Because Of You (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 November 2016

Tinta bolpoin itu kini mengotori lembaran buku tulisku. Ini satu-satunya hal yang rutin kulakukan apabila menunggu guru yang belum datang, ya setidaknya aku bisa meluangkan waktu untuk sekedar melemaskan otot-otot jemariku sebelum mencatat berbagai materi pelajaran hari ini. Sudah penuh satu lembar kuberalih ke lembaran berikutnya, coretan yang abstrak itu kini semakin tidak beraturan, tanpa makna hanya sekedar kumpulan garis lurus, lengkung dan lingkaran. Tita teman duduku hanya memperhatikanku dengan tatapan aneh. “Amira, emangnya gak ada kerjaan lain, prasaan dari tadi kamu corat coret buku terus deh,” ucapnya. “Gak ada,” jawabku singkat.

Tujuh menit kemudian akhirnya Pak guru pun datang. Ia diikuti oleh seseorang di belakangnya. Sepertinya itu murid pindahan. “Ta, liat deh tuh anak baru kayaknya aku pernah liat deh?” tanyaku pada Tita. “yaiyalah dia itu Jonathan sahabat kita di kelas sepuluh dulu.,” jawabnya.
“Astaga, dia Jonathan si Cheese Maniac itu. Aku kira dia gak bakal pindah lagi kesini. Lagian juga kayaknya ada yang beda deh dari dia,” ucapku.
“Iya benar, dia tambah ganteng, kan?!” kata Tita sambil tersenyum-senyum sendiri.

Jonathan Pratama, teman kelasku dulu, bahkan bisa dibilang sahabat. Dia dan Tita adalah sahabat pertama yang kudapat di sekolah ini. Wajahnya yang putih itu tidak berubah dan matanya yang sipit itu malah makin kecil saja dan mungkin kali ini dia bertambah tinggi, lihat saja tubuhnya yang menjulang itu. Waktu itu dia pindah ke Bandung entah apa yang membuat ia tiba-tiba memutuskan untuk pergi, namun ia berjanji padaku dan Tita bahwa ia tidak akan lama dan kemudian ia balik lagi ke sini setelah kelas dua belas. Aku tak sabar mengulangi masa-masa persahabatan yang dulu kulalui bersama Jonathan dan Tita.

“Hai tita, hai amira.” Ucap Jonathan menyapa kami berdua, ternyata setelah satu tahun lebih dia masih mengingat kami.
“Hai Jo,” balasku. “Hai Nathan,” ucap Tita.

Suasana sekolah hari ini cukup panas, matahari di luar seakan memancar dengan semangatnya. Aku bosan di kelas karena tidak ada Jonathan dan Tita mereka berdua sedang pergi ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas yang tadi kami kerjakan.
Aku memandang ke arah luar jendela. “Tempat itu udah ditutup,” keluhku dalam hati. Biasanya setiap istirahat aku selalu menyempatkan waktuku untuk membaca buku komik di tempat itu, ya sebuah tempat rahasia di lantai atas perpustakaan. Tempatnya cukup tinggi bahkan mungkin puncak tertinggi di sekolahku. Tapi sekarang akses untuk menuju ke tempat itu sudah di tutup, mungkin karena ada renovasi ruang perpustakaan.
“padahal ini waktu yang pas untuk sekedar menenangkan pikiran. Baca komik di tempat rahasia terus bisa ngeliat pemandangan dari atas, hmm senangnya.” ucapku kecil.

Membaca komik kartun di dalam kelas seperti ini seperti menyulam kain dengan benang, membosankan. Ditambah dengan suara tertawa dari berbagai penjuru membuatku kehilangan konsentrasi untuk sekedar melihat tulisan tulisan komik yang berjajar itu. Memang beginilah suasana di saat istirahat berlangsung. Ramai dan ribut dimana-mana bahkan sampai merambat ke dalam kelas. Di saat seperti ini hanya bersabar yang bisa dilakukan oleh orang-orang baik sepertiku. Lagi pula sebentar lagi pasti juga sepi. Dan ajaib hanya beberapa detik sejak aku membalikkan lembaran ketiga komik yang kubaca suasana kelas tiba-tiba sunyi.
“Tuh kan bener, udah gak ada yang ribut lagi,” ucapku. Aku kembali membaca komik dengan tenang. Namun, tiba-tiba saja dengan sekejap datang seseorang merampas komik itu dariku. “Komik apaan nih?” ucapnya sambil membolak balik lembaran komik itu dengan tangannya. Gerakan tangannya cepat sekali seakan hendak merobek buku komik itu. “Fino, kembalikan itu buku komik aku,” sergahku. Ia tertawa dengan leluasa, “balikin komik ini ke kamu? Buku komik kayak gini itu gak enak kalo cuma dibaca tapi di… dibuang ke bak sampah, ha ha ha,” ia tertawa dengan kerasnya di hadapanku. Teman-teman kelasku tertegun melihat kejadian itu. Tak ada yang berani bersuara apalagi membelaku. Mereka semua merasa ketakutan, begitu juga aku. Tapi ini tidak hanya terjadi sekali, berulang kali dan juga berasal dari orang yang sama anak konglomerat itu. Dengan tingkah lakunya bak penguasa menjadikannya bagai tuan yang harus kami layani. Seakan sudah merasa kebal aku tak merasa takut lagi malah ada perasaan muak karena perlakuannya yang tidak berubah dari dulu.

“Alfino Hadiwijaya yang terhormat, terima kasih banyak atas perlakuan anda sama saya hari ini. Saya berdoa semoga Tuhan membalasnya dengan balasan yang sepantas-pantasnya dan seadil-adilnya, saya juga berharap semoga anda bisa merasakan apa yang saya rasakan hari ini, bahkan mungkin lebih besar dari pada apa yang saya rasakan.” Ucapku dengan menatap tajam ke arahnya. Ia terlihat sangat marah sekali, tapi itu membuatku merasa puas.

Dan tak lama kemudian suara deringan bel berbunyi. Fino masih saja menatapku dengan amarahnya, entah sudah berapa kalimat yang ia lontarkan untuk membuatku kalut. Tapi aku masih bisa bertahan hingga akhirnya ia melontarkan sebuah ancaman yang hampir membuat jantungku berhenti berdetak. “hari ini juga Gue bakalan mecat ayah loe dari kantor bokap gue. Dan lo liat aja nanti Ayah lo bakal pulang dengan putus asa karena gak akan ada lagi kantor yang mau nerima dia bekerja,” ucap Fino padaku. Dengan nada ancaman seperti itu membuatku kalut dan takut, namun entah mengapa keberanian untuk membela diri tiba-tiba datang, mungkin berasal dari orang yang berdiri di depan pintu itu, yang kurasa berpihak padaku.
“Fino, kalo kamu mau mecat Ayah aku gak apa-apa kok. Emangnya tempat bekerja itu cuma di kantor ayah kamu doank. Lagian kamu gak ada hak buat mecat ayah aku, kamu kan cuma anak bos bukan bos,” ucapku dengan nada agak tinggi
“Heh anak kampung lo jangan sok berani ya sama gue,” ucapnya sambil mendorong bahuku, sehingga menyebabkan aku jatuh tersungkur. “Fino!!!” suara teriakan dari arah pintu. Semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya. “Jonathan,” lirihku.
“Fin, lo kenapa? Banci? Beraninya sama cewek doank,” ucap jonathan. “Apa lo bilang?”. Bam, Sebuah pukulan tepat mendarat di pipi kiri jonathan. Jonathan tidak diam ia membalas pukulan itu dengan mendaratkan sebuah pukulan yang tepat mengenai wajah Fino. Aku berdiri mencoba melerai keduanya. Suasana kelas semakin panas dengan kejadian ini. “Stop, udah kalian gak usah bertengkar lagi,” kataku mencoba menenangkan keduanya. Namun seakan tidak puas dengan apa yang terjadi Fino pun hendak mendaratkan pukulan lagi ke Jonathan aku menghalanginya dan akhirnya pukulan itu mengenai wajahku. “Aduh,” ucapku sambil memegang pipiku, dan tak terasa beberapa butiran bening mengalir dari mataku, mungkin karena pukulannya yang keras dan sontak membuatku mengeluarkan air mata.

“Amira, kamu gak apa-apa,” ucap Jonathan, “Astaga pipi kamu berdarah,” ucapnya dengan nada panik. “Aku gak apa-apa, Jo aku mohon kamu gak usah bertengkar lagi,” ucapku. “Kita ke UKS, ayo,” kata Jonathan lagi. Aku mengangguk, namun rasanya tubuh ini seakan tidak bisa bergerak karena pukulan tadi. Aku paksakan diriku, “Biar aku bantu,” ucap Jonathan, “Tidak usah, aku bisa sendiri,” aku berdiri lalu berjalan ke luar dan ditemani oleh Cheese Maniac sahabatku, tapi bukan hanya sahabat lebih dari itu. Tapi entahlah, perasaanku sungguh aneh, aku tidak bisa membohongi degupan jantungku yang kencang bila berada di dekatnya. Walau aku kerap menepis perasaan ini tapi aku tetap tidak bisa membohongi diriku sendiri.

Aku duduk di sebuah kursi kecil dalam UKS itu. Jonathan mengambilkan air dan obat merah untukku. “Sini biar aku obatin,” ucapnya ia perhatian sekali dan semakin membuatku gugup. “Tidak usah, aku bisa sendiri.” Tolakku. “Lagi-lagi kamu nolak buat aku tolongin. Emang benar ya kamu itu keras kepala. Maunya cuma ngerjain semuanya sendiri. Katanya sambil tersenyum.
“Ih apaan sih aku gak gitu tau. Lagian kalau kayak gini aku bisa sendiri.” Ucapku.

Ketika aku sedang berbicara dengan Jonathan tak sengaja kulihat Tita yang berdiri di pintu UKS, namun ia tidak jadi masuk malah pergi.
“Jo mendingan sekarang kamu susul Tita, tadi aku lihat dia mau kesini tapi dia tiba-tiba pergi. Mungkin ada apa-apa sama dia. Sebaiknya kamu susul ya,”
“Tapi bagaimana dengan kamu,”
“Aku sudah baik-baik saja,”
“Baiklah,” ucapnya.

Aku menunggu kedatangan Jonathan dan Tita di dalam kelas, waktu itu sedang ada rapat di ruang guru karenanya pelajaran kami kosong. Namun untuk mengisi kekosongan itu kami diberi tugas.
“Syukurlah kalian udah datang,” ucapku begitu melihat Jonathan bersama Tita telah tiba di kelas. jonathan hanya tersenyum lalu duduk di bangkunya yang tepat berada di depanku. “Amira maaf ya tadi aku gak nemenin kamu di UKS,” ucap Tita padaku. “Gak papa kok Ta, yang penting sekarang kamu udah ada di sini sama aku dan Jonathan, ya kan Jo,”
“Ya,” ucap Jonathan dengan menengok ke arah kami. “Mendingan sekarang kita kerjain tugas aja,” sambungnya lagi. “Ya, baiklah,” ucapku dan Tita.

Suasana kelas yang beberapa jam lalu tegang karena Fino kini telah berubah nyaman dan kondusif. Tugas yang diberikan oleh Guru juga sangat membantu untuk melatih otak kami untuk berpikir. Lima belas menit setelah tugas itu dikumpulkan, bel pulang pun berbunyi.

Ucapan Alfino ternyata tidak main-main. Ia benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan tadi di sekolah. Ayah pulang cepat hari ini karena dipecat oleh bosnya yang tak lain adalah ayah Alfino. “Maafin aku Yah, Ayah dipecat gara-gara aku,” ucapku merasa bersalah. “Amira, kamu ngomong apa sih, ayah dipecat itu bukan gara-gara kamu.,” jawab Ayah, “Itu benar, Ra ini bukan salah kamu, lagi pun ayah kamu kan bisa cari kerja lagi,” ucap Ibu menenangkanku juga. “Tapi Bu, Ayah benar-benar heran kenapa perusahaan mecat ayah gitu aja dan anehnya juga kenapa perusahaan lain gak ada yang mau nerima ayah kerja.”. ujar ayah. “Ya mungkin itu tandanya Ayah harus kerja di tempat lain kalo gak bisa kerja di Jakarta ya kan ayah bisa kerja di Palembang, sanak keluarga kita kan banyak di sana siapa tau mereka bisa bantu ayah buat cari kerja.” Ayah terdiam sejenak mendengarkan kata-kata ibu, “Nanti ayah coba pikirkan ya Bu,” ucapnya.

“ada apa dengan pipi kamu nak, kenapa lebam kayak gitu,” kata Ibu sesaat setelah melihat pipiku yang tadi sempat berdarah. “ini tadi aku gak sengaja kepeleset terus jatuh deh,” jawabku. “kalo kepeleset itu lukanya di kaki bukan di pipi, tapi kamu gak bohong kan?” ucap Ayah kemudian. “Gak, aku gak bohong,” jawabku, sebenarnya berbohong itu gak baik tapi mau gimana lagi, dari pada ada masalah nantinya.

“Yah, terus gimana? Kita mau usaha apa, kita mau cari uang pakai apa kan ayah udah gak kerja lagi.” Tanya Ibu pada suatu malam ketika sedang bercengkrama dengan ayah, aku datang menghampiri.. “Gak tau, Bu Ayah juga bingung. Tapi kalo dipikir-pikir ayah setuju sama Ibu mendingan kita sekeluarga pindah aja ke Palembang sekalian juga cari kerja di sana,” ucapnya. “Ya yah ibu setuju semua keputusan Ayah,”
“Pulang ke Palembang? Tapi gimana dengan sekolah aku?” tanyaku
“kalau soal itu, kamu pindah aja di sekolah yang ada disana lagian kan masih banyak sekolah yang bagus dan cocok untuk kamu nak,” jawab Ayah. Aku terdiam dan merenung, pindah sekolah? Rasanya berat sekali, meninggalkan sekolah di sini. “Ada apa Nak? Kamu gak setuju?” ucap ibu yang seakan mengetahui isi hatiku. “Gak kok Bu, aku setuju.” jawabku dengan memaksakan sedikit senyuman.

Pagi ini kaki ini seakan tak sanggup melangkah mungkin saja karena ini adalah hari terakhir ku sekolah. “Amira gimana luka loe? Udah gak sakit lagi kan?” Tanya Fino orang yang telah membuat ku menderita akhir-akhir ini. “Kenapa? Kamu mau mukulin aku lagi? hah!!! Silakan aja sampai kamu puas. Fin aku udah gak ada urusan lagi sama kamu kamu udah cukup buat aku menderita,” ucapku dengan nada emosi. “gue Cuma bermaksud baik nanya keadaan lo kenapa lo malah marah kayak gitu,” jawabnya, “udahlah gak penting juga ngomong sama kamu,” kataku lalu pergi meninggalkannya.
Rupanya di dalam kelas sudah datang Jonathan. Kebetulan waktu itu ia sedang berbicara berdua dengan Tita. Setahuku mereka berdua sangat dekat sekali. Sejak pertama memasuki sekolah ini aku pun sudah melihat eratnya persahabatan di antara mereka, tak heran jika Tita tau banyak tentang Jonathan dan begitu pula sebaliknya. Tapi walaupun persahabatan mereka begitu erat, mereka tetap mau menerima persahabatan yang lainnya, contohnya seperti aku ini, yang kini telah menjadi bagian dari mereka.

“Hai, temen-temen,” ucapku pada mereka berdua
“Hai juga,” ucap Jo dan Tita hampir bersamaan.
“Amira ke kantin yuk, laper nih tadi pagi aku belum sarapan,” ajak Tita padaku
“Okey, Jo gak ikut?” tanyaku pada Tita. “Gak katanya dia mau ngerjain tugas dulu nanti dia nyusul kok,” “Oh,”
Aku dan Tita menuju kantin, jarak antara kelas dengan kantin tidak terlalu jauh. Hanya terpisah empat ruangan.
“Aku tau persahabatan kita bertiga sudah lama terjalin, tapi untuk kali ini aku mau cerita tentang sesuatu sama kamu Ra,” ucap Tita setelah selesai menyantap makanannya.
“Tentang apa?”
“Ini tentang perasaan aku sama Jonathan. Aku suka sama dia. Tapi aku malu mengatakan ini sama dia karena aku takut dia gak suka sama aku. Karena itu aku mau minta tolong sama kamu untuk membantu aku agar dekat sama jonathan, kamu mau kan?”
Aku terdiam sejenak, entah apa yang akan aku katakan selanjutnya. Bagaimana mungkin aku dan Tita sama-sama menyukai orang yang sama apalagi dia itu tak lain dan tak bukan adalah sahabat kita sendiri, Jonathan. Ini yang aku takutkan sejak dulu akan ada cinta segitiga di antara kami.
“Tapi, Ta, aku gak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku gak bakal lama lagi tinggal di sini. Kata Ayah kami sekeluarga akan pindah ke Palembang besok. Dan ini adalah hari terakhir aku sekolah di sini.
“Apa? kamu becanda kan?”
“aku serius. Aku minta maaf gak bisa bantuin kamu. Tapi aku yakin Jonathan juga pasti suka sama kamu,” ucapku. “Gak pa-pa kok Ra, tapi apa keputusan kamu untuk pergi gak bisa diubah lagi?,”
“Udah gak ada harapan lagi. ayahku udah dipecat dari kantornya dan gak ada pekerjaan lain lagi, terus kita mau bertahan pake apa?”
“Pasti ini gara-gara Fino kan? Fino itu udah keterlaluan sama kamu Ra, dia itu memang benar-benar gak punya hati. Tapi Ra aku dan Jonathan pasti akan bantuin kamu kok” Omel Tita. “Gak usah Ta, aku gak mau ngerepotin kalian, selama ini kalian udah baik banget sama aku.” Tolakku.
“Kamu itu juga sahabat yang baik. Beruntung aku dan Jo punya sahabat kayak kamu. Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui sebelum kamu benar-benar pergi.”
Aku diam menunggu Tita melanjutkan ucapannya.

“Ini soal Fino.” ucapnya, ia berhenti sejenak, ”Fino itu selalu gangguin kamu karena sebenarnya dia…,” Tita menghentikan ucapannya karena Jonathan datang menghampiri kami. “Hei kalian lagi apa di sini, aku lama nunggu di kelas tau.” Kata Jonathan, ia memandang Tita sesaat. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa arti pandangan tersebut setelah itu ia memilih tempat duduk di sebelah Tita. Tak terasa hatiku menangis dan mataku berkaca-kaca. “Kamu kenapa Amira?” ucap Tita. Aku segera mencari alasan untuk menangkal air mata ini. “Oh ini tadi kayaknya ada debu masuk ke mata aku deh,” ucapku sambil mengucek mataku, “aku ke kamar mandi dulu ya, aku mau basuh mata aku biar gak sakit lagi, ya, aku permisi dulu,”.
Aku setengah berlari dan tidak sengaja menabrak seseorang dan parahnya orang itu adalah Fino. “Eh, kalo jalan liat-liat donk. Amira loe lagi loe lagi,” ucapnya. Aku hanya menundukkan wajahku. “Lo kenapa? Loe nangis?,” tanyanya “Cengeng banget,” ledeknya. “Bukan urusan kamu,” jawabku ketus. Aku berjalan menuju tempat rahasia yang hari ini tidak ditutup lagi.

Cerpen Karangan: Widia oktaviana
Facebook: Baiq Widia Oktaviana

Cerpen Because Of You (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penggemar Rahasia Aisyah

Oleh:
Mungkin ini surat dan bunga yang ke seratus kalinya kuletakkan di lacinya. “Assalamualaikum Ukhti, Ana Inni uhibbuki fillah. Aku berharap engkau tersenyum membaca suratku.” “Dari: Penggemar Rahasiamu” Itulah isi

Kusadari

Oleh:
Tersedu-sedu suaraku menyuarakan kesedihan, aku menangis hingga terkuras sudah semua linang air mata yang ada dalam sumur airmataku ini, tak henti-hentinya aku terisak membual dan menyumpah serapah orang yang

Sahabat yang Nyata dan Setia

Oleh:
Namaku Zahra, aku mempunyai 2 sahabat yang bernama Lia dan Khana. aku lebih menganggap Khana sebagai sahabatku. Tapi entahlah, kenapa aku lebih sering bermain bersama Lia, aku juga heran.

Goodbye Tegar

Oleh:
Tegar, nama lengkapnya Berani Tegar. Seorang cowok yang kurang lebih satu tahun mengisi hatiku. Ya! hanya mengisi tidak untuk memiliki. Aku menyukainya, sangat sangat menyukainya. Sosoknya yang perfectionist dengan

Penyesalan Dita

Oleh:
Mia adalah murid terpintar di kelas 5. Ia selalu mendapat peringkat 1. Ia juga mahir menyanyi, maka tidak jarang ia menang dalam kontes menyanyi. Dengan prestasi yang diraihnya, tentu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *