Because Of You (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 November 2016

Aku duduk di antara kekosongan tempat ini. Ya tidak ada bangku atau sejenisnya di sini, hanya berupa ruangan kosong, tapi masih bersih, hanya saja tak pernah ditempati. Aku menyebutnya tempat rahasia karena tidak pernah ada orang yang mendatangi tempat ini. Di samping ruangan ini terdapat kebun kecil atau tepatnya bekas kebun kecil yang sepertinya pernah ditanami bunga, namun sekarang hanya bersisa rumput-rumput liar kecil yang. tumbuh subur. Jika kita duduk di kebun rumput ini maka secara langsung kita bisa melihat pemandangan sekolah dengan leluasa, tanpa ada penghalang. Aku sering melakukan hal itu sambil duduk membaca komik dan tidak ada yang mengganggu. Rasanya seperti berada di atas pohon, menyenangkan. Akan tetapi kali ini suasananya lain, kesedihan bukan kesenangan. “Aku memang egois, kenapa sih aku gak bisa ngerelain sahabat aku pacaran. Kalo kedua sahabat aku itu memang saling menyukai nggak ada salahnya kan kalo mereka punya hubungan special, tapi kenapa aku gak bisa rela hal itu terjadi.”
“Amira, loe ngapain disitu,” suara dari belakang mengagetkanku. Aku segera menoleh, “Fino, kamu ngapain di sini,” tanyaku balik. “Gak ngapa-ngapain cuman iseng aja,” jawabnya singkat.
“Amira loe jangan terlalu di pinggir, sini masuk, jangan disitu nanti kalo jatuh baru tau rasa,” katanya. Ia berdiri di ruangan besar itu dan sepertinya ia takut berdiri di sini.
“Kamu takut ketinggian?” tanyaku pada Fino
“Gak. Masa gue takut.”
“Ya udah kalo berani kenapa gak kesini aja, di sini enak loh ada banyak yang dapat kita lihat dari pada di dalam ruangan itu kosong gak bisa liat apa-apa, sini Fin kalo mau ke sini lewat pintu aja jangan lewat jendela.”
“Oke gue bakal ke situ,” dan benar saja ia juga duduk di taman rumput ini. Tapi ia tidak berani menatap ke bawah. Tatapannya hanya ke depan. Dan terlihat ia tegang sekali.
“Kenapa Fin, kok gemeteran gitu?” ucapku sedikit meledeknya. “Tapi aku heran deh kenapa kamu tiba-tiba jadi baik begini sama aku?”
“Ge-er banget sih. Gue kayak gini karena cuma mau nanya loe nangis gara-gara apa? Gue akuin kalo selama ini gue jahat sama loe, tapi cuma sekali gue bikin loe nangis itu pun karena gak sengaja, trus sekarang kenapa loe nangis lagi, apa karena ayah loe dipecat? Atau karena ada hal lain?”
“Kenapa kamu pengen tau banget sebab aku nangis? Ini penting ya buat kamu?, tapi kenapa?”
“Loe kan udah tau alasannya,”
“masih alasan yang sama kan, karena kamu sangat membenci aku, sangat memusuhiku, dan kamu akan terus mengganggu hidupku selamanya, iya kan?”
“Bukan, eh maksudnya iya,” jawabnya gugup. “Trus loe nangis karena apa?” lagi ia mengulang pertanyaan itu.
“Bukan karena apa-apa iseng aja,” jawabku.
“Dasar pembohong, trus terang aja gak usah sembunyiin apa-apa. Mana ada orang nangis hanya karena iseng.”
“Ya, memang gak ada masalah apa pun. Tapi aku berterima kasih sama kamu karena kamu adalah orang pertama yang peduli sama aku hari ini. Thanks ya Fin,” ucapku.
“Tapi loe gak nangis gara-gara gue kan?” “Gak”
“oh Ya, hari ini harus selalu dikenang hari dimana kamu untuk pertama kalinya baik sama aku Fin,” aku lalu mengambil sebuah bolpoin dan buku yang sengaja ku simpan di tempat ini. Aku lalu menuliskan sepatah dua patah kata tentang kejadian hari ini khususnya tentang Fino yang sikapnya tiba-tiba berubah drastis jadi baik. “Nih, buat kamu,” ucapku setelah menulis kata-kata itu di selembar kertas dan melipatnya. “Tapi bacanya nanti aja. Dan ingat ya kamu gak boleh buang kertas itu sebelum membacanya.” Ujarku. “Ya, tapi buat apa surat kaya gini?” tanyanya. “Buat kenang-kenangan aja. Biar kamu selalu ingat sama aku,” jawabku. “Buat apa kan tiap hari pasti gue bisa ketemu sama loe,” ucapnya.
“Gak bisa tiap hari, tapi untuk hari ini aja. Besok aku udah gak ada lagi disini karena aku akan pergi…”
“Ini pasti karena gue kan yang minta ayah gue supaya bokap loe dipecat dari pekerjaannya. Gue minta maaf amira, gue gak nyangka akan seperti ini kejadiannya.”
“Tidak masalah Fin, ini bukan salah kamu.”
Fino hanya terdiam mendengar ucapanku. Mungkin ada rasa bersalah dalam hatinya. Tapi kucoba mencairkan suasana. “Eh, coba liat deh ada cewek cantik di bawah Fin, coba liat di sana tuh,” kataku sambil sengaja menunjuk ke bawah yang sebenarnya tidak ada siapapun di sana. “Gak mau, gak gue gak mau liat ke bawah, walaupun ada cewek cantik atau apalah terserah yang penting gue gak mau liat ke bawah, ngeri tau,” ucapnya dengan ketakutan. Aku tertawa kecil melihat ia bertingkah seperti itu, seperti anak kecil yang takut jatuh dari ayunan. Ha ha ha…

Malam harinya aku membantu Ibu dan Ayah mengemas barang-barang kami serta pakaian. Besok pagi kami sudah akan berangkat dengan mengunakan kereta api. Malam ini akan terasa begitu panjang untukku, mungkin karena itu aku tidak akan bisa terlelap.
“Ra, Barang-barang kita udah dimasukan ke dalam tas kan semuanya,” Tanya Ibu. “Ya, sudah Bu,” jawabku singkat. Di tengah kesibukanku membereskan barang-barang itu, tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu. Aku pun bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.
“Jonathan. Mari silakan masuk,” ucapku.
“Kita ngobrol di luar aja.” Ucap Jo. “Oh ya udah kalau gitu. Silakan duduk Jo,” ucapku seraya mempersilakan ia duduk di sepasang kursi yang terletak di depan rumah. “Aku kecewa sama kamu, Ra,” ucapnya tiba-tiba. “Kenapa kamu gak ngasi tau aku kalau kamu mau pergi, apa aku gak penting buat kamu? Aku ini sahabat kamu Ra. Apa kamu kira aku gak bakalan sedih kalau kamu pergi ninggalin aku?”. Aku diam tidak menjawab kata-katanya.
“Amira apa kamu sudah tidak menganggap aku sebagai sahabat kamu lagi, sehingga kamu gak ngasi tau aku.. Apa karena kita sudah lama tidak bertemu sehingga kamu sudah melupakan aku sebagai sahabat kamu. Hingga akhirnya aku harus tau hal ini dari orang lain.”
“Aku minta maaf Jo, pasti Tita yang udah ngasi tau kamu kan?”
“Bukan Tita, tapi Fino.”
“Tapi bagaimana Fino bisa kasi tau kamu kalau aku akan pergi?”
“Fino bilang dia tidak tega melihat kamu sedih kalo harus pergi tanpa sepengetahuan aku, sahabat kamu. Oh ya, Ra, sekarang Aku tinggal satu rumah dengan Fino karena dia adalah saudaraku. Ibuku menikah dengan Ayahnya dua tahun lalu. Tapi karena hubungan aku dan Fino tidak baik dan kerap bertengkar akhirnya aku pindah ke Bandung supaya tidak ada keributan lagi. Tapi sekarang setelah keadaannya membaik aku balik lagi ke Jakarta.”
“Kenapa kamu gak ngasi tau aku tentang hal sepenting ini?” tanyaku.
“Kenapa aku harus kasi tau kamu, kamu sendiri malah ngasi tau orang lain tentang kepergian kamu ke Palembang, bukan ngasi tau aku.”
“Tapi Jo, ini masalah lain,.. kalau gitu aku juga kecewa sama kamu. Kamu berubah,”
“Kamu juga berubah, selalu menghindar dari aku, selalu nolak kalau aku mau bantuin kamu. Tidak seperti dulu, kita bertiga kompak. Tapi kenapa sekarang ini kamu selalu menghindar dari aku dan Tita.”
“Aku hanya akan mengganggu kedekatan kalian, aku gak mau jadi parasit yang akan memperlambat berseminya cinta kalian itu alasannya aku menjauh,” ucapku tapi di dalam hati
“Bahkan sekarang di saat kamu mau pergi kamu gak peduli sama aku. Baiklah kalau begini terus lebih baik kita tidak usah sahabatan lagi, kamu anggap saja gak pernah kenal sama aku. Karena mulai sekarang aku hanya punya satu sahabat yaitu Tita sahabat yang selalu terbuka dan tidak pernah menyembunyikan masalah apa pun dari aku. Dan mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah bertemu lupakan semua persahabatan kita,”
Mataku berkaca-kaca, mungkin karena kata-kata yang tadi dilontarkan oleh sahabatku sendiri. Dia memutuskan persahabatn ini begitu saja tanpa peduli apa yang aku rasakan. Jonathan kemudian pergi meningglkan rumahku. “Jonathan tunggu,” kataku setengah berteriak, ia berhenti.
Aku mengeluarkan sebuah surat dari balik saku. “Walaupun kita bukan sahabat lagi, setidaknya aku ingin menyampaikan surat ini pada kamu. Ini dari teman kelas kita, dia menyukai kamu dari dulu, tapi dia malu untuk ngasi surat ini secara langsung sama kamu.” Ujarku. Jonathan mengambil surat itu tanpa berkata apa-apa lagi dia pun pergi.

“Maafin aku Jo, aku memang bukan sahabat yang baik. Aku pantas mendapatkan ini semua,” kataku dalam hati, tapi bagaimanapun aku lega karena bisa memberikan surat itu kepada Jonathan, surat yang dititipkan Tita padaku.
“Ra, tolong kamu kasi surat ini ke Jonathan ya, tapi kamu jangan bilang ini dari aku. Soalnya aku malu sama dia kalo ngasi langsung. Kamu mau kan?”
“Ya, Ta, kamu tenang aja, aku jamin surat ini akan sampai ke tangan Jonathan secepatnya, aku janji,”

Aku membaringkan tubuhku, jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Kepalaku kaku masih memikirkan ucapan Jonathan tadi. Dan tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh suara deringan Handphone, ada pesan masuk tapi dari nomor yang tak dikenal.
‘Sorry, karena selama ini gue selalu gangguin loe dan selalu jahat sama loe. Mulai sekarang gue akan berubah. Gue Gak akan jahat lagi sama siapa pun termasuk loe. Dan gue gak bakal biarin loe pergi. Karena gue semua ini terjadi berarti gue juga yang harus memperbaikinya.’
“Dari siapa nih?,” ucapku setelah membaca pesan singkat itu. Aku tak membalas nya, mungkin hanya salah kirim, pikirku.
“Amira amira sini Nak,” ucap Ayah dan Ibu yang terlihat begitu senang. “Ada apa Yah, Bu?,” tanyaku. “Kita gak jadi pindah karena ayah kamu udah punya pekerjaan lagi,” jawab Ibu. “Ayah gak jadi dipecat. Tadi bos ayah yang telepon, dan dia minta ayah untuk kerja lagi.”
“Alhamdulillah, Amira seneng banget. Terus sekarang berarti kita harus ngembaliin barang-barang kita donk ke tempat semula, kan besok kita gak jadi pindah,”
“Ya pasti, ayo sekarang bantuin ibu beres-beres barang, kamu juga taruh baju kamu ke dalam lemari,” kata Ibu sambil membuka tas yang tadi telah kami isi dengan barang-barang dan perabotan lainnya.
“Baik, Bu.”

Selesai membantu Ibu, aku membaringkan tubuhku di kamar. Masih tersimpan tanda Tanya perihal siapa yang mengirim pesan singkat itu tadi. Apakah benar salah kirim atau benar pesan itu ditujukan untukku.
“Kenapa tiba-tiba bosnya Ayah berubah pikiran dan malah tidak jadi pecat ayah, justru dia sendiri yang minta ayah buat kerja lagi, ini aneh kalo terjadi secepat itu. Pasti ada orang yang ngebujuk dia untuk ngelakuin semua ini,” ujarku. “Apa ini ada kaitannya dengan sms yang aku terima tadi. Apa jangan-jangan Fino yang ngelakuin semua ini, dia yang kirim sms itu buat aku dan dia juga yang ngebujuk papanya supaya gak jadi mecat ayah. Kalo memang iya tapi kenapa Fino berbuat seperti itu apa coba maksudnya. Ah tapi sudah lah mungkin sekarang dia sudah berubah jadi baik,”

“Fin, makasi ya,” ucapku sewaktu bertemu dengan Fino di depan kelasnya, XII IPA 1, kebetulan kelasku, XII IPA 2 ada di samping kelasnya.
“Kenapa kamu berterima kasih? Buat apa?” dia balik bertanya.
“Ya karena kamu aku gak jadi pindah. Makasi ya, kamu udah baik sama aku dan keluargaku,”
“Aku hanya ngelakuin apa yang seharusnya aku lakuin. Lagi pula satu kebaikan aku itu gak mungkin bisa menebus semua kesalahan aku sama kamu. Justru aku yang harus ucapin terima kasih sama kamu, karena kamu gak pernah dendam sama aku atas semua kelakuan aku selama ini,” ucapnya pelan
“Bukan satu tapi tiga kebaikan yang udah kamu lakuin buat aku. Pertama kamu udah peduli sama aku kemarin, kedua karena kamu Ayah aku gak jadi dipecat, dan yang ketiga kamu udah gak jahat lagi justru kamu sekarang berubah jadi orang yang sangat baik,” jawabku. “Ya udah aku balik ke kelas dulu, bye.”
“Amira tunggu dulu,” cegahnya.
“Ya ada apa?”
“Amira kamu mau gak jadi temen aku, tapi kalo gak mau ya gak pa-pa,”
“Ya mau lah, masa nggak sih,”
“Kita akan jadi teman selamanya, janji,” ucap Fino sambil mengangkat jari kelingkingnya, “Okey, janji,” jawabku.
Melihat Fino seperti itu mengingatkanku pada Jonathan dan Tita. Janji yang kita ucapkan dua tahun yang lalu untuk selalu menjadi sahabat. Tapi kini semua sirna, hanya tinggal puing-puing yang pasti akan roboh.
“Syukurlah, kamu gak jadi pindah, aku seneng sekali. Tapi aku sedih Jonathan gak masuk hari ini dia sakit,” ucap Tita wajahnya yang tadi riang seketika murung ketika menceritakan hal ini. “Aku mau jenguk dia, kamu mau ikut?” aku tak langsung menjawab hanya diam apa Jonathan masih mau bertemu denganku setelah kejadian malam itu. “Ya, nanti aku usahain,”.

Dengan langkah cepat kulewati setiap koridor kelas. Tita tidak terlihat dari tadi mungkin dia sudah pergi ke rumah Jonathan. Aku merasa bingung apa aku juga harus pergi atau tidak. Aku bukan sahabatnya lagi tapi setidaknya aku adalah teman biasa yang ingin melihat kondisinya. Baik aku pergi. Lalu lalang kendaraan ramai sekali hari ini. Juga banyak angkutan umum yang berkeliaran namun semuanya terlihat penuh. Aku masih berdiri di depan gerbang sekolah. Menanti angkutan umum itu berhenti. “Ayo aku anterin,” ucap Fino yang ternyata juga belum pulang. “Tapi aku mau ke…” “Aku tau kamu mau jenguk Jonathan kan?”. Aku mengangguk.

Cerpen Karangan: Widia Oktaviana
Facebook: Baiq Widia Oktaviana

Cerpen Because Of You (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me and My Best Friends

Oleh:
Bagiku sahabat adalah seseorang yang dapat menghiburku, seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, karena sahabatlah orang yang selalu ada untukmu. Aku memiliki banyak teman, hampir semua orang di kelasku,

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

Sahabat Sejati

Oleh:
Namaku Dinda, dan mempunyai seorang sahabat bernama Sintia. Aku dan Sintia sudah lama bersahabat dari kelas 7 sampai sekarang. Pada suatu hari di sekolah kami ada murid baru yang

Cinta Dan Benci

Oleh:
Kamu yang menanamkan cinta di hatiku, Kamu yang menanamkan juga benci di hatiku. Harapan yang selalu kamu tebarkan padaku selama ini apa artinya? Cinta tak selucu yang kamu pikirkan!

Ah!

Oleh:
Esok, aku genap berumur 17. Atau harus aku sebut ganjil? Aku yang tak bisa tidur bak setusuk sate yang dibolak-balik di atas panggangan. Gelisah. Perayaan ulang tahun yang marak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *