Best Partner-in-Crime

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 November 2018

Menurut kalian semua, seberapa berhargakah seorang sahabat?

Bagiku, sahabat adalah sesosok manusia yang patut diperjuangkan. Sosok yang layak untuk membuatku melakukan apapun demi dirinya. Sosok yang akan selalu kuperjuangkan hingga akhir. Walaupun seringkali, aku dikhianati karena hal itu.

Sahabat pertamaku adalah Bella, seorang gadis cantik yang selalu bersinar dan gemilang. Agak ceroboh dan pelupa, namun dia sangat cerdas dan merupakan peraih tetap juara 1 di nyaris segala bidang. Sayangnya, kami tinggal di kota yang berbeda. Keluarga Bella tinggal di ibukota provinsi Jawa Barat yang tak lain adalah Kota Bandung, sedangkan aku tinggal di kota kecil yang tidak begitu terkenal bernama Kota Tasikmalaya.

Kami bertemu saat berusia 4 tahun, karena orangtua kami telah bersahabat sejak masih kuliah. Aku tidak begitu ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya, namun aku ingat aku selalu menginap di rumahnya saat sedang liburan.

Sahabat keduaku adalah Chandra, walau dia lebih bisa disebut sebagai teman bermain. Kami dekat saat TK, dimana kami sering bermain bersama. Aku ingat dia rajin sekali membawakanku cokelat, karena kami sama-sama menyukai makanan manis tersebut.

Sahabat ketigaku adalah Siska. Kami bertemu saat TK, dan akrab hingga kelas 5 SD. Hubungan persahabatan kami retak akibat pengkhianatannya, namun sekarang aku tidak peduli lagi padanya. Aku akui, aku pun turut bersalah padanya.

Sahabat keeempatku adalah Elina. Kami dekat sejak masuk SD, dan berlangsung hingga kini. Dia adalah sahabatku yang paling konyol dan setia. Sayang, aku harus berpisah dengannya saat kenaikan kelas 2 SMP, karena aku akan melanjutkannya di Bandung bersama Bella.

Sejujurnya aku sangat senang dengan keputusan itu, karena dengan begitu aku dapat lebih dekat dengan Bella.

Benar saja, seminggu setelah aku masuk ke sekolah itu, aku dan Bella semakin akrab. Kami seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Kami bahkan menerapkan prinsip “mine’s your’s” yang artinya “milikku adalah milikmu”.

Bella rupanya sangat terkenal di sekolah itu. Dia merupakan siswi emas bagi para guru, idola bagi para adik kelas, dan siswi favorit kakak kelas. Aku merasa bangga sebagai sahabatnya. Aku bangga menjadi “asisten”nya. Karena seperti yang sudah kusebutkan tadi, aku rela melakukan apapun demi sahabatku.

Tapi, tahukah kalian, bahwa seseorang yang begitu gemilang pun memiliki rahasia yang amat busuk di dalam hatinya?

Kalau kalian tidak percaya, akulah contoh terbesarnya.

Aku dikenal sebagai siswi yang dingin dan cukup berkarisma. Aku adalah satu-satunya siswa pindahan dari kota kecil yang berhasil lolos pemilihan kandidat calon ketua OSIS dan mendapat peringkat 10 besar di UTS semester pertama. Aku menjabat sebagai wakil ketua kelas di kelas A yang dikenal elit, dan Ketua Bidang Kerohanian dalam struktur kepemimpinan OSIS, berhubung nilai agamaku selalu tertinggi di kelas.

Namun, dibalik itu semua, percayalah bahwa hatiku sekelam arang.

Aku pandai berbohong dan merancang alasan. Aku memiliki pengetahuan dan pengamatan yang luas sehingga berbagai informasi yang sudah kukumpulkan dapat kuolah menjadi suatu alasan yang logis. Aku juga pandai memanipulasi orang. Aku tahu cara membujuk seseorang dengan jitu. Dan aku tidak segan-segan menggunakan seluruh kemampuanku itu untuk menjebak musuh-musuh Bella.

Ya, sebagai idola sekolah, Bella juga memiliki banyak musuh dalam selimut. Contohnya saja, anak tak berbakat yang selalu menjadi siswi yang tak diinginkan saat kerja kelompok, Nana.

Karena anak malang itu lemah dalam bidang akademi dan hanya menonjol dalam bidang olahraga Basket, anak itu mudah sekali dijatuhkan. Hanya dengan sedikit kabar tak sedap yang kusebarkan di kelas, dalam waktu singkat dia benar-benar jatuh.

Caranya mudah saja, aku menjebaknya saat festival sekolah hingga Bella terluka parah dan dialah yang dituduh melakukannya. Kalian tahu, iri hati dapat dimanfaatkan untuk menghancurkan orang itu sendiri. Dengan sedikit dorongan saja, seseorang yang penakut pun mampu membunuh sahabatnya sendiri. Dalam kasus Nana, seorang yang sangat munafik pun dapat memperlihatkan kemunafikkannya saat dirinya sedang dilalap emosi. Setelah kejadian itu, aku tinggal menceritakan teori konspirasiku kepada seorang temanku yang hobi bergosip sehingga aku tidak perlu repot menyebarkannya sendiri.

Kedua adalah sahabat karib Nana yang merupakan saingan berat Bella dalam memperebutkan juara umum, Diandra. Dia memiliki paras yang cantik, namun sayang, apa yang ada di dalam berbeda dengan yang terlihat. Setelah kuselidiki, Diandra menjalin hubungan gelap dengan kakak kandungnya sendiri yang sudah SMA. Tentu saja, reputasi Diandra yang dikenal cantik, baik, dan pintar itu akan hancur seketika jika seluruh sekolah tahu akan hal itu.

Yah, aku tidak akan menyia-nyiakan rahasia segelap itu. Kalian tahu, aku sangat menyukai rahasia-rahasia gelap yang dipendam oleh siswa-siswa terpopuler di sekolah, dan kemudian mengumumkannya dengan girang ke seluruh dunia.

Karena itu, aku segera membuat poster tentang hal itu, berikut bukti-bukti yang berhasil kudapatkan berkat kemampuanku meyakinkan orang lain untuk melakukan apapun yang kuminta, dan kemudian dipajang di mading sekolah. Aku girang sekali setelah mendapat kabar bahwa Diandra dan kakaknya dikeluarkan secara tidak hormat oleh sekolah.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa gunanya aku menceritakan hal itu pada kalian semua. Yah, ceritaku belum selesai.

“Bagaimana?” Tanya Bella saat kami mengobrol di toilet perempuan.

Aku tersenyum sembari mengeluarkan foto Diandra dan kakaknya yang sedang bermesraan di Kevin belakang sekolah. “Beres. Semuanya berjalan sesuai dengan yang kurencanakan.”

“Terima kasih, Lea,” ujarnya saat mengambil foto itu dari tanganku. “Akhirnya perempuan sialan itu pergi dari kehidupanku. Dengan cara yang menyenangkan pula.”

Aku menggenggam tangan Bella. “Apapun untukmu, Bel,” aku melirik jam tanganku. “Selanjutkan siapa?”

Bella tampak berpikir sejenak. “Desna. Dia hampir menyusulku saat UAS kemarin.”

“Baiklah. Itu pasti akan sangat mudah, mengingat rumahnya dekat dengan rumahmu.”

Bella menepuk pundakku. “Kau sudah membantuku mengeliminasi 2 musuhku. Tidakkah kau juga memiliki beberapa orang yang tidak kau sukai?” Tanyanya.

Aku menghembuskan nafas berat. “Tentu saja ada. Aku ingin membalaskan dendamku pada pengkhianat menjijikkan itu.”

“Yah, dia memang menjijikkan. Tidak bisa kubayangkan bagaimana dia tega mencuri karyamu dan mengakuinya sebagai karya buatannya,” tukas Bella setuju. “Kalau begitu, ayo kita serang dia.”

“Bagaimana? Dia kan sudah tinggal di Jawa Tengah?”

“Mudah saja. Kau tanyakan media sosialnya pada teman-teman lamamu, lalu kita teror pengkhianat menjijikkan itu lewat sana dengan kemampuanmu.”

Aku merasa mendapat pencerahan setelah itu. “Menarik. Akan kulakukan.”

Ya, seperti yang kukatakan tadi, seseorang yang begitu gemilang pun pasti memiliki sesuatu yang sekelam langit malam di hatinya. Dalam kasus ini, segala hal yang kulakukan adalah permintaan dari Bella sendiri. Aku tentu saja dengan senang hati membantunya menyusun rencana, strategi jitu untuk menjebak musuh, dan menyudutkan musuh dengan rahasia tergelap mereka.

Dan sesuai dengan yang kuceritakan tadi, aku dan Bella tidak terpisahkan. Pemikiran kami nyaris sama, dan kami tidak memiliki rahasia apapun satu sama lain. Aku bahkan tahu rahasia terkelam Bella mengenai keluarganya. Tapi karena kami saling mengetahui rahasia itulah, kami tidak akan berkhianat satu sama lain. Karena itu juga, kami adalah Best Partner-in-Crime.

-fin-

Cerpen Karangan: Charissa. E
Blog / Facebook: Choco Caramella

Cerpen Best Partner-in-Crime merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


If You Like Someone

Oleh:
Di sebuah taman sekolah, aku termenung menunggu kedatangan seseorang yang sedari tadi belum muncul batang hidungnya. Beberapa saat kemudian orang yang ditunggu pun datang, dia menuju ke arahku. Aku

Ada Apa Dengan Hari Senen

Oleh:
Jam masih menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit, sesosok pemuda telah berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya yang terkunci. “Paaaakk! Bukain pintu gerbangnya!!” Teriaknya. “Iya iya!” Jawab Tukang Kebun

Kebahagiaan untuk Sahabatku

Oleh:
Takut… Semua orang pasti merasa takut…!! Tapi pernakah kita merasa takut untuk kehilangan…? Yaa.. mungkin sebagian banyak orang sangat takut yang namanya kehilangan, apalagi kehilangan seseorang yang berarti untuk

Be My Best Friend (Part 2)

Oleh:
Akhirnya aku pergi juga ke Jepang. Melanjutkan sekolah menengahku, kemudian masuk sebuah universitas di sini. Jepang adalah sebuah negara yang maju dan penuh hal-hal yang menarik. Budaya membaca di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *