Bunga Terakhir


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 21 December 2012

25 Juli 2011
Alenta [Jogja 17.05]
Aku menyusuri sepanjang Malioboro, melirik setiap jajaran aneka rupa dagangan. Anganku melayang saat dua bulan lalu, disini, ditempat yang sama bersama Yuninda.
“Lenta…… lihat deh. Cantik kan!! “ ujar Yuninda sembari menyodorkan sepasang sepatu bermotif batik padaku.
“Iya…” balasku singkat.
“Aku mau beli ini ah… , dua.”
“DUA??? Buat apa neng? Sepasang juga cukup. Mau dikoleksi?” alisku mengangkat menangggapi kata-kata Yuninda.
“Ya yang satu buat kamu lah kecil… aku ga mau deh kalau aku punya nih sepatu sendirian.”

Aku tersentak. Sebuah batu kecil jatuh mengenai kakiku. Entah darimana datangnya, yang jelas datangnya telah membuyarkan semua kenangan yang melintas dalam ingatanku.
“hmmmhhhh.. jadi kangen sama Yuninda.” Bisikku lemah.

Yuninda [Semarang 17.30]
“seaindainya saja aku masih di Jogja. Pasti senja seperti ini aku sedang menghabiskan waktu untuk berkeliling Malioboro bersama Alenta.” Aku bersandar lemah dibibir jendela kamarku.
Senja sudah Nampak sedari tadi di pelupuk mataku. Mengundang kenangan, cerita-cerita indah yang terangkai bersama peri kecilku. Mengusik tenang yang sempat bertengger dalam benakku, menggantinya dengan rasa rindu dan gelisah.
“kamu lagi ngapain peri kecil? Pasti lagi keliling-keliling. Tapi sama siapa? Apa kamu sendirian?” gumamku sembari memandangi senjaku yang mulai berganti dengan gelap.
Dingin mulai menghampiriku. Aku beringsut meninggalkan jendela, meutup penghubung beku antara duniaku yang hampa dan dunia luar yang fana. Membiarkan ingatan akan Alenta tetap menari indah diantara semburat gelap yang kian sempurna.

Alenta [Jogja 06.45]
Semalaman menghabiskan waktu dijalanan Malioboro membuat mataku mengantuk, bahkan seluruh tubuhku kini terasa pegal.
Sesampainya dirumah esok tadi ranjang tercinta sudah bersiap menyambutku dalam dekapannya. Menawarkan tawaran-tawaran menu kenikmatan dari pulau penuh mimpinya untuk tubuhku yang letih.
Kusandarkan tubuhku disamping Teddy Bear pemberian Yuninda. Mencoba memejamkan mata yang sebenarnya sudah tergoda oleh kantuk yang tak bertuan. Ditemani alunan lembut nada-nada How Do I –nya Threesa Yearwood yang semakin mengantar kelelahanku menuju alam fatamorgana. Melupakan tugas-tugas kuliah yang memadat, menanti untuk segera diselesaikan.
“oohh.. maaf tugas-tugasku aku masih enggan menyuruh tanganku untuk menjamahimu.” Ujarku sembari membalikan tubuhku, memejamkan mataku dan membiarkannya terlelap hingga nanti penat dan kantukku bersedia menghilang.

Senja , gelap , pagi , dan terik siang menghanyutkan angan Alenta dan Yuninda. Menenggelamkan angan dalam dunianya masing-masing. Menyertakan ingatan dan kerinduan akan kenangan indah yang pernah terangkai diantara keduanya. Menghadirkan keinginan untuk kembali ke dua bulan yang lalu, ketika jarak dan waktu belum memisahkan kebersamaan antara mereka.

28 Juli 2011
Yuninda [Semarang]
Aku masih saja menutupi semua ini dari Alenta. Membuatnya mengira bahwa aku benar-benar telah melupakan semua ingatan tentang dirinya. Membiarkannya mengira bahwa aku disini baik-baik saja tanpanya disini.
“Alenta… sebenarnya saat ini aku butuh kamu untuk menemaniku melewati semua cobaan ini. Aku butuh kamu yang selalu bisa menguatkanku…”

Alenta [Semarang]
Sepanjang jalan kota atlas ini sudah aku susuri untuk menemukan peri cantikku. Menemuinya demi memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.
“aku harus bias ketemu sama kamu nind.. aku kangen sama kamu. Aku khawatir. Aku ga tahu kenapa perasaanku was-was, kefikiran keadaan kamu.”
30 Juli 2011 [Rs.Kariadi Semarang]
Mama , papa dan kakak Yuninda sudah menunggu dengan hati berbalut cemas. Berharap puteri tercinta mampu melewati segala cobaan dengan hati yang ikhlas dan tabah.
“Pa… mama khawatir. Bagaimana kalau ternyata Tuhan berkehendak lain pada puteri kita pa..”
Papa Yuninda bergeming. Tangannya masih saja digerakkan mengikuti bentuk dagunya yang runcing. Kacamatanya yang tebal menampakkan kilau ketika terkena pancaran cahaya.
“itu Alenta sudah dating ma, pa.” ucap Antyo kakak Yuninda.
Dari kejauhan Alenta Nampak mempercepat langkah kakinya. Dengan mata sembab , rambut berantakkan dan hati gemetar dia berharap dapat segera bertemu dengan peri cantiknya. Setidaknya untuk sekedar mengucapkan rindu yang lama menggelayuti.

Alenta
Tubuhku seakan tertimpa besi besar, berat, lemah. Hatiku mendesir kencang saat mendengar berita tentang peri cantikku yang saat ini tergolek lemah tak berdaya.
“Yuninda… aku datang sekarang. Bersabarlah.”

Yuninda
“Tuhan , dia hadir disini. Mengapa untuk menyaksikan kepergianku. Tidak seharusnya dia melihat semua kenyataan pahit ini.”
Aku menahan sakit, menahan rasa yang luar biasa. Membiarkan senyumku tetap menyambut kedatangan peri kecilku.
Alenta langsung memeluk tubuh Yuninda yang lemah tak berdaya. Menguraikan air mata bersama rindu yang telah lama tertahan diantara keduanya.
Wajah cantik Yuninda kini telah berubah menjadi pucat pasi. Seakan tak mampu lagi menahan rasa sakit yang semakin menggelayuti sekujur tubuhnya.
“Nind… ini aku. Ini Lenta.” Alenta sesenggukkan. Menahan perih.
“Lenta… baca ini ya.” Balas Yuninda sembari meletakkan surat kecil keatas tangan Alenta.
“heem..” Alenta mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
“jangan nangis dong kecil. Senyum ya, biar cantiknya ga ilang. Baik-baik ya , jangan rusak diri kamu lagi setelah nanti aku tinggal.” Yuninda melanjutkan kata-katanya.
“Nind.. kamu ini ngomong apa sih??”
“Lenta.. boleh aku minta permintaan ke kamu?” pinta Yuninda.
Alenta mengangguk.
“nanti tolong kamu taruh Lily diatas peristirahatanku ya. Kamu tahu kan itu bunga kesukaanku. “
“iya nind…” jawab lenta menahan air mata yang siap membuncah.
“satu lagi… kecup keningku sekarang. “ pinta Yuninda lagi.
Alenta menurut. Dikecupnya kening Yuninda dengan perasaan yang terluka. Perasaan tak rela untuk melepaskan sahabat terbaiknya menuju tempat yang abadi.

Alenta [Pemakaman Yuninda , 16.07]
“Yang ku sayangi kini telah pergi. Yang ku miliki kini telah tinggalkan aku sendiri. Tetapi tetap aku akan memegang janji. Memenuhi janji yang terucap.”
Ku letakkan rangkaian bunga Lily putih diatas pusara Yuninda. Dengan berat hati kuucapkan salam perpisahan padanya. Membiarkan perih dihatiku membekas , mengiringi setiap kenangan yang pernah Yuninda untaikan dalam hari-hariku.

12 Agustus 2011 [Jogja]
Kusandarkan ransel besarku disamping ranjang. Membasuh tubuh yang letih dengan air dingin, berharap letih dan perih hati dapat terobati.
[17.05]
Kubuka surat kecil yang tempo hari Yuninda berikan untukku. Berusaha menahan tangis, menahan ingatan yang muncul akan hari yang lalu.

Dear peri kecilku,
Alenta saying, maaf selama ini aku tidak pernah kasih kabar ke kamu. Bukannya aku lupa atau tidak perduli…
Lent…
Aku kena kanker. Itu alas an kenapa akhirnya mama dan papa menyuruh aku untuk kembali ke Semarang. Mereka mau aku tinggal bersama mereka, alasannya simple , agar mereka bias setiap saat memantau keadaanku.
Lent..
Mungkin kamu marah sama aku karena aku tidak pernah menceritakan semua ini ke kamu. Percayalah, semua itu aku lakuin karena aku tidak mau sampai kamu bersedih.
Kanker yang bersemayam salam tubuhku sudah mencapai stadium akhir. Dan ini lah saat-saat terakhirku.
Kamu ingat bukan? 30 Juli adalah hari ulang tahunku juga kamu.
Selamat ulang tahun ya.. oya, karena selama ini aku tidak pernah minta kado dari kamu kali ini aku mau minta. Bawakan Lily putih untukku ya.. akan aku jadikan bunga itu sebagai yang terindah darimu. Sebagai bunga terakhir yang aku inginkan.
Jangan pernah menangis. Hadapi dunia dengan senyum cantikmu. Aku akan selalu merindukanmu.

Salam rindu,
Yuninda Praba Ayu
Peri Cantikmu….

Cerpen Karangan: Galuh Sita
Facebook: sitaloverzz[-at-]yahoo.com

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply