Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Meninggalnya kedua orangtua Fadhil memang membuatnya terpukul, jarang ia mau makan. Saat ingin makan, ia tak lapar, saat ingin minum ia tak haus, saat ia tak ingin makan, ia lapar, saat ia tak ingin minum ia haus. Berhari-hari ia hanya mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia berhenti, lalu tersenyum senang tetapi tak lama kemudian ia mulai meratap. Fadhil mulai terlihat kurus, urat-urat yang tertimbun lemak mulai tampak. Rambutnya kusut berantakan seperti orang baru tersambar petir, mukanya juga kusam tak pernah dibasuh.

Sebenarnya yang membuatnya terpukul bukanlah ia harus hidup sendiri, toh juga ada teman karibnya, mereka bisa tinggal di rumahnya. Terlalu besar rumahnya jika untuk tinggal sendirian, rumahnya cukup dihuni oleh satu keluarga besar. Yang membuatnya gelisah adalah harta warisan. Orangtuanya tak sempat berwasiat kepada dirinya. Jadilah ia bingung tentang harta orangtuanya yang banyak itu, takut orang lain akan mengambilnya. Ia mondar-mandir di kamarnya sebenarnya juga berpikir bagaimana agar harta warisan itu jatuh ke dia.

Beruntung seorang pembantu menemukan sebuah surat saat akan membereskan kamar orangtuanya, segera ia memberikannya ke Fadhil. Awalnya ia acuh tak acuh terhadap surat itu, tetapi setelah membukanya terkejutlah ia. Isi surat itu adalah surat wasiat. Satu hal yang tak diketahui Fadhil, salah satu kebiasaan orangtuanya sebelum berangkat ke luar kota adalah membuat wasiat, niatnya hanya jaga-jaga, barang kali terjadi suatu insidaen yang membuatnya tewas, jika itu terjadi maka tak akan terjadi perkelahian antara saudaranya untuk mengambil hartanya.

Fadhil lebih terkejut lagi ketika ia membaca wasiat itu. Di situ diterangkan bahwa seluruh harta orangtuanya jatuh ke tangannya. Sontak ia loncat dari kursinya, berlari-lari mengelilingi rumah macam anak kecil habis dapat hadiah mobil-mobilan dari orangtuanya. Sahabat karibnya hanya geleng-geleng kepala. Teman karibnya Fadhil namanya Asid, sebenarnya nama lengkapnya Aghni Asshidiq, tapi cukup repot jika ia dipanggil Aghni dan terlalu norak jika dipanggil Sidiq. Teman-temannya juga memanggilnya profesor, bukan karena ia mahir di berbagai bidang tetapi karena jidatnya yang lebar, seperti kebanyakan profesor-profesor yang kepalanya botak sebagian.

Sebelumnya ia tinggal di kos-kosan, orangtuanya juga telah meninggal tiga tahun yang lalu. Seluruh harta warisannya ludes diambat saudara-saudaranya. Dasar manusia selalu dipenuhi ambisi dan ketamakan. Jadilah ia sebatang kara. Untuk mecukupi biaya hidupnya ia kerja serabutan. Rela kerja apa saja. Tukang angkat batu di kali. Tukang pemecah batu. Tukang penata batu untuk fondasi gedung, tukang jual batu akik, bahkan jika ia ditawari untuk mengangkat batu ginjal di tubuh orang pun ia mau. Tetapi tidak ada yang menawarinya ia pun juga tak tahu bagaimana caranya.

Semenjak orangtua Fadhil meninggal, Asid tinggal di rumahnya, Fadhil yang memintanya. Asid menerima dengan senang hati, paling tidak ia tak perlu mengeluarkan uang untuk bayar kos, uang untuk membayar kos akan ia tabung. Jika tabungannya telah banyak rencananya uang itu akan ia gunakan untuk belajar mengangkat batu ginjal dari tubuh orang, sekolah di universitas kedokteran menjadi dokter bedah. Walaupun ia dulu tidak lulus SMA tapi ia nanti bisa mengambil paket C.

Malam itu. Setelah Fadhil selesai mengurus harta warisan. Ia mau kembali ke dunianya yang telah sekian lama ia tinggalkan. Dunia j*di, inilah tabiat buruk Fadhil. Senang bermain j*di, selama ini uang saku dari orangtuanya selalu habis di meja j*di. Walaupun lebih banyak menangnya. Pernah suatu ketika ia pulang membawa sebuah mobil. Menang taruhan dengan saudagar kaya. Lalu esoknya mobil itu sudah tidak ada lagi, kalah untuk taruhan, orangtuanya lelah untuk menasihatinya. Jika tak diberi uang saku, Fadhil uring-uringan tak mau makan sampai dikasih uang.

Pernah suatu ketika ia menang puluhan juta dengan seorang pedagang kaya. Saat ditagih pedagang itu tak mau memberikan uangnya. Fadhil uring-uringan di tempat j*di itu, menuntut haknya, mengejar-ngejar pedagang itu lantas memukul telak dagunya. Setelah pedagang itu berhasil terkejar, malang bagi Fadhil pedagang kaya itu memiliki tukang pukul yang berjaga di luar pintu, setelah menerima kabar bahwa bosnya sedang dihabisi Fadhil.

Segera mereka masuk ke tempat itu membuat kegaduhan. Memecahkan botol bir ke meja, melempar meja dan kursi, sambil terus menerus menyebut nama Fadhil. Fadhil yang masih di tempat TKP pun tak bisa berbuat banyak. Tak mungkin ia bisa kabur dari tempat itu. Tempat itu telah dipenuhi tukang pukul pedagang kaya tadi. Tak ayal lagi. Tubuh Fadhil menjadi bulan-bulanan massal sekelompok tukang pukul. Pulang-pulang dengan keadaan babak belur, baju compang-camping lantas esoknya ia sakit selama seminggu.

Malam itu Asid menghabiskan malam di depan tv, malas beraktivitas di luar. Lagi pula ini sudah larut malam. Fadhil yang selama seper empat jam merias dirinya di depan cermin kamarnya akhirnya ke luar. Mengenakan pakian modernnya, rambut disisir klimis serta parfum yang beradiasi setengah kilometer.
“mau ke mana kamu Fadhil?” tanya Asid menghentikan langkahnya.
“Ke tempat biasa, bosan di rumah, mau ikut gak?” tawarnya.
“Yaelah.. pasti ke tempat j*di lagi… gak bosen lo dil? Cari kerjaan lain gitu, sekali-kali gitu mainnya ke mesjid.”

“ngapain di sana? Emang ada tempat yang bisa dijadikan tongkrongan?” Selidiknya.
“ya salat taubat, dosa lo kan dah banyak dil…” Asid menggoda. Fadhil mendengus kesal.
“oya dil, biasanya waktu habis salat di sana ada pengajiannya ceweknya cantik-cantik lagi.” Fadhil terbelak, “bener juga kata lo, barangkali bisa dapet cewek, gue kan jomblo, barangkali dapet jodoh di sana…” Fadhil tersenyum-senyum sendiri.

“ah dasar lo dil, tahu diri napa… lo orangnya kayak gini nyari orang yang kayak gitu.” ledeknya.
“bodo amat ingat ya.. sejahat-jahatnya laki-laki pasti akan mencari wanita yang baik, untuk anak-anaknya.”
“udah kayak Mario Teguh aja lo dil.” sergah Asid.
“itu emang kata-kata Mario Teguh, oke ayo cabut.”
“ke mana dil?” tanya Asid.
“ke mesjid lah.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Bey_Sadadi
Facebook: Syauqi Bey Sadadi

Cerpen Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara diPHP Atau Tidak

Oleh:
Aku senyum-senyum sendiri. aku suka sama dia sudah lama banget. saat pertama kali ketemu di lapangan sekolah, aku senang banget dia sekolah sama dengan sekolahan aku. pertamanya berawal dari

Love Yourself (Part 2)

Oleh:
Taman dekat danau itu kini benar benar berubah kian indah. Acara promnite yang direncanakan Ridho benar benar mewah. Hiasan lampu kecil warna warni juga kian menambah meriah suasana. Disana

Sisi Gelap Dalam Diriku

Oleh:
Nama gue Dika mungkin nama itu lebih ku suka dibanding nama asli gue, masa lalu gue mungkin terasa menyakitkan dan menyisakan bekas yang dalam di hati gue, dimana gue

Lelah Menanti

Oleh:
Di bawah pancaran sinar matahari, dua orang pemuda yang sedang asik memperebutkan bola oranye itu seakan tidak mempedulikan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Mereka tertawa lepas tanpa memperlihatkan wajah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *