Berkorban, Rasanya Gimana Sih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Bel sekolah berbunyi, menandakan kelas akan dimulai. Buru-buru aku masuk kelas. Ku lihat kelas sudah sangat ramai. Tak sengaja aku melihat dirimu. Berdiri tegak dengan postur tubuh tinggi dan wajah putihmu. Langsung ku alihkan pandanganku tempat lain. Perkenalkan namaku Clara, lengkapnya Clara Ajeng Dirgahayu. Inilah ceritaku, cerita seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA. Aku sekolah di SMA favorit yang berada di Yogyakarta. Di sekolah, aku dikenal dengan sikapku yang tomboi. Aku adalah anggota paskibraka sekolah, anggota satuan karya bhaktihusada dan aku adalah dewan inti yang menjabat menjadi ketua satuan putri pramuka di sekolahku. Maka sudah jelas bukan, bagaimana karakter diriku.

Dimana banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang galaknya naudzubillah. Ya itulah pandangan orang tentangku, tapi mereka hanya mengetahui diri ini dari permukaan saja. Apabila aku menilai diriku, aku merasa aku adalah orang yang sensitif. Aku bisa saja tiba-tiba menangis apabila melihat atau merasakan sesuatu yang bagiku menyedihkan atau membuatku terharu. Dan inilah ceritaku. Dia… Laki-laki kelas sebelah yang sudah membuat hati ini penasaran. Seperti yang ku katakan tadi, ia banyak digandrungi oleh kaum hawa. Bagaimana tidak? Lihatlah dirinya tinggi, putih, lumayan tampan, dan ia sangat pintar dalam hal matematika dan ilmu hitung menghitung. Memang belum lama aku mengenalnya, baru 2 minggu, itu pun aku hanya berani melihatnya dari jauh.

Kami belum pernah mengobrol santai, apabila ada yang penting saja, baru bicara. Saat hatiku sedang mekar seperti ini, aku merasa ia juga merasakannya. Karena setiap kali aku mencuri pandangan ke arahnya, pasti ia juga melihatku dan tersenyum tipis. Oh Tuhan rasanya seperti ada kembang api di dada ini. Hari demi hari, aku hanya berani seperti itu, melihatnya dari kejauhan tanpa berkata sedikit pun. Dan tingkah aneh ini ditangkap oleh sahabat karibku, yaitu Donna. Donna adalah sahabatku sejak SD, dan kami adalah sahabat yang tidak dapat terpisahkan. Ia bisa mengetahui apa yang aku pikirkan dan rasakan tanpa harus bertanya terlebih dahulu.

“Kok senyum-senyum sendiri Ra?”
“Ha! Apa?! Nggak, nggak apa-apa kok,” jawabku dengan sedikit kaget.
“Yang bener? Lagi..”
“Apaan sih? Aku tuh nggak kenapa-kenapa,”
“Lagi jatuh cinta ya?”
“Ih! Apaan sih, enggak, jangan sok tahu deh,”
“Jangan bohong sama aku, kayak nggak kenal kamu aja,”
“Udah ah aku mau pergi dulu.”

Sambil jalan aku masih berpikir, aduh kok Donna bisa tahu ya, padahal udah setengah mati aku berusaha menutupi perasaanku ke “dia.” Tapi kenapa dia bisa tahu? Aku berharap semoga “dia” nggak tahu, dan jangan pernah tahu. karena aku nggak mau dianggap perempuan gampangan atau apalah. Dan belum tentu juga kan “dia” suka sama aku, bisa jadi dia malah suka sama orang lain, dan sikapnya dia kemarin-kemarin ke aku itu hanya sikap ramahnya dia aja. Aduh aku jadi ngerasa serba salah, pokoknya setiap ada dia, aku ngerasa bodoh dan nggak tahu harus ngapain. Dan terkadang saking deg-degannya aku sampe ngerasa kepalaku pusing. Jadi aku selalu berusaha menghindar dari dia. Aku nggak mau ambil resikolah.

Aku nggak bisa bayangin kalau temen sekelasku tahu tentang perasaanku ini. Aduh jangan sampai deh. Bisa-bisa sampai lulus nanti aku bakal tetep diejek-ejek lagi. Dan hari hari ini pun berlalu, entah mengapa ada perasaan aneh aku tentang dia. Dan ini baru aku rasain waktu aku jalan berdua sama Donna tanpa sengaja aku berpapasan sama “dia.” Anehnya kok dia jadi jarang ngelihat aku lagi ya, jadi malah sering ngelihat ke arah Donna. Apa jangan-jangan mereka dulunya udah deket atau sekarang lagi deket. That’s a big question! Pernah waktu aku jalan, tiba-tiba “dia” melambaikan tangannya ke arahku. Hah! Sumpah hampir aja, jantung ini mau copot. Tapi ternyata dia dadahnya bukan ke aku malah ke Donna. Ya ampun, apa-apaan nih. Terus aku tanya ke Donna baik-baik.

“Don, kamu kenal itu gak? Anak kelas sebelah, yang tinggi putih?”
“Mmm siapa ya, oh maksud kamu Bagus?”
“Oh, jadi namanya Bagus?”
“Iya, kenapa emangnya?”
“Enggak tanya aja sih. Kok aku sering lihat kamu sama dia ya?”
“Ah, masa sih. Kayaknya biasa aja deh,”
“Kalian pacaran ya?”
“Apa! Pacaran? Enggak kok. Baru mau, hehehe..”

Dan jlebb!!! Rasanya kayak ada belati tajam yang menghunus hati ini. Aku nggak nyangka, padahal sebelumnya Donna udah tahu, gimana sikapku ke Bagus.
“Baru mau apa ya Don?” Kataku pura-pura bodoh.
“Ya ampun Ra, kamu tuh ya. Ya baru mau pacaran lah. Tapi kamu diem ya. Tadi malem Bagus nembak aku, tapi aku masih bingung aku mau terima atau nggak? Menurut kamu gimana? Kamu kan sahabat baik aku,”
“Oh menurut aku sih itu terserah kamu.” Aku langsung terbawa emosi.
“Loh kamu kok jawabnya gitu sih!”
“Ya terserah kamu aja, lagian siapa yang mau ikut campur urusan orang.”

Dan aku langsung pergi tanpa menggubris Donna sama sekali. Tanpa terasa ada bulir-bulir air mata jatuh di pipiku. Aku langsung menghapusnya, supaya orang lain nggak lihat. Waktu pulang sekolah dan anak-anak lain udah pulang. Sekolah jadi sepi dan ini hobiku buat merenung sambil melihat awan. Aku masih berpikir kenapa sih? Kenapa harus Donna secara sahabatku sendiri. Aku langsung ngumpat dan menyatakan bahwa Bagus laki-laki ber*ngsek, tebar pesona aja kerjaannya. Dan Donna adalah perempuan gampangan yang terperdaya sama pesona Bagus. Kenapa sih, setiap kali aku mau suka sama orang pasti hal kayak gini terjadi dan ini terjadi lebih dari 3 kali. Aku nggak tahu ini udah keberapa kalinya. Apa aku gak boleh suka sama orang ya?

Apa aku gak pantes buat jatuh cinta? Aku mengumpat terus sampe akhirnya aku kaget gara-gara pak kebon nyuruh aku pulang soalnya udah sore, pintu gerbang mau ditutup. Sampai di rumah aku langsung tidur, aku cape dengan hari ini, hari yang menyesakkan dada. Dan aku bertekad untuk segera menyelesaikan masalah ini, tanpa harus menyakiti hati orang lain. Tapi aku mau tunggu dulu, paling nggak 3 hari. Supaya emosiku redam dulu. Besoknya aku berusaha menjauh dari Donna, aku lagi nggak mau ngomong sama dia, dan nggak mau berurusan sama dia. Tapi dianya selalu aja ngintil kayak anak ayam ngejar induknya. Dan aku bilang.

“Don, please ya jangan ikutin aku dulu, aku lagi pengen sendiri,”
“Kamu kenapa sih, kok kayaknya beda dari yang kemaren. Lagi PMS apa ya?”
“Udah gak usah banyak omong, aku cuma butuh waktu sendiri. Mending kamu main sana sama pacar barumu! Bagus!”
“Kok kamu gitu sih Ra? Aku sama Bagus gak ada apa-apa,”
“Halah! kemaren kamu bilang apa, baru mau mau pacaran sama dia kan. Dan biar aku tebak, kamu terima dia kan?!”
“Iya memang aku terima, kenapa kamu gak suka. Kamu gak suka lihat aku deket sama dia, kamu nggak suka lihat aku bahagia sama dia? Iya? Atau jangan-jangan kamu suka sama dia lagi?!”
“Kalau iya kenapa?” Aku langsung meninggalkan Donna yang diam mematung karena ucapanku.

Ya, biarlah, biar dia tahu gimana perasaanku, gara-gara dia. Semenjak itu kami jadi musuhan. Jarang ngobrol, nggak pernah main bareng lagi, bahkan kalau saling ketemu, yang ada malah lirik-lirikan. Aku sih santai aja nanggapinya, lagian aku ngerasa nggak bersalah, justru dia yang bersalah. Hampir setiap hari kayak gitu, lirik-lirikan, diem-dieman. Walaupun sebenernya aku udah nggak tahan dan akhirnya aku memutuskan untuk ngomong duluan.

“Hai Don?” Sapaku.
“Hai,” Jawabnya datar.
“Aku mau ngomong sama kamu.”
“Ngomong aja di sini,” jawabnya ketus.
“Ini penting, ini tentang kita.”
“Oke, di mana?” katanya agak penasaran.
“Ikut aku.” Kataku.
Akhirnya aku ajak Donna ke lapangan basket. Duduk di pinggir lapangannya dan aku mulai ngomong.

“Don, maaf ya..”
“Maaf, buat apa?”
“Buat semuanya, aku yang salah. Aku yang egois. Seharusnya aku tahu tentang kamu sama Bagus, sebagai sahabat seharusnya aku tahu,”
“Enggak kok Ra, kamu nggak salah, akunya yang terlalu kebawa emosi. Aku juga minta maaf ya,”
“Jadi kita balikan lagi ini,”
“Iyalah, jujur ya Ra, aku gak tahan sehari gak ngomong sama kamu. Dan hari ini aku super lega bisa ngomong kayak gini.”
“Iya Don, aku juga sama.”

Dan akhirnya kita pun berpelukan, dan janji nggak boleh marahan lebih dari 3 hari. Yaaah.. walaupun maksud yang ada di hati belum kesampaian. Tapi nggak apa-apalah, aku harus rela melepas Bagus demi sahabat, karena pacar bisa dicari di mana pun, tapi sahabat gak bisa, mereka orang yang susah dicari. Dan aku nggak tahu kenapa aku bahagia, dengan apa yang aku lakuin, aku bahagia, karena udah buat orang lain bahagia juga. Terkadang kebahagiaan datang di saat kita harus berkorban bukan?

Tamat

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com
Seseorang yang baru mencoba menulis.

Cerpen Berkorban, Rasanya Gimana Sih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Broken

Oleh:
Cinta Perasaan yang amat sakit jika terus menerus kau pendam, namun akan lebih baik kau pendam jika kemungkinan seseorang yang kau suka tak mempunyai perasaan yang sama. Jika cinta

Best Prend 4Ever

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku Bruna Annondaya, but you can call me Nondya. Sekarang aku duduk di Kelas 1 SMP di Kota Malang. Ini kisahku dan sahabatku… ‘Apa sih sahabat itu?’

Bermain Petak Umpet

Oleh:
Kami tiba di depan rumah kayu ulin yang belum jadi. Aku tidak mengatakan ini dapat disebut rumah panggung sebab pondasinya langsung tertanam di tanah. Banyak kayu centang-perenang di sisi

Cinta Terlarang (Friend And Love)

Oleh:
“Wushh..” suara angin yang sepoi-sepoi membuat rambutku yang berkuncir kuda dan poni terbang ke sana ke mari. Aku duduk-duduk di teras rumah bermaksud istirahat menghilangkan lelah setelah pulang sekolah,

Gue Sayang Loe Lebih Dari Sahabat

Oleh:
“CHICI! CHICI! BERANGKAT YUK~!” teriak Rio ketika di depan rumah Chici. Chici yang sudah siap-siap dari tadi langsung keluar dari dalam rumahnya. Ia menghampiri Rio lalu menoyor Rio. “Lama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *