Cadangan Abadi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

“Aku akan mengatakan apa pun atau sekasar apa pun untuk memotivasimu untuk bergerak, Val.”

Seorang laki-laki sedang menghabiskan jam olahraganya di lapangan sepak bola sendirian, ia menendang dengan kasar bola di hadapannya ke arah gawang tanpa penjaga. Di tempat berbeda agak jauh dari bawah terik matahari tersebut, seorang gadis berkerudung dan memakai baju olahraga yang sama memperhatikan laki-laki tersebut.

“Sepertinya dia tampak gusar.” Gadis tersebut berbisik pada dirinya sendiri. Perlahan gadis tersebut keluar dari tempat perteduhan tersebut menuju ujung lapangan yang ditempati laki-laki gusar itu.

“Mau kemana dia?” Tanya seorang teman sekelasnya kepada teman lainnya menyelidik, namun gadis tersebut tak mempedulikannya.

“Dasar bodoh, gawang tak bertuan saja tak mampu kau jejal.” Umpat gadis tersebut mendekati arah laki-laki itu.

“Nela, jangan mulai lagi. Aku tak ingin berdebat denganmu saat ini.” Sahut laki-laki itu tampak kesal menanggapi umpatan gadis yang bernama Nela tersebut.

“Haha kenapa? Kau takut? Percuma berlatih setiap sore jika tidak membuahkan hasil.” Sambung Nela lagi melihat laki-laki itu masih saja mencoba menendang bola ke arah gawang, namun bola tersebut acap kali membentur gawang.

“Kamu selalu meremehkanku.” Sanggahnya saat Nela mengambil posisi berdiri di sisi kiri tiang gawang.

“Noval, Noval, kamu tak ada apa-apanya.” Lagi-lagi perkataan Nela membuat telinga laki-laki yang dipanggilnya Noval tersebut memerah.

Noval memandang lekat gadis di hadapannya, ia mencoba menelaah apa yang sedang dipikirkan temannya tersebut. Ia menghentikan aksi tendang menendangnya, lalu mendekat ke arah Nela yang berdiri dengan angkuhnya.

“Capek!” Ucap Noval saat mencari tempat yang tak becek di samping Nela, maklum lapangan diguyur hujan semalaman.

“Udah, berhenti aja ikut club bola lagi. Nggak guna kamu ikut-ikutan, nyatanya nggak pernah bisa juga.” Ucap Nela duduk sembari memandang wajah putih mulus Noval yang memerah karena panas. Noval hanya diam menatap Nela, terkadang gadis cantik nan angkuh tersebut ada benarnya.

“Kamu aneh! Kalau aku nggak latihan, kamu judge aku pemalas dan segala macam. Lah sekarang saat aku latihan, kamu malah… Argh!” Gumam Noval kesal.

“Makanya bego jangan dipelihara, konsisten dong, mau main atau enggak. Kalau iya, latihan yang benar, jangan nyiksa tubuh gini. Kalau enggak ya berhenti dari sekarang.” Jelas Nela seenaknya tanpa memperhatikan Noval sedikit pun, namun yang dicerca malah tersenyum memperhatikan monyong-monyong mulut temannya itu.

“Eh, kalian berteduh dulu!” Titah guru olahraga sekaligus pelatih bola Noval, beliau mendekat ke arah keduanya.

“Ada apa, Val?” Tanya bapak tersebut menyelidik Noval. Noval menggeleng dan langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput lapangan. Mata sang bapak beralih ke arah Nela yang terlihat acuh.

“Pak, di dalam latihan bola itu anggota diajarkan sabar dan menjiwai bola kan? Bukan main dengan emosi yang meletup-meletup?” Tanya Nela mengerlingkan matanya ke arah Noval. Bapak tersebut kebingungan, karena pertanyaannya dibalas pertanyaan juga.

“Tentu Nel.” Sahutnya setelah mencerna pertanyaan Nela. Nela tersenyum ke arah Noval, Noval pun mendesah kesal.

“Sudah, ayo bergabung ke sana. Setelah itu kita kembali ke sekolah.” Tukas Bapak itu berjalan terlebih dahulu.

Nela segera bangkit dan memandangi Noval yang masih menutup mata terkapar di atas rerumput. Noval membuka mata dan menjulurkan tangannya ke arah Nela, Nela segera membantunya berdiri. Lalu mereka bergabung dengan yang lain.

“Val, istirahat bola berapa menit?” Tanya Nela di tengah suasana ujian pada Noval di sebelahnya.

“Entah, mungkin 7 menit.” Jawab Noval mengangkat bahu pertanda tak mengetahu pasti.

“Bodoh, percuma kamu anggota club bola kalau nggak tau apa-apa.” Maki Nela kesal, Noval memandangnya kesal namun ucapan gadis itu ada benarnya juga. Dengan kesal Nela langsung mengumpulkan kertas ujiannya dan langsung keluar ruangan untuk istirahat.

“Maaf, tadi aku nggak tau.” Sesal Noval setelah keluar dari ruang ujian, ia menemukan Nela duduk mematung di salah satu bangku taman. “Habisnya aku nggak fanatik.” Sambung Noval sekenanya.

“Nggak fanatik? Bagaimana bisa? Kamu termasuk di dalamnya, kamu main di sana, tapi nggak tahu apa-apa. Berarti hati, pikiran, dan keinginan kamu sebenarnya bukan di sana.” Jelas Nela, ia melihat Noval membuang muka. Ia menghela napas dan pergi.

Hari ini Noval ada pertandingan bola ke luar daerah bersama clubnya.
“Main yang bagus ya, Bung.” Ucap Nela saat club tersebut akan berangkat.

Esoknya Nela melihat Noval duduk tertunduk di bangkunya sendirian, ia tidak bergabung bersama temanya yang lain.

“Gimana kemarin? Kamu Top Scorenya nggak?” Tanya Nela menghampiri Noval, ia tahu bahwa Noval sudah berlatih sangat keras untuk ikut pertandingan tersebut.

“Cadangan.” Sahut Noval singkat, namun kalimat singkat tersebut berhasil membuat Nela ternganga.

“Sudahlah, tak apa.” Ucap Nela menepuk pundak Noval yang muram. Noval menatap Nela heran.

“Tumben, biasanya maki mulu.” Sahut Noval tertawa heran, kesedihannya menguap seketika. Nela pun mengernyitkan dahinya.

“Ah, udahlah. Kamu tahu CR’7 kan? Di pekan pertama ia di Real Madrid 2009 lalu ia juga belum apa-apa, tapi lihat sekarang. Siapa sih di dunia ini yang nggak kenal dia?” Tutur Nela bersemangat menceritakan idolanya.

“Ooh, mentang-mentang fansnya Ronaldo, kamu mau bangga-banggain dia?” Tanya Noval ikut antusias.

“Eleh ngeyel, kamu toh fansnya juga.” Kilah Nela mencibir. Mereka saling bertukar cerita tentang pandangan masing-masing akan CR’7.

“Ya, nggak enak hati aja. Udah rajin-rajin latihan, eh nyampe di lapangan baru dikasih tahu kalau cuma cadangan.” Tutur Noval kembali mengingat hal buruknya kemarin.

“Udahlah, kamu mau jadi cadangan abadi? Ngomel terus.” Dengus Nela kesal lalu beranjak pergi dari bangku Noval.

Sejak kejadian itu, Noval makin rajin latihan meski berbenturan dengan izin ayahnya.

“Ayah ngelarang latihan.” Desahnya gusar.

“Ya iyalah, itu latihan apa nyiksa diri. Pagi ujian, siang footsal, sore football, malam footsal lagi. Trus istirahat sama blajarnya kapan? Kamu bilang kan nggak fanatik.” Sahut Nela ketus, ia berbicara panjang lebar.

“Kalau kamu jaga kesehatan, beliau bakal izinin. Kalau sakit gini, emang club mau ajak main?” Sambung Nela lagi melihat Noval melongo, perlahan ia menggeleng lalu menggangguk setuju pendapat Nela.

Setelah acap kali mendengar makian, umpatan dan cercaan Nela, Noval makin giat mengatur jadwal latihannya. Ucapan gadis angkuh itu memang benar adanya.

“Besok minggu, aku ada Tournament Footsal, datang ya.” Pinta Noval mendatangi meja Nela yang berserakkan buku pelajaran Sosiologi, mata pelajaran kecintaan gadis angkuh tersebut.

“Yah, kamu lupa? Besok aku ke kota buat Olympiade.” Sahut Nela melempar pandangan sejenak ke arah Noval, lalu tenggelam kembali dalam bahan bacaannya. Noval menghempas napas berat.

Nela sedang tertunduk lesu saat Noval memasuki kelas mereka, ditatapnya wajah Noval yang datar.

“Bagaimana kemarin, cadangan abadi?” Tanya Nela mencoba menunjukkan senyumannya.

“Top Score!” Sahut Noval berjingkrak kegirangan membuat Nela terlompat kaget.

“Selamat, Val.” Ucap Nela menjabat hangat tangan Noval. Ia tersenyum bahagia melihat keberhasilan temannya, senyum Noval mengembang.

“Lalu bagaimana dengan Olympiademu?” Tanya Noval penasaran melihat raut muka Nela yang tak biasa, Noval mengernyitkan dahinya bingung melihat Nela bergeming.

Kemudian Nela menggeleng lembut lalu tersenyum, membuat Noval semakin bingung.

Cerpen Karangan: R. Suliyarti
Facebook: Riri Suliyarti
twitter: @RiriYarti

Cerpen Cadangan Abadi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Binatang Lajang

Oleh:
Akhirnya, bukan binatang lajang… Jatuh cinta pada pandangan pertama itu memamang indah, apalagi kalau kita bener-bener bisa mendapatkan tuh cintanya. Mungkin ini yang gue rasaain saat untuk pertama kalinya

Bonjour, Arma

Oleh:
Lucu juga bila ditanya alasan mengapa aku tetap ingin menjadi ‘Secret Admirer’nya. Hingga saat ini, bahkan hingga detik ini aku tak bisa melepas hatiku ke orang lain. Sengaja ku

Hilangnya Buku Biru Materi IPA

Oleh:
Bel pulang sekolah berbunyi. Ketua kelas X-IPA 2 menyiapkan untuk segera berdoa. Setelah berdoa dengan tertib. Semua siswa berbaris untuk segera ke luar kelas. Kondisi sekolah itu menjelang pulang

Mata Pisau (Part 1)

Oleh:
Bulir air mata menetes menghujani pipi bahkan semakin deras tak kunjung reda. Perih terasa menghujam pipi kiri yang memerah bekas tamparan dan hati kecil yang tak henti mengharap. Di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *