Berawal Dari Lab, Aku Memahamimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Persahabatan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 January 2018

Pagi ini terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur karena aku tahu, hari ini perkuliahan ditiadakan (meliburkan diri efek saran dari dosennya). Tapi tetap saja aku harus beranjak karena sudah ada janji hari ini pukul 10.00 ada pertemuan di laboratorium Fisika Dasar. Dia, Dheny temanku yang namanya sudah legendaris di telinga, gara-gara dia setuju kalau mau bertukar modul. “Mau nggak mau harus ngajarin perihal Voltameter Tembaga dong, ish”, kataku mendengus.

Dengan malas, aku bangun dan bergegas untuk merapikan rumah. Dimulai dari menyapu, mengelap kursi dan menyetrika pakaianku yang sudah sangat menumpuk. Jam menunjukkan sudah pukul 08.30. Lagi-lagi dia memberitahuku “Awas jam 10 ya”, begitulah isi BBM yang dia kirim.
“Iyaaaa, da nggak pikun” geramku dalam hati.

Sesampainya di sana, rupanya dia belum juga datang. Aku mencari dan mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Nggak mungkin banget kalau nyasar apalagi sampai ingkar janji. Percaya, dia orang baik dan tidak khianat.

Setengah jam berlalu, belum juga datang. Setelah lama aku sandarkan punggungku di tembok sudut ruangan, akhirnya suara khasnya terdengar juga. “Kincring.. kincring.. kincring”. begitulah tanda jika dia sudah datang, karena suka bawa kunci yang sebegitu banyaknya sampai berbunyi. Hahaha ada-ada saja kelakuannya.

Setelah masuk, kami pun mempersiapkan bahan untuk memulai praktikum.
“Udah weh jangan jadi tukeran ya” kataku dengan malas.
“Lah, yang minta ganti duluan siapa? Kok sekarang jadi beda lagi?” katanya sambil berjalan menyimpan tas.
“Iya sih, tapi…” aku tidak melanjutkan ceritaku, hanya pasang wajah lesu dan cemberut tanda kesal. Aku mengalah.
Dia tersenyum dan senyumnya semakin mengembang.
“Udah sehat kan?”. Kataya sambil mengambil lembar kerja.
“Yaaa beginilah keadaannya, aku paksain ke kampus”.

Aku berjalan menuju meja dimana sudah tersedia alat dan bahan yang diperlukan.
“Hemm, jadi, apa yang tidak kamu pahami dari Voltameter Tembaga ini?” kataku mulai bertanya serius.
“Apa ya, sok weh rumusnya dulu aku minta” katanya kebingungan.
Aku tertawa melihat wajahnya yang bingung sambil garuk-garuk kepala.

Setelah aku jelaskan, dia manggut-manggut pertanda paham. Di sana kami berpikir keras bagaimana cara penurunan rumus sampai dapat rumus seperti yang ada di modul.

“Bawa tabel periodik nggak?” tanyanya..
“Bawa, sebentar” kataku sambil berjalan menuju tasku..

Setelah beberapa lama mencoba mengulik rumus dan menjelaskan sebagian teorinya, perlahan dia pun paham apa yang aku jelaskan.
“Nah, sambil nunggu penyepuhan, kamu sambil belajar ketidakpastian ya” tawarnya.
“Baiklah” kataku manut.

Dia berjalan ke ujung laboratorium untuk mengambil seperangkat peralatan Ketidakpastian. Begitulah kami biasa menyebutnya.
“Apa yang nggak paham dari KTP? Ana percaya penjelasan dari anti lebih jelas dari pada ana”. Katanya merendahkan hati (Tawadhu).
“Cara meragain alatnya doang sih, masih suka bingung”.

Perlahan dia menjelaskan seputar nst (nilai skala terkecil) dari sebuah alat ukur. Alat yang dia ajarkan padaku hanya jangka sorong dan mikrometer sekrup. Aku hanya manggut-manggut berusaha memahami setiap kata yang terlontarkan darinya.

“Anti aslab kimia juga kan?” Tanyanya penasaran.
“Bukan, belum boleh, palingan semester depan”, jawabku santai.
“Pokoknya kalau ada jatah aslab, anti wajib ikutan ya” katanya menyemangati.
“Ah modus, biar kalau fisika minta larutan dibolehin kan?” kataku sinis.
“Nah itu tau, haha”. katanya sambil tertawa lepas.
“Anti dari rumah ini teh? Ada kegiatan lagi nggak?” tanyanya sambil memperhatikan proses penyepuhan yang masih berlangsung.
“Iyaa, dari rumah, kan nggak ada kuliah, Ceu. Nggak ada, hehe” kataku..
“Oooo, udah paham belum? Kalau belum nanti 12.30 atau 13.00 ana ke sini lagi”
“Insyaa ALLAH sudah, tapi kalau nanti di belakang ada yang ditanyain mah aku nanya yaa” kataku.
“Iya, boleh”.
Kami pun terdiam memperhatikan proses penyepuhan sambil sesekali berbincang perihal kehidupan.

Entah mengapa tiap kali dia typo dalam berbicara, bahasa kerennya “belibet”, disitu rasanya aku ingin tertawa lepas. Namun syukurlah aku masih bisa menahannya. Apalagi ketika lihat ekspresinya yang kebingungan, cukup menjadi hiburan tersendiri. Hehe..

Setelah selesai, kami merapikan keadaan laboratorium seperti semula. Sambil sesekali disisipi candaan konyol yang entah harus tertawa atau tidak.
Sudah rapi dan kami siap-siap pulang.
“Nuhun yaa” katanya pelan.
“Iya, sama sama, nuhun aku juga. Kalau aku masih bingung, aku nanya yaa” kataku.
Dia mengangguk tersenyum.
“Sok keluar duluan”, katanya memintaku untuk lebih dahulu keluar ruangan.
“Ada yang ketinggalan nggak?” tambahnya, sambil menutup pintu laboratorium.
“Ada” kataku sambil belaga polos..
Dia hanya memasang kening berkerut lalu menjawab “Apa?”. (muka bingung).
“Itu, ketinggalan tempat tadi berdiri” kataku sambil tersenyum lebar.
Dia tertawa dan sempat mengepal tangan pertanda kesal.

Aku perlahan berjalan lebih dulu dan tiba-tiba berhenti.
“Kamu duluan deh” pintaku.
“Eh naha?”
Kami berdua terdiam pada posisi sudut 90 derajat. Tanganku mempersilahkan.
Kemudian dia berjalan lebih dulu dan aku mengikutinya dari belakang.

“Nggak ada kuliah tadi?” Tanyaku sambil menuruni anak tangga.
“Ada tadi jam 8, cuma 2 SKS tapi nggak ngerti dosennya ngejelasin apaan, soalnya baru pertemuan ini beliau masuk” jawabnya sambil tersenyum.
“Ohh” kataku mengangguk.
“Ya udah nuhun yaa, hati hati”
“Iya, nuhun juga” kataku.

Kami berpisan di sebuah pertigaan kecil dalam laboratorium. Suara hentakan sepatunya perlahan mengecil pertanda jarak kami semakin jauh.
“Alhamdulillaah, hari ini mendapat pelajaran berharga, semoga bisa aku manfaatkan. Terima kasih telah menyempatkan waktumu” bisikku dalam hati sebari berbalik badan melihat langkahnya semakin menjauh dan penggungnya perlahan menghilang.

SELESAI

Cerpen Karangan: Desi Eka Martuti
Blog / Facebook: desiekamartuti.blogspot.com / Desi Eka Martuti
Nama: Desi Eka Martuti
Tempat dan tanggal lahir: Sragen, 29 Desember 1995
Masih berkuliah di Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi, Jawa Barat

Cerpen Berawal Dari Lab, Aku Memahamimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhirnya

Oleh:
Banyak orang beranggapan, cinta dan persahabatan adalah hal yang sulit disamaratakan, Tapi terkadang jika kita yakin dengan pilihan hati kecil kita, pada akhirnya semuanya kan jelas, ya dalam artian

Sorry, My BFF

Oleh:
“Daniyyah!! Ayo siap siap berangkat sekolah nak!” Seru ibu sambil menyiapkan sarapan. “Iya bu!” Jawabku dengan santai. Lalu aku langsung mandi lalu sarapan bersama keluargaku. Oh iya, namaku Daniyyah

Ikhlasku Karena Allah

Oleh:
Bagiku ikhlas itu tidak mudah dan tak semua orang bisa melakukannya. aku sendiri tidak tau ikhlas yang sebenarnya itu apa dan bagaimana hingga pada suatu hari aku tersadar melalui

Catatan Langit

Oleh:
Berawal dari ketidaksengajaan aku bertemu dengan Langit. Aku bertemu kembali dengannya sejak aku masuk SMP. Sebelumnya aku telah mengenal Langit. Langit adalah teman yang terpisah selama beberapa tahun. Usia

Antara Cinta Sahabat

Oleh:
Mungkin bagi teman-temanku pacaran sama Adit lebih baik dari pada mengharapkan cinta dari Angga yang notabene adalah cowok keren yang aku kenal ramah, baik dan sopan itu, dan lagi-lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *