Bukan Malaikat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Hari itu SMA Negeri 2 kehadiran siswi baru yang bernama Nadia Renata, dengan tertatih menggunakan tongkatnya Nadia mulai memasuki ruang kelas X1 IPS. Hari itu Nadia sangat gugup ketika memperkenalkan diri di depan teman-teman barunya, harusnya Nadia sudah kenal tapi karena Nadia tidak mengikuti ospek karena mengalami kecelakaan yang membuatnya harus menggunakan tongkat untuk waktu yang panjang. Akibat dari kecelakaan itu, sikap Nadia berubah bukan menjadi Nadia yang periang bahkan Nadia menjadi orang yang tertutup dan pemalu. Akibat kecelakaan itu pula Nadia batal untuk mengikuti tahapan lanjut dari audisi menyanyi yang dilakukannya, syukurnya Nadia tidak sampai putus asa meski Nadia harus kontrol setiap bulan untuk kesembuhan kakinya.

Setelah Nadia memperkenalkan dirinya Nadia dipersilahkan duduk di bangku barisan depan dengan Mila. Lambat laun Nadia sudah merasa nyaman dengan kelas barunya terlebih Nadia mempunyai tiga teman yang setia menyemangatinya, seperti Tias, Rara, dan Mila tentunya. Pada hari itu sepulang sekolah Nadia, Tias, Rara, dan Mila akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Nadia. Nadia yang saat itu dibonceng Mila hampir saja terjatuh dari motor ketika tiba-tiba dari arah belakang ada seorang yang menyerempet mereka. Langsung saja Mila naik pitam di tengah jalan dan melemparkan botol air mineral yang ada di motornya ke arah pengendara itu yang langsung kabur begitu saja.

Nadia dan ketiga kawannya pun tiba di rumah Nadia, Nadia mempersilahkan teman-temannya untuk duduk. Karena di rumah Nadia saat itu sepi dan tidak ada orang, Nadia menuju dapur dan mencoba untuk menyuguhkan air minum kepada teman-temannya. Namun, ketika baru beberapa langkah Nadia tersandung dan jatuh. Karena repot untuk membawa gelas dan harus menggunakan tongkat dua gelas pun kini tinggal serpihan. Teman-teman Nadia yang mendengar jatuhan gelas pun langsung menuju dapur dan di sana mereka mendapati Nadia yang sedang memunguti serpihan pecahan gelas. Nadia tak mau dibantu dan buliran bening hampir jatuh dari matanya namun teman-temannya tetap membantunya. Setelah itu, mereka melanjutkan kerja kelompok mereka yang sebelumnya mereka menyemangati dan menghapus air mata Nadia yang terlanjur jatuh terlebih dahulu.

6 Bulan Kemudian.
“Nad, gue markirin motor bentar ya jangan ke mana-mana!”
“Iya.”

Nadia menunggu Rara yang sedang memarkirkan motornya, hari ini Nadia dibonceng Rara ke sekolah, dan hari ini juga Nadia hanya memakai satu tongkat meski kedua kakinya masih sedikit ngilu jika dipakai berjalan. Rara langsung menggandeng Nadia memasuki ruang kelas, namun baru saja mereka melewati ruang TU mereka melihat murid-murid SMAN 2 sedang berkerumun di depan mading. Mila dan Tias juga ada di sana, awalnya mereka fokus melihat mading saat mereka sadar ada Nadia dan Rara mereka langsung mendekat.

“Eh, ada apaan sih?” Tanya Rara.
“Itu Ra, ada lomba FLS2N. Nad, lo ikut lomba nyanyi ya?!” ujar Mila.
“Iya Nad suara lo bagus banget dibanding Disa noh yang sok-sokan padahal ancur suaranya.” Ujar Tias.
“Nggak ah nggak minat, biarinlah si Disa aja!” jawab Nadia dengan senyum sambil berlalu.

Nadia memang tersenyum tapi jauh di lubuk hatinya dia ingin sekali bisa mengikuti lomba itu. Menyanyi adalah hobinya sejak kecil sekaligus salah satu impiannya, namun kecelakaan itu membiaskan harapannya. Teman-teman Nadia terus mencoba membujuknya sampai bel masuk berbunyi hanya senyum dan elakan yang diberikan Nadia. Pelajaran pun dimulai dengan diawali mata pelajaran sosiologi, setelah UAS semester satu ini Nadia mendapatkan peringkat kedua di kelasnya meski sikap Nadia berubah tidak seperiang dulu namun tidak merubah semangat belajarnya. Dua jam berlalu, kini bel yang seluruh pelajar tunggu datang yaitu bel istirahat.

Nadia dan ketiga temannya menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Tengah asyiknya mereka menikmati makanan, Disa teman sekelas mereka datang ke kantin juga dengan bersorak bersama kedua temannya membanggakan diri bahwa ia akan mengikuti lomba menyanyi itu. Nadia langsung tersedak, Disa yang mendengar Nadia tersedak datang menghampiri Nadia namun bukan untuk memberinya minum. Malah Disa datang untuk memintanya memberikan doa dan dukungan namun dengan nada yang mengejek. Mila, Rara, dan Tias tidak berbicara dan menanggapi apa pun dan mereka langsung membawa Nadia pergi meninggalkan kantin.

Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 yang artinya Nadia sudah terlambat untuk ke sekolah. Mila yang menjanjikan untuk menjemput telat sampai ke rumah Nadia dan Nadia pun tiba-tiba sakit perut jadi mereka sama-sama terlambat. Namun akhirnya Mila datang dan membawa Nadia ke Sekolah, karena baru kali ini mereka terlambat dan pemberian alasan yang meyakinkan mereka diizinkan masuk. Pelajaran sudah berlangsung dua puluh menit yang lalu mereka tidak menyadari bahwa di kelas mereka ada murid baru. Mereka baru menyadari ketika guru PPKN meminta anak murid baru itu maju ke depan untuk menjawab pertanyaan yang ada di papan tulis, dan murid baru itu bernama Rifki.

Sejak kehadiran anak baru itu rata-rata teman-teman Nadia pada sibuk cari perhatian dan sibuk ngobrolin tentang Rifki termasuk Mila, Rara, dan Tias tapi Nadia tidak sama sekali tertarik. Sampai tiba-tiba Mila teringat dengan seseorang yang hampir membuatnya bersama Nadia terjatuh karena diserempet seseorang dan Mila melemparkan botol ke arahnya. Mila pun langsung yakin seratus persen kalau yang menyerempetnya adalah Rifki, rasa kesal yang tertunda pun kini kembali lagi dan Mila langsung menemui Rifki. Mila memang jika sudah kesal benar-benar ke luar semua unek-unek yang dirasakannya apalagi menyangkut Nadia sebagai lebih dari sahabat baginya. Mila yang sedang menanyakan dan meminta Rifki untuk meminta maaf atas perlakuannya waktu itu malah hanya dijawab dengan candaan yang tidak lucu sedikit pun bagi Mila.

Saking kesalnya, Mila langsung mencopot dan melempar sepatu yang dipakainya ke arah Rifki yang melenggang pergi. Rifki berbalik arah menghampiri Mila dan marah-marah untungnya Nadia, Rara, dan Tias datang. Rifki yang marah-marah terdiam melihat Nadia yang datang dengan menggunakan tongkat, dia sadar apa yang telah dilakukannya salah. Namun sampai Nadia dan kawan-kawannya berlalu Rifki tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Waktu sudah menunjukkan jam 14:00 murid-murid SMAN 2 berhamburan ke luar, Nadia dijemput oleh sepupunya. Dua detik setelah Nadia pergi, Rifki datang menghampiri Mila, Rara, dan Tias yang mengantar Nadia sampai gerbang sekolah. Mila sudah mulai pasang wajah yang asem banget tapi Rara dan Tias segera menahan. Rifki terbata-bata mengatakan bahwa dia meminta maaf atas kesalahannya, Mila tak menjawab apa pun dan melangkah pergi. Tias yang menjawab permintaan maafnya bahwa Rifki harus meminta maaf langsung kepada Nadia.

“Boleh pinjam penghapusnya?!” pinta Rifki.
“Boleh nih.” Jawab Nadia.
“Oh iya gue mau minta maaf soal kelakuan gue yang hampir bikin lo jatuh waktu dibonceng Mila.” Kata Rifki.
“Iyah nggak apa-apa lagian kan nggak jatuh juga.” Ujar Nadia.
“Makasih ya, kalau gitu boleh dong lo ajarin gue cara matematika yang ini,”
“Dasar minta maaf ada maunya, lagian tumbenan lo mau ngerjain tugas, nggak usah Nad, ngapain.” Celoteh Mila.

Nadia lalu mengajari Rifki cara pengerjaan soal matematika yang diberikan oleh guru namun sang guru tidak masuk kelas. Entah atas alasan apa Rifki baru meminta maaf kepada Nadia dua minggu setelah permintaan maafnya kepada Mila di gerbang sekolah waktu itu. Bukan hanya permintaan maaf yang dilakukannya sambil mengerjakan tugas matematika itu Rifki mencandai Nadia dan Mila. Tias dan Rara yang sedari tadi serius mengerjakan tugas jadi ikutan nimbrung dengan alasan meminta cara pengerjaan soal matematikanya. Pulangnya tak disangka Rifki menawarkan untuk mengantar Nadia, awalnya Mila tidak setuju karena takut terjadi apa-apa pada Nadia karena Rifki jika membawa motor suka tak tahu aturan.

Tapi akhirnya Mila mengizinkan karena itu sebagai bagian dari permintaan maaf dengan penegasan membawa motor dengan sangat hati-hati. Tias dan Rara sih dengan senang hati mengizinkan karena mereka agaknya ngefans juga pada Rifki dan turut bahagia jika Nadia diantarnya. Rifki mengantar Nadia pulang, sepanjang perjalanan menuju rumah Nadia banyak candaan yang membuat Nadia tak bisa menahan tawa sedikit pun. Mereka sampai di rumah Nadia, Nadia tetap berusaha berjalan dengan tongkatnya menuju pintu. Ketika pintu diketuk mamah Nadia segera membuka dan menyambut Nadia dan Rifki.

Mamah Nadia mempersilahkan Rifki untuk masuk terlebih dahulu dan menyuguhinya minum. Nadia sedang berganti pakaian di kamarnya, Rifki melihat-lihat foto-foto dan beberapa piala yang ada di meja dan dinding ruang tamu. Tengah tertariknya Rifki melihat-lihat tiba-tiba ponsel genggamnya berdering, diangkatnya ponsel itu yang terdengar adalah suara ayahnya yang marah-marah seperti biasanya. Rifki langsung mematikan ponselnya dan pamit pulang ketika Nadia baru saja selesai berganti pakaian.

Pagi itu Nadia tidak berangkat ke sekolah. Nadia izin dan tengah bersiap-siap untuk kontrol kakinya. Nadia bersama mamahnya menuju tempat spesialis ortopedi, sampai di tempat itu Nadia menunggu mamahnya yang sedang daftar di receptionis. Nadia masuk ke ruang dokter untuk diperiksa, setelah diperiksa dokter mengatakan bahwa kaki Nadia semakin membaik, ada kemungkinan Nadia dapat segera melepas tongkatnya dan dapat berjalan seperti biasanya. Sepulangnya Nadia dari check up kakinya Nadia hanya membantu mamahnya mengupas kentang dan mencuci sayur. Mamah Nadia tidak merelakan Nadia melakukan pekerjaan rumah yang dirasa berat sampai Nadia benar-benar sembuh.

Sering kali Nadia ingin tetap membantu sang mamah namun mamah tetap melarang Nadia. Selesainya Nadia mengupas kentang dan mencuci sayur, tak ada lagi yang dilakukan Nadia selain masuk ke kamarnya dan memikirkan Rifki. Entah mengapa tiba-tiba Nadia memikirkannya, memikirkan kelucuan Rifki terhadapnya dan tanpa Nadia rencanakan Nadia mulai bernyanyi. Hari demi hari senyum Nadia semakin merekah senyum yang berbeda senyum Nadia yang benar-benar kembali meski Nadia memang selalu tersenyum. Semua itu karena Rifki telah hadir di hidupnya dan Rifki juga membuat Nadia kembali bernyanyi. Tahun berikutnya FLS2N (festival lomba seni siswa nasional) diadakan lagi dan sekolah Nadia menyaring seluruh murid untuk diikutkan dalam lomba itu.

Tias yang pertama kali melihat dan mendengar pengumuman itu langsung buru-buru menemui Nadia. Tias membujuk Nadia untuk ikut lomba itu kali ini yaitu di bagian lomba menyanyi, Nadia ragu apa bisa suaranya sebagus sebelum dia mengalami kecelakaan itu meski tak ada gangguan pada suaranya Namun Nadia sudah jarang menyanyi karena kecewa tak dapat mengikuti tahapan suatu lomba menyanyi. Rifki yang sedari tadi duduk di pojokan yang entah mengapa terlihat murung mendengar permohonan Tias pada Nadia. Rifki langsung bangun dan ikut membujuk Nadia untuk daftar penyaringan peserta FLS2N itu. Awalnya Nadia tetap keukeuh menolak tapi Rifki langsung ke luar dan bilang akan mendaftarkannya.

Mau tidak mau Nadia pun ikut dalam penyaringan lomba yang dilakukan di tengah lapangan, Nadia deg degan menunggu gilirannya. Nadia terus cemberut karena dipaksa tetapi karena ketiga kawannya juga sangat menginginkan dan mendukungnya Nadia tidak bisa berkutik. Detik berganti menit Nadia pun dipanggil untuk maju ke depan dengan nomor urut 23. Ketika Nadia mulai berjalan ke depan Nadia hampir terjatuh karena kaki Disa menghalangi jalannya Rifki yang melihat langsung menyingkirkan kaki Disa dengan kakinya. Nadia berdoa dalam hatinya lalu Nadia mulai bernyanyi lagu Raisa yang berjudul apalah arti menunggu. Seluruh murid dan guru yang menyaksikan Nadia bernyanyi ikut terbawa alunan yang keluar dari mulutnya.

Pengumuman pemenang diumumkan seminggu setelah penyaringan. Rifki masuk kelas dengan senyum sumbringah menyalami Nadia yang baru saja duduk di bangkunya. Ya Nadia memenangkan lomba penyaringan itu dan resmi mewakili sekolahnya mengikuti FLS2N tingkat kota yang akan diadakan seminggu lagi. Mila, Rara yang baru datang langsung memeluk Nadia dengan gembiranya. Nadia juga balik menyalami Rara karena yang Nadia ketahui juga Rara akan mewakili sekolah mereka mengikuti FLS2N dalam lomba melukis. Hari itu pun datang Nadia bersama gurunya ke tempat pelaksanaan FLS2N tingkat kota.

Nadia masuk ke dalam ruangan lima menit lagi perlombaan akan dimulai. Ketika Nadia sedang berjalan terdengar Rara memanggilnya, Nadia menengok ke belakang dan ternyata benar itu Rara bersama Rifki. Rara dan Rifki menghampiri Nadia dan bersalaman kepada gurunya. Sayangnya Mila dan Tias tidak bisa menonton karena mereka tidak diizinkan mereka harus tetap mengikuti KBM, Rifki sendiri nekat karena sengaja terlambat masuk kelas agar sekalian tidak diizinkan mengikuti KBM dengan guru yang killer. Perlombaan Rara dilaksanakan siang setelah perlombaan menyanyi selesai jadi Rara bisa menonton dan menyemangati Nadia. Mereka lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

Tidak lama untuk Nadia tampil karena Nadia mendapatkan nomor urut Sembilan. Nadia mulai berdiri tapi tangannya di tahan oleh Rifki yang memberinya minum, Nadia minum lalu maju ke depan dan mulai bernyanyi lagu yang ditentukan yaitu lagu milik mely goeslaw yang berjudul Bunda. Lagi, Nadia berhasil memenangkan lomba itu dan memasuki babak selanjutnya yaitu FLS2N tingkat provinsi. Esoknya, di dalam kelas muka Disa ngga enak banget untuk di lihat karena mendengar kemenangan Nadia. Tapi Tias malah sengaja ngumumin di kelas bahwa Nadia menang jadilah teman-teman pada memberi selamat pada Nadia, dan Disa malah pergi keluar kelas.

FLS2N tingkat provinsi bakal dilaksanakan dua minggu lagi, Rifki selalu mendengarkan Nadia latihan menyanyi baik bersama guru maupun hanya dengannya. Tapi sore itu Rifki mengajak Nadia bukan untuk latihan Nadia dibawanya ke suatu lapangan. Rifki dan Nadia lalu turun dari motor, Nadia diajak Rifki ke tengah lapangan disuruhnya Nadia berdiri dan Rifki mengambil tongkat dari sisi Nadia. Rifki berjalan mundur beberapa langkah dan menyuruh Nadia menghampirinya tanpa tongkat. Tapi Nadia tetap mematung dan berkata dia takut, Rifki kembali menghampiri Nadia menatapnya dan meyakinkan jangan jadikan tongkat teman hidupnya dan Nadia harus segera berlari. Nadia mulai melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit rasa linu mulai menghampiri lututnya tapi Nadia terus mencoba untuk sampai di mana Rifki berdiri beberapa meter darinya.

Bruuk! Nadia terjatuh, Rifki langsung menghampirinya dan membangunkannya. Nadia mulai menyerah Rifki terus meyakini Nadia bahwa dirinya bisa bahkan Rifki mengancam tak akan menemaninya lagi jika ia menyerah begitu saja. Nadia memang takut terjatuh lagi tapi Nadia lebih takut Rifki meninggalkannya jadilah Nadia terus dan terus berjalan tanpa tongkatnya, tak ia hiraukan rasa sakit di kakinya. Nadia terus dan terus berjalan mengikuti Rifki yang semakin menjauh. Sampai akhirnya rasa sakit itu hilang dan kini Nadia berada di pinggir lapangan bersama Rifki di hadapannya. Nadia mulai terisak bahagia, ternyata Nadia dapat berjalan tanpa tongkatnya. Dan hujan pun turun ..

Bahagianya Nadia bisa berjalan kembali seperti dulu. Kini, Nadia dapat berjalan-jalan bersama ketiga kawan setianya. Membantu mamahnya mengerjakan pekerjaan rumah, dan dapat bernyanyi sesuka hatinya tentunya. Nadia juga telah lolos mendapatkan juara satu FLS2N tingkat provinsi dan akan lanjut lagi ke tahap Nasional. Tapi entah mengapa Rifki kini jarang masuk sekolah, sekalinya masuk mukanya kusut. Nadia pernah menanyakannya namun Rifki hanya menjawab bahwa ia mengantuk. Setiap Nadia menanyakan di mana rumahnya Rifki hanya menjawab dengan candaan bahwa ia tak punya rumah.

Pernah suatu sore Nadia mengunjungi rumahnya yang alamatnya Nadia dapatkan dari salah satu teman sekelasnya tapi rumahnya sepi tidak ada orang. Nadia bingung harus bagaimana lagi untuk mencari tahu siapa Rifki dan bagaimana keluarganya. Hingga FLS2N dilaksanakan Nadia belum tahu bagaimana keadaan Rifki, mengapa dia tidak masuk sekolah, tak ada komunikasi yang dapat terhubung dengannya. Jadilah Nadia lomba hanya dengan gurunya tanpa Rifki ketiga kawannya serta mamahnya karena lomba menyanyi tingkat Nasional itu pun dilaksanakan diluar kota. Tapi dari awal keberangkatannya mamah serta ketiga kawannya selalu komunikasi dengannya terkecuali Rifki.

Sampai waktunya Nadia akan tampil, barulah sms Rifki masuk ke ponsel Nadia. Nadia sangat senang Rifki mendoakan dan menyemangatinya namun ketika Nadia menanyakan di mana dia dan bagaimana keadaannya Rifki hanya menjawab bahwa jangan mengkhawatirkannya dan Rifki juga sedang bersenang-senang katanya. Nadia tak mengerti apa maksudnya belum sempat Nadia ingin meneleponnya guru Nadia menyuruhnya mematikan ponselnya karena Nadia akan segera maju. Seminggu kemudian Nadia pulang dengan membawa kemenangan, Nadia berhasil mendapatkan juara kedua tingkat Nasional. Nadia memang bahagia namun kebahagiaannya terasa kurang. Rifki masuk sekolah lagi itu pun dengan ultimatum bahwa ini kesempatannya terakhir untuk bersekolah di SMAN 2 jika ia bersekolah sesuka hatinya maka ia akan dikeluarkan.

Seminggu lagi akan dilaksanakan UAS kenaikan kelas Nadia membujuk Rifki agar mau belajar bersama tapi Rifki selalu menolak bukan hanya itu Rifki seperti menghindarinya tak tahu apa penyebabnya dan apa salahnya. Hingga akhirnya sesuatu yang tak pernah Nadia bayangkan terjadi. Tiga hari sebelum UAS berlangsung guru memberi pengumuman di depan kelas bahwa Rifki resmi ke luar dari sekolah mereka karena semalam Rifki tertangkap polisi sedang mengkonsumsi s*bu-sabu di kamarnya. Nadia yang mendengar langsung menangis dan memeluk Mila di sampingnya. Kabar itu seperti mimpi buruk bagi Nadia, dan didengarnya lagi bahwa Rifki begitu karena frustasi dengan keretakan keluarganya ibunya bercerai tak tahan dengan ayahnya yang tempramen dan kasar.

Nadia termenung di teras rumahnya. Raport kenaikan kelas sudah dibagikan, Nadia berhasil mendapat ranking pertama dan dapat naik ke kelas tiga. Tapi semuanya hambar bagaimanapun Rifki yang melengkapi semangatnya selain dari mamahnya dan kawan-kawannya. Kini Nadia sedang mengenang semuanya segala kenangannya bersama Rifki. Nadia sadar dia tak boleh berlarut dengan kesedihan dan kekecewaan, dia harus tetap berlari apalagi akan menghadapi ujian kelulusan Nadia harus fokus. Meski Nadia tetap menunggu Rifki sembuh dan selesai direhabilitasi.

THE END

Cerpen Karangan: Handayani
Facebook: Handa Yani
Hi! aku Handayani selamat membaca maaf baru belajar menulis ditunggu sarannya. 🙂

Cerpen Bukan Malaikat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inside My Teardrops

Oleh:
Aku merasa sendirian, rapuh, tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin kalian menganggap diriku adalah gadis yang pendiam dan kaku, kalian salah besar. Aku salah satu gadis yang paling aktif di

Ketika Membuka Mata

Oleh:
Ketika ku tau bahwa takdir tidak sepihak dengan jalan pikirku, saat dimana sebuah harapan yang kadang hanya menjadi angan-angan. Kini ku tau bahwa hidupku dimulai dari menutup mata dan

Nada Si Kucing Tegar

Oleh:
Namaku Rani, pagi itu saat aku sedang di jalan untuk mencari pekerjaan, tanpa sengaja aku melihat seekor kucing malang yang tergopoh-gopoh karena salah satu kaki kanannya pincang. Hati ini

Dia Yang Pernah Singgah

Oleh:
Kedua kaki ini telah sampai di depan sebuah naungan tempatku mendalami ilmu. Tempat yang setidaknya menyuguhkanku sebuah aroma manisnya menapaki awal masa remaja. Tentang kesenangan, tertawa karena kekonyolan dan

Terima Kasih Shisil

Oleh:
“aku masih ingin di sini” kataku bersikukuh tanpa bergerak sedikit pun dari tempat aku duduk. “haha… apa kamu gila, come on Ge… move on, kamu masih mau nunggu orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *