Benar Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 August 2015

Apa jadinya kalau teman kita melakukan sebuah kesalahan, tapi di saat kita menyadari mereka, mereka malah balas dengan kata-kata yang kadang membuat kita bingung sendiri? Kita semua pernah melihatnya, bahkan merasakannya.

Ini adalah kisahku. Bukan kisah besar, hanya sebuah rambut yang mempunyai banyak arti bagi kehidupan. Ini bukan kisah drama romantis yang akan membuat kalian terharu lalu menangis, Cuma kisah kenyataan yang selalu ada di sekitar kita. Ini bukan kisah dengan kata-kata indah dan mahal, namun kisah tentang seorang sahabat yang mencoba menolong sahabatnya sendiri.

Kisah ini dimulai saat aku pulang sekolah. Seperti biasa, dengan kedua sahabatku. Namanya Dani dan Maya. Dulu mereka saling berantem, namun entah tersambar petir bagaimana dan di mana, mereka sekarang pacaran. Apakah ini sebuah karma bagi mereka berdua? Oke, entah dapat firasat apa. Hari ini, aku membawa handycam.

“Eh, kenapa lu bawa kamera?” Tanya Dani, yang berjalan sambil menengok ke belakang, ke arahku, ke arah kamera.
“Nggak tahu, nih. Mungkin hari ini ada hal penting yang perlu gue rekam.” Jawabku.
“Sayang… mungkin dia mau pamer sama kita kalau dia sekarang sudah punya handycam.” Kata Maya, disambut dengan senyum dari Dani.
Dan, aku cuma bisa bilang, “Sialan.”

Setelah lama berjalan, kami duduk di bawah pohon yang dekat dengan lapangan belakang sekolah. Dan, seperti biasa, Dani dan Maya duduk deket banget. Membiarkan seorang sahabat yang sedang membawa handycam tanpa alasan yang jelas ini.

“Eh, kenapa lu nggak cari cewek aja?” Usul Dani tiba-tiba.
“Iya, tuh! Kenapa kamu nggak cari cewek aja, jadi, kan, enak. Kamu nggak bakal kayak gini lagi, duduk sendiri, ke mana-mana sendiri. Iya, nggak?” Ucap Maya, lalu Dani mengangguk, pertanda setuju.
“Loh, kan gue kalau ke mana-mana bareng kalian?”
“Iya, sih. Tapi, kan, pasti hasilnya kayak gini. Lu sendirian mulu. Gue sama Maya jadi nggak enak sama lu!” Kata Dani.
“Nggak, ah.”
“Loh? Kenapa?” Heran mereka berdua, “Eh, pacaran itu enak tahu. Lu bisa barengan terus sama pacar lu, lu bisa bilang sayang sama pacar lu, lu bisa ganti status hubungan di akun facebook lu yang aslinya lajang jadi berpacaran, lu bisa SMS-an terus sama pacar lu, dan banyak lagi! Kayak gue sama Maya, gini!” Kata Dani panjang lebar, sambil berpegangan tangan sama Maya.

“Begini, ya, Tuan Dani dan Nona Maya. Gue nggak mau pacaran bukannya gue nggak mau panggil orang dengan sebutan sayang, bukannya gue nggak mau jalan-jalan bareng sama orang yang gue sayangi, bukannya gue nggak mau SMS-an terus sama orang yang gue sayangi, bukannya gue nggak mau ngubah status berhubungan gue di facebook dari lajang ke berpacaran. Tapi, gue belum siap kalau harus ngelakuin sebuah hubungan yang nggak sah di mata Tuhan.”
“Maksud lu?” Tanya Dani.
“Gue jelasin, ya. Gue punya orang yang gue sayangi, gue cintai. Tapi gue belum siap untuk menanggung dosa yang berasal dari hubungan yang nggak sah di mata Tuhan gue. Karena hubungan yang sah di mata Tuhan hanyalah menikah, me-ni-kah, dan umur gue belum nyampe buat disuruh nikah.”
“Jadi, lu bilang, hubungan gue sama Dani itu nggak sah di mata Tuhan?” Tanya Maya.
“Tentu nggak! Kan sudah gue bilangin, kalau hubungan yang sah di mata Tuhan hanyalah menikah, me-ni-kah.”

“Terus, gue kena dosa atas ini?” Tanya Maya, lagi.
“Iyalah! Karena kalian sudah membuat sebuah hubungan seperti suami-istri yang sebenernya nggak boleh kalian buat.”
“Jadi, maksud lu, gue harus putus, gitu, sama Maya?” Dani bertanya.

Aku mengangguk, pelan. Mata Dani tiba-tiba membara, tubuhnya berdiri.

“Eh, lu! Lu nggak usah sok munafik, deh! Lu dulu juga pernah pacaran, kan?! Sama si Dewi-Dewi itu! Terus, mentang-mentang lu udah putus sama dia, lu bisa seenak-enaknya aja bikin rusak hubungan orang! Nggak bisa, Bro! Gue sama Maya sudah ditakdirkan sama Tuhan buat jadi jodoh! Lu nggak akan bisa mutusin gue sama Maya!” Dia memarahiku, “Oke! Mulai sekarang, lu bukan sahabat kita lagi!” Lalu, dia mengambil tangan Maya, dan mengajaknya pergi. Meninggalkanku.

“Apa yang salah dengan ucapan gue tadi, woy!!!” Teriakku ke arah mereka.
“Jelas salah besar!!” teriak Dani.
“gue cuma mau membenarkan apa yang benar, dan menyalahkan apa yang salah doang!”
“Hahaha! F*ck you!” Dani mengangkat jari telunjuknya ke arahku. Lalu, sekarang, dia benar-benar pergi.

Menurut kalian, apakah aku salah?

Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Cerpen Benar Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Berawal dari WeChat

Oleh:
Namaku Dhina usiaku 19 tahun aku seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Di kampus aku punya tiga sahabat namanya Rani, Kusuma dan Setya. Aku seorang mahasiswi yang

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Pagi pagi sekali, Cindy sudah bangun dari tidurnya. Ia siap siap ke sekolah. Berganti baju,dan segalanya. Sampai di sekolah,… “Hai Ndy.” kata kata itu terdengar oleh telinga Cindy. “Hai

Sahabat Untuk Seterusnya

Oleh:
“Sya, cepat kesini!” ucapnya dengan suara tegas, namun masih terdengar lembut. “Iya Ni, sebentar”. “Cepatlah! nanti kita telat lo!” ucapnya lagi, sambil berlari, ia menggengggam tanganku. Rambut panjangnya yang

Anak Baru Sahabatku

Oleh:
Selamat pagi dunia, aku sangat bahagia karena ini pertama masuk sekolah SMA setelah libur panjang semester 1, semuanya tampak sama, kecuali salah satu dari seorang murid yang duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Benar Salah”

  1. Restu says:

    Tergantung dengan sudut pandang. Klo dilihat dari segi agama memang di anjurkan untuk menikah, klo dilihat dari segi pertemanan “aku” itu salah kaprah, meskipun nasehat itu benar melalui agama tapi suasana yang tidak tepat yang akhirnya merusak hubungan pertemanan yang artinya “aku” itu salah. Kalau orang asli Jawa itu nggak suka bilang terus terang di depan orang-orang jadi menunggu kesempatan saat santai-santai, makan, istirahat atau tidak ada orang di sekitar. Baru bisa bilang apa yang dipikirkan untuk orang tersebut.

  2. Abe says:

    Iya bener tuh, klo dilihat dari segi agama emng bene gak boleh pacaran, maksudnya gak boleh sentuh-sentuhan atau gandengan berdua itu emang salah dan berdosa. Tapi klo dilihat dari segi bagaimana anak-anak sekarang itu sudah biasa terjadi. Jadi kalau menurut gua lu bener dari segi agama tapi salah dibanding sama anak-anak sekarang. Tergantung sahabat lu itu lebih mendukung kemana, ke agama atau malah ke anak-anak jaman sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *