Berpegang Teguh Pada Prinsip

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Diera sekarang itu remaja sepertiku sangat identik dengan pacaran. Menurut sebagian besar dari remaja sekarang kalau nggak punya pacar itu nggak gaul lah, nggak lakulah apalah. Tapi menurutku buat apa pacaran hanya dapat memecah konsentrasi belajarku. Tapi yah, this’s my comment terserah orang lain lah. Tapi this’s my story. Saat ini aku baru saja menginjak usia 15 tahun, aku baru saja lulus SMP, sekarang tibalah aku untuk masuk ke jenjang berikutnya yaitu masuk SMA.

Ya, momen ini yang ku tunggu dari dulu lulus dari SMP ya bukan apanya sih, bukannya ku suka perpisahan dengan teman yang ku anggap saudaraku sendiri di SMP dulu. Namun aku sangat bosan mendengar candaan mereka karena aku jomblo. Kayak si Ani sama si Arief tuh yang mentang-mentang udah pacaran jadinya ledekin aku terus bahkan satu kelas menjulukiku si jenius yang takut pacaran. Ya bukannya aku takut pacaran namun enaknya sih pacaran? Udah buang waktu sama perkara yang nggak penting, bikin pusing, terlebih lagi dilarang agama, pikirku begitu

Ya sudahlah, aku nggak mau pusing soal itu mending aku fokus ke sekolahku dulu. By the way, alhamdulillah loh, aku dah keterima masuk SMA favoritku sekolahku sekarang tuh berbeda 180 derajat dari yang dulu. Mungkin karena jenjangnya lebih tinggi kali ya? Tapi, bukan hanya itu sekolahku yang sekarang tuh sangat mentingin pembinaan akhlak siswa serta unggul dalam prestasi pula. Di sini aku menemukan ketenangan dalam belajar karena mereka sangat tidak mementingkan aku udah punya pacar apa nggak? Mereka hanya sibuk meraih prestasi. Hal yang beginilah wajib dijadikan contoh bagi anak muda bahwa pacaran tidaklah penting dibandingkan belajar. Seperti komitmenku ini banggalah jika meraih kesuksesan di akademik maupun nonakademik bukan bangga meraih kesuksesan karena mendapatkan pacar yang ganteng bingitz. Kata abg labil sekarang. Namun, suatu hari di lobi sekolah saat ku tengah asyik membaca novel karangan Asma Nadia dengan santainya ku berjalan ke arah kelasku tapi tiba-tiba aku terpeleset karena kulit pisang.

“Aduh…” kataku yang kesakitan karena jatuh dalam hatiku berkata, “Sakit banget tapi bukan itu sih tapi malunya gimana kalau yang lain lewat sini.”
Namun ada laki-laki yang mengulurkan tangannya padaku, “Kamu nggak apa-apa kan? Tanyanya seorang laki-laki itu.
“Oh ya, nggak apa-apa kok!” kataku sambil meraih uluran tangannya yang ingin membantuku yang susah berdiri ini.
“Oh..” katanya yang setelah membantuku ia pun lekas pergi.

Belum aku sempat mengatakan terima kasih padanya ia telah berlalu dari pandanganku. Sesampainya aku di rumah, aku terus terngiang pada sosoknya yang misterius itu, aku terus bertanya-tanya dalam hati. “Kayaknya aku belum lihat dia deh, selama ini di sekolah. Atau jangan-jangan dia kakak alumni dari sekolahku? Tapi kayaknya nggak deh soalnya dia kelihatannya sebaya denganku, mungkin saja dia pindahan?” pikirku. Ah.. Kok aku jadi kepikiran dia sih udah ah lebih baik aku lanjut belajar lagi. Keesokan harinya di sekolah ada pemandangan yang tak ku sangka sebelumnya. Terlihat ada seorang anak laki-laki yang menolongku kemarin masuk bersama pak Amir ke kelasku.

“Perkenalkan anak-anak ini Nazril Ilham pindahan dari Bone, Sulawesi Selatan.”
“Hai, panggil saja aku Nazril, salam kenal semua..” katanya dengan sedikit senyuman yang ramah. Aku rasanya masih tidak percaya dengan barusan yang ku lihat laki-laki yang menolongku kemarin ternyata sekarang sekelas denganku. Namun aku hanya menganggap pertemuanku ini hanya kebetulan saja. Seperti biasa tempat favoritku membaca adalah di kantin sambil makan bersama teman baikku Ita dan Rena.

“Nayla, lihat deh Nazril menuju ke sini.” kata Rena dengan antusias.
Namun aku hanya menjawab, “Hmm.. Terus..”
“Nayla, kamu nggak mau apa kenalan sama dia, atau sekedar berterima kasih gitu soal kejadian kemarin.” Sontak aku pun berhenti membaca novel.
“Terus aku harus gimana? Aku harus nyamperin dia gitu masa aku yang harus nyamperin cowok?”
“Nayla, kata Rena tuh benar, kamu harus mengucapkan rasa terima kasih kamu karena dia udah nolongin kamu, kesampingin dulu rasa gengsi kamu tuh!” kata Ita. Berpikir sejenak.

“Ita kamu benar.” kataku. Aku pun langsung menghampiri dia yang berada tidak jauh dari mejaku.
Sambil mengulurkan tangan, “Terima kasih ya soal yang kemarin, namaku Nayla.”
Katanya sambil mengulurkan tangannya, “Its oke, no problem you can call me Nazril!”

Sejak saat itu kami pun semakin dekat dan menjalin sebuah persahabatan. Ia adalah sahabat yang sangat mengertiku, kami pun senang membahas tentang pelajaran, berita, dan permasalahan remaja. Belajar kelompok merupakan hal yang sering kami lakukan tentu tidak hanya berdua saja Ita dan Rena pun ikut. Bersamanya aku merasa nyaman karena ia merupakan sosok pembicara dan pendengar yang baik bagiku. Ia sering menasihatiku, memberi saran bagi setiap masalahku. Hingga satu ketika ia mulai menyimpan rasa yang berbeda padaku rasa ini bukan persahabatan namun cinta.

Aku, Ita, Rena, dan Nazril duduk di taman sekolah seperti biasa. “Ta, temani aku sebentar yuk ke toilet,” kata Rena. Kata ita. “Oke Ren, Nazril jaga sahabatku yang cantik ini yah!”
“Ih, apaan sih kalian!” sambil tersenyum.
“Nay..” panggilannya padaku dengan lembut.
“Iya Ril ada apa?”
“Selama ini aku suka sama kamu, dari sejak pertama kali kita ketemu,” Katanya dengan sungguh-sungguh.
“Tapi Ril, selama ini kan, kita udah bersahabat, mana mungkin kamu sebagai sahabat bisa pacaran sama sahabat kamu sendiri?”
“Aku tahu Nay, kita selama ini udah menjalin sebuah persahabatan namun bisa saja kan, kata sahabat itu diganti jadi pacar?” Katanya padaku.

“Sorry Ril, I cannot to be a your girl friend, karena aku ingin tetap istiqamah tidak pacaran saat ini aku ingin memproritaskan belajar di atas kepentingan yang lain dan menurutku, pacaran itu lebih banyak mudharatnya daripada syafaatnya!”
“Tapi Nay, aku suka sama kamu,” Katanya padaku.
“Ril, tahu tidak, aku kira kamu beda dengan remaja yang lain, yang langsung saja berbuat atau mengucapkan sesuatu tapi tidak tahu dampak dari semua perbuatannya. Kata-kata kamu barusan tuh, udah membuat persahabatan kita menjadi renggang.” kataku dengan penuh kekecewaan dan langsung pergi begitu saja. Ita dan Rena yang melihatku pergi, sangat heran padaku dan Nazril apa sebenarnya yang terjadi.

Tak terasa seminggu sudah ku menjauhi Nazril, dan jika aku berpapasan dengannya di jalan aku hanya diam saja seperti tak terjadi apa-apa. Seperti biasa aku duduk di tempat favoritku kantin dengan memesan makanan dan minuman. Terlihat ita dan Rena pun menghampiriku.

“Nay, kamu tahu kabar Nazril sekarang?” tanya Rena padaku.
“Nggak tahu dan aku sama sekali nggak mau tahu soal dia,” kataku dengan nada ketus dan raut muka yang memerlihatkan ekspresi kecewa. “Nay, tolong deh, kamu itu jangan egois gitu dong, emangnya orang nggak boleh jatuh cinta apa sama sahabatnya sendiri, rasa suka itu wajar dia rasakan, karena rasa sayang itu datangnya dari Allah swt sebagai karunianya kepada manusia.” kata Ita.
“Benar tuh Nay, kamu nggak boleh egois gitu dong, punya prinsip hidup tuh oke aja tapi kamu juga haru mikirin prinsip kamu sesuai nggak sama hati kamu, karena nih ya, kalau seseorang mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan hatinya itu sama halnya dengan munafik.”

Aku hanya terdiam dan merenungi perkataan temanku barusan, aku belum pernah mendengar temanku marah padaku sampai membahas prinsipku. Setelah pulang dari sekolah, aku terus kepikiran dengan perkataan Rena dan ita, mereka benar bahwa aku selama ini bertindak egois tidak mementingkan perasaan orang lain bahkan menjauhi Nazril yang tidak memiliki salah padaku. Bukan rasa suka Nazril padaku yang membuat persahabatan kami renggang namun aku sendiri. Tapi di sisi lain prinsipku ini tetap ku pegang teguh untuk tidak pacaran dulu, tapi bagaimana dengan Nazril aku sebenarnya juga suka dengannya tapi aku tidak ingin pacaran, “Apa dia mau mengeri tentang ini?” pikirku. Keesokan harinya aku pun coba untuk membicarakan masalah ini dengan Nazril.

“Nazril,” panggilku padanya.
“Iya ada apa Nay?” tanyanya padaku.
“Kita perlu bicara empat mata!” Kataku sambil mengajaknya ke taman.
“Nay, sebenarnya kamu mau bicara soal apa?”
“Ril, maafin aku karena udah ngejauh dari kamu dan udah ngelukai perasaanmu,” kataku dengan tangis yang tak dapat ku bendung lagi.
“Nay, kamu nggak punya salah kok sama aku,” sambil mengusap air mataku dengan sapu tangannya.
“Nay, kamu benar saat ini, yang terpenting adalah belajar dan meraih prestasi bukan pacaran. Kamu tahu Nay, kamu adalah inspirasiku dan untuk saat ini rasanya aku sependapat denganmu, aku pun merasa nyaman jika saat ini kita bersahabat saja.

“Cieee, jadian nih.” sorakan ita dan Rena yang sontak membuatku dan Nazril kaget.
“Siapa yang jadian?” kataku sambil tersenyum.
“Iya sih sapa yang jadian kita tuh tidak mau pacaran dulu kita itu lebih memilih untuk bersahabat saja,” kata Nazril yang melanjutkan kataku.
“Iya deh, yang belum pacaran, tapi nanti siapa yang tahu, kan?” aku dan Nazril pun tersenyum sambil tersipu malu.

Cerpen Karangan: Nurkhafifah
Facebook: Nurkhafifah Asyifa Rahmah
Hai kenalin namaku Nurkhafifah biasa juga dipanggil Poppy. Aku nulis cerpen itu berdasarkan untuk mengisi waktu luangku aja.

Cerpen Berpegang Teguh Pada Prinsip merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikatan Terkuatku

Oleh:
“Kamu kenapa, Lun?” tanyaku penuh penasaran. Luna tak menjawabku. Ia hanya lemparkan senyum padaku. Argh! Sial! Ada apa dengannya? Kemarin ia masih begitu semangat dan energik. Bahkan selalu menceramahiku

Nila

Oleh:
Bel berbunyi dua kali, semua anak berjejalan ke luar ruang kelas mencari penyegaran, waktu istirahat telah tiba. Seperti biasa, aku duduk terdiam di bawah pohon besar yang sudah ditanam

Tak Sempat Memiliki

Oleh:
Betapa hancur hati ini saat mengetahui bahwa aku dan temanku mencintai satu cowok. Bagai diiris-iris dengan pisau yang tajam, hatiku perih sekali ingin menangis tapi aku hanya bisa menahan

Bandung In Love

Oleh:
Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”

Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Semua berawal dari ketidaksengajaan. Aku mencintainya karena ketidaksengajaan dan bukan karena keinginanku. Apakah aku benar-benar mencintainya? Aku pun tak tahu. Yang kutahu ini adalah takdir yang telah ditulis tuhan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *