Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 December 2017

Dia masih duduk di bangkunya, padahal ini saatnya istirahat. Tetapi ia sibuk dengan goresan pensil di atas kertas. Buku tebalnya pun ia buka, ia jelajahi rumus yang sesuai dengan pertanyaannya. Kacamatanya ia benarkan supaya lebih nyaman untuk membaca, mencari-cari di antara banyaknya rumus. Aku tersenyum saat melihatnya seperti itu, dia sangat fokus dan.. juga tampan.

Aku hanyalah gadis yang bodoh -mungkin. Hampir semua nilai ulanganku dibawah rata-rata bahkan remidial semuanya. Dia selalu mendapat nomor satu di kelas maupun saat olimpiade. Bagiku dia mungkin akan menjadi anak terkenal di sekolahan ini, karena dengan wajahnya yang memadai juga otak briliantnya. Tetapi ia mungkin tak tertarik dengan hal-hal yang berbau ‘terkenal’. Ia lebih mengedepankan dan fokus pelajaran di sekolah. Kapanpun dan di manapun ia masih saja melakukan aktivitas yang mungkin baginya favorit itu.

Kelas nampak agak renggang, murid-murid asyik makan di kantin. Aku, sibuk dengan kedua bola mataku yang terus melihat ke arah Rendy. Ya, nama laki-laki itu Rendy.
Aku mulai penasaran, apa yang membuatnya seperti ini. Membuatnya berbeda dari setiap orang.

“Ren!” Aku mencoba memanggilnya, ia tersontak menoleh ke belakang, ke arahku. Kebetulan bangkunya di depan bangkuku. “Ya?” Jawabnya singkat, “Kalau tidak ada keperluan jangan menggangguku,” Lanjutnya. Aku langsung menahannya. “Aku boleh bertanya sesuatu? kenapa kamu selalu fokus dengan pelajaran rumit itu, padahal wajahmu itu bisa menjadikanmu anak terkenal di sekolah ini?” Dia berdecak lalu menghadap kembali ke buku-bukunya itu. Aku sudah menduganya, ia selalu fokus dengan pelajarannya sampai lupa cara berteman. Aku melipat kedua tanganku dan menenggelamkan kepalaku di antara kedua tanganku.

Aku mendengar sayup sayup geseran bangku. “Kau ingin tahu?” Aku mendongakkan kepalaku, kini ia sudah berada di hadapanku. Karena kursinya kini menghadap ke arahku. “Apa kau ingin menceritakannya padaku?” Aku menatapnya ragu juga aku merasa bersalah. “Benarkah? baru kali ini ada seseorang yang benar-benar mendengarkanku. Its just my little story.” Lidahnya juga fasih berbahasa inggris, aku mengangguk menyetujuinya.

Dia memulai ceritanya, “Ayahku adalah seseorang dengan cita-cita tinggi yang ia pegang, dia menceritakan padaku betapa susahnya menjadi ilmuwan, cita-citanya sejak ia masih kecil. Katanya, dia berhari-hari harus melahap buku-buku tebal itu. Awalnya dia pernah gagal mencoba eksperimennya, lalu ia mencoba lagi dan lagi. Hingga akhirnya dia bisa menjadi ilmuwan terkenal. Aku ingin mengikuti jejak ayahku, itu saja.” Aku pun menyahutinya “Tapi, apa kau merasa berhasil jika hanya belajar terus menerus? bahkan kau tak peduli dengan lingkup sosialmu. Yaa, kau boleh belajar namun ingatlah kita itu hidup tidak sendirian di dunia yang besar ini.”

Dia sempat bungkam ketika mendengar celotehanku, ekspresi wajahnya menjadi muram. “Aku sempat mengingat perkataan terakhir ayahku, ‘Kau boleh menjadi seperti ayah asal jangan ikuti sifat ayah’ maksud sifat ayah itu aku baru mengetahuinya sekarang. Apa yang harus kulakukan?” “Aku hidup bersama ayah, ibuku tiada ketika melahirkanku.” Lanjutnya, aku mengerti. Belajar memang benar, namun sifatnya menjadikannya pemuda yang individualis.

“Tak apa, aku akan membantumu mencari teman” Jawabku meyakinkannya, mencoba menghibur perasaannya yang terpuruk. “Bersediakah kau? aku akan membagi ilmuku kepadamu! aku janji!” Sahutnya senang “Bukan aku saja tetapi juga teman sekelas, biar mereka juga tau jika matematika itu mudah.” Senyumku, ia mengangguk cepat.

Akhirnya aku memperkenalkannya ke semua teman di kelas, teman-teman kelas pun menerima dengan ramah. Kami pun juga bersahabat. Meskipun terkadang dia mengacuhkanku karena kecerewetanku, Haha.

Cerpen Karangan: Latania Rokhim

Cerpen Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rival To Pacar

Oleh:
Alisa fokus mendengarkan pelajaran yang sedang dijelaskan gurunya di depan kelas. Namun sesekali dia melirik ke luar jendela, di sana terdapat segerombolan lelaki yang sedang bermain basket dan juga

Selalu Di Hati

Oleh:
“Yes. Diizinin lagi pergi pramuka tahun ini” tanpa kusadari ternyata di depanku sudah ada seorang wanita yang memperhatikan tingkahku yang aneh sedari tadi. Dia sosok yang amat kukenal, ya

Gengsi

Oleh:
“Tiap hari aku membayangkan kamu, Nadin Dinda Syafitri. Senyuman bibir merah itu, tatap manja itu, desah nafas saat kamu kedinginan, wajah memelasmu menahan ngantuk, hangat genggaman tanganmu, semuanya. Semakin

Hanya Memberi

Oleh:
Perkenalkan, namaku Renata Syavira atau Rina. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di daerah Boyolali. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMP. Sebentar lagi lulus. Aku belum terlalu

Trouble

Oleh:
“-dia menanyakan padaku bagaimana dia orangnnya sekarang, apa ada yang berubah padanya. Untuk waktu 4 tahun menjalin persahabatan, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya sahabat, tapi dia tidak, dia menganggapku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *