Bersama Sahabat


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 20 April 2013

Pagi ini, aku akan pergi ke rumah kakek di Bogor. Hatiku sangat gembira, karena aku bisa bertemu dengan Elma, Tiara, Nina, Rara dan yang lain. Mereka semua adalah teman-temanku sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar dulu… semenjak aku lulus dari SD, aku pindah ke Jakarta bersama Papa, Mama, dan Kedua adikku yang centil dan nakal. Semenjak itu, aku berjanji kepada sahabat-sahabatku bahwa kalau liburan sekolah nanti, aku pasti akan datang untuk berkunjung ke sini. Selain bertemu dengan teman-teman aku juga sudah tak sabar bertemu dengan Kakek dan juga kucing peliharaanku yang lucu dan menggemaskan.
“Aku sudah tak sabar lagi ingin bertemu mereka nanti.” Sahutku dalam hati.

Oh iya hampir lupa! Namaku Lisa Anggraeni. Panggil saja Lisa. Aku lahir di Bogor, tepatnya tanggal 25 Oktober tahun 2000. Hobiku seperti biasa membaca, bersepeda, berkebun, dan masih banyak lagi. Orang tuaku bernama Pak Herman dan Bu Ratna. Aku juga mempunyai dua orang adik, namanya Anissa putriani dan Muhammad Raihan. Sekolahku bernama Green High School dan merupakan salah satu sekolah terfavorit dan berstandar Internasional. Disana sekolah, aku punya banyak teman-teman yang baik dan ramah. Sekarang ini aku tengah duduk bangku kelas 1 SMP, dan saat ini aku sedang menuju ke rumah Kakek di kawasan Bogor. Aku sungguh tak sabar akan bertemu dengan kakek, dan tak lupa juga dengan teman-teman semasa kecilku yang pastinya juga tidak sabar menanti kehadiranku disana.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 3 Jam, aku pun sampai di rumah kakek. Rumah panggung berwarna cokelat muda itu membuatku serasa sedang berada di desa. Di sekeliling rumah kakek juga terdapat berbagai macam tanaman hias yang telah dipelihara beliau semenjak aku masih kecil. Dan tak lupa juga, disana juga ada seekor kucing peliharaanku namanya si manis. Bulunya putih bersih, bola matanya berwarna abu-abu dan ia sangatlah menggemaskan. Di teras rumah sudah terlihat kakek yang sedang meminum kopi hangat di kursi goyangnya yang terlihat sangat nyaman, di situ juga ada si Manis yang sedang bermain-main dengan bola benang kesayangannya.

“Assalamu Alaikum!” Kataku sambil menaiki tangga rumah.
“Wa alaikum salam” jawab kakek dan tersenyum menatapku.

Tanpa basa-basi, akupun berlari kearahnya dan mencium tangannya. Kakek hanya tersenyum melihat kelakuanku sedari tadi. Setelah bermanja-manja dengan kakek, akupun pergi untuk beristirahat di kamar. Aku masih ingat betul dengan kamarku pada saat aku masih tinggal di rumah ini, dinding kamarku dihiasi dengan kayu berukir dengan motif-motif bunga dan garis-garis yang dilapisi dengan vernis mengkilap. Rasanya sangat nyaman berada disini, hawa yang sejuk dari balik jendela kamar membuatku seakan-akan melayang di langit. Pemandangan sawah-sawah hijau yang melintas luas di samping rumah Kakek, membuatku betah untuk tinggal disini. “Tapi sayang, waktu liburanku hanya 3 hari, dan setelah itu aku akan kembali lagi ke Jakarta” Lamunku di atas ranjang tempat tidur. Akhirnya akupun terlelap dan ketiduran.

“Hoaaaa…” Aku masih sangat mengantuk, tetapi akupun terbangun ketika mendengar suara teriakan dari bawah rumah yang sedang memanggil-manggil namaku. Ternyata mereka adalah teman-temanku yang sudah kutunggu-tunggu sedari-tadi. Akupun bergegas membasuh wajahku dengan air dan menuruni tangga rumah untuk menemui mereka. Tiara, Elma, Nina, Rara, dan Stefi sudah menunggu sedari tadi. Setelah berbincang-bincang dengan mereka, Akhirnya aku pun pergi bermain di sekitar halaman rumah kakek.

Berjam-jam kami lalui dengan sangat menyanangkan, dan pada saat akhirnya mama memnanggilku pulang untuk makan malam.
“Lisa! Ayo cepat pulang, makan malamnya sudah siap” Teriak mama dari balik pintu.
“Ya udah besok kita lanjutin lagi mainnya ya?” Kataku.
“Siip…” Jawab Stefi.

Setelah makan malam, aku pergi untuk menonton TV sebentar, dan tiba-tiba saja “Plaakk…” Televisi, dan semua lampu di ruangan tiba-tiba padam.
“Aargghhh, pakai mati lampu segala lagi!, padahal tengah asyik menonton! Uuuhh… sebel, ternyata tinggal disini juga menyusahkan yah.” Gerutuhku dalam hati.
Selang beberapa saat kemudian, sebuah cahaya mengarah kearahku dan ternyata itu adalah Raihan yang sedang menyenter kearahku.
“Silau tau!!!” Kataku.
“Biarin.” Jawabnya dengan singkat.

Aku hanya cemberut mendengar perkataannya. Setelah itu, Mama pun datang membawa sebatang lilin dan korek api lalu dinyalakan di dekat kamarku. Uhh sungguh membosankan tinggal disini, lebih baik aku ke teras aja, daripada hanya bengong dan digigit nyamuk disini.
Tiba-tiba saja, belum sampat aku duduk di kursi teras, suara teriakan pun terdengar di kupingku dan ternyata itu adalah Elma yang sedang berlari sambil membawa senter di tangannya.

“Turun yuk! teman-teman yang lain udah nungguin tuh…” Katanya.
“Kita mau pergi ke mana?” Tanyaku.
“Ikut ajalah! Nanti kamu juga tahu…” Serunya.

Akhirnya akupun turun dan pergi bersam Elma entah mau kemana, tetapi aku masih saja membuntutinya sampai ke tempat yang diserunya.
“Hai Lisa! Gabung yuk sama kita.” Sahut Rara dari atas gundukan bukit kecil dengan beralaskan tikar yang sangat sederhana. Ternyata disini tempatnya, kita mau ngapain disini? Tanyaku.
“Ya, cuman sekedar natap langit aja kok.” Jawab Tiara.

Akupun duduk di samping mereka dan menatap langit-langit yang dihiasi oleh ratusan atau bahkan ribuan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip sangat indah di sana. Hembusan angin malam yang sangat dingin tidak membuat diriku terganggu saat ini. Aku tak mungkin melewati saat saat ini. Malah, aku semakin semangat sekarang. Aku sangat terkagum-kagum melihat pemandangan dari atas bukit ini. Bintang-bintang yang ada di langit seakan membentuk suatu gambar yang sangat mengesankan. Ada gambar layang-layang, angsa, rumah, bunga, dan masih banyak lagi. Kami pun berlomba-lomba untuk merangakainya menjadi sebuah gambar yang menarik. Selain bintang-bintang, di sini juga terlihat bulan yang sangat terang karena, saat ini fase bulan sedang berada di fase bulan penuh atau bulan purnama.

Sungguh momen saat ini adalah salah satu momen yang sangat mengesankan dalam hidupku. Akupun teringat kembali akan kondisi seperti ini di Jakarta. “Pemandangan seperti ini, mana ada di Jakarta… langit-langit di kota hanya dipenuhi dengan kepulan asap-asap pabrik yang merusak pemandangan di lingkungan sekitar. Rasanya aku sangat betah tinggal di sini…” Cetusku dalam hati.

Tiba-tiba saja, dari langit malam terlihat setitik cahaya yang jatuh dari langit dan ternyata cahaya itu adalah bintang jatuh! Aku dan teman-temanku pun segera membuat permintaan “Ya tuhan, terima kasih kau telah menitipkan sahabat-sahabat yang sangat baik terhadapku, aku janji bahwa aku tak akan pernah melupakan mereka semua. Ya tuhan, aku hanya minta satu permintaan, semoga persahabatan kami semua dapat abadi sampai pada saat yang telah ditentukan nantinya… :)

Cerpen Karangan: Shana Fitri Raihani
Facebook: Shana Fitri Raihani

Nama: Shana Fitri Raihani
Nama Panggilan: Shana/Fifi
TTL: Watansoppeng, 19 maret 2000
Alamat: Jln. Lompo No.83 Watansoppeng
Agama: Islam
Jenis Kelamin: Perempuan
Sekolah: SMPN 1 WATANSOPPENG
Kelas: VII.9
Hobby: Menggambar, Menulis, Membaca, dan Bersepeda
Facebook: Shana Fitri Raihani
Twitter: @Shana_fitri|

Hope you like it ^_^

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Anak Cerpen Liburan Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply