Border

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 22 July 2017

“Masuk!,” kata Felly saat ia mendengar ada ketukan pintu.
“Sibuk lo?,” tanya seseorang saat ia telah memasuki ruangan Felly.
“Lo! Tumben ke sini? Ada apaan?,” tanya Felly dengan segera menutup beberapa buku dan meninggalkan meje kerjanya.
“Emang gue nggak boleh ke sini?,” tanya orang itu.
“Tch! Nggak usah sok sedih gitu lo! Hari ini nggak ada operasi?,” tanya Felly.
“Ada sih, cuma nggak terlalu padat. Hanya menentukan jadwal operasi doang!,” kata orang itu.
“Oh! Tapi, kalau boleh gue tahu, tumben lo ada di sini?! Nggak biasanya lo nemuin gue sampai ke kampus segala,” ucap Felly mengulangi pertanyaannya.
“Nih!,” ucap Orang itu dengan menyerahkan benda yang seharusnya tidak berada di tangannya.
Felly menatap benda itu. Undangan pernikahan. Sejenak, tenggorokannya tercekat. Hatinya terasa trenyuh dan jatuh saat ia mengetahui hal yang tak pernah ia inginkan sebelumnya. Sebuah nasib buruk, yang mungkin atau bahkan seluruh manusia di muka bumi tidak akan mau menerima nasib itu.

“Nov, gue mau nanya sesuatu sama lo!,” kata Felly.
“Permisi!,” ucap seseorang seraya melongokkan kepalanya untuk melihat apakah ia menganggu pembicaran kedua orang itu.
“Masuk aja!,” pinta Felly saat ia menyadari kehadiran OB yang sedari tadi Felly suruh untuk mengantarkan secangkir coklat hangat di cuaca yang tengah mendung.
“Makasih, ya!,” kata Novi seraya ia tersenyum saat OB tersebut telah meletakkan minumannya di meja.

“Lo yakin dengan pernikahan lo, Nov?,” tanya Felly sejurus saat OB telah meninggalkan mereka berdua.
Novi terdiam. Ia meraih cangkir itu dan meminum coklat panas yang tengah mengepul di udara. Felly menghembuskan nafas beratnya saat ia dugaannya mengenai jawaban Felly benar. Felly pun ikut meminum coklat panas itu. Hening. Untuk sejenak, Novi mulai meletakkan cangkir itu dan menatap Felly yang masih sibuk menerawang seraya ia menatap lekat undangan pernikahan sahabatnya. Novi. Spesialis Dokter Bedah.

“Gue nggak pernah menyangka kalau gue akan berakhir seperti ini. Dulu, gue pengen kayak lo! Menjadi rektor dan mengurus mahasiswa serta menyaksikan kenakalan mereka. Bukan berkutat di depan usus besar, menghilangkan radiasi, menghalangi jalan malaikat Izrail, dan menyelamatkan nyawa seseorang. Harus siap ditampar oleh pihak keluarga pasien saat gue nggak bisa menyelamatkan pasien,” Novi menghembuskan nafas beratnya.
“Termasuk saat gue ingin menemukan laki-laki dengan seragam kebanggaannya dan pangkat yang memenuhi dada, lengan serta pundaknya. Sebuah pekerjaan mulia dengan mengorbankan nyawanya untuk negara. Tapi nyatanya, gue mendapatkan laki-laki dengan jas hitam putihnya yang rapi, sepatu hitamnya yang mengkilat, dan berada di depan para audience untuk menentukan proyek besar yang harus mereka selesaikan. Dan laki-laki yang gue inginkan adalah milik lo!,” kata Novi dengan tersenyum miris.
“Lo tahu, kehidupan lo dan gue nggak beda jauh. Kisah kita sama waktu semasa SMA. Keinginan kita sama sewaktu SMA. Tapi, posisi kita selalu berbeda. Dan..”
“Dan lo menyesali hal itu? Novi, gue dulu juga pengen jadi Dokter seperti lo. Berada di RO dengan pakaian yang hanya memperlihatkan mata gue hingga gue terlihat seksi. Bukan menghadapi para mahasiswa yang masa depannya dan langkah selanjutnya berada di tangan gue. Masa ini seperti saat kita SMA. Lo pengen masuk jurusan IBB karena lo pengen jadi Pramugari atau Dosen atau bahkan Rektor seperti gue. Sedangkan gue, pengen masuk jurusan IPA dan berakhir dengan karir seperti lo. Kisah kita terbalik. Bahkan dalam kehidupan cinta kita sekalipun, kita terbalik.”
“Sewaktu kita kuliah, cowok yang deketikan aja juga kebalik. Gue yang ogah dan anti dengan TNI atau Pelayaran, justru gue tunangan sama semodel itu. Sedangkan lo, sebaliknya. Apa lo tahu, gue nggak pernah menginginkan hal ini. Tapi, semuanya berjalan dengan sendirinya. Saat hati gue berkata tidak, justru mulut gue berkata iya. Iya nggak?!,” duga Felly.
“Tch! Dasar lo! Udah ah, lupakan masa lalu kita. Terima aja apa adanya, lo kapan nikah? Jalan di tempat kapan nyampenya kali!,” kata Novi dengan meminum kembali coklat panasnya.
“Yeeee calon suami gue masih ada di Lebanon kali! Gue harus gimana? Jalan satu-satunya ya jadi Ibu Sutri yang nunggu suaminya lah!,” kata Felly menyatakan.
“Emang lo udah nikah?,” ejek Novi.
“Yeeeee mentang-mentang udah keluar undangan nikah maen ejek aja lo!,” kata Felly seraya tersenyum gurau.
Novi tidak menjawab. Melainkan ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menjauh dari Felly dan mendekat ke arah jendela kaca. Dimana ia bisa melihat keramaian kota sore itu. Tatapannya terlihat begitu jenuh dan bosan. Seakan seluruh rasa sesal yang ingin kaluarkan tak dapat kelat karena tertahan dengan hati yang harus menerima kenyataan.

Felly kembali mengingat masa itu. Sebuah masa saat penentuan Universitas dan memberikan pilihan. Selama berbulan-bulan ia belajar materi IPA yang tidak pernah diterangkan oleh guru atau bahkan tentor sekalipun. Ia belajar dengan sendirinya tanpa mempedulikan resiko yang ada. Terus menerus belajar dengan keputusannya untuk banting setir.
Tapi kenyataannya, sertifikat kejuaraan mengalahkan usahana yang ia tempuh untuk banting setir. Hingga akhirnya, ia harus menerima keputusan dari Kuasa-Nya bahwa ia telah ditakdirkan menjadi seorang pengajar dengan menanamkan moral kepada mahasiswanya.

“Novi! Gue tahu kalau lo masih belum menerima kenyataannya takdir dari-Nya. Kita Cuma manusia, Nov. Jadi..”
“Gue tahu Fel, tapi kenapa semuanya menjadi kayak begini? Bukan ini yang gue inginkan. Gue ingin…”
“Sampai kapan lo akan menyesali takdir? Sekalipun lo berusaha jungkir balik buat jadi Dosen atau Rektor kalau Tuhan nggak mengizinkan, semuanya akan sia-sia, Nov! Gue tahu, gimana rasanya bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan. Gue tahu, gimana rasanya kita tidak dapat mencapai keinginan kita meski gantinya setimpal dengan keinginan kita! Tapi, apa yan harus kita lakukan kalau semuanya sudah digariskan! Novi, kita hidup nggak ikutan punya! Kita udah cukup berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan! Tapi, bagaiama..”
“Karena lo selalu puas dengan usaha lo, Fel! Lo dan gue berbeda! Gue selalu haus dengan kesempurnaan meski lo juga merasakan hal itu! Tapi gue nggak bisa menerima semua ini!”
“Lalu, apa lo pikir dengan posisi lo seperti ini lo kan berubah dengan usaha meskipun usaha bisa merubah nasib lo?! Enggak! Takdir tetap takdir. Sebuah keputusan Tuhan yang harus lo terima dan ikuti perintahnya! Karena itu adalah jalan yang terbaik buat lo! Tuhan lebih tahu kemampuan lo daripada diri lo sendiri!!!,” kata Felly dengan sedikit emosi yang mulai membuncah di dalam dadanya.
Novi terdiam. Ia tak mampu menjawab atau bahkan menentang Felly. Secara logika, apa yang dikatakan Felly adalah hal yang benar. Manusia memiliki batasan dimana meski ia dapat melampuinya tapi saat Tuhan menghalangi batasan untuk melebihi apa yang ada di dalamnya, semuanya akan sia-sia.

“Gue yakin, calon suami lo lebih baik dari harapan lo yang berdamping dengan pria yang berseragam seperti calon suami gue. Rencana Tuhan itu lebih indah, Nov dari rencana kita untuk menentukan masa yang akan datang meski keputusan kita berada di pihak yang sama,” jelas Felly dengan senyuman ramahnya.
Novi tersenyum lembut seraya meraih pelukan Felly. Sahabatnya yang keras kepalaa dan bahkan keras hati saat berhadapan dengan lawan jenisnya. Tapi ia, begitu lembut saat menghadapi kenyataan bahwa hidupnya terasa begitu keras dengan kisah terbalik dengan dirinya. Sebuah kisah yang harus Novi terima dengan lapang dada meski dirinya tak dapat meraih apa yang diinginkannya.

Bersyukur, adalah salah satu cara untuk menerima posisi yang diberikan oleh Tuhan. Karena di bawah sana, masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana rencana hidupnya, atau bahkan mendapatkan takdir yang lebih buruk dari Felly dan Novi. Perbedaan keputusannya dengan Tuhan adalah salah satu cara Tuhan untuk memberikan pengertian kepada hamba-Nya bagaimana arti kehidupan. Termasuk keputusan Tuhan dan juga jalan hidup seseorang dengan seragkaian peristiwa yang tak terduga adalah salah satu cara Tuhan bahwa Tuhan adalah Zat yang Agung dalam segala hal. Hingga sekeras apapun manusia menentang, saat Tuhan telah memutuskan, maka itulah hasilnya. Takdir Ilahi.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Blog / Facebook: praritiwinurzamzani04.blogspot.co.id / Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih)
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani. Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google. Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat

Cerpen Border merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sosmed

Oleh:
Berkali-kali kulihat handphone seluler yang ada di tanganku. Salah satu teman dari akun pribadiku di Sosmed memintaku untuk bertemu dengannya. Berulang kali kupandang foto yang ada pada akun pribadinya

Sahabat Tak Akan Runtuh

Oleh:
Halloo perkenalkan namaku karina andriani bisa dipanggil karin, Sekarang aku duduk di kelas 8 smp. Sifat ku orangnya emosional, gak sabaran! Namun, dan walau sifat ku seperti itu aku

Tiga Sahabat Berakhir Dua

Oleh:
Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh, agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya dengan

Friendship or Love (Part 4)

Oleh:
Belakangan ini Keno sangat sering menjauhkan Nawala dari Zeno. Padahal hari demi hari, ia semakin dekat dengan Nawala. Zeno tak pernah sedikitpun berprasangka buruk pada sahabat terdekatnya itu. Suatu

Sahabatku

Oleh:
Namaku rafi dan aku mempuyai sahabat yang sangat dekat denganku, sahabat itu sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Nama sahabatku adalah risky, aku dan risky selalu bersama-sama, hampir setiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *