatelya anindyani namaku. Aku bersekolah di ‘rainbow girls friendship’ aku mempunyai sahabat bernama shena dan naya. Musuhku adalah karin. Walaupun, aku sama sekali tak ada salah dengannya. Bruk! “Chatelya!

Sahabat Scouts Selamanya (Part 4)

Oleh:
Aku bangun lalu berjalan dan berhenti di tengah-tengah mereka semua. “Teman-teman semua,” panggilku lemas, mereka semua mengarahkan pandangannya kepadaku, juga teman-teman Ulfa. “Semuanya harap tenang, dalam situasi seperti ini

Sebuah Pengungkapan

Oleh:
Awal cerita ini dimulai saat ada suatu perkumpulan yang dilatih oleh senior yang sangat tegas ia adalah Ahmad Rusdy Efendy biasa dipanggil Kak Usdy, Kak Usdy adalah orang yang

Fungus in Love

Oleh:
Pukul 2.30 PM. Hujan seakan menuntun gue pada suatu tempat yang kadang jadi tumbal PHP angkot cs. Gue ngerasa kayak manusia labil yang lagi long distance transportationship dan galau

Keutuhan Sahabat

Oleh:
Disini aku masih duduk di sekeliling mereka yang menyayangiku. Canda dan tawanya masih terdengar di telingaku. Pandanganku masih menatap wajah mereka yang tertawa ria. Sentuhan pelukannya masih di tubuhku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *