Bukan FTV Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

“Sas.” Cinta menyikut lengan Saski yang tengah asyik melahap bekalnya.

Mulutnya penuh dengan roti isi selai kacang kesukaannya.
“kemarin aku lihat si Diana diantar pacarnya pergi ke butik, loh.” lanjutnya.
Saski terdiam. “lantas, apa istimewanya?”
“yang istimewa ituuuu kenyataan kalau si pacar Diana mau membayar semua belanjaannya! Padahal kan butik mahal banget, Saasss! Kamu tahu kan artinya apaa.” ucapnya berapi-api.
“hmm lalu? Memang artinya apa?” Saski terlihat cuek mampus dengan gosip Cinta. Cinta semakin gemas dengan sahabatnya itu, “aduh Saskiii. Berarti dia itu cowok yang royal! Dan dia pasti sayang banget sama Diana.”

“Memang kalau si pacar membayar semua belanjaan kita, itu tandanya sayang?” tanya Saski. “yaaaa menurutku sih salah satu tandanya gitu, sas.” Cinta beralasan. “lihat deh di ftv. Pasti cowoknya pada romantis semua. Yang bayarin makan lah, yang bayarin belanjaannya lah. Uuuhhh.”
“cowoknya yang oon dong kalau gitu. Rela dijadikan sumber penarikan dana.” Saski terkekeh dan melanjutkan mengunyah roti selai kacangnya. “apa jangan-jangan kamu iri ya soalnya si Dion nggak pernah romantis sama kamu, hayo? Lagian kamu mikirnya gitu banget sih, Cin. Nyamain rasa sayang sama keroyalan cowok buat bayarin belanjaan.”

Cinta terdiam. Memang Dion, pacarnya, bukanlah tipe laki-laki romantis seperti di FTV yang biasa Cinta tonton. Pacarnya sangat cuek, pendiam, dan satu hal yang sering membuat Cinta sebal. Tidak romantis. Misalnya Dion mengikuti kompetisi lelaki idaman, ia akan dinobatkan sebagai cowok-yang-paling-tidak-bisa-membuat-bahagia. Tapi entah kenapa, Cinta tetap menyukai sifatnya, yang sering dijadikan bahan celotehan teman-teman Cinta yang menyebutnya memiliki pacar seperti patung. Cinta hanya menghela napas, “sudahlah, Sas. Jangan mulai lagi deh.” Kemudian berjalan lunglai menuju perpustakaan dan meninggalkan Saski.

“ya, ya. Dion memang tidak romantis. Tapi dia pernah kok romantis. Walaupun cuma beberapa kali.” Cinta menggerutu sambil menggambar di atas selembar kertas kosong. Dion memang anak yang terkenal pendiam dan cuek di sekolah Cinta. Dion yang kini menjabat sebagai ketua osis itu, acapkali didekati oleh beberapa junior dan teman sekelasnya. Hal ini menjadi suatu kebanggaan untuk Cinta karena berhasil merebut hati Dion. Namun tidak untuk sekarang.

“Duh, mendadak aku menyesal pacaran sama Dion.” keluh Cinta. Ia meremas kertas tersebut lalu membuangnya. Cinta menundukkan kepalanya dan membenamkan di antara kertas-kertas. “kamu bosan pacaran sama Dion?” Suara itu mengagetkan Cinta yang dengan segera melihat siapakah pemilik suara tersebut. Meta. Salah satu sahabat karibnya juga selain Saski. “Kamu bikin aku kaget setengah mati.” runtuk Cinta mengelus dadanya. “kamu nguping aku, ya tadi met?”

“hihihi habis kamunya kelihatan suntuk banget. Terus kamu menggerutu kayak orang frustasi gitu deh.” Meta mengambil bangku dan duduk di sebelah Cinta, “ada apa sih Cin? berantem sama Dion?” Wajahnya kembali lesu, “enggak kok met. Lagi enggak berantem sama Dion.”
“wajahmu nggak bisa berbohong, loh. Tuh, kelihatan kusut banget.” tunjuk Meta. “cerita dong Cin. Penasaran nih.” matanya berbinar-binar.

Cinta terlihat enggan menceritakan masalahnya dengan Meta. Ia menggeleng lesu tanpa gairah. Meta hafal dengan tingkah sahabatnya tersebut. Cinta sedang badmood dan hanya ada dua obat yang dapat mengembalikan semangat Cinta. Yang pertama kehadiran Dion. Namun hari ini ada rapat OSIS, dan secara otomatis Dion pasti sedang memimpin rapat dan tidak bisa diganggu gugat. Dan… “gimana kalau kita nonton FTV? Aku punya yang terbaru loh!” kata Meta yang tengah memilih-milih file di laptopnya berisikan koleksi FTV favoritnya. Seketika wajah Cinta sumringah, “boleh banget!”

Bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak langsung berhamburan ke luar kelas dan segera pulang, termasuk meta dan Saski. Sementara Cinta duduk di depan kelasnya dan menunggu Dion sembari membaca novel. Tak lama kemudian, sosok laki-laki yang ditunggu Cinta muncul dan berjalan menghampiri Cinta. “kamu menunggu dari tadi?”
“barusan ke luar kelas juga kok.” Cinta mengemasi barang-barangnya. “Yuk pulang.”

Dion menyadari ada yang tidak beres dengan Cinta. Tidak biasanya wajah Cinta lesu dan lemas seperti ini. “Cinta, kamu sakit?” Cinta menoleh. “enggak kok. Aku nggak kenapa-kenapa. Cuman lagi kecapean aja.” Cinta beralasan.
“kamu tuh kalau malam minum vitamin. Jangan lupa makan. Lihat nih akibatnya jadi lemas gini kan? Bisa mengganggu aktivitas..” Dion menceramahi Cinta yang hanya dibalas senyuman tipis olehnya.

Kadang Dion perhatian juga. Tapi dia nggak romantis banget. Masa malah diomelin gini? Enggak malah digendong, disuapin kek, dibelikan makanan gitu, Cinta menghela napas. Sesampainya di parkiran, Dion segera mencari motornya. Sementara Cinta menunggu di gerbang sekolah. Cinta termenung. Ia sudah cukup bosan berpacaran dengan Dion yang sama sekali tidak romantis. Sama sekali tidak mengerti keadaan Cinta. Pernah suatu kali Cinta tersandung dan hampir saja jatuh, namun Dion hanya menatapnya dan tidak menanyakan apakah ia terluka atau tidak. Yang paling parah adalah, pernah suatu kali Cinta berusaha mencari perhatian Dion dengan membuatnya cemburu. Namun si Dion hanya melihat dan kemudian berlalu begitu saja.

“Cinta.. Cinta!” Cinta tersentak kaget dari lamunannya. Dion sudah ada di hadapannya dan menyodorkan helm ke arahnya. “aku dari tadi manggil kamunya malah asyik bengong.” omel Dion. Duh kenapa sih ini cowok dari tadi mengomel terus? PMS kali ya, batin Cinta sambil cemberut. “jangan ngomel dong! Aku sebel dengernya. Bosen tahu nggak sih!” Cinta sudah tidak tahan lagi. Dion nampak kaget dengan ucapan Cinta. Dion memandang wajah Cinta lamat-lamat. Tidak pernah ia melihat wajah Cinta segeram ini. “Cinta?” Cinta memilih membuang muka dan tidak menghiraukan Dion.

“Aku kesel banget sama Dion. Udah ah. Aku mau putus aja sama dia.” curhat Cinta. Malam ini kedua sahabatnya, Saski dan meta berkumpul di rumah Cinta. “kamu yakin mau putusin Dion?” tanya Saski. “jangan-jangan karena si Dion nggak mau bayarin belanjaan kamu ya? Hahaha.” Saski tertawa. Cinta terdiam. Saski mendadak bungkam setelah ditatap tajam oleh Meta.

“Aku yakin, guys. Aku harus putus sama Dion. Aku nggak bisa kayak gini terus. Aku nggak diperlakukan romantis sama Dion. Kesel banget kan. Lihat deh di FTV yang kita tonton kemarin. Pacar si Elena langsung menghajar habis-habisan cowok yang merayu Elena! Setelah itu si pacar memeluk Elena dan bilang kalau dia sayang banget sama Elena. Uhh so sweet….” ucap Cinta panjang lebar. Saski dan Meta khusyuk mendengarkan celotehan Cinta.

“coba bandingin sama Dion. Dia paling cuma ngelihat terus udah dia pergi gitu aja dan enggak peduli sama aku. Sebenernya tuh cowok sayang sama aku nggak sih. Kesel banget.” runtuknya lagi. “aku mau putusin Dion besok pagi.” ucapnya mantap. “tidak ada penyesalan. Aku yakin sekali kalau aku harus melakukan ini. Aku akan bebas dari Dion, dan kemudian aku akan menemukan tambatan hati yang baru yang lebih romantis dan setiap hari aku akan diperlakukan seperti putri. Ah pasti menyenangkan!”

Meta nampak berpikir “tapi Cin. Apa kamu benar-benar yakin kalau ingin putus sama Dion?”
Cinta menatap Meta, “yakin lah, Met. Kenapa sih? Kamu nggak setuju aku putus sama Dion?” Meta menggeleng. “bukan soal itu Cin.”
“jangan-jangan Meta suka sama Dion lagi.” Saski membuat wajah serius dan menatap kedua sahabatnya yang disambut dengan timpukan guling yang mendarat di wajahnya. “Oke ini serius. Cin, kamu sudah lama pacaran sama Dion. Banyak yang iri dengan hubungan kalian. Bukannya aku tidak setuju kalian putus karena sayang akan lamanya hubungan dan popularitas kalian. Tapi, aku menyayangkan rasa Cinta yang Dion kasih buat kamu.” jelas Meta tulus.

“kamu tidak pernah merasakan Cinta dari Dion karena kamu atau pikiranmu sudah tertutupi oleh bayang-bayang tokoh FTV idamanmu.” sambung Saski. “Kamu mendambakan cowok seperti FTV yang memberikan mawar setiap hari. Yang selalu puitis dengan mengirim pesan romantis. Yang mengajakmu merayakan anniversary berdua di Raja Ampat dan diving bareng. Atau kamu mendambakan cowok yang akan memasakkan kamu makanan enak setiap hari. Yang dengan beraninya menghajar cowok yang mendekatimu. Yang menembakmu di depan umum. Yang menyanyi untukmu di depan semua orang. Yang menggendongmu di sekolah dan membuat semua cewek iri.”
“yang membayar semua belanjaanmu…” tambah Saski yang mengintip di balik selimut. Takut terkena timpukan guling untuk yang kedua kalinya.

Suara Meta melembut, “Cobalah berpikir logis, Cin. Yang di FTV itu semuanya settingan belaka. Di kehidupan nyatanya belum tentu ia akan melakukannya setiap hari. Mereka punya kesibukan sendiri selain hanya mengurusi kehidupan Cintanya, Cin. Lagian kita masih anak sekolah. Gimana caranya si Dion mau ajak kamu ke Raja Ampat dan diving? Biaya dari mana, Cin. Dan yang menyanyi untukmu di depan semua orang? Kalau suara dia jelek, malah malu-maluin kamu kan?” Cinta terdiam. Pikirannya kacau mencoba menghubungkan apa yang dikatakan oleh Meta.

“Seharusnya kamu bangga punya pacar seperti Dion, Cin. walaupun ia tidak romantis, setidaknya ia tidak pernah menyakiti hatimu. Ia selalu menyempatkan waktu untuk bertemu denganmu di sela-sela rapat osisnya. Bahkan saat ulangan dia curi-curi waktu untuk menemuimu! Dia mengantarmu pulang setiap hari. Dia menemanimu makan walaupun ia tidak membayari makananmu. Ia bahkan tidak memberikanmu bunga karena ia tahu kalau kamu nggak suka bunga. Astaga Cinta. Jernihkan pikiranmu.” kata Meta panjang lebar. Lagi. “kamu terlalu banyak menonton FTV! Makannya kamu drama queen banget.” jerit Saski. “hargailah perhatian kecil yang diberikan Dion untukmu. Perhatian nggak selalu mahal dan ditunjukkan ke semua orang, kok.”

Mendadak semuanya menjadi jelas bagi Cinta. Perkataan Meta dan Saski ada benarnya juga. Ia ingat. Dion pernah ke luar ruangan di sela-sela rapatnya hanya untuk memberikan segelas cokelat hangat dari ruang OSIS untuk Cinta yang sedang pilek. Ia ingat. Dion pernah membunuh kecoak yang melintas di dekat kaki Cinta. Ia ingat. Dion pernah menggendongnya saat kaki Cinta keseleo. Ia mendadak ingat. Cinta mendadak ingat semua hal kecil yang romantis yang dilakukan Dion. Cinta dan Dion sudah berpacaran lebih dari setahun. Sebelumnya Cinta tidak pernah protes mengenai sikap Dion. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak menonton FTV dan tidak sadar telah terhipnotis olehnya. Astaga! Cinta menepuk dahinya. Bodoh sekali. Hampir saja aku dan Dion putus hanya karena hal bodoh yang sama sekali tidak penting. Cinta merasa malu karena tingkah bodohnya ini. Kemudian ia memantapkan dalam hati bahwa ia tidak akan mengulangi kebodohannya ini untuk yang kedua kalinya.

“Cin. Ada surat buat kamu.” Jeje, ketua kelask memberikan sepucuk surat berwarna pink kepada Cinta, “hari gini masih terima surat, Cin. Sudah nggak zamannya..”
Cinta tersenyum, Lalu mengambil surat yang diberikan Jeje dan membaca isinya
“Temui aku di belakang perpustakan sekarang. Dion.”

Dengan patuh, Cinta berjalan menuju belakang perpustakaan sambil menggenggam suratnya dengan erat. Sesampainya di sana, sepi. Tidak ada siapa pun. Tapi, ada sesuatu di atas meja yang menarik perhatiannya. Ia kemudian mendekat dan mendapati sesuatu yang sangat disukainya: dua batang cokelat, satu permen lolipop, dan sebungus popcorn. Di bawahnya terdapat kertas bertuliskan:

“Kamu sepertinya marah sama aku. Dan aku nggak tahu kenapa kamu marah. Tapi jujur aku takut kalau kamu marah. Wajahmu saat marah lebih mengerikan dibandingkan hantu yang biasanya muncul di belakang kamar mandi sekolah. Jadi, ini aku kasih kamu beberapa obat penyembuh rasa marahmu. P.S: maaf kutinggalkan di sini karena aku ada rapat osis dan Pak Ilham akan datang. Dion.”

Cinta terharu sekaligus tertawa membaca surat Dion. Ia merasa sangat bahagia. Cinta segera meluncur menuju ke kelas untuk menceritakan hal ini kepada Meta dan Saski. Namun, Cinta kemudian berhenti, mengeluarkan ponselnya dan mengetik. Mengirimkan sesuatu kepada sosok yang disayanginya dan hampir ia lepaskan. “Sudah ku terima hadiahnya. Walaupun kamu bukan seorang penulis yang kreatif. Tapi aku suka dengan hadiahnya. Aku sudah nggak marah kok. Maaf kemarin aku hanya PMS saja. Terima kasih. Cinta”

Send.

Cinta tersenyum.

“Aku akan lebih menghargai usaha kecilnya. Usaha yang ditujukan untuk membuatku bahagia.” tekadnya.

Cerpen Karangan: Putri Aisya Pahlawani
Blog: putriaisyap.blogspot.co.id

Cerpen Bukan FTV Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catching Lyn (Dwilogi Part 2)

Oleh:
“Maaf Pak Sam, untuk bagian kasir sudah ada beberapa orang yang mengirimkan surat lamaran mereka. Akan lebih baik jika kita segera menginterview mereka, karena karyawan lain sedikit keteteran harus

Keluarkan Aku Dari Kesepian

Oleh:
Aku duduk di bangku taman yang masih basah setelah terkena rintikan air hujan. Untuk beberapa saat, aku terdiam. Lalu aku memindahkan tas punggungku ke depan. Memeluknya erat. Aku melirik

Seperti Bintang

Oleh:
Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya. “Asyik

Aku Putri Aurella

Oleh:
“Morning, Putri” Oh sialnya dia lagi yang nongol dengan memanggilku seperti itu. Awalnya aku ingin menghindarinya sebab ia memperolokku dengan memanggilku ‘Putri’. Tidak ada salahnya memang, sebab semua orang

Friend and Boyfriend (Part 2)

Oleh:
Di kelas Hani masih memikirkan kata-kata Levin tadi. Memang benar Hani sangat membenci ibunya karena ibunya setahun yang lalu telah memarahi kakaknya yang gagal diujiannya dan membuat kakaknya bunuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *