Bougenville

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Sebuah sepeda berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau. Sttt… begitulah suara rem sepeda yang hendak menghentikan roda yang melaju kencang di atas rumput hijau di samping sebuah kursi yang menghadap ke arah danau. Setelah sepeda terparkir, terlihat gadis cantik turun dari boncengan dan pemuda tampan di depannya. Mereka adalah Rosalia Bougenville dan Qing Silver. Gadis cantik, anak dari pasangan Maria Wherrose dan Oliver Dekker, seorang pengusaha bunga yang sangat terkenal. Dan pemuda tampan, anak dari pasangan Renai Quin dan Dalton Foster, seorang pengusaha tanaman hias yang cukup terkenal juga, terlihat asik melangkahkan kaki di atas rumput hijau dan duduk di atas kursi panjang di sebelah sepeda mereka. Tempat itu sudah mereka anggap sebagai markas persahabatan mereka, jadi tidak heran jika mereka sering berada di tempat tersebut dan berlama-lama duduk berduaan di kursi tersebut.

“Hey Ros, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Sil sahabat Ros.
“Hay Sil, kemarilah dan duduk di sebelahku. Kita lihat bersama-sama betapa indahnya air danau yang tertimpa sinar matahari pada pagi hari ini. Kamu bisa lihat itu, warnanya keperakan dan sangat indah.” Menunjuk ke arah riakan air yang berkilau tertimpa sinar matahari.
“Yah, aku sudah melihatnya. Dan memang sangat indah, Ros. Maka dari itu orangtuaku memberikan nama Silver pada diriku. Qing Silver, Qing artinya raja dan Silver artinya perak. Jadi makna dari Qing Silver adalah agar aku bisa melindungi semua orang, selalu bijaksana dalam mengambil keputusan layaknya seorang raja, dan selalu berkilau serta terlihat indah bagaikan perak yang selalu dikagumi semua orang,” jawab Silver.
“Yah, aku sudah mengetahuinya, karena kamu sudah mengatakan kalimat itu beratus-ratus kali. Oh bukan, bahkan sudah beribu-ribu kali aku mendengarnya,” ucap Ros menegaskan.
“Oh ya? Rasanya baru kali ini aku mengatakannya kepadamu,” jawab Silver.
“Itu perasaanmu, Sil. Sedangkan aku sudah bosan mendengarkan kalimat tersebut berulang-ulang kali.”
“Oh ya?” tanya Silver.
Ros hanya menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, lupakan ucapanku tadi,” ucap Silver.

“Oke, sekarang giliran kamu. Apa makna dari namamu itu Ros, sejak kecil dan sudah lama kita bersahabat, rasanya aku tidak pernah mendengar makna nama dari namamu itu.”
“Em, entahlah. Bagiku nama semua orang itu sama, dan begitu juga namaku,” jawab Ros. “Tapi kata kedua orangtuaku, namaku diambil dari sebuah bunga yang mempertemukan mereka berdua di sebuah taman bunga di kota ini.”
“Wow, jadi namamu itu berasal dari history kedua orangtuamu?” tanya Silver.
“Ya begitulah. Tapi aku juga tidak terlalu yakin,” jawab Ros.
“Kenapa?” tanya Silver.
“Karena menurutku, namaku itu bukan hanya sekedar history dari kedua orangtuaku saja, tapi juga dari sebuah Filosofi bunga kertas.”
“Filosofi bunga kertas?” tanya Silver heran.
“Ya ini menurut filosofi dariku, yang berbunyi ‘Bunga kertas akan tumbuh walau dalam kondisi cuaca apa saja, dan dia akan tetap mengeluarkan berpuluh-puluh bunga dalam berbagai warna yang sangat indah. Tapi tahukah kamu, bukankah bunga kertas tidak pernah mengeluh dengan kondisi cuaca? Bukankah bunga kertas juga tidak pernah mengeluh dengan apa yang telah menjadi haknya? Dan bukankah bunga kertas tidak pernah sekalipun mengeluhkan tentang lingkungan di sekitarnya? Bahkan dia memberikan kasih sayang kepada semua orang dengan bunganya yang sangat indah itu’, Sil,” ucap Ros.
“Mungkin orangtuaku ingin agar aku seperti bunga kertas itu, Sil. Kenapa? Karena agar aku bisa tahan dengan berbagai cobaan yang telah digariskan tuhan, mensyukuri setiap apa yang telah menjadi hakku dan tidak pernah mengeluh dengan lingkungan yang tak pernah aku sukai setiap bola mataku memandang, serta selalu membagikan kasih sayang kepada semua orang,” ucap Ros.
“Wow, Filosofimu itu sangat indah Ros, dari mana kamu belajar semua itu?” tanya Silver
“Em… dari pengamatanku,” jawab Ros.
“Hebat.”

“Terkadang aku merasa iri dengan bunga kertas dan aku ingin sekali menjadi Boegenville yang selalu diharapkan oleh kedua orangtuaku sejak aku lahir,” ucap Ros sambil memandang riakan air danau yang sedikit tenang.
“Kenapa kamu iri dengan bunga Bougenville? Bukankah namamu juga sudah menjadi bagiannya?” tanya Silver.
“Tidak Sil, walaupun namaku terdapat Bougenville. Tapi aku tidak pernah bisa sama sepertinya.”
“Kenapa?” tanya Silver.
“Karena, semua makhluk hidup diciptakan dengan kelebihan masing-masing,” jawab Ros.
“Ya, aku tau itu. Tapi bukankah setiap makhluk hidup harus mencobanya terlebih dahulu agar mereka tahu batas kemampuan mereka?” tanya Silver. “Ayolah Ros. Kenapa kamu menyerah begini? Kamu selalu mengingatkanku dengan kata-kata ini, ‘jangan pernah kamu mengatakan sedikitpun kata tidak mungkin, sebelum kamu mencobanya walau hanya satu langkah dalam mencoba’ dan kamu baru saja mengingatkan kata-kata itu tempo hari kepadaku kan, Ros?”
Ros hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Terus? Kenapa sekarang kamu yang menyerah? Ayolah Ros, kamu kan belum pernah mencobanya. Setidaknya kamu harus mencoba satu langkah saja, menurutku itu sudah lebih dari cukup,” ucap Quin.
“Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi jika aku tidak mampu, aku ingin bahu kamu selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya.”
“Ya, itu pasti. Karena aku selalu ada untukmu, Ros,” ucap Silver.
“Terimakasih Sil.”
“Sama-sama sahabatku yang paling aneh,” jawab Siver sambil mengacak-ngacak rambut ros.
“Sudah cukup Sil. Rambutku bisa rusak gara-gara kau.” Tangan Ros membenarkan rambutnya yang diacak-acak Silver.
“I’m Sorry Miss Rosalia Bougenville, tapi aku tidak pernah menyesal untuk mengacak-ngacak rambutmu,” ucap Silver, sambil tertawa.
“Keterlaluan, Permintaan maafmu tidak pernah kuterima. Sebelum kamu membawakan seikat bunga kertas dengan berbagai jenis warna yang aku sukai,” ucap Ros.
“Hohoho… itu sebuah permintaan atau sebuah tuntutan Miss Bougenville?”
“Aku rasa, itu kedua-keduanya.”

Ros berlari mengambil sepedanya, disusul oleh Quin di belakangnya. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan, sesekali mereka terlihat tertawa di sepanjang jalan menuju rumah mereka.

Selesai.

Cerpen Karangan: Irmayul Afiah
Facebook: Irmayul AL
Hay, saya Irma, lebih lengkapnya Irmayul Afifah. Yul’nya di sambung ya bukan di pisah. Saya ingin sekedar menyapa saja sih, jika cerpen saya lolos moderasi, ku harap reders juga mengenal penulisnya, bukan hanya sekedar membaca karyanya saja kemudian pergi meninggalkannya jika sudah selesai ceritanya. Oke cukup ocehanku, Jika ada pertanyaan, silahkan hub. di Fb : Irmayul AL, Twitter : @Irmayul_AL dan E-mail : Irmayulafifah98[-at-]gmail.com, terimakasih ^_^

Cerpen Bougenville merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mau Jadi Sahabat Kamu

Oleh:
Aku mempunyai teman yang bernama Mario. Biasa di panggil Rio. Dulu saat pertama masuk SMP aku deket sama dia. Kami suka bercanda. Kadang kalau dia enggak ngerti pelajaran, dia

Alif Sekolah Baru, Teman Baru

Oleh:
Sebuah handphone di atas sebuah meja lampu tidur terus berulang berbunyi dengan kerasnya, untuk membangunkan pemiliknya yang masih tidur dengan lelapnya di dalam selimut. Tetapi, tetap saja tidak berhasil,

3 Tahun, Untuk Selamanya

Oleh:
Tangerang, 20 Desember 1999. Ya, itu adalah hari paling bersejarah dalam hidup ku. Di hari itu, aku dapat membuka kedua mata bulat kecil ku. Melihat beribu wajah disitu. Dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *